
...Permasalahan dari permasalahan...
...____________...
...Hai, kalian baca jam berapa?...
...Maaf baru sempat up lagi...
...Terima kasih yang udah nyempetin waktu untuk baca tulisanku....
...Terima kaish udah ngikutin perjalanan cinta Alisha....
...Mungkin ini terlalu banyak basa-basi. Bahkan scene antara Barra dan Alisha saja sedikit. Maaf...
...Terima kasih juga yang udah baca+vote disetiap chapternya....
...Dna terima kasih juga yang udah baca tapi nggak pernah ninggalin jejak (vote)...
...__________...
Kemarahan dan datangnya Mama yang secara tiba-tiba membuat Kevin dan Alesha terkejut bukan main. Sebenarnya Mama bukanlah orang yang suka memarahi siapapun, termasuk pada anaknya. Tetapi sekalinya Mama marah, maka siapapun yang terkena marah oleh beliau, kami tidak bisa berkutik. Terkecuali Alesha. Anak itu selalu menyahut ketika Mama sedang memarahinya. Yang membuat emosi Mama semakin memuncak. Alesha itu ketika dinasehati yang tidak sesuai dengan kemauannya, dia akan mendebat. Dia tidak peduli siapa yang sedang diajak berdebat. Padahal ketika orang tua sedang menasehati atau memarahi, kemudian kita terus menyahut, maka masalah akan semakin melebar kemana-mana. Kalau menurutku jika hal itu terjadi padaku, maka aku lebih memilih untuk diam, dan bicara ketika diperlukan saja.
"Alesha," ucap Mama dengan menggelengkan kepala. Mama tidak pernah berpikir jika Alesha melakukan hal sejauh ini.
"Kalian masih pacaran?" tanya Mama langsung mengintrogasi mereka berdua. Alesha terdiam cukup lama. Begitupun dengan Kevin. Mama mulai menenangkan dirinya,
"Diamnya kalian sudah menjadi jawaban atas pertanyaan yang baru saja saya tanyakan." Kata Mama begitu tenang. Tapi ucapannya mengandung beribu arti yang tidak mereka inginkan.
"Apa kalian nggak ingat, kalau Alesha sudah bertunangan?" tanya Mama pada mereka berdua.
"Kevin, tolong tinggalkan kami! Saya butuh bicara dengan Alesha." Kata Mama. Kevin segera melangkah pergi dari ruang inap Alesha.
"Barra, Alisha, tolong tinggalkan saya sebentar. Saya butuh bicara empat mata dengan Alesha!" titah Mama pada kami berdua. Barra meninggalkan aku sendirian. Sementara Barra berjalan lebih dulu dari langkahku. Sebelum pintu benar-benar tertutup rapat, aku masih bisa mendengar pembicaraan antara Mama dan Alesha.
"Sha, saya pamit. Masih banyak kerjaan yang harus saya kerjakan." Aku mengangguk ketika Barra mengatakan itu. Aku melihat punggung Barra semakin menjauh dari hadapanku.
"Apa semua yang Mama berikan sama kamu itu masih kurang, Alesha?" tanya Mama dengan sangat mengintimidasi.
"Apa kamu nggak pernah mikir, kalau kamu itu udah tunangan? Putusin Kevin sekarang! Atau kamu akan mengalami masalah besar." Kata Mama mengancam.
"Udahlah Ma, aku tuh udah dewasa. Aku bisa memilih yang terbaik kayak gimana. Lagian Mama nggak capek apa, ikut campur urusan aku terus?" tanya Alesha dengan nada kurang suka.
"Justru karena kamu udah dewasa,seharus ya kamu sadar apa yang kamu lakukan itu salah. Mama ngelakuin semua ini demi masa depan kamu. Mama nggak akan tenang kalau kamu kenapa-napa, Alesha." Kata Mama.
"Kalau Mama menasehati kamu dalam hal kebenaran, kamu tinggal lakuin aja. Nggak perlu pakai membentak balik. Mama udah peringatin sama kamu berkali-kali, jangan berhubungan sama Kevin lagi. Anak itu bukan anak yang baik, Alesha." Jelas Mama.
__ADS_1
"Mama ngomong kayak gitu, karena Mama nggak kenal sama Kevin."
"Justru itu, Mama bilang kayak gitu karena Mama udah cari tau siapa Kevin. Dia bukan anak baik-baik." Kata Mama tidak kalah untuk mendebat Alesha. Ini bukan pertama kalinya Alesha mendebat setiap Mama memperingatkannya.
"Udahlah Ma, aku capek. Berhenti ikut campur urusan aku!" kata Alesha.
"Alesha, Mama akan ikut campur apapun yang kamu lakukan. Apalagi kalau sudah menyangkut sesuatu yang seharusnya nggak kamu lakukan. Dan Mama nggak akan capek bilangin kamu, agar kamu tetap berjalan di arah yang baik." Kata Mama.
"Kenapa Mama selalu kayak gini sama aku?" tanya Alesha. Stupid, kenapa dia menanyakan hal itu? Apa dia nggak sadar, jika dia sangat dia sayang oleh Mama dan Papa. Seharusnya dengan tindakan Mama yang selalu ikut campur urusan Alesha, itu adalah bentuk kepedulian dan rasa cintanya Mama. Tapi sayangnya anak itu hanya memiliki rasa peka yang rendah.
"Karena Mama sayang sama kamu, Mama sangat menyayangi kamu lebih dari apapun."
"Kenapa?"
"Karena Mama nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya. Bagaimana perasaan orang tua kamu, ketika dulu harus menghadapi kondisi putrinya yang keluar-masuk rumah sakit tiap pekan. Dan itu terjadi waktu kamu. Bahkan dokter sudah memvonis kamu, jika umur kamu nggak panjang." Jelas Mama seperti menahan air mata, suaranya terdengar bergetar saat mengatakan hal itu. Yang membuat aku tidak percaya dengan penjelasan Mama.
Apa itu artinya, Mama menspesialkan Alesha hanya karena dulu dia sering masuk rumah sakit? Apa itu maksudnya? Tapi kenapa harus aku yang posisinya terlantar. Kenapa Mama hanya bisa menspesialkan Alesha. Sementara aku tidak pernah di spesialkan oleh mereka hanya karena dulu aku tidak pernah sakit. Apa perlu aku sakit parah lebih dulu, agar Mama bisa memberikan kasih sayangnya padaku. Kenapa?
"Mama ngelakuin ini semua karena Mama sayang dan nggak mau kamu kenapa-napa, Alesha." Mama mengatakan hal itu yang membuat dirinya menangis. Apa lukanya terlalu berat? sampai aku tidak pernah memperdulikan apa yang Mama rasakan selama ini. Dan aku terus meminta pada Allah agar aku bisa diberi kasih sayang seperti Alesha.
"Lalu bagaimana dengan Alisha, Ma?" tanya Alesha tiba-tiba. Kenapa namaku harus dibawa-bawa.
"Alisha? Ada apa dengan Alisha?" tanya Mama berusaha agar menghentikan tangisnya sendiri.
"Kamu sadar apa yang kamu tanyakan?"
"Iya, aku sadar." Kata Alesha. Mama tidak kunjung menjawab pertanyaan Alesha.
"Mama percaya, jika Alisha bisa menemukan pasangannya sendiri. Dan Barra itu cocok buat kamu. Dia tau bagaimana kamu. Sementara Alisha nggak akan cocok sama Barra. Alisha sangat berbanding terbalik dengan Barra." Jelas Mama membuat aku ingin keluar jauh dari kehidupan mereka. Tapi entah kenapa kaki aku sulit digerakan. Telinga tidak ingin mendengarkan, tapi badanku sangat sulit digerakan. Pada akhirnya aku mendengar semua pembicaraan mereka sekalipun menyakitkan.
"Mama tau nggak? selama ini Alisha nggak pernah nganggep aku sebagai saudara kembar nya. Dia lebih menganggap aku sebagai lawan hidupnya. Karena Mama dan Papa nggak pernah memperhatikan Alisha. Sampai Alisha sering berusaha banyak untuk menjadi pertama dalam segala hal, hanya karena dia ingin Mama memperhatikan dia." Jelas Alesha membuat aku tidak percaya. Bagaimana mungkin anak itu bisa tahu? Aku yakin, jika Mbak Lia yang sudah membuka rahasiaku. Karena hampir semua hal yang terjadi denganku, hanya Allah dan Mbak Lia yang tahu.
"Itu nggak mungkin. Alisha anaknya cuek, dia nggak pernah iri apa yang kamu dapatkan selama ini. Dia juga nggak pernah mencari perhatian, agar dia dapat diperhatikan oleh kami. Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu?"
"Mbak Lia yang mengatakan semua ini kemarin, saat Alisha masih berada di Turki." Jelas Alesha. Tebakanku sama sekali tidak meleset. Aku langsung berlari meninggalkan rumah sakit. Bagaimana mungkin Mbak Lia mengatakan semua hal yang terjadi padaku pada Alesha? Argh …
Aku langsung memesan grab car, pikiranku benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih. Hanya menunggu sekitar lima menit, mobil yang aku pesan sudah datang.
"Atas nama Alisha Adnan?" tanya seorang laki-laki yang masih muda memastikan padaku dengan menurunkan kaca mobil.
"Iya benar,"
"Silahkan masuk, Kak." Katanya, aku segera masuk mobil di bagian kursi penumpang. Aku meminta Mas driver untuk cepat sampai rumah.
...____________...
__ADS_1
Mobil berhenti di area perumahan elit kawasan Menteng, tepatnya pada perumahan putih dengan tiga lantai nuansa Eropa. Aku segera turun dari mobil setelah membayar mobil yang aku pesan. Aku langsung membuka gerbang rumah dan menutupnya kembali.
"Loh, Mbak Alisha bukannya tadi mau jenguk Mbak Alesha? nggak jadi ke rumah sakit, Mbak?" tanya Bibi Rana sengaja mematikan kran lebih dulu ketika aku tiba. Beliau sedang menyirami bunga di sekitar halaman depan yang lumayan luas.
"Jadi kok, Bi. Oh ya Mbak Lia di rumah apa ke pasar?" tanyaku
"Oh Mbak Lia masih di rumah kok."
"Oh gitu, makasih Bi." Aku segera berlari ke dalam rumah. Aku langsung mencari Mbak Lia di sekitar dapur. Akhirnya aku menemukan orang yang aku cari.
"Mbak Lia, kenapa Mbak ngomong semuanya sama Alesha?" kataku benar-benar tidak bisa ditahan lagi.
"Ngomong opo toh, Mbak?" tanya Mbak Lia malah bertanya balik.
"Mbak seharusnya tau apa yang aku omongin. Aku kan udah bilang sama Mbak Lia, jangan pernah bilang apapun yang terjadi sama aku dari kecil sama siapapun juga, termasuk orang rumah. Ini malah Alesha tau semuanya." Jelasku. Sepertinya Mbak Lia belum konek sama sekali.
"Mbak Lia, Mbak ngomong apa aja sama Alesha waktu aku di Turki?" tanyaku dengan nada lembut penuh penekanan.
"Mbak nggak ngomong apa-apa." Katanya masih mengelak.
"Bohong. Alesha tadi ngomong sama Mama. Kalau selama ini aku nggak pernah menganggap Alesha sebagai saudara kembarku, tapi sebagai lawan hidupku. Dia juga bilang kalau di tau semunya dari Mbak Lia. Kenapa Mbak Lia bilang semua itu sama Alesha?" tanyaku sangat marah.
"Aku percaya sama Mbak Lia, kalau Mbak Lia nggak akan pernah bilang apapun sama orang rumah." Kataku membuat pertahanan agar tidak menangis akhirnya runtuh.
"Aku nggak mau siapapun tau tentangku, Mbak. Termasuk Mama sama Papa. Aku nggak mau mereka tau semua yang terjadi sama aku dari kecil. Karena mereka nggak pernah peduli denganku."
"Aku memang iri sama Alesha bahkan dari kecil, Mbak. Karena Mama dan Papa sangat perhatian sama Alesha dari hal-hal kecil sampai besar. Aku cukup mengatakan itu sama Mbak Lia, bukan yang lainnya."
"Mbak tau juga kan, kemarin aku ingin banget Mama sama Papa hadir nemenin aku di Turki di perlombaan pacu kuda. Tapi mereka nggak bisa karena pekerjaan. Ini bukan pertama kalinya, tapi ini sekian penolakan dari mereka. Tapi kalau Alesha yang minta, mereka nggak akan nolak."
"Mbak seharusnya paham, kalau dengan Mbak Lia mengatakan semua itu pada Alesha, itu nggak akan pernah merubah apapun." Jelasku membuat Mbak Lia mengucap maaf berkali-kali karena menyesal.
"Jadi benarapa yang dikatakan sama Alesha?" tanya Mama tiba-tiba sudah berada tidak jauh dari belakangku. Aku menoleh Mama dengan keadaan penuh ketegangan. Bagaimana mungkin Mama sudah dibelakangku? Bukannya Mama masih di rumah sakit?
"Mama?" ucapku sangat terkejut. Apa yang akan aku katakan pada Mama. Aku segera mengusap air mata dengan kasar. Mama menatapku dengan tatapan yang tidak mampu tertebak.
Apa aku juga akan kena marah?
..._____________...
...To be continued...
...Lumayan panjang chapternya...
...Jangan lupa vote, komen, dan save Sha & Sha terima kasih. Kalian bisa follow akun wp athiyafakiha biar nggk ketinggalan notifikasi. Kalau ada kesalahan kalian bisa komen spam. Terima kaish banyak udah meluangkan waktu untuk baca tulisan aku...
__ADS_1