Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 41


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu. Akhirnya hari yang mereka tunggu-tunggu tela tiba. Hari ini Rayyan dan Zhia akan sampai di kota mereka. Karena tidak sabar bertemu dengan bibi dan kedua sahabat kecilnya. Yuki, Sania dan Erlan ikut ke bandara untuk menyambut kembalinya sahabat mereka.


Tentu saja Erlan yang paling semangat di antara mereka semua. Karena setelah Gibran pergi, dia hanya bisa berkumpul dengan kedua gadis absurd itu. Sedangakan Fillio berada di asrama dan hanya enam bulan sekali pulangpulang ke kediamannya.


Bisma, Kinan dan Wildan duduk santai di kursi tunggu. Sedangkan Erlan sibuk menjadi photograper untuk kedua sahabatnya. Sania dan Yuki berpose dengan begitu anggunnya. Bisma yang melihat itu, hanya bisa diam sambil terus memperhatikan gadis kecilnya itu.


"Apa kalian tidak bosen berfoto terus. Tanganku sudah pegal memegang ponsel ini. Lagi pula memori ponsel ini sudah penuh dengan foto kalian berdua," ucap Erlan kesal melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.


"Tunggu sebentar lagi. Aku mau berfoto dengan Kak Bisma. Sudah lama aku tidak berfoto dengannya," ucap Sania berlari mendekati Bisma yang duduk di samping papanya.


"Kak! ayo kita berfoto. Sudah lama kita tidak berfoto bersama. Aku ingin menambah koleksi fotoku dengan kakak," ucap Sania menarik tangan Bisma.


Mendengar permintaan Sania, Bisma langsung melirik Kinan untuk meminta persetujuan. Ntah apa yang telah Kinan bicarakan dengan Bisma, tetapi setelah pembicaraan mereka. Bisma semakin menjaga jaraknya dengan Sania dan juga terlihat lebih pendiam dari yang sebelumnya. Melihat tatapan Bisma, Kinan langsung menganggukkan kepalanya memberi persetujuannya.


"Baiklah! ayo kita berfoto di sana," ucap Bisma tersenyum lalu bangkit dari duduknya.


"Yeahh! papa sini dulu ya. Aku mau foto sama Kak Bisma dulu," ucap Sania penuh semangat lalu menarik Bisma untuk menjauhi Kinan dan Wildan.


"Lihatlah! Sania sangat bahagia ketika berada di samping Bisma. Apa kau masih juga meragukan Bisma? Padahal dia rela menjomblo hanya untuk menunggu Sania besar. Apa lagi yang kau ragukan?" tanya Wildan sambil menatap Sania yang sibuk berfoto dengan Bisma.


"Sudahlah! kita bahas itu lain kali saja. Lagi pula yang menjalin hubungan adalah mereka. Jadi kita hanya bisa memberikan dukungan kita saja," ucap Kinan santai.


"Apa kau sudah memberi restumu kepada mereka?" tanya Wildan menatap lekat Kinan.


"Aku tidak tau!" ucap Kinan santai sambil membuang tatapannya dari Wildan.


"Sudahlah! pesawat Zhia sudah mendarat. Pasti mereka sebentar lagi akan keluar," ucap Kinan mengalihkan pembicaraan.


Memang tidak heran lagi, Kinan memang selalu mengalihkan pembicaraan ketika sahabatnya membicarakan masalah putrinya dan juga sahabatnya itu. Wildan tidak tau apa yang ada di pikiran sahabatnya yang satu itu. Namun, dia akan selalu memberikan dukungannya kepada Sania dan juga Bisma.


Dia tau bagaimana besarnya cinta Sania kepada Bisma. Begitupun dengan Bisma. Walaupun sahabatnya itu tidak pernah mengakui perasaannya kepada Sania. Akan tetapi Wildan bisa melihat cinta yang begitu besar yang terpancar dari mata Bisma kepada Sania. Karena mulut memang bisa berbohong, tetapi tidak dengan tatapannya.

__ADS_1


"Paman!" teriak seorang gadis cantik berlari mendekati Kinan.


Tanpa banyak kata-kata, gadis itu langsung memeluk Kinan dengan begitu erat. Rasa rindunya kepada pamannya itu membuatnya hilang akal. Dia memeluk Kinan dengan begitu eratnya. Begitu juga dengan Kinan, dia membalas pelukan gadis itu sambil mencium puncak kepalanya dengan lembut.


"Kau cantik sekali, Sayang. Paman jadi terpana," ucap Kinan menatap kecantikan Aulya yang semakin terpancar.


"Paman juga sangat tampan. Andai saja paman belum menikah. Pasti Aulya sudah jatuh cinta kepada paman," ucap Aulya dengan manjanya.


"Beraninya kau mengoda papaku. Baru datang sudah cari masalah saja," ucap Sania tidak terima papanya di goda oleh adik sepupunya itu.


"Salah sendiri kenapa papamu tampan. Jika dia tidak tampan pasti aku tidak akan mengodanya," ucap Aulya malah mempererat pelukannya kepada Kinan.


"Kalian ini! baru saja ketemu. Sudah berantem saja," ucap Zhia tersenyum sambil berjalan mendekati mereka, di ikuti dua pria tampan di belakangnya.


"Kau ini! bukannya membantu membawa barang. Malah sibuk mengoda paman. Apa kau mau di jadikan sate oleh Tante Risa," oceh Gibran kesal sambil menyeret koper miliknya dan juga koper Aulya.


"Kakak apaan sih! percuma dong aku punya kakak jika aku juga yang membawa koperku," ucap Aulya memanyunkan bibirnya kesal.


"Kau semakin cantik saja, Zhi! apa pria itu memperlakukanmu dengan baik di sana?" tanya Kinan langsung memeluk adik kesayangannya itu. Tidak lupa dia meninggalkan jejak kasih sayangnya di puncak kepala Zhia.


"Bibi! aku juga merindukanmu," ucap Sania langsung memeluk Zhia.


"Bibi juga merindukanmu, Sayang! kau semakin cantik saja," ucap Zhia membalas pelukan Sania.


"Hai, Bro! apa kabarmu. Selama kau tidak di sini, kami selalu merasa ada yang kurang saat berkumpul," ucap Wildan memeluk Rayyan di ikuti oleh Bisma dan juga Kinan.


"Aku juga sangat merindukan kalian. Kalian tenang saja, mulai sekarang aku akan kembali menetap di kota ini," ucap Rayyan tersenyum.


"Ayo kita pulang! Rissa dan yang lain sudah menunggumu di rumah. Mereka telah memasak yang banyak untuk menyambut kepulangan kalian. Malam ini kalian nginap di rumah ya. Rumah kalian belum siap di renovasi," ucap Kinan tersenyum sambil merangkul mesra Aulya dan Zhia.


"Baik, Kak! ayo kita pulang. Aku juga sangat lelah," ucap Zhia begitu manja.

__ADS_1


"Huff! bersiap untuk di abaikan," ucap Rayyan cemburu.


"Ha... ha... memang nasibmu selalu di abaikan," ucap Wildan menertawakan nasib sahabatnya yang satu itu.


"Diam kau!" ucap Rayyan kesal lalu menarik kopernya keluar dari bandara.


Melihat kelakuan Rayyan, semua orang hanya terkekeh kecil. Mereka berjalan keluar dari bandara itu secara beriringan. Bisma dan Erlan membantu untuk membawa barang bawaan mereka. Sedangkan Kinan berjalan dengan santai sambil merangkul kedua bidadarinya itu.


Sania yang melihat papanya mengabaikannya, hanya diam saja. Dia memang tau jika papanya itu sangat menyayangi Aulya dan juga bibinya Zhia. Lagi pula mereka sudah lama tidak bertemu, jadi wajar saja jika papanya itu menempel terus dengan kedua bidadari itu.


"Paman! apa kau tidak merindukanku?" tanya Sania memanyunkan bibirnya melihat Rayyan yang mengabaikannya.


"Paman kira kau mau menempel dengan pangeranmu. Rupanya kau lebih memilih paman dari pada dia," ucap Rayyan tersenyum lalu merangkul mesra Sania.


"Tentu saja aku lebih memilih pangeranku. Lagi pula paman sudah punya Bibi Zhia. Paman tau sendirikan jika Bibi Zhia sangat galak. Papa saja sangat takut kepadanya," ucap Sania terkekeh kecil.


"Bukan hanya papamu. Paman juga takut. Bibimu kalau sedang marah, dia tidak akan bisa melihat telinganya," ucap Rayyan terkekeh kecil.


Mendengar ucapan Rayyan, Sania langsung mengerutkan keningnya binggung. Dia berusaha mencerna ucapan Rayyan tadi.


"Kau tidak perlu memikirkan ucapan pamanmu itu. Ucapannya tidak pernah masuk akal," ucap Wildan tersenyum sambil merangkul mesra putrinya.


"Kak! lihatlah. Mereka semua sibuk mengandeng wanita mereka masing-masing. Kita kapan bisa seperti itu?" tanya Gibran menatap Bisma. Dia antara mereka semua, hanya mereka berdua yang hanya menggandeng koper di tangan mereka.


"Kakak juga tidak tau! apakah kita akan menjomblo sampai tua," ucap Kak Bisma memelas.


"Tentu saja aku tidak akan mau,"


"Sama! kakak juga tidak akan mau jomblo sampai tua. Kakak juga ingin merasakan nikmatnya surga dunia,"


"Kakak tenang saja! sebentar lagi kakak akan merasakannya,"

__ADS_1


"Ha... ha... kau benar. Kakak sudah tidak sabar menunggu waktu itu tiba," ucap Bisma tersenyum nakal.


Bersambung.....


__ADS_2