Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 44


__ADS_3

Ketika Kinan dan Rayyan sedang asik menonton TV bersama, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh kedatangan Sania yang datang dengan keadaan sangat kacau. Dia berjalan mendekati kedua pria itu dengan penuh amarah. Kinan dapat melihat pancaran penuh kekecewaan yang terpancar dari mata Sania.


Dia hanya bisa diam karena dia tau apa penyebab putrinya seperti itu. Dia yakin Bisma telah mengambil keputusan untuk meninggalkan kota ini kembali, untuk menghindari Sania. Sedangkan Rayyan hanya bisa menatap bingung keponakannya itu. Padahal tadi saat Sania izin keluar dia terlihat baik-baik saja.


"Sayang! kau kebapa? kenapa kau menangis? Siapa yang telah berani menyakitimu? katakan kepada paman," ucap Rayyan langsung memeluk Sania, lalu menghapus air mata Sania yang terus mengalir membasahi wajah cantiknya.


"Paman tanya saja kepada sahabat paman itu? Dia telah menghancurkan hidup Sania," ucap Sania menatap tajam Kinan yang berdiri di belakang Rayyan.


Mendengar ucapan Sania, Rayyan langsung menatap bingung Kinan. Dia menatap sahabatnya itu denga tatapan penuh pertayaan. Dia tidak tau apa yang telah di lakukan Kinan, sehingga membuat Sania menjadi hancur seperti ini.


"Maafkan papa! tapi papa melakuan ini semua demi kebaikanmu," ucap Kinan menatap tajam Sania.


"Kebaikan Sania papa bilang? ini semua bukan kebaikan Sania. Tapi kebaikan papa sendiri," ucap Sania menatap Kinan dengan tatapan penuh kekecewaan.


Tidak lupa dengan mata memerah dan juga air mata yang terus mengalir di wajah gadis itu. Kinan yang melihat tatapan purtrinya hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Jujur dia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya, tidak ada yang lain. Memang semua orang punya masa lalu, tetapi Kinan takut jika masa lalu Bisma akan membuat hidup putrinya itu hancur.


"Kau masuk ke kamar, Sekarang!" Teriak Kinan begitu keras, sehingga membuat semua penghuni rumah langsung terkejut.


Mendengar teriakan Kinan, Sania hanya diam mematung menatap papanya itu. Seumur hidupnya, baru kali ini dia di bentak oleh papanya. Apa dia salah? apa dia salah memperjuangkan cintanya? dia sangat mencintai Bisma. Dia yakin jika Bisma bisa membahagiakannya. Namun, kenapa Kinan terus bersikeras untuk memisahkan mereka tanpa ada alasan yang jelas.


"Apa kau sudah gila? kau tidak pantas membentak Sania seperti itu," ucap Rayyan tidak terima keponakannya di bentak di depan orang banyak.

__ADS_1


"Kinan! kau tenang dulu," ucap Rafi berusaha menenangkan Kinan.


Mendengar teriakan Kinan, Zhia dan Rissa yang sedang memasak di dapur langsung berari ke ruang tamu. Rissa yang melihat pertengkaran putrinya dan suaminya itu hanya bisa diam sambil menitikkan air matanya. Akhirnya apa yang dia takutkan selama ini akhirnya terjadi juga. Sedangkan Zhia hanya diam sambil mengamati pertengkaran keponakan dan juga kakaknya itu.


"Sania! kau masuk ke kamarmu sekarang juga. Kau tidak boleh keluar sebelum papa menginginkannya," ucap Kinan tanpa menatap ke arah Sania.


"Aku benci sama papa. Aku benci!" ucap Sania penuh kekecewaan lalu berlari menuju kamarnya.


"Sania!" ucap Yuki dan Aulya berlari mengikuti sahabatnya itu.


"Aku sangat kecewakan dengan keputusanmu. Kau hanya memikirkan dirimu, tanpa pernah memikirkan perasaan putriku," ucap Rissa penuh kekecewaan lalu berlari mengejar Sania.


Mendengar ucapan Rissa, Kinan hanya bisa mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia menghampaskan tubuhnya di atas sofa sambil menangis. Bukan hanya perasaan Sania yang hancur atas keputusannya ini, tetapi dia juga sangat hancur. Karena dia tau, keputusan akan menghancurkan perasaan dua insan yang sangat dia cintai. Bahkan keduanya adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya.


Kinan hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda dia setuju. Melihat itu, Zhia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar. Kinan hanya bisa menurut lalu mengikuti langkah Zhia. Sedangkan Rafi dan Rayyan hanya menunggu di ruang tamu. Mereka berharap dengan bicara dengan Zhia, pikiran Kinan menjadi terbuka.


Sesampainya di kamar, Zhia langsung duduk di tepi ranjang sambil terus menatap Kinan. Sedangkan Kinan hanya bisa diam menunduk di sofa. Dia tidak berani mengangkat wajahnya, apalagi menatap tatapan Zhia yang begitu menyeramkan di matanya. Apalagi melihat Zhia yang hanya diam sambil terus menatapnya. Dari sana dia sudah bisa menebak, jika keputusannya sangat mengecewakan adiknya itu.


"Katakan kepadaku. Apa alasan kakak menentang hubungan Bisma dan Sania?" tanya Zhia datar sambil menatap tajam Kinan.


Mendengar pertanyaan Zhia, Kinan langsung menatap Zhia. Dia berusaha membuang napasnya kasar sambil menatap lekat wajah adiknya itu.

__ADS_1


"Karena masa lalu Bisma. Aku takut Sania akan terluka," ucap Kinan kembali menundukkan kepalanya.


"Bukankah kita semua punya masa lalu? lalu apa bedanya dengan Bisma? dia juga sama seperti kita. Dia hanya manusia biasa yang tidak pernah luput dari dosa. Karena dia bukan malaikat yang di ciptakan dengan begitu sempurna,"


"Kau tidak tau seperti apa Bisma. Dia adalah pria pemabuk berat dan juga hobby main wanita. Bahkan dia pernah jatuh ke dalam dunia ke gelapan yang sangat dalam. Dia mantan pecandu obat-obatan terlarang," ucap Kinan sambil menitikkan air matanya.


Memang Bisma pernah menjadi pria brensek. Setelah kedua orang tuanya meninggal, dia sempat frustasi dan mengonsumsi obat-obatan terlarang. Bahkan keluar masuk club malam adalah hal yang biasa untuknya. Namun, setelah dia mengenal Rafi, dia berlahan melepaskan kebiasaannya itu satu persatu.


"Lalu bagaimana dengan kakak?" tanya Zhia menatap datar Kinan.


Mendengar pertanyaan Zhia, Kinan langsung menatap Zhia. Dia tau jika dia juga mantan Casanova. Namun, dia tetap tidak mau putrinya mendapatkan pria yang sama sepertinya. Dia ingin putrinya mendapatkan pria yang baik-baik dan bisa membahagiakan putrinya.


"Kak! ingatlah. Tidak selamanya orang yang mempunyai masa lalu yang buruk akan tetap buruk. Begitu juga dengan orang yang terlihat alim. Tidak selamanya orang itu bisa alim. Bisa saja kakak mencarikan pria yang terpandang dan juga terhormat. Tapi apa kakak yakin jika Sania bisa bahagia dengan pria itu? tidak! Sania tidak akan bisa bahagia. Karena kebahagiaannya telah kakak jauhkan dari dirinya," ucap Zhia menatap Kinan dengan tatapan penuh kekecewaan.


Melihat tatapan Zhia, Kinan langsung mengingat kejadian 25 tahun lalu. Di mana Zhia menentangnya habis-habissan, karena ingin menikah dengan Rayyan. Dan sekarang, kejadian itu terulang kembali. Di mana dia mendapatkan kekecewaan yang basar dari wanita yang sangat berharga dari hidupnya.


"Kakak tau! kakak tau kebahagiaan Sania hanya bersama Bisma. Tapi kakak belum siap untuk melepaskan Sania. Kakak belum siap berpisah dengan putri kakak. Sama sepertimu dulu, kakak belum siap melepaskanmu. Tapi kau memilih untuk pergi meninggalkan kakak. Padahal kakak masih ingin menghabiskan waktu yang lebih panjang lagi denganmu. Kau meninggalkan kakak," ucap Kinan menatap lekat Zhia sambil menitikkan air matanya.


Jujur sebagai seorang papa, Kinan belum siap melepaskan tanggung jawabnya begitu cepat kepada pria lain. Dia masih ingin memanjakan putrinya dengan tangannya sendiri. Dia masih ingin melihat Sania merengek manja kepadanya. Apakah dia egois? apakah dia egois ingin memegangi tanggung jawabnya lebih lama lagi?


"Maafkan Zhia! maafkan Zhia, Kak," ucap Zhia menitikkan air matanya lalu memeluk Kinan dengan erat.

__ADS_1


"Maafkan kakak! maafkan kakak yang begitu egois. Maaf karena kakak tidak pernah memikirkan perasaan kalian. Kakak hanya mementingkan perasaan kakak, tanpa memperdulikan perasaan kalian,"


Bersambung.....


__ADS_2