
Bisma mengendong tubuh Sania menuju kamarnya. Melihat wajah teduh Sania, seketika semua beban pikirannya langsung menghilang seketika. Sesampainya di kamar Sania, dia meletakkan tubuh gadis itu dengan lembut di atas ranjangnya. Tidak lupa, dia membuka sepatu yang masih menempel di kaki Sania, lalu menutupi tubuh Sania dengan selimut.
"Semoga mimpi yang indah ya. Maaf! karena kakak belum bisa membalas cintamu. Tapi kakak yakin, suatu saat nanti cinta kita akan mempersatukan kita. Kakak akan dengan setia menunggu waktu itu tiba," batin Bisma sambil menatap lekat wajah Sania.
Dia membuang napasnya kasar, lalu memberanikan diri untuk mencium kening Sania. Dia mengelus puncak kepala Sania dengan lembut, dan menatap dinding kamar Sania yang di penuhi foto kebersamaan mereka sewaktu Sania masih kecil. Dengan seketika, senyuman di wajahnya langsung mengembang dengan seketika. Dia merasa sangat beruntung karena telah berada di hati gadis kecil itu. Dia berharap suatu saat nanti mereka akan di satukan oleh cinta mereka.
Tiba-tiba Bisma mengingat pesan Kinan yang menunggunya di ruang kerjanya. Dengan seketika jantung Bisma langsung berdegup dengan kencang. Dia berpikir apa yang ingin Kinan bicarakan dengan dirinya. Namun, ketika melihat raut wajah Kinan yang begitu datar, nyali Bisma langsung menciut dengan seketika. Dia takut jika Kinan akan menyuruhnya untuk menjauhi Sania. Tentu saja dia tidak akan sanggup untuk itu.
Bisma perlahan mencoba menarik napasnya kasar. Dia menatap Sania yang tertidur lelap dan mencoba menguatkan dirinya. Setelah mengumpulkan nyalinya, Bisma langsung keluar dari kamar Sania dan bersiap untuk menemui Kinan. Tentu saja jantungnya berdegup tidak karuan.
Memang Kinan adalah sahabatnya. Akan tetapi di sisi lain, dia juga mencintai putri dari sahabatnya itu. Sehingga membuatnya menjadi merasa segan dan lebih menghormati Kinan. Sesampainya di depan ruang kerja sahabatnya itu, Bisma kembali menarik napasnya pelan. Dengan wajah sedikit pucat, dia mencoba untuk mengetuk pintu itu.
"Masuk!" suara briton yang terdengar sangat menyeramkan berhasil membuat jantung Bisma kembali berdegup dengan kencang.
Bisma mencoba melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Dia melihat Kinan sedang duduk di kursinya sambil menatap dokumen yang ada di depannya. Melihat wajah Kinan yang begitu datar, jantung Bisma kembali berdegup tidak karuan. Dia duduk di kursi yang ada di depan Kinan sambil menundukkan kepalanya tida berani menatap pria di depannya.
"Apa aku sudah menyuruhmu untuk duduk?" tanya Kinan datar ketika melihat Bisma telah duduk di depannya.
Mendengar ucapan Kinan, Bisma langsung bangkit dari duduknya.
"Maaf!" ucap Bisma menunduk tidak berani menatap wajah Kinan.
"Kenapa kau berdiri? duduklah!" ucap Kinan tanpa menatap ke arah Bisma.
"Ini orang cari mati apa? untung saja anak gadisnya sangat cantik. Jika tidak!" batin Bisma geram merasa jika dia sedang di kerjai oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Jadi kau mau duduk atau tetap berdiri?" tanya Kinan datar melihat Bisma yang masih betah dengan posisinya.
"Baiklah! aku akan duduk," ucap Bisma membuang napasnya kasar lalu duduk di depan Kinan. Ternyata kesabaran Bisma hanyalah setipis tissu. Tidak setebal isi rekeningnya.
Melihat Bisma yang kembali duduk, Kinan langsung kembali fokus dengan dokumen yang ada di depannya. Dia meneriksa satu persatu dokumen itu tanpa memperdulikan Bisma yang sejak tadi memperhatikannya. Apakah dia menyuruh Bisma menemuinya untuk menemaninya begadang? atau ingin membicarakan sesuatu. Ntah apa yang ada di dalam pikiran pria itu. Namun, yang pasti sikapnya itu membuat emosi Bisma naik sampai ke ubun-ubun.
Bisma menatap jam yang melingkar di tangannya. Dia melihat jika sudah setengah jam dia menjadi obat nyamuk untuk pria di depannya itu. Dia berlahan membuang napasnya kasar sambil memperhatikan Kinan dengan lekat. Dia kemudian bertanya pada dirinya sendiri, apakah sahabatnya itu sedang mengerjainnya?
"Ehem!" dehem Bisma menyadarkan Kinan jika dia ada di depannya saat ini.
"Oh! kau masih di sini rupanya. Maaf! pekerjaanku begitu banyak. Jadi aku sampai melupakanmu," ucap Kinan datar tanpa dosa sedikitpun.
Mendengar ucapan Kinan, Bisma hanya bisa membuang napasnya kasar. Dia menatap sahabatnya itu dengan wajah memelasnya. Jujur saja, dia sudah ingin beristirahat saat ini. Bukan hanya melihat malam yang sudah sangat larut, tetapi pekerjaannya tadi siang juga sangat melelahkan. Sehingga tubuh pria itu sudah berdemo meminta istirahat.
"Baiklah! sini biar aku bantu," ucap Bisma menatap dokumen yang ada di depan Kinan.
Mendengar ucapan Kinan, Bisma hanya mengangguk kecil sambil memperbaiki posisi duduknya. Matanya yang sudah terasa berat, sehingga dia tidak bisa menahannya lagi. Hingga akhirnya dia ketiduran karena pekerjaan Kinan yang tak kunjung selesai. Melihat Bisma yang sudah tertidur, Kinan langsung membuang napasnya kasar. Dia menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Ntah apa yang ada di dalam pikiran pria itu. Namun, yang pasti dia sedan memikirkan masa depan putri semata wayangnya itu.
"Bis! bangunlah. Aku sudah selesai," ucap Kinan mencoba membangunkan Bisma dengan mengoyangkan sedikit lengannya.
"Maaf! aku ketiduran," ucap Bisma merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Kau pasti lelah, jadi pulanglah. Kita bicara lain kali saja," ucap Kinan melangkahkan kakinya meninggalkan Bisma.
Mendengar ucapan Kinan, Bisma langsung diam melongo. Jika mereka bicara lain waktu, untuk apa dia menunggu Kinan sampai harus ketiduran seperti tadi. Sadar jika dia sedang di kerjai, Bisma langsung bangkit dari duduknya sambil menatap kesal sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kau mengerjaiku?" tanya Bisma menatap kesal Kinan.
Mendengar pertayaan sahabatnya itu, Kinan langsung tersenyum kecil sambil menghentikan langkahnya.
"Ternyata dia baru sadar," batin Kinan terkekeh kecil. Namun, dia tetap berusaha menyembunyikannya dari Bisma.
"Tidak! aku melihatmu sangat kelelahan. Jadi aku merasa tidak enak jika harus bicara sekarang," ucap Kinan kembali menunjukkan wajah datarnya.
"Tidak! aku tidak lelah. Jadi kita bisa bicara sekarang. Bicaralah, karena aku tidak suka menunggu," ucap Bisma duduk di sofa yang ada di ruangan Kinan.
"Tapi kau sedari tadi menunggu," ucap Kinan masih saja menguji kesabaran sahabat sekaligus calon mantunya itu.
"Itu karena aku mencintai putrimu. Jika tidak," batin Bisma berusaha mengontrol emosinya.
"Karena aku menghormatimu," ucap Bisma menatap kesal Kinan.
"Baiklah! kita akan bicara sekarang," ucap Kinan membuang napasnya kasar lalu duduk di samping Bisma.
Dia menatap Bisma dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Dia tau jika Bisma adalah pria yang baik, bahkan dia rela terus menjomblo hanya untuk menjaga perasaan putrinya. Namun, sahabatnya itu juga butuh kebahagiaan. Dia berhak bahagia tanpa harus terus mengorbankan kebahagiaannya demi Sania.
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Kinan menatap lekat Bisma.
"Tentu saja!"
"Jujur! sebenarnya kau menganggap putriku sebagai apa? apa kau menyayanginya karena dia adalah putri dari sahabatmu. Atau karena kau mencintainya?"
__ADS_1
Bersambung....