
...______________...
Saat aku baru membuka mata, orang pertama yang aku cari adalah Papa dan Mama. Namun kedua orang yang sangat aku inginkan berada disisiku ternyata tidak berada di ruangan ini. Entah bagaimana aku harus berakhir di rumah sakit? Yang aku ingat semalam masih berada di acara pertunangan Alesha. Lalu bagaimana aku bisa sampai disini? Kenapa aku merasa sakit sekali, padahal sepertinya aku baik-baik saja. Ada apa denganku? Hati ku merasa gundah. Ya Allah, ada apa denganku?
Seorang laki-laki yang tidak asing masuk ke ruanganku. Dia tersenyum ramah menyapaku. "Alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga. Gimana kondisi kamu sekarang?" tanyanya pertama kali setelah duduk di sofa tidak jauh dari bed yang aku pakai.
"Ya begitulah, apa Mama sama Papa nggak kesini?" Tanyaku. Pertanyaan yang bodoh yang seharusnya tidak aku ucapkan.
"Kesini kok, cuman kebetulan mereka pulang dulu. Ada beberapa hal yang harus dikerjakan." Jelasnya. Aku tidak melihat kebenaran dari penjelasan di matanya.
"Bagaimana dengan Kak Hanzal? Apa dia juga nggak datang menjengukku?" tanyaku, ada apa denganku. Pertanyaanku seakan aku adalah orang yang paling dipedulikan oleh anggota keluarga. Seharusnya aku tidak menanyakan hal itu.
"Hanzal masih jaga. Oh ya Al, tadi saya sengaja beliin waffle ice cream matcha buat kamu. Katanya kamu suka sama apapun yang berkaitan dengan matcha. Dan ini minumannya juga matcha." Katanya menghampiriku dan memberikan sekantong plastik untukku.
"Terima kasih banyak, maaf ngerepotin." Kataku, aku memutuskan untuk duduk menyandar. Barra membantuku mengatur bantal di punggung ku untuk bersandar.
"Nggak kok." Katanya malah menatapku secara lekat. Setidaknya masih ada orang yang peduli ketika aku dirawat di rumah sakit. Aku tidak tahu bagaimana mendapat kasih sayang yang tulus dari keluarga. Aku hanyalah bayangan kehidupan orang tuaku. Ada namun tidak pernah terlihat.
"Kamu nggak sibuk?" tanyaku. Aku tidak suka merepotkan orang lain, yang ujung-ujungnya aku harus memikirkan bagaimana caranya aku membalas budi baik orang itu.
"Nggak kok, ini jam istirahat."
"Kalau boleh tau, dari kapan saya disini?" tanyaku lagi.
"Tujuh hari yang lalu. Dan dalam tujuh hari itu, kamu mengalami koma."
"Beneran, kok bisa? Kayaknya lukanya nggak separah itu deh?" tanyaku, Barra hanya tersenyum simpul. Pria ini memiliki daya tarik sendiri ketika berbicara dan tersenyum. Aih, bagaimana bisa aku memujinya. Sepertinya dia tipe orang yang friendly, dia akan menspesialkan semua orang yang ditemuinya.
"Tahu dari mana lukanya nggak parah? Seminggu yang lalu kamu dioperasi. Dan melewati masa kritis lumayan lama ditambah dengan koma juga." Jelasnya.
"Apa selama itu, Mama sama Papa sering kesini?" tanyaku agak ragu. Aku takut jawabanya akan menyakitkan.
"Iya, dari kemarin Mama Rumaisha dan Papa Fatih menjenguk kamu. Dan bunga-bunga yang sudah kering di atas nakas, itu bawaan mereka." Jelasnya. Apa dia sedang berbohong demi membuat bahagia orang yang sedang sakit?
"Apa penjelasan kamu bisa dipercaya?" tanyaku sambil makan waffle setelah membaca basmalah.
__ADS_1
"Terserah kamu juga." Katanya membuat aku tidak bisa mengelak lagi.
"Al, sekalipun kamu merasa nggak ada orang yang peduli sama kamu, jangan pukul rata kalau semua orang nggak ada yang peduli sama kamu. Saya yakin, ada banyak orang yang sayang sama kamu. Sekalipun orang itu bukan orang yang kamu mau." Jelasnya.
"Bijak sekali ya Bapak Dokter ini?" tanyaku agak santai. Dia malah terkekeh.
"Bisa ngelucu juga ya?" katanya dengen meledek.
"Bukan pelawak," jawabku.
"Yaudah, saya pamit pulang ke rumah. Kalau ada apa-apa tinggal hubungi saya atau Hanzal." Katanya sangat baik. Andai Kak Hanzal juga bersikap sebaik ini, mungkin aku akan baik-baik saja.
"Barra tunggu!" kataku menghentikan langkah Barra ketika Barra sudah berada diambang pintu hampir menutup pintu ruangan inap ku.
"Kenapa?"
"Hubungi kamu lewat apa? Telepati?" tanyaku. Lalu tiba-tiba handphoneku berbunyi. Aku langsung mengambil dan melihat siapa yang menelpon. Ternyata nomornya tidak ada namanya karena aku tidak menyimpan nomor itu. Aku langsung menggeser panel hijau.
"Itu nomor saya, Barra Ebrahim." Katanya pertama sambil tersenyum simpul.
"Waalaikumussalam warahmatullah."
...___________...
Ketika malam hari, Mama sama Papa belum juga menemuiku. Alesha mengirim pesan untukku agar aku menemuinya di taman. Kebetulan Barra menemuiku bersama Kak Hanzal. Tapi Kak Hanzal baru saja masuk dia langsung keluar karena ada panggilan darurat dari IGD.
Akhirnya aku berjalan keluar ditemani oleh Barra menemui Alesha. Katanya anak itu sedang menungguku di taman. Kenapa yang sehat tidak menemuiku saja? Ini malah yang sakit menemui orang yang sehat. Dunia memang sudah banyak yang terbalik. Aku berjalan karena kaki aku baik-baik saja. Hanya saja tangan aku masih diinfus. Kami berjalan juga pelan-pelan. Rasanya sangat lama sekali ketika harus berjalan seanggun ini. Kalau aku tidak sakit, mungkin aku sudah berjalan lebih cepat. Sayangnya fisik aku sedang tidak baik
Saat kami sudah tiba di taman rumah sakit, Alesha sedang duduk berbincang dengan seorang laki-laki. Lalu kami menghampiri Alesha. Oh my God, Alesha emang udah nggak waras. Bagaimana mungkin Alesha bisa setenang itu? Sementara disampingku ada tunangannya Alesha. Dan anehnya Alesha bersikap biasa saja ketika Barra bertemu dengan pacarnya Alesha.
"Hai Alisha, aku pikir kamu sendirian kesini? Syukurlah ada yang nemenin kamu." Katanya seolah peduli. "Hai Barra, kenalin ini Kevin teman dekat aku. Dan Kev, ini Barra, dia tunanganku." Katanya memperkenalkan mereka berdua. Barra dengan ramahnya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Kevin.
"Barra,"
"Kevin,"
__ADS_1
Benar-benar sudah tidak waras. Bagaimana mungkin perempuan yang berstatus menjadi saudara kembarku beralih menjadi playgirl? Sumpah, jika saja tidak ada Barra dan Kevin disini, dengan senang hati aku akan mencincang kasar anak ini. Kenapa dia harus mengikuti jejaknya Kak Hanzal sih? Aku pikir Alesha sudah tidak berhubungan lagi dengan Kevin, karena sekarang Alesha sudah bertunangan. Ternyata dugaanku meleset jauh.
Aku langsung menarik lengan tangan Alesha menjauh dari mereka berdua. "Maaf ya, mau bicara sebentar sama Alesha." Kataku tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua. Mereka mengatakan iya ketika aku dan Alesha sudah melangkah agak jauh dari Barra dan Kevin. Kemudian aku lihat mereka berdua saling berbincang layaknya teman lama. Barra sepertinya orang yang ramah dan mudah bersosialisasi. Dia sepertinya cepat beradaptasi dimanapun dia berada. Andai dia tahu siapa laki-laki yang sedang diajak berbincang hangat itu, mungkin dia akan menjaga jarak.
"Kamu udah gila Sha? Ngajakin tunangan kamu sama pacar kamu untuk kenalan. Sumpah ya, aku bener-bener nggak habis pikir sama otak kamu itu. Kenapa kamu harus tiru gaya buruknya Kak Hanzal sih?" kataku mulai mengomel dengan segala keluh kesahku.
"Aku nggak cinta sama Barra, Al." Jawabnya dengan tenang. Namun sepertinya tidak setenang mimik wajah yang diperlihatkan. Aku sungguh terkejut dengan jawabannya.
"Terus kenapa kamu mau menerima tunangannya Barra? sementara kamu masih cinta sama Kevin, Alesha Adnan?" tanyaku sangat kesal. Kevin adalah pacarnya Alesha sejak kelas satu SMA. Entahlah, aku tidak tahu banyak tentang hubungan mereka. Hanya itu yang aku tahu.
"Mama sama Papa memaksa aku untuk dijodohkan dengan Barra." Jelasnya.
"Kalau kamu nggak suka, kamu bisa nolak, Alesha. Kamu kan anak kesayangannya Mama sama Papa." Jelasku.
"Nggak semudah itu. Kamu tahu kan Mama sama Papa kayak gimana? Aku nggak sebebas kamu. Kamu bisa ngelakuin apa yang kamu mau. Kalau aku selalu dibatasi Al." Jelas Alesha malah membalikan fakta padaku.
"Kamu bilang aku sebebas itu? Itu salah besar Alesha. Aku nggak pernah sebebas itu. Justru aku nggak pernah dapetin apa yang aku mau. Bahkan dari kecil Mama selalu mengutamakan apa yang kamu mau. Dan sampai detik ini, Mama selalu berpihak sama kamu, dan nggak pernah ngeliat kalau mereka juga memiliki satu anak perempuan lagi, yaitu aku." Jelasku membuat Alesha merasa bersalah. Lidah ku memang tajam, bahkan aku merasa setiap apa yang aku ucapkan adalah kutukan yang kapan saja bisa terjadi.
"Maaf," kataku sebelum Alesha mengatakan hal itu.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu. Maaf, aku nggak pernah tau apa yang kamu mau. Aku juga nggak tau, kalau ternyata kamu nggak baik-baik aja." Katanya. Aku benar-benar muak kalau Alesha bersikap seperti ini. Kemana saja selama ini. Kami selalu satu tempat, namun dia tidak pernah peka dengan perasaanku. Jangankan perasaan, menganggapku ada sepertinya keajaiban besar bagi seorang Alesha.
"Udahlah, nggak perlu dibahas. Terlalu sakit kalau aku bicara tentang masa kecil yang seharusnya aku tidak pernah melewati hal itu." Jelasku.
"Al," panggil Alesha. Namun aku langsung mengalihkan pembicaraan dengan cara menginterupsi perkataannya.
"Aku akan kembali ke ruang inap. Aku perlu istirahat." Kataku melepas tangan Alesha dari lengan tanganku. Jika ada orang mengatakan aku sangat kejam, biarkan saja. Aku sudah terlalu sakit menahan semuanya sedari kecil. Alesha langsung kembali ke tempat Kevin dan Barra.
____________
To be continoude
Mulai muji nggak tuh Al?
...Tapi inget Al, dia calon Kakak ipar kamu!...
__ADS_1
...Jangan lupa vote, komen dan save cerita Mendadak menikah. Jangan lupa ikuti akun aku athiyafakiha biar nggak ketinggalan notifnya. terima kasih ...