
Oh ya jangan lupa tinggalkan vote, komen dan save cerita mendadak menikah. Terima kasih.
_____________
Bisa kalian bayangkan, bagaimana perasaan aku sekarang. Shabiya, sahabatku yang paling dekat dibandingkan dengan Azura maupun Hafizha. Aku tahu sekali tentang bagaimana Shabiya dari A sampai Z. Aku tahu baik-buruknya Shabiya seperti apa. Aku sangat mengenalnya layaknya saudara sedarah. Begitupun dengan Shabiya, dia tahu semua hal tentangku terkecuali tentang keluargaku. Karena aku menyembunyikan semua identitasku, bahkan sampai saat ini aku masih teguh dengan prinsip yang aku buat sendiri. Masalahnya hanya satu, aku menyukai Deva dari awal masuk SMP. Aku pikir hal itu hanya cinta monyet. Tapi ternyata itu beneran cinta yang sesungguhnya. Bodohnya aku bertahan memendam perasaan itu sampai sekarang.
Aku juga lumayan dekat dengan Kakak sepupunya Deva sampai saat ini. Aku masih sering kontak dengan Kak Aniya. Dan hal paling menyakitkan ialah, setelah melaksanakan shalat Shalat aku mengecek handphone. Saat aku membuka story whatsappnya, Kak Aniya memposting sebuah foto, terlihat Kak Aniya memposting foto pertunangan Deva dan pasangannya. Kejutannya belum selesai sampai disana. Hal yang paling mengejutkan ialah, orang yang dilamar oleh Deva adalah Shabiya. Tanpa aku perjelas lagi siapa Shabiya.
Benar sekali, Shabiya sahabatku yang sudah aku anggap menjadi saudara sendiri, yang saat ini resmi menjadi pasangan Deva. Aku baru merasakan patah hati luar biasa. Menyukai seseorang dan sangat dekat dengan keluarganya namun yang terjadi Deva melamar Shabiya. Sakitnya itu double kill. Padahal Ibunya Deva sudah memberikan aku restu. Lagi-lagi karena semua ini buka takdirku. Aku sengaja tidak pacaran selain karena agama juga karena aku menjaga perasaan aku pada Deva. Walaupun dia tidak menyukaiku. Tapi kami cukup memiliki hubungan yang baik.
__ADS_1
Aku langsung menarik nafas dalam-dalam. Lalu aku keluarkan secara pelan-pelan. Aku memastikan kembali jika aku salah melihat. Namun nyatanya aku tidak bermimpi. Sungguh, ini menyakitkan. Baru kemarin aku bertemu dengan Deva setelah empat tahun tidak bertemu.
Ada rasa rindu yang baru kemarin aku lepaskan selama bertahun-tahun. Dan ketika bertemu aku benar-benar merasa sangat bahagia. Lagi-lagi aku selalu bertindak berlebihan. Padahal Allah sangat tidak menyukai tindakanku itu. Baru kemarin rasanya ada harapan untuk mendapatkannya. Ternyata kami tidak berjodoh. Aku benar-benar merasa sesak di dada. kemudian, aku merasa air mataku jatuh tanpa terkendali. Aku benar-benar bodoh, seharusnya aku tahu siapa laki-laki yang sering diceritakan oleh Shabiya. Seharusnya aku tidak terlalu mengetahui banyak hal tentang hubungan mereka. Seharusnya aku tidak pernah tahu tentang baik-buruknya Deva. Argh … semuanya hanya seandainya yang tidak akan pernah merubah apapun. Aku hanya bisa menangis.
Sedari tadi Shabiya juga menghubungiku lewat semua media sosial. Tapi aku tidak meresponnya sama sekali. Kenapa terlalu menyakitkan? Aku minum air mineral untuk melapangkan hidung ku yang tiba-tiba terasa tersumbat. Padahal aku menangis juga sepertinya tidak terlalu lama. Pada akhirnya rasa iba hadir dalam hatiku. Aku menggeser panel hijau dan panggilan pun berlangsung.
"Halo Biya, assalamualaikum, ada apa?" tanyaku. Sejujurnya, aku belum siap menerima apa yang terjadi. Pura-pura bersikap baik-baik saja ternyata hanya menyakiti diri sendiri.
"Selamat Biya, aku bahagia untukmu." Kataku sangat dusta. Mulut berbicara bahagia, namun tidak untuk hatiku. Aku belum mampu menerimanya karena semua yang terjadi datang secara tiba-tiba. Bahkan Shabiya tidak menceritakan bahwa dia akan dilamar. Sebenarnya suara ku sudah serak. Karena hampir dua jam lebih aku menangis. Bahkan mataku juga sembab.
__ADS_1
"Terima kasih. Kamu habis nangis? suara kamu kayak habis nangis. Ada apa, Al?" tanyanya begitu cemas. Aku tertawa hambar, menertawakan kebodohanku yang terlalu dalam mencintai seseorang, padahal aku tahu dia bukan siapa-siapa.
"Nggak ada apa-apa kok, tadi aku cuman pilek aja. Sekali lagi selamat." Kataku masih berbohong. Kelebihanku ini benar-benar menyelamatkan diriku saat ini. Aku selalu bisa menggunakan topeng bahagian kapanpun waktunya, sekalipun keadaannya tidak sedang baik-baik saja. Sejak kecil aku sudah terlatih dan terbiasa untuk tertawa dengan hal-hal yang menyakitkan. Terutama adalah sesuatu menyakiti diriku.
"Kalau ada apa-apa bilang, ya!" katanya. Aku mengiyakan ucapannya. Tapi tidak akan aku lakukan. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan sahabatku sendiri, sekalipun hatiku ingin memiliki cinta yang aku miliki.
"Hm, udah dulu ya, aku laper." Kataku, padahal tadi aku sudah makan. Berbohong itu memang tidak baik. Tapi berbohong untuk menghindari percakapan-percakapan yang membuat aku tidak baik-baik saja sepertinya bisa dimaafkan. Semoga Allah memaafkan kebohongan ku kali ini. Lalu panggilang pun berhenti disana. Aku masih merasa dadaku benar-benar sakit. Sungguh, ini rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Lagi-lagi air mataku kembali mengeluarkan air mata.
Apapun yang aku lakukan aku harus bisa sabar dan juga mengikhlaskan. Karena Deva bukanlah jodohku, dia bukan bagian dari takdirku. Seperti yang dikatakan oleh Sayyidina Umar bin Khattab, apa yang menjadi takdirmu tidak akan melewatkanmu. Apa yang bukan menjadi takdirmu pasti akan melewatkanmu.
__ADS_1
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah:45-46