Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 101


__ADS_3

"Pagi, Sayang! ayo bangun, kamu harus berangkat sekolah," ucap Sania menarik selimut putra kecilnya.


"Ma! apakah aku akan sekolah hari ini?" tanya Rizki membuka matanya yang masih terasa berat.


"Ia, Sayang! kamu akan masuk sekolah mulai hari ini. Lihat, jam sudah menunjuk ke pukul setengah tujuh pagi."


Mendengar ucapan mama sambungnya itu, Rizki langsung bangkit dari tidurnya. Dia menatap sang mama yang sedang membuka jendela kamarnya. Setelah Bisma dan Sania menikah, kehidupan Rizki menjadi berubah drastis. Kini bocah itu telah menemukan kebahagiaan yang sebenarnya, dimana dia kini mendapatkan cinta yang sesungguhnya dari kedua orang tuanya. Walaupun Sania bukanlah ibu kandungnya, tetapi wanita itu sangat menyayanginya dan merawatnya dengan begitu baik.


"Apa mama tau! setelah sekian lama akhirnya doaku telah di kabulkan oleh Allah. Aku sangat bahagia," ucap Rizki menatap lekat sang mama.


"Benarkah! memangnya kamu meminta apa kepadanya?" tanya Sania tersenyum.


"Aku meminta agar aku di pertemukan dengan papa kandungku. Sekarang aku telah bertemu dengan papa. Bahkan Allah memberikan hal yang lebih dari yang aku minta, dia memberikan sosok papa dan juga mama yang sangat menyayangiku. Aku sangat menyayangi kalian berdua," ucap Rizki memeluk Sania dengan erat.


"Mama dan papa juga sangat menyayangimu, Sayang. Maaf! karena papa dan mama datang terlambat. Jika kami tau jika kamu telah hadir di dunia ini sejak awal, pasti sejak lama kami menjemputmu untuk tinggal bersama kami," ucap Sania mencium lembut puncak kepala putranya itu.


"Tapi papa dan mama baru beberapa hari lalu menikah,"


"He... he... kamu benar, Sayang. Tidak apa-apa, lebih baik kita lupakan semua masalalu yang menyakitkan itu. Sekarang kita fokus menatap kedepan dan membuat kisah baru bersama-sama," ucap Sania tersenyum hangat.


"Ehem! apakah kalian mau terus mengobrol atau mau mandi. Lihatlah! ini sudah pukul berapa?" tanya Bisma berdiri di depan pintu sambil menatap anak dan istrinya itu.


"Ia, Sayang! kami akan mandi," ucap Sania bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Rizki! cepat mandi. Ingat mama juga harus siap-siap untuk kuliah," ucap Bisma menatap putranya itu.


"Siap, Pa! Rizki akan mandi secepatnya," ucap Rizki langsung berlari kecil memasuki kamar mandi.


"Mama akan menyiapkan pakaianmu ya," ucap Sania menyiapkan semua keperluan Rizki.


"Sudah! biar aku saja. Ingat kamu tidak boleh terlalu lelah, karena kecebong yang kau pesan lima belas tahun lalu telah berada di dalam perutmu," ucap Bisma mengingat kekonyolan Sania sewaktu kecil yang meminta kecebongnya agar tidak diberikan kepada siapapun.


"Kakak! kakak masih mengingatnya?" tanya Sania merona malu mengingat kelakuannya sewaktu kecil dulu.


"Tentu saja! aku mengingat semuanya sayang. Kakak juga masih ingat saat kamu melamar kakak di resepsi pernikahan Rania dan Randi," ucap Bisma memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Apa kamu mau kita mengulanginya lagi?" tanya Bisma terus mengoda istrinya itu.


"Tidak! perutku tiba-tiba mules. Sepertinya aku mau ke toilet," ucap Sania melepaskan pelukan suaminya itu lalu berlari keluar.


"Aku akan membalas setiap godaanmu. Dulu aku yang pusing setengah mati menghadapi setiap rayuan mautmu. Mulai sekarang aku yang akan terus mengodamu," gumam Bisma lalu berlari kecil mengikuti langkah istrinya itu.


"Memang semua orang dewasa itu sama saja ya. Mereka selalu bertingkah aneh," gumam Rizki melihat kepergian papanya itu.


...----------------...


Beda dengan Sania dan Bisma yang sedang menikmati masa-masa pengantin baru mereka dengan penuh keromantisan. Yuki malah melewati masa-masa kehamilannya dengan penuh rasa kebahagiaan. Walaupun sekarang dia memiliki kekurangan, dia hanya bisa berharap agar dia bisa berdamai dengan kekurangannya itu.

__ADS_1


"Sayang! kamu sedang apa di dalam? maafkan mama ya, karena mama tidak bisa menunjukkan indahnya dunia kepadamu," ucap Sania mengelus perutnya yang mulai membuncit.


"Nanti saat kamu lahir kedunia ini, apakah kamu mau menerima keadaan mama? mama harap kamu bisa menerimanya dengan baik. Walaupun mama tidak bisa melihat wajahmu, tetapi mama akan selalu melukis indahnya wajahmu di hati mama. Walaupun mama tidak bisa akan bisa melukisnya dengan benar," ucap Yuki menyekan air matanya.


Mendengar ucapan istrinya, Aldan merasa begitu tertusuk. Dia sudah melakukan segala cara agar istrinya itu bisa mendapatkan donor mata secepatnya, tetapi tetap saja, dia belum bisa mendapatkan pendonor untuk istrinya itu.


"Sayang! ayo keluar. Mama dan papa sudah menunggumu untuk sarapan bersama," ucap Alda menghampiri istrinya itu.


"Kakak! apakah kakak sudah lama di sana?" tanya Yuki takut jika suaminya itu mendengar ucapannya tadi.


"Tidak! kakak baru saja datang. Ayo cepat! bayi kita pasti sudah lapar," ucap Aldan mengelus perut istrinya itu.


Yuki hanya tersenyum kecil lalu bangkit dari duduknya. Dengan cepat Aldan membawa tubuh istrinya itu kedalam gendongannya.


"Kakak! turunkan aku, aku bisa jalan sendiri," ucap Yuki terkejut dengan aksi suaminya itu.


"Jika kamu melakukan semuanya sendiri, lalu apa gunanya aku disini?" tanya Aldan tersenyum lalu melangkahkan kakinya.


"Di bawah ada mama dan papa. Aku malu."


"Kamu tidak perlu malu, Sayang. Mereka juga pernah muda. Lagipula mereka sudah melihatnya setiap hari,"


"Apa!"

__ADS_1


"Kamu tidak perlu terkejut seperti itu. Jangankan di depan papa dan mama, di depan orang banyak juga aku akan selalu memperlakukanmu seperti ini. Karena bagiku kamu adalah ratu yang harus aku manjakan setiap detik,"


Bersambung......


__ADS_2