
Rifki menatap Rizki dari balik kaca ruang ICU. Dia menatap keponakannya itu tergeletak lemas di atas bangsal dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya. Melihat keadaan keponakannya itu, perasaan Rifki sangat hancur. Dia merasa gagal sebagai seorang paman, dia merasa gagal menjaga keponakannya itu.
"Maafkan paman, Sayang! maafkan paman yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Paman mohon bertahanlah! paman janji setelah ini paman akan selalu ada di sampingmu," ucap Rifki menitikkan air matanya.
Dia terus berdoa agar keponakannya itu bisa melewati masa kritisnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya jika sampai keponakannya itu kenapa-napa. Kekesalan demi kekesalan terus menyelimuti hatinya mengingat perlakuan Mala kepada keponakannya itu selama ini.
"Kau memang manusia berhati iblis! aku menyesal bisa lahir di rahim yang sama denganmu. lihat saja, jika terjadi sesuatu kepada Rizki, aku akan menghancurkan hidupmu. Aku tidak perduli jika kau adalah kakakku," batin Rifki mengepalkan tangannya geram.
Dia menatap lurus kedepan. Matanya memancarkan kesedihan dan juga kemarahan sekaligus. Tubuhnya bergetar hebat, ingin sekali dia meluaskan kemarahanmya itu. Namun, dia hanya bisa diam sambil berusaha ngontrol amarahnya.
"Rifki!"
Suara yang sangat dia kenal itu langsung menyadarkannya. Dia menatap kearah sumber suara itu dengan tatapan penuh kesedihan. Dia Melihat Sania berlari mendekati dirinya. Dia dapat melihat dengan jelas jika gadis itu juga menghawatirkan keadaan keponakannya itu.
"Dimana Rizki? bagaimana keadaannya?" tanya Sania penuh kekhawatiran.
Mendengar pertanyaan Sania, Rifki hanya terdiam sambil menatap kearah kaca yang menjadi pembatas dirinya dengan ruangan Riski. Melihat itu, Sania dan Bisma langsung menatap kearah tatapan pria itu. Melihat siapa yang sedang tergeletak tidak berdaya di dalam sana, tubuh Sania langsung tidak berdaya. Lututnya begitu lemas seakan tidak mampu lagi memopong tubuhnya. Dengan cepat Bisma memeluk gadis itu agar tidak terjatuh. Air matanya bercucuran dengan deras membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Kak! putraku." hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut gadis itu.
Dia menangkupkan wajahnya di dada bidang Bisma, sambil menangis kesegukan. Jujur dia belum siap kehilangan Rizki, anak kecil yang telah berhasil mencuri perhatiannya saat pertemuan mereka yang pertama kalinya.
"Kamu yang tenang ya. Putra kita akan baik-baik saja. Dia adalah anak yang kuat, aku yakin dia bisa melewati ini semua dengan baik," ucap Bisma berusaha menahan tangisnya.
Jujur hatinya juga sangat hancur ketika melihat keadaan putra itu. Walaupun baru beberapa kali bertemu, tetapi ikatan batin mereka begitu kuat. Sehingga membuat dunia Bisma seakan runtuh ketika melihat keadaan putranya itu.
"Rizki demam tinggi, karena infeksi usus. Mungkin karena asupan makanannya yang tidak teratur, dan juga kondisinya yang lemah membuat ususnya menjadi infeksi," ucap Rifki mengusap wajahnya kasar.
"Aku akan meminta izin kepada suster terlebih dulu," ucap Rifki menemui suster yang menangani Rizki.
Setelah mendapatkan izin, Sania langsung menuju ke ruang ganti. Dia menganti pakaiannya dengan pakaian steril, Sania langsung masuk ke ruangan Rizki. Dia duduk di samping bangsal bocah itu dan mengengam tangan mungil itu dengan erat.
"Sayang! kamu yang kuat ya. Kamu harus kuat, agar kita bisa bersama lagi. Kamu mau apa, Sayang? kakak akan membelikannya untukmu. Tapi kamu cepat bangun ya. Jangan tidur terus, karena kakak rindu melihat mata indahmu," ucap Sania menitikkan air matanya sambil mencium lembut punggung tangan bocah itu.
"Saat pertama melihatmu kakak merasa sangat senang. Bahkan kakak langsung melupakan semua masalah kakak saat berada di dekatmu. Kamu memang magnet kekuatan kakak sayang. Kakak mohon sadarlah," ucap Sania menatap lekat wajah teduh Rizki.
__ADS_1
Dia terdiam sambil terus menitikkan air matanya, tangannya begitu lembut mengusap puncak kepala bocah itu. Ntah terbuat dari apa hatinya, sehingga dia bisa menyayangi anak itu dengan begitu tulus. Padahal anak itu telahir dari rahim wanita lain. Sedangkan wanita yang telah melahirkan anak itu saja sama sekali tidak perduli dengan keadaannya. Namun, Sania begitu menghawatirkannya.
Sania menatap Rizki dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Air matanya terus mengalir, dia terus berdoa agar Rizki bisa segera siuman dan cepat sembuh dari penyakitnya. Bisma dan Rifki yang melihat itu dari balik kaca, hanya bisa terdiam sambil terus berdoa untuk kesembuhan Rizki.
...----------------...
Arghh.....
Teriak Mala melempar semua barang-barang yang ada di dekatnya, sehingga keadaan kamarnya kini menjadi sangat berantakan. Perkataan sang adik yang begitu menusuk ke ulu hatinya terus melintas di pikirannya. Dia tidak menyangka jika adiknya itu bisa berkata sekasar itu kepadanya.
"Anak itu memang pembawa sial! aku menyesal telah melahirkan dan juga membesarkannya sampai sekarang. Seharusnya aku membunuhnya saat tau dia hadir di rahimku," teriak Mala penuh amarah.
Kehadiran Rizki memang membawa petaka di dalam hidupnya. Dia di usir dari rumah oleh kedua orang tuanya karena hamil di luar nikah. Bahkan semenjak itu kedua orang tuanya tidak pernah lagi memperdulikannya dan lebih fokus kepada Rifki. Memang setelah Mala pergi dari rumah, Rifki selalu diam-diam membantu dan juga menasehati kakaknya itu. Namun, Mala saja yang keras kepala dan selalu ingin membalaskan dendamnya. Sehingga membuat keputusan kedua orang tuanya semakin bulat untuk mencoreng namanya dari kartu keluarga.
"Aku harus melakukan sesuatu! aku harus menghancurkan mereka secepatnya. Aku memang tidak bisa menghancurkan Sania, tapi aku bisa menghancurkan para sahabatnya. Kalian lihat saja, kalian akan bernasib sama seperti kakakku," ucap Mala masih saja di kuasai oleh dendamnya.
Dia menarik napasnya pelan lalu mengambil ponselnya. Dia menghubungi Gresia dan mengatur pertemuan mereka. Ntah apa yang dia rencanakan setelah ini. Dendamnya yang begitu besar membuatnya tidak mau menyerah. Dia terus mencari cara untuk menghancurkan kehidupan para papa kece dan juga keluarganya. Bahkan dia sama sekali tidak memikirkan keadaan putranya saat ini. Dia hanya memikirkan dendam, dendam dan juga dendamnya.
__ADS_1