
..._________...
Kalian baca jam berapa?
Kalau suka tolong tinggalkan vpte dan komen
Terima kasih.
'Allah tidak akan pernah membebani seseorang melainkan kesanggupannya.' Mungkin potongan ayat tersebut bisa diperuntukan untuk Alesha sekaligus orang-orang diluar sana yang sedang mendapat ujian dari Allah. Allah memberikan ujian bukan karena Allah sedang menghukum kita. Melainkan Allah sangat menyayangi hambanya, sehingga Allah turunkan sebuah ujian untuk melihat bagaimana kesanggupannya dalam menghadapi sesuatu dengan ketaqwaan seorang hamba terhadap Tuhan-nya. Karena disaat kita terkena musibah atau ujian apapun, maka disitulah kita sedang diuji kesabaran, keikhlasan dan rasa pasrah diri setelah melakukan semua usaha yang kita mampu.
Begitupun dengan sesuatu yang dialami oleh Alesha saat ini, anak itu tidak percaya sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Papa dan Mama. Alesha menganggap jika ucapan Papa hanyalah candaan semata. Papa sengaja mengumpulkan kami di ruang keluarga. Kami semua duduk di sofa. Dan orang yang terakhir datang adalah Kak Hanzal. Pria itu langsung mencium punggung tangan Papa dan Mama secara bergantian. Kemudian dia duduk disebelahku.
"Papa sama Mama cuman bercanda kan? Alesha tau. Udah deh Ma, Pa, bercandanya jangan kayak gitu, nggak lucu tau nggak." Katanya masih tenang. Karena Alesha menganggap jika ucapan Mama dan Papa hanyalah candaan semata, dia pun tidak berpikir macam-macam.
"Ada apaan sih Pa, Ma?" tanya Kak Hanzal yang belum tahu menahu akan hal ini. Sekalipun aku sudah mengetahui semuanya dari dua hari yang lalu, aku tetap lebih memilih untuk bungkam. Karena menurutku, jika aku yang memberitahukan hal ini pada Alesha atau pun Kak Hanzal, aku yakin sekali mereka tidak akan percaya apa yang aku katakan. Dan aku yakin, jika aku mengatakan hal itu mereka hanya berpikir jika aku sedang cemburu berat.
"Alesha itu bukan anak biologis kami." Jelas Papa begitu singkat.
"Maksudnya gimana? Bukannya Alesha sama Alisha itu anak kembar? Jadi maksud Papa mereka berdua bukan adik kandungku?" tanya Kak Hanzal dengan nada meninggi.
"Tolong rendahkan suara kamu di depan orang tua kamu. Alisha adik kandung kamu. Sementara Alesha tertukar dengan bayi lain di rumah sakit. Dan kami belum mengetahui siapa orang tua kandung Alesha, karena kami juga belum sempat mencari." Jelas Papa.
"Kok bisa ketuker gini sih, Pa?"
"Berhenti menyalahkan kami, Hanzal. Kami juga nggak tau kalau Alesha bukan anak kandung kami." Jelas Mama.
"Alesha, kali ini Mama sama Papa nggak bohong atau sedang mengajak bercanda. Apa yang dikatakan oleh Papa kamu adalah fakta." Jelas Mama memegang bahu Alesha. Alesha duduk diantara Mama dan Papa, dia duduk di tengah-tengah mereka. Beruntung sekali Alesha ini, dia bukan anak kandung Mama sama Papa saja masih bisa disayang seperti itu. Sementara aku yang jelas-jelas anak kandungnya malah sama sekali tidak dihiraukan. Aku juga malas untuk mengatakan sesuatu. Aku lebih memilih diam dan menyimak obrolan mereka.
"A-apa maksudnya?" tanya Alesha. "Jadi Papa sama Mama nggak lagi bercanda? Terus sekarang apa Mama sama Papa akan mengusirku dari sini?" tanya Alesha begitu cemas.
"Nggak lah, sayang. Kami nggak setega itu." Kata Mama mengusap pucuk kepala Alesha. Aku hanya menyandarkan kepalaku di bahunya Kak Hanzal. Lumayan nyaman, tapi bau rumah sakit.
"Ih, kenapa nggak mandi dulu sih Kak? Bau rumah sakitnya nyengat banget." Protesku. Aku langsung menggeser badanku untuk menjauh dari Kak Hanzal.
"Siapa suruh nyender?" katanya. Beberapa menit kemudian Alesha langsung menangis histeris di pelukan Papa. Papa berusaha keras menenangkan Alesha. Biar bagaimanapun Alesha sudah menjadi mahram kami, karena dari bayi sampai berusia dua tahun dia menyusu pada ASI Mama. Sementara aku yang anak kandung mereka, sama sekali tidak pernah diberi ASI oleh Mama. Miris sekali bukan? Sekarang bukan hanya Alesha yang menjadi sainganku, tapi akan ada satu orang lagi yang statusnya menjadi kembaranku kandungku. Cepat atau lambat, pasti dia akan datang kesini. Entah siapa dia, dari mana asalnya, dan bagaimana karakternya?
Alesha langsung merasa panik berlebihan. Kak Hanzal langsung mengambil obat penenang untuk Alesha. Kemudian memberikannya ada Alesha. Alesha langsung minum obat itu. Alesha itu ketika sedang panik hebat dia bisa langsung muntah-muntah. Mungkin karena itu juga Mama begitu dekat dengan Alesha.
Kenapa sih, Alesha begitu spesial sekali di mata Mama, Papa dan semua orang? Kenapa aku nggak? Apa aku perlu menjadi Alesha, agar aku bisa disayang oleh mereka? Apa aku perlu juga mengganti wajah ku dengan melakukan operasi plastik?
Tapi operasi plastik untuk kecantikan itu kan, haram?
__ADS_1
"Alisha?" ucap Mama memanggilku. Aku seperti orang bodoh karena terlalu banyak memikirkan sesuatu?
"Ha? Iya Ma kenapa?" tanyaku memastikan.
"Kamu kenapa?"
"Eh .. Nggak, aku nggak papa. Loh Papa, Alesha sama Kak Hanzal kemana, Ma?" tanyaku.
"Mereka udah masuk ke kamarnya masing-masing." Jelas Mama.
"Yaudah, kalau gitu aku masuk ke kamar juga." Kataku. Mama mengangguk mengiyakan. Setelah itu aku naik ke lantai atas.
...____________...
Aku masuk ke kamar dengan merenungi banyak hal. Aku duduk berbaring di sofa kamarku. Apa setelah saudara kembar kandungku datang, aku akan tetap seperti biasanya? Yang hidup tanpa kasih sayang dari orang tuaku sendiri. Sekalipun Alesha bukan saudara kandungku, aku sangat yakin, kasih sayang Mama, Papa dan Kak Hanzal pada Alesha tetap sama. Karena mereka sangat mencintai Alesha. Entah bagaimana air mataku kembali turun ke pipiku. Aku langsung mengusap secara pelan.
Pintu terketuk dari luar kamarku, "siapa?" tanyaku agak meninggikan suara.
"Mbak Lia," katanya dari luar kamarku. Aku langsung beranjak dari tidur dan membuka kunci pintu kamarku. Aku orang yang sangat menjaga privasi diri sendiri. Sampai aku tidak menyukai jika siapapun itu masuk ke kamarku tanpa seizinku.
"Ada apa Mbak?" tanyaku setelah pintu terbuka.
"Oh ya, aku lupa Mbak. Makasih ya udah diingetin." Kataku. Aku memang senang ketika aku melupakan sesuatu lalu ada yang mengingatkan. Karena merasa diperhatikan saja. Tolong harap dimaklumi, Alisha kurang perhatian Adnan.
"Mbak Lia bawa apa?" tanyaku ketika menyadari Mbak Lia membawa minuman satu botol ukuran satu liter.
"Ini, susu kurma buatan Mama." Jelasnya. Aku hanya mengangguk mengerti. Aku tahu jelas untuk siapa susu kurma itu? siapa lagi kalau bukan si princess tanpa darah bangsawan itu, Alesha. Karena susu kurma salah satu minuman favoritnya Alesha. Dan dari kecil Mama selalu membuatkannya untuk Alesha. Sementara Mama tidak sekalipun membuatkan aku susu kurma dari tangannya sendiri. Satu momen aku saat aku minta Mama agar aku dibuatkan juga, karena saat itu aku masih berusia enam tahun. Mama malah menyuruh Mbak Lia membuatkan susu kurma untukku. Semua ingatan baik-buruk yang pernah aku lalui begitu jelas aku ingat tanpa sedikitpun yang aku lupakan.
Tidak mau mengingat, tapi terus saja teringat.
"Oh, yaudah Mbak Lia, sana kasih ke Alesha." Kataku hendak menutup pintu. Mbak Lia menahan pintu kamarku agar tidak ditutup.
"Ini bukan buat Mbak Alesha, tapi Mama membuatkan susu ini untuk Mbak Alisha." Jelasnya membuat aku tertawa renyah.
"Apanya yang lucu, Mbak Alisha?" tanya Mbak Lia kebingungan.
"Ini lawak banget sih, Mbak. Sejak kapan Mama mau membuatkan aku susu kurma? Bukannya susu kurma hanya untuk si princes kesayangannya itu?" kataku membuat Mbak Lia mengucap istighfar.
"Ini beneran dari Mama buat Mbak Alisha, bukan buat Mbak Alesha. Jadi orang nggak percayaan banget." Jelas Mbak Lia lebih jelas lagi.
"Emang Mama kejedot apa, sampai tiba-tiba harus buatkan aku susu kurma?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Kebanyakan nanya." Kata Mbak Lia malah emosi. Dia memaksaku menerima botol itu. Dan aku enggan menerimanya.
"Udah bawa ke kamar dan diminum! Kalau nggak mau diminum, Mama pasti nggak akan pernah mau membuatkannya lagi." Katanya malah mengancam.
"Dimana Alisha yang yang biasanya, yang selalu menghargai pemberian orang, siapapun orang itu. Dimana Alisha yang selalu antusias ketika orang lain memberikan sesuatu hanya ingin membuat si pemberi bahagia?"
"Ini yang membuatkan langsung dari tangan Ibu kamu sendiri. Kalau Mbak Alisha nggak suka, seenggaknya hargai orang yang sudah berusaha keras memberikan sesuatu. Apa Mbak Alisha nggak paham, kalau orang memberi dan ditolak, itu rasanya sakit banget, Mbak." Jelasnya membuat aku terpaksa menerimanya.
"Apa bukan Mbak Lia yang buat?"
"Sejak kapan Mbak Alisha minta saya buatkan susu kurma? Dari dulu Mbak Alisha nggak suka susu kurma karena susu kurma minuman favoritnya Mbak Alesha." Katanya. Sekalipun aku tidak menyukai susu kurma tapi aku pernah mencobanya beberapa kali. Entah semua hal yang berkaitan dengan Alesha, aku sangat tidak menyukainya. Termasuk susu kurma, yang dulu menjadi favoritku, setelah Alesha menyukai susu kurma, aku langsung tidak minum susu kurma lagi. Alasannya hanya untuk menghindari sesuatu yang berkaitan dengan Alesha.
"Nggak pernah sih," jawabku.
"Mama lagi memperbaiki semua hubungan dirinya dengan Mbak Alisha. Jangan mengacaukan usahanya. Kalau itu terjadi, maka Mbak Alisha akan menyesal." Katanya semakin mengancam.
"Iya Mbak," aku hanya menjawab singkat. Karena semakin aku menjawab maka aku akan semakin di ancam dengan banyak hal.
"Heran deh, nggak Ibunya, nggak anaknya, sama-sama gengsi. Kalau sayang, tinggal ngomong langsung. Kalau memang saling mencintai kasih, perhatian langsung, nggak perlu pakai acara diwakilkan. Malah saya yang merangkap menjadi tukang paket." Kata Mbak Lia mengeluarkan semua pikirannya sambil berjalan meninggalkan kamarku.
Andai Mama membuatkan susu kurma ini diwaktu aku masih kecil pada saat aku menginginkannya, rasanya pasti akan berbeda. Tapi sayangnya Mama memberikan penolakan dari permintaanku yang membuat aku muak apapun yang berkaitan dengan Alesha. Untuk apa Mama memperbaiki semuanya sekarang? Karena baru mengetahui jika Alesha bukan keturunan Mama dan Papa.
Aku masuk ke kamar dan mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat Isya.
Hanya beberapa menit aku sudah menyelesaikan shalat Isya, aku mengambil Al-Quran dan membacanya secara tartil surat Al-Baqarah ayat 285 sampai ayat berikutnya. Aku berhasil menyelesaikan sampai tiga lembar.
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا
كْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah:285)
Setelah selesai membaca Al-Quran dan merapikan mukenah, aku segera meletakan Al-Quran diatas lemari yang agak tinggian. Mataku fokus pada botol susu kurma yang Mbak Lia bawa untukku.
"Apa susu kurma ini rasanya sama kayak waktu aku meminta dan mendapat penolakan?" tanyaku pada diri sendiri. Aku membuka tutup botol itu dan aku menarik kursi belajar, kemudian aku duduk dan minum susu kurma itu dengan mengucap basmalah dan diakhiri dengan kalimat hamdalah.
"Enak, rasanya pas. Tapi kenapa semakin dihabiskan rasanya agak hambar? Apa karena momen nya yang membuat susu kurma ini jadi hambar nggak terasa senikmat tegukan pertama?"
..._____________...
...To be continued...
__ADS_1