
"Sayang! ayo bersiaplah. Acara pesta sebentar lagi akan di mulai. Kau tidak boleh terus mengurung diri di kamar seperti ini," ucap Zhia menatap Sania yang terus menangis di atas ranjangnya.
Gadis itu hanya diam menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Air matanya terus mengalir membasahi wajah cantiknya. Walaupun dia hanya diam mematung tanpa mengeluarkan suara, tetapi air matanya terus mengalir sebagai tanda bagaimana hancurnya perasaannya saat ini. Papa yang sangat dia sayangi dan selalu dia hormati, begitu tega memisahkannya dengan pria yang sangat dia cintai. Tanpa dia tau apa alasan di balik keputusan papanya itu.
Melihat Sania yang terus diam tanpa kata, Zhia hanya bisa membuang napasnya kasar. Aulya dan Yuki sedang pergi ke gedung pesta untuk memantau persiapan pesta yang akan di lakukan beberapa menit lagi. Sedangkan Rissa, sudah lelah membujuk putrinya itu. Namun, Sania tidak mau mendengarkannya dan mengusirnya dari kamar. Untuk saat ini, hanya Zhia yang tau bagaimana perasaan keponakannya itu. Karena dia juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang Sania alami saat ini.
"Apakah kau ingin tetap di sini, dan menunjukkan jika kau itu pasrah akan keputusan papamu? Bibi kira kau sangat mencintai Bisma. Tapi ternyata Bibi salah. Kau tidak mencintainya, kau hanya terobsesi kepadanya," ucap Zhia menatap foto kebersamaan Bisma dan Sania yang menghiasi dinding kamar Sania.
Mendengar ucapan Zhia, Sania langsung menatap Bibinya itu dengan tatapan penuh kebingungan. Bisa-bisanya Zhia mengatakan jika dia tidak mencintai Bisma. Padahal semua orang tau, jika Sania telah menyimpan perasaan kepada Bisma sejak dia kecil.
"Maksud bibi apa? aku sangat mencintai Kak Bisma. Aku hanya ingin hidup dengannya," ucap Sania menatap Zhia dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau begitu buktikan. Buktikan jika kau mencintainya. Karena cinta tidak pernah butuh ucapan. Dia hanya membutuhkan BUKTI!" ucap Zhia penuh penekanan.
Mendengar ucapan Zhia, Sania menjadi semakin binggung. Dia tidak mengerti dengan ucapan bibinya itu. Bukti! bukti apa lagi yang harus dia berikan. Karena dia telah melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan hati Bisma. Bahkan dia rela menolak setiap pria yang datang mendekat hanya demi Bisma.
"Bukti!" ucap Sania mengerutkan keningnya binggung.
__ADS_1
"Ia, Bukti! buktikan jika kau memang mencintai Bisma. Sekarang kau mandi dan bersiaplah, lakukan tugasmu dengan baik demi Bisma. Karena dengan kau terus menangis seperti ini tidak akan mengubah segalanya. Kau harus bisa bangkit, tunjukkan jika keputusan papamu tidak akan mematahkan semangatmu. Bibi yakin, kau dan Bisma akan bisa bersatu. Karena kalian saling mencintai. Kau tinggal menunggu kapan waktu itu akan terjadi. Kau harus percaya, jika apa yang di takdirkan untuk bersamamu, tidak akan bisa di pisahkan oleh siapapun. Termasuk papamu sendiri," ucap Zhia tersenyum sambil menghapus air mata Sania.
Mendengar ucapan Zhia, Sania perlahan menarik napasnya. Apa yang di katakan bibinya itu sangat benar. Dia tidak boleh lemah, dia tidak boleh terpuruk hanya karena papanya yang terus berusaha menjauhkannya dari Bisma. Dia akan tetap berdiri kuat dengan keputusannya. Dia akan terus berjuang untuk mendapatkan cinta sejatinya. Karena dia yakin, apa yang di takdirkan untuknya, akan tetapi menjadi miliknya. Walaupun sekarang jarak dan restu menghalangi hubungan mereka.
"Bibi benar! aku harus terus bangkit. Aku harus tetap kuat. Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan cintaku. Aku yakin, aku dan Kak Bisma akan bersatu. Walaupun sekarang kami di berpisah, tapi suatu saat nanti kami akan bersatu kembali. Dan aku akan selalu menunggu waktu itu tiba," ucap Sania tersenyum sambil berusaha menguatkan hatinya.
"Itu baru keponakannya bibi! karena keponakan bibi bukan wanita lemah. Tapi lebih baik kita beri papamu sedikit pelajaran," ucap Zhia tersenyum penuh kelicikan.
...----------------...
Yuki dan Aulya sudah berdandan dengan sangat cantik. Mereka bersiap untuk menyambut kedatangan para tamu, dan mengontrol pesta agar berjalan dengan lancar. Mereka tau, jika Sania sedang tidak baik-baik saja. Itulah sebabnya mereka berniat mengantikan posisi Sania. Mereka tidak ingin pesta yang telah di siapkan dengan sangat matang, hancur begitu saja karena masalah Sania dan Bisma. Jika sampai itu terjadi, pasti Rafi dan Clara akan sangat kecewa.
"Sudah! apa kakak sudah menghubungi Tante Rissa? bagaimana keadaan Kak Sania?" tanya Aulya menghawatirkan keadaan Sania.
"Sudah! katanya Tante Zhia yang akan bicara dengannya. Kau tau sendiri 'kan, jika mamamu sudah bertindak semuanya pasti aman," ucap Yuki tersenyum.
"Tidak akan semudah itu, Kak! kakak tau sendiri bagaimana cintanya Kak Sania kepada Kak Bisma. Pasti perasaannya sangat hancur," ucap Aulya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Yuki menatap Aulya sambil membuang napasnya kasar. Memang dia tau bagaimana perasaan Sania saat ini. Pasti perasaan sahabatnya itu sangat hancur. Dia langsung mengingat bagaimana dirinya saat mengetahui Aldan bertunangan. Perasaannya juga sangat hancur, pasti begitu juga yang di alami Sania saat ini.
Mereka tidak tau kenapa nasib percintaan mereka bisa sangat menyedihkan seperti ini. Mengapa mereka sangat sulit untuk mendapatkan cinta sejati mereka. Pasti ada saja halangan yang menciptakan tembok yang sangat tinggi di tengah-tengah mereka.
"Kau tidak perlu terlalu memikirkannya. Aku yakin Sania kuat untuk menghadapi semua ini. Setelah acara ini selesai kita akan menemuinya. Kita akan memberikan dukungan kita kepadanya. Karena saat ini dia pasti sangat membutuhkan kita," ucap Yuki tersenyum lalu mengajak Aulya untuk memasuki gedung pesta.
Mereka langsung mengecek kondisi pesta dengan sangat teliti. Mereka tidak mau jika sampai tamu mereka kekurangan sesuatu. Namun, di acara pesta yang begitu meriah, tidak terlihat raut wajah kebahagiaan sedikitpun yang terpancar di mata mereka. Bukan hanya Aulya dan Yuki, bahkan para orang tua juga sama. Bahkan mereka semua merasa enggan untuk bicara dengan Kinan. Karena mereka semua tidak setuju dengan keputusan yang Kinan buat. Terlebih lagi Bisma adalah sahabat mereka juga, sehingga kepergian Bisma telah menorehkan luka di hati mereka masing-masing.
"Apa kau juga marah kepadaku?" tanya Kinan menatap Rayyan yang sedari tadi menghindarinya.
"Tidak! aku tidak marah kepadamu. Aku hanya kecewa dengan keputusanmu," ucap Rayyan datar tanpa menatap ke arah Kinan.
Mendengar ucapan Rayyan Kinan hanya tersenyum kecil. Dia menarik napasnya kasar sambil memijit keningnya pelan. Dia tidak tau harus berkata apa saat ini. Namun, yang pasti dia juga sangat menyesal dengan keputusannya sendiri.
Namun, di saat mereka sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba pandangan mereka teralihkan oleh kedatangan seorang gadis. Gadis itu berjalan dengan begitu angkuhnya memasuki lokasi pesta itu. Tatapan datar, dan juga raut wajah begitu tegas membuat semua orang menatapnya dengan tatapan penuh kebingungan.
"Kak Sania!" teriak Fiona berlari memeluk gadis itu.
__ADS_1
Bersambung......