
Hai kalian baca jam berapa?
Jangan lupa vote dan komen sekalipun jarang ada yang komen.
...__________...
Kondisi fisik Alesha memang baik-baik saja. Tapi aku tidak yakin dengan psikisnya setelah tahu jika dia bukan bagian dari kami. Setelah berhasil melakukan operasi dan melewati masa kritis, anak itu akhirnya sadar kembali, setelah penantian lima jam dari pasca operasi. Esok hari aku akan pulang, aku sudah merindukan rumah dan kampus. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Alesha setelah tahu semuanya. Bahkan Kak Hanzal pun belum tahu akan hal ini. Aku tidak ingin memberitahu hal ini, karena sepertinya aku tidak memiliki wewenang untuk mengatakan hal ini padanya. Sepertinya Mama dan Papa sengaja menyembunyikan semua ini dari semua orang.
Setelah mereka tahu yang sebenarnya, apakah mungkin, semua yang dimiliki oleh Alesha akan terus bertahan? Seperti kasih sayang, popularitas, teman, keluarga dan banyak hal lain yang menguntungkan Alesha. Apa semua hal itu akan bertahan atau hilang begitu saja? Melihat wajah Mama yang takut kehilangan Alesha, membuat aku malas memikirkan semua baru saja yang terlintas di kepalaku. Bagaimana jika posisinya terbalik? Aku tidak yakin jika Mama akan merasa kehilangan aku.
Setelah perdebatan panjang antara aku dan Mama tadi pagi di rumah, sekarang wanita paruh baya itu malah menjaga jarak denganku. Satu jam berlalu, Alesha dipindahkan ke ruang inap. Mama dan Papa lebih dulu menghampiri Alesha.
"Udah sana istirahat! Dari tadi Kakak cariin malah nggak ada. Orang sakit itu, istirahat. Bukan malah lari-larian." Kata Kak Hanzal mulai mengomel. Sekalinya perhatian,dia selalu saja banyak mengomel.
"Kenapa baru sekarang sih, Kak Anzal perhatian sama aku?" tanyaku dengan wajah malas.
"Maaf, Kakak sibuk. Gimana kalau kita makan di kantin?" tawarannya tidak cukup menggiurkan.
"Aku masih kenyang." Kataku menolak tanpa memgilter perkataanku lebih dulu. Kak Hanzal tidak menyerah begitu saja.
"Anggap aja, ajakan ini sebagai ganti menembus waktu yang nggak pernah kita lalui bersama." Jelasnya.
"Terima kasih atas tawarannya. Tapi maaf, sama sekali aku nggak tertarik dengan tawaran Kakak. Sekalipun Kakak membeli semua kantin di rumah sakit ini untukku, hanya karena untuk menebus waktu yang nggak pernah kita lalui bersama." Jawabku.
"Lagian mana bisa, waktu yang udah terlewat, bahkan udah sampai 19 tahun bisa ditebus hanya dengan makan di kantin bersama denganmu, Kak?"
"Kamu nyadar nggak sih? Sifat kamu itu sangat sama dengan Mama. Ajaibnya juga sama-sama nggak mau disamakan. Cara bicara kamu tadi itu seperti Mama ketika ada klien yang tidak sesuai dengan kriteria kerjasama dengan perusahaan Mama. Ada saja bahasa yang dikeluarkannya." Katanya.
"Kenapa malah bahas Mama?" tanyaku.
"Itu contoh kecilnya. Kalian sama-sama nggak mau menjadi topik pembahasan. Padahal kalian saling berkaitan satu sama lain." Jelasnya. "Alisha, kamu kenapa sih?" tanyanya dengan nada lembut.
"Nggak kenapa-napa. Dan jangan tanya kenapa bisa nggak kenapa-napa, tapi mukanya ada apa-apa. Karena aku lagi nggak mau berinteraksi sama siapapun. Jadi tolong, jangan beri pertanyaan lagi." Kataku mengatakan hal itu ke Kak Hanzal. Pria itu hanya cukup menggeleng kepala sambil membuang nafas pelan-pelan. Setelah itu aku berjalan meninggalkan Kak Hanzal yang masih berdiri di tempat tadi. Aku berjalan sambil berjajar membawa tiang infusan.
Aku tidak langsung pergi ke ruang inap ku. Aku malah berjalan ke poli anak di lantai tiga. Pemilik rumah sakit ini adalah Kakek buyutku, datuk Ammar Adnan. Beliau Kakek dari Papa. Aku pernah mendengar sedikit cerita tentang beliau. Beliau itu merupakan salah satu orang yang berpengaruh di Bengkulu. Dan beliau hijrah ke Jakarta untuk membangun rumah sakit ini. Rumah sakit ini tidak langsung berdiri begitu saja. Karena Kakek buyutku ini bukan Bandung Bondowoso, yang mampu membangun seribu candi dalam waktu semalam, bersama dengan para jinnya.
Sedikit yang aku tahu dan aku ingat dari cerita Datuk kami, bahwa mendirikan perusahaan baik rumah sakit atau perusahaan yang bergerak dibidang apapun, itu tidak semudah di drama-drama yang sering kita tonton. Atau tidak semudah novel yang sering anak muda buat. Jadi bisa dibilang, perjuangannya itu tidak mudah. Datuk Ammar itu seorang dokter spesialis bedah sekaligus dosen di kampus Universitas Indonesia. Beliau berawal dari membuka klinik dan sampai bertahun-tahun akhirnya bisa mendirikan rumah sakit sendiri, sebenarnya dana nya juga dibantu oleh orang tuanya dan beberapa investor. Dan kami disini sebagai keluarga yang katanya tergolong orang kaya, sebenarnya kami hanya meneruskan usaha-usaha mereka.
Ajaibnya Papa malah memilih beda jalur, akhirnya beliau mendirikan perusahaan kecil-kecilan sampai sebesar itu dengan membutuhkan waktu yang cukup lama. Itu pun juga masih dibantu oleh orang tuanya. Keluarga besarku kebanyakan terjun di dunia kesehatan. Termasuk Mama, tapi akhirnya Mama memilih jalan untuk berhenti menjadi seorang dokter setelah mengambil PPDS di tahun kedua (program pendidikan spesialis), Mama memutuskan kembali berkuliah mengambil bisnis.
"Alisha?" panggil seorang wanita dari depan yang jaraknya cukup jauh dariku. Perempuan itu berlari ke arahku dengan mengenakan seneli putih panjang. Namanya Amara Shafia Adnan. Dia sedang menempuh PPDS Mata. Kami memang tidak sering bertemu tapi kami cukup dekat. Dia seusia dengan Kak Hanzal, sekitar 7 tahunan. Dia sepupuku yang berasal dari Bengkulu.
"Hai Kak,"
"Pangling banget pakai hijab,"
"Kakak bukan orang pertama yang ngomong kayak gitu." Kataku membuat dia terkekeh.
"Ada apa Kak?"
__ADS_1
"Alesha sama Barra saling suka nggak sih? Kalau saling suka, kenapa Kevin masih deket sama Alesha?" tanya Kak Amara tiba-tiba. Bau-bau menyengat cinta segitiga. Apa mungkin Kak Amara menyukai Barra? Tapi Barra tidak menyukai balik.
"Kakak suka sama Barra?" tanyaku membuat dia gelagapan.
"Enggak, siapa juga yang suka sama Barra. Kakak cuman tanya Alisha." Jawabnya beralasan. Tapi alasannya tidak cukup meyakinkan.
"Kalau soal itu aku nggak tau. Kalau Kakak mau tau, tanya sama mereka aja." Jawabku. Jawabanku ini memang tidak memberikan jawaban yang memuaskan untuk Kak Amara. Tapi ya mau bagaimana lagi, aku juga tidak terlalu tertarik dengan kisah percintaan antara Barra dan Alesha. Hidup ini terlalu rumit, mencampuri urusan orang lain hanya akan menambah kerumitan yang berat. Bayangkan saja, Kak Amara mencintai Barra, sementara Barra mencintai Alesha, dan Alesha malah mencintai kekasihnya yang bernama Kevin.
Tiba-tiba dering handphone berdering cukup nyaring. Tapi bukan dering handphone ku. Sepertinya getaran dering itu berasal dari snellinya Kak Amara. Lalu Kak Amara langsung merogoh saku sneli. Ia mengambil benda pipih yang banyak diimpikan anak muda masa kini, iPhone 14 Pro Max.
"Al, ada panggilan darurat. Aku pergi duluan ya?" Katanya, aku langsung menganggukkan kepala dan mengiyakan. Setelah mengatakan itu perempuan dengan pashmina warna maroon itu berlari cepat ke ke arah IGD.
...____________...
Aku memutuskan duduk di taman dekat poli anak. Rumah sakit ini sengaja didesain serba hijau. Banyak pohon yang rindang nan hijau maupun bunga-bunga yang bertebaran di seluruh luar ruangan rumah sakit. Tapi beda halnya jika malam hari, taman ini tak seindah pagi sampai sore hari. Jika sudah malam hari tiba, apalagi sudah banyak yang masuk ke ruangan inap masing-masing, hanya para dokter jaga maupun tenaga medis lain yang lewat berlalu lalang, suasananya berubah menjadi horor. Aku bukan orang yang penakut terhadap hantu-hantu yang jahil. Jadi aku merasa sudah terbiasa dengan suasana seperti itu di rumah sakit, sekalipun aku bukan dokter.
"Hai Kak, boleh aku duduk disini?" tanya seorang anak kecil laki-laki usianya sekitar 5 tahun. Aku melihatnya sangat teliti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku tersenyum simpul.
"Kamu manusia kan?" tanyaku waspada, tidak sengaja membuat seorang pria di belakangku terkekeh. Aku menoleh ke arah belakang. Sejak kapan Barra berdiri di belakangku? Kemudian dia duduk disampingku.
"Ngapain kamu ketawa?" tanyaku.
"Memangnya ada larangan kalau saya nggak boleh ketawa didepan kamu?" tanyanya membuat aku menghela nafas kasar.
"Dia bukan hantu. Namanya Irish, dia salah satu pasien yang mengalami gagal ginjal. Dia sudah dirawat sekitar dua pekan ini. Tapi anaknya kuat dan sangat ceria."
"Disaat kebanyakan orang sakit membutuhkan orang terdekatnya menghibur, justru Irish yang menghibur keluarganya bahkan para dokter yang menanganinya." Jelas Barra tanpa aku minta. Aku mengangguk mengerti. Siapa yang akan menerka, anak perempuan yang masih sangat belia bisa mengalami gagal ginjal? Itu semua karena kehendak-Nya. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada diri kita sendiri.
"Sha maaf, duduknya bisa tolong geseran nggak?" katanya, aku langsung menggeser ke sebelah kanan, sementara Irish duduk di tengah kami.
"Irish, ini Kak Alisha. Dia calon adik ipar saya. Dan Alisha, ini Irish pasien yang saya tangani." Katanya memperkenalkan anak itu padaku. Irish segera mengulurkan tangannya, kemudian aku menjabatnya.
"Alisha,"
"Irish. Senang bertemu dan berkenalan denganmu Kak." Kata Irish dengan senyum manisnya.
"Senang bertemu dan berkenalan denganmu juga."
"Dokter Barra, katanya kemarin mau kasih aku coklat?" katanya, lalu Barra mengeluarkan sesuatu dari saku snelli.
"Tutup mata dulu! Irish hitung sampai tiga. Nanti kalau udah di angka tiga, Dokter Barra bilang buka mata, Irish buka mata ya!" katanya. Entah bagaimana aku merasa suka saja dengan interaksi mereka. Sepertinya Barra memang menyukai dan sangat dekat dengan anak kecil.
"Satu … dua … tiga,"
"Ayo Iris buka mata kamu!" kata Barra dengan sangat antusias. Dia sengaja meletakan dua coklat batang di kedua tangannya.
"Terima kasih Dokter Barra," kata Irish dengan gembira. Anak itu langsung memeluk Barra, Barra juga membalas pelukannya.
"Sama-sama," kata Barra sambil tersenyum dan mencubit pelan hidung Irish.
__ADS_1
"Irish, coklatnya jangan dimakan semuanya ya! Buat besok satu. Gigi kamu nanti bisa habis karena kebanyakan makan coklat." Kata Barra. Irish duduk dipangkuan Barra. Barra mengusap keringat Irish yang berjatuhan dari dahi menggunakan tisu. Kenapa aku melihat mereka seperti seorang Ayah dengan anaknya?
"Ngeliatnya biasa aja kali, Sha. Nggak baik naksir sama calon Kakak-ipar sendiri." Katanya menyadarkanku, membuat mulutku melongo. Baru kali ini aku tahu jika Barra senarsis ini. Percaya diri sekali dia ini. Memang ya, pria ini memang memiliki sejuta rahasia yang tidak semua orang ketahui.
"Siapa juga yang mau niatan naksir sama kamu." Kataku.
"Kalau memang nggak naksir, ngomongnya nggak usah ngegas." Katanya dengan santai. Aku hanya menghela nafas agar tidak terpancing emosi olehnya.
"Kayaknya Mama sama Papa salah pilih orang untuk menjadi seorang menantu." Kataku.
"Kenapa?"
"Percaya diri itu perlu, tahu diri itu harus." Kataku membuat Barra hanya terkekeh pelan.
"Sha, boleh nggak saya kasih saran buat kamu?"
"Saran apa?"
"Kamu punya orang tua yang lengkap. Apa kamu nggak ingin dekat dengan mereka?"
"Apa maksud kamu ngomong kayak gitu?"
"Banyak orang yang ingin memiliki orang tua lengkap. Tapi mereka nggak mendapatkan apa yang diimpikannya. Akhir-akhir ini Hanzal cerita banyak tentang kamu. Dia sangat menyesal karena nggak pernah ada sebagai seorang Kakak buat kamu." Jelasnya.
"Apa aja yang kamu ketahui tentang saya?" tanyaku sengaja memancing.
"Banyak, banyak banget malah. Tapi saya nggak mungkin bilang semuanya ke kamu." Katanya malah mengotak-atik handphone.
"Hanzal suruh kamu balik ke ruang inap. Apa perlu saya antar?" katanya sangat memaksa. Tidak Kak Hanzal, tidak Barra sama saja, sama-sama memaksa.
"Nggak perlu, saya bisa sendiri." Kataku bangkit dari duduk. Bersamaan dengan itu Irish juga pamit pergi.
"Apa ucapan kamu barusan bisa dipercaya?" katanya membuat aku menyipitkan mata.
"Sepanjang ingatanku, kita nggak pernah dekat. Kenapa kamu bilang kayak gitu?"
"Karena ketika kamu kesini, kamu bilang sama Hanzal akan balik ke ruang inap. Tapi malah duduk santai disini. Biar saya antar." Katanya tanpa meminta persetujuan lebih dulu.
"Tolong deh nggak seposesif ini. Kamu bukan Kak Hanzal ataupun mahram saya. Lagipula apa untungnya sih kamu sampai sepositif ini sama saya? Saya nggak mau kalau Alesha berpikir kita yang nggak-nggak." Kataku memperingatkan.
"Ya biarin aja Sha, lagian Alesha yang melakukan hal yang nggak-nggak? Tapi dia biasa aja tuh." Katanya lagi.
"Kamu sebenarnya cinta nggak sih sama Alesha? Kalau kamu cinta sama dia, kamu nggak akan biarkan Kevin tetap dekat sama Alesha." Kataku membuat Barra bungkam. Aku tidak mau berdebat lagi dengan Barra. Aku langsung meninggalkan Barra ke ruang inap sendirian.
...________________...
...To be continued ...
...Maaf telat up ...
__ADS_1