Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
part 58


__ADS_3

"Kenapa kepalaku sangat sakit? sepertinya aku kebanyakan minum," gumam Sania memijit kepalanya yang terasa begitu berat.


Dia mencoba bangkit dari duduknya, tetapi baru satu langkah pandangannya langsung buram. Mungkin dia terlalu banyak minum, sehingga membuatnya hilang kesadaran. Namun, tiba-tiba seorang pria datang menghampirinya dan membawa tubuh mungil itu kedalam gendongannya.


"Kak Bisma!" gumam Sania sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.


Bisma mengendong tubuh Sania keluar dari club itu. Dia menatap nanar gadis yang telah tidak sadarkan diri di dalam gendongannya. Jujur perasaan Bisma sangat terluka melihat keadaan Sania, akan tetapi dia tidak tau harus melakukan apa. Melihat Bisma keluar dari Club itu sambil mengendong Sania, sepasang mata terus memperhatikannya dari kejauhan. Terlihat jelas tatapan penuh dendam dari sepasang mata itu.


"Kalian kira kalian akan bisa hidup tenang dengan apa yang telah kalian lakukan. Kalian salah besar, aku tidak akan pernah membiarkan itu. Akan aku pastikan kalian akan hancur satu persatu," batin wanita itu mengepalkan tangannya geram lalu pergi meninggalkan Club itu dan memikirkan rencana baru.


Sedangkan Bisma memilih untuk membawa Sania ke hotel. Karena tidak mungkin dia mengantarkan Sania pulang dalam keadaan seperti itu. Bisa-bisa Kinan dan Rissa akan semakin hancur melihat kedaan putrinya itu. Dia membawa Sania mengunakan mobilnya, sambil terus melirik Sania yang telah tertidur dengan begitu lelap. Walaupun telah tertidur, tetapi Sania terus berbicara gelantur dengan terus menyebut nama Bisma.


"Kak Bisma, pulanglah! aku sangat merindukanmu," gumam Sania sambil meneteskan air matanya dalam tidurnya.


"Kakak juga sangat merindukanmu, Sa! kau yang sabar ya. Kakak janji, kakak akan terus bersamamu setelah masalah ini selesai," gumam Bisma sambil menghapus air mata Sania.


Tanpa pria itu sadari butiran bening itu juga lolos dari sudut matanya. Bagaimana tidak, gadis kecil yang selama ini dia jaga, dan selalu dia bahagiakan. Kini terpuruk karena dirinya. Dia merasa usahanya selama ini sia-sia, karena akhirnya dia juga yang telah menciptakan luka di hati gadis itu.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Bisma menghentikan mobilnya di sebuah perkarangan hotel. Disinilah Bisma selama ini bersembunyi agar para sahabatnya tidak menemukannya. Bukan hanya sahabat, tetapi tidak ada satu orangpun yang tau dia tinggal di hotel itu.


Malam ini dia akan membiarkan Sania menginap di kamarnya, sedangkan dia akan mencari tempat persembunyian yang baru lagi. Dia tidak mau Sania dibawa dalam masalah yang datang menimpanya, karena baginya Sania hanya bisa ikut merasakan kebahagiaannya, bukan penderitanya.

__ADS_1


Bisma kembali mengendong tubuh Sania dan membawa gadis itu menuju kamarnya. Saat sampai di depan kamarnya, tiba-tiba seorang pria memegang bahunya dari belakang. Ternyata sejak tadi dia di ikuti, tetapi dia sama sekali tidak menyadari itu.


"Gibran!" ucap Bisma panik ketika melihat Gibran berdiri di depannya.


Gibran hanya diam sambil menatap nanar Sania yang berada di dalam gendongan Bisma. Dia langsung masuk kedalam kamar itu tanpa meminta persetujuan dari pemiliknya terlebih dulu. Melihat sikap Gibran, Bisma hanya terdiam lalu mengikuti langkah pemuda itu memasuki kamar. Tanpa banyak bicara, Bisma meletakkan tubuh Sania di atas ranjang. Tidak lupa dia meningalkan jejak kasih sayangnya di kening gadis itu, lalu membuka sepatu Sania dan menyelemuti tubuh Sania.


"Kakak sangat mencintainya. Tapi kenapa kakak meninggalkannya?" tanya Gibran menatap tajam Bisma.


Bisma hanya bisa diam sambil membuang napasnya kasar. Dia tidak tau harus mengatakan apa kepada pemuda itu. Jika dia bisa memilih, dia juga ingin terus hidup bersama cinta sejatinya. Namun, takdir malah berkata lain. Cinta mereka malah diterpa badai yang begitu kuat. Bahkan dia tidak yakin jika dia dan Sania bisa bersatu untuk selamanya.


"Jika kakak bisa memilih, kakak juga ingin hidup sampai tua dengannya. Membantu keluarga yang bahagia dan memiliki anak-anak yang sangat lucu," ucap Bisma menatap lekat wajah teduh Sania dengan mata berkaca-kaca.


"Kau bisa menyebut kakak apa saja. Tapi asal kau tau, kakak melakukan ini semua demi kebaikannya juga," ucap Bisma melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


"Kakak salah besar. Ini bukan demi kebaikan adikku, tapi untuk kehancurannya. Aku menyesal karena telah mendukung hubungan adikku dengan pria pengecut seperti kakak," ucap Gibran menatap geram Bisma.


Deg...


Jantung Bisma langsung berhenti berdetak mendengar ucapan Gibran. Dia terdiam sejenak lalu memberanikan diri untuk menatap pemuda itu. Dia dapat melihat dengan jelas pancaran kemarahan yang begitu besar dari adik sekaligus putra sahabatnya itu.


"Apa ini yang kakak bilang jika kita ini saudara? kakak selalu mengajarkan kami untuk kuat, dan jangan pernah mau untuk menyerah. Tapi bagaimana dengan diri kakak yang sekarang. Kakak malah memilih untuk mundur sebelum melangkah. Bahkan kakak memilih untuk lari dari masalah. Kakak bukan Kak Bisma yang aku kenal dulu. Aku menyesal pernah mengagumimu, Kak. Karena sekarang aku baru sadar siapa dirimu. Kau tidak pantas untuk di contoh ataupun di cintai," ucap Gibran menatap Bisma dengan tatapan penuh kekecewaan.

__ADS_1


"Kakak melakukan ini semua demi kebaikan Sania. Kakak tidak mau membawa kalian semua kedalam masalah kakak. Apalagi Sania," ucap Bisma menatap Gibran dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Kakak memang tidak membawa Sania kedalam masalah kakak. Tapi kakak telah menciptakan masalah besar dalam hidupnya. Lihat, Kak! lihat. Apa ini yang kakak inginkan? kakak ingin adikku masuk kedalam dunia kegelapan yang lebih dalam lagi,"


"Kau tidak mengerti apa-apa. Jadi kau tidak akan paham,"


"Aku tidak tau karena kakak tidak memberitahunya,"


"Gibran! tolong mengerti kakak. Kakak terpaksa melakukan ini. Kakak janji, setelah masalah ini selesai, kakak akan kembali lagi,"


"Lalu kakak menghilang lagi dan mengoreskan luka baru pada adikku? Kakak pengecut,"


"Gibran!" teriak Bisma tidak tau lagi harus berkata apa kepada Gibran.


"Kakak membentakku? Silahkan bentak lagi kak. Bahkan aku tidak perduli jika kakak ingin membunuhku. Tapi aku mohon, kembalikan adikku, kembalikan Saniaku yang dulu," ucap Gibran memukul dada Bisma lalu meneteskan air matanya.


Perasaan siapa yang tidak hancur melihat kehidupan adiknya yang begitu hancur, dan terjerat kedalam keterpurukan. Bahkan rasa takut terus menghantui pikiran Gibran. Dia takut jika adiknya itu jatuh kedalam dunia malam yang lebih dalam lagi.


"Jika kakak memang menyanyangi kami semua, maka tunjukkan rasa sayang kakak itu. Buktikan jika kakak memang pantas menjadi panutan kami. Pernikahan Yuki tinggal menunggu hari lagi lagi, jadi pikirkanlah secara matang-matang. Jika sampai di hari pernikahan Yuki kakak belum mengambil keputusan. Maka, jangan salahkan aku untuk membawa Sania jauh dari kakak. Jika aku sudah mengambil sebuah keputusan, jadi jangan harap kakak bisa bertemu dengan adikku lagi. Jadi gunakan waktu kakak dengan baik," Gibran dengan tegas.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2