Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 56


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Sania menatap binggung Erlan.


"Apa kau tidak lihat, jika di dekat tembok itu tadi ada seorang pria?" tanya Erlan menunjuk ke arah tembok yang tidak jauh dari keberadaan mereka.


"Mana ada! dari tadi di sini cuman ada para buruh yang sedang bekerja,"


"Aku serius, Sa! Seorang pria sedang memperhatikan kita dari sana. Dia memakai jaket dan juga topi," ucap Erlan mode panik.


Tentu saja dia khawatir jika pria yang dia lihat adalah orang jahat yang sedang mengintai sahabat perempuannya itu. Apalagi mengingat jika Sania mengatakan jika dia selalu merasakan jika ada seseorang yang terus memperhatikannya.Dia tau jika mereka adalah incaran para musuh, karena banyak orang yang ingin menjatuhkan kesuksesan papa dan juga para paman mereka.


"Atau jangan-jangan," ucap Sania membulatkan matanya.


"Jangan-jangan apa, Sa?"


"Itu hantu penunggu proyek ini. Aku tidak mau jadi tumbal, aku belum kawin," ucap Sania panik.


"Kau mau kawin?" tanya Erlan mode serius.


"Ya engak lah! kau kira kawin itu mudah,"


"Kawin itu mah mudah. Tingal cari pasangan lalu masuk ke kamar. Kalau nikah baru tidak gampang. Kalau kawin apa susahnya? tingal buka baju lalu di masukin selesai," ucap Erlan terkekeh kecil sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Sania.


Mendengar ucapan Erlan, Sania langsung menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Dia tidak menyangka jika Erlan si pria dingin dan cuek seperti Erlan ternyata memiliki pemikiran yang sangat mesum. Bahkan Sania merasa jika dia tidak mengenal sahabatnya itu.


"Woi! kau mau di situ terus. Apa kau tidak takut si pria penguntit itu menerkammu hidup-hidup?" tanya Erlan melihat Sania yang masih betah di tempatnya.


"Tungguin!" ucap Sania sedikit berteriak sambil berlari kecil mengejar Erlan.

__ADS_1


...----------------...


Erlan duduk terdiam sambil menatap layar laptopnya. Dia berpikir keras siapa sebenarnya pria yang dia lihat di lapangan proyek tadi. Melihat postur tubuh pria tadi, sepertinya dia tidak asing. Namun, dia tidak bisa memastikan siapa pria itu sebenarnya.


"Siapa pria itu? kenapa dia mengawasi Sania? apa itu suruhan Kak Bisma? tapi dimana Kak Bisma sekarang?" batin Erlan berpikir seorang diri.


"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Ardiyan melihat putranya itu melamun seorang diri.


"Papa!" ucap Erlan menatap sang papa sambil mengelus dadanya karena terkejut.


"Kau sedang memikirkan apa?"


"Em! tidak ada, Pa," ucap Erlan tersenyum sambil membenarkan posisi duduknya.


"Jika kau tidak mau menceritakannya kepada papa tidak apa-apa. Tapi kau jangan terlalu banyak pikiran. Karena banyak pikiran hanya akan membuatmu stress. Lebih baik santai, dan nikmati saja hidup yang apa adanya ini," ucap Ardiyan tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala putranya.


"Pa! apa papa tau Kak Bisma pergi ke mana?" tanya Erlan memecahkan keingintahuannya.


"Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang Bisma?" tanya Ardiyan mengerutkan keningnya binggung.


"Tidak ada, Pa! Erlan hanya merasakan jika Kak Bisma itu masih berada di sekitar kita. Tapi kenapa dia bersembunyi dari kita? bukankah kita ini semua bersaudara?"


Mendengar pertanyaan putranya, Ardiyan hanya bisa membuang napasnya kasar. Dia bangkit dari duduknya lalu menatap kearah balkon kamar Erlan. Dia melihat langit yang begitu gelap, bahkan tidak ada cahaya bintang yang menghiasi langit itu. Dia tidak tau harus berkata apa kepada putranya, karena dia juga tidak tau apa alasan Bisma pergi meningalkan mereka tanpa sepatah katapun.


"Papa juga tidak tau! papa tidak tau kenapa tiba-tiba Bisma menghilang begitu saja. Kami juga sudah mencoba mencari keberadaannya. Tapi kami tidak menemukan apapun," ucap Ardiyan.


"Lalu kenapa ketua pembagunan proyek yang kami jalankan masih tertulis nama Kak Bisma di sana. Paman Rafi juga belum mencari penganti Kak Bisma. Apa jangan-jangan kalian segaja menyembunyikan Kak Bisma. Agar Sania tidak bisa mendekatinya," ucap Erlan menatap sang papa dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


"Kenapa kau berkata seperti itu? kau tau sendiri 'kan jika kami sedang mendiamkan pamanmu Kinan gara-gara masalah ini," ucap Ardiyan menatap kesal putranya itu.


"Ia, Erlan tau! tapi Erlan perhatikan Paman Rafi sering berbicara dengan Paman Kinan secara diam-diam. Apa jangan-jangan mereka mengetahui sesuatu,"


Mendengar ucapan putranya itu, Ardiyan langsung terdiam sejenak. Dia berusaha mencerna ucapan Erlan dengan baik. Namun, dia tidak begitu percaya, karena Kinan dan Rafi tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dari mereka. Karena sejak dulu mereka berenam adalah sahabat, bahkan tidak ada rahasia di antara mereka. Kecuali rahasia besar yang membawa dampak buruk pada mereka.


"Kau istirahatlah. Jangan terlalu memikirkan hal ini. Ingat, jika kau mencurigai sesuatu, kau cukup diam dan memperhatikan saja. Papa yakin jika ada rahasia yang mereka simpan, pasti itu demi kebaikan kita semua. Jangan sampai karena keingintahuanmu semua rencana yang mereka susun hancur begitu saja," ucap Ardiyan menasehati putranya itu.


Dia yakin Rafi dan Kinan tidak akan menyembunyikan sesuatu dari mereka. Jikapun itu terjadi, pasti itu telah mereka pikirkan secara matang-matang. Jika waktunya sudah tepat, mereka pasti akan menceritakannya kepada mereka.


"Ia, Pa! maaf, karena Erlan terlalu lancang," ucap Erlan merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Papa mengerti dengan posisimu sekarang. Kau pasti tidak tega melihat keadaan Sania 'kan? Apalagi dengan perubahan sikapnya yang berubah begitu drastis. Bahkan papa sudah tidak mengenal Sania yang sekarang lagi," ucap Ardiyan menunduk sedih mengingat perubahan sikap Sania saat ini.


"Sudahlah! papa yakin Sania juga akan bahagia dengan cintanya. Papa yakin pamanmu sudah memikirkan semuanya dengan matang. Karena dia juga ingin melihat putrinya bahagia," ucap Ardiyan tersenyum.


"Ia, Pa! Erlan mengerti. Erlan tau bagaimana Paman Kinan. Dia selalu melakukan hal yang terbaik untuk Sania. Bahkan dia juga selalu memikirkan kebahagiaan kami semua," ucap Erlan tersenyum.


"Anak pintar! sekarang istrahatlah. Ingat kau harus belajar yang rajin, karena sebentar lagi kau akan menjadi asisten pribadi Gibran. Kau sudah yakin dengan keputusanmu 'kan?" tanya Ardiyan tidak mau memaksakan kehendaknya kepada putranya itu.


"Ia, Pa! Erlan sangat yakin. Paman Rayyan sudah sangat baik kepada kita. Jadi apa salahnya menerima tawarannya. Lagipula Kak Gibran sangat baik. Bahkan dia sangat menyayangi Erlan. Jadi Erlan yakin kami pasti bisa bekerjasama dengan baik," ucap Erlan penuh keyakinan.


"Baiklah! sekarang istirahatlah. Jangan pikirkan yang tidak perlu di pikirkan lagi. Kau serahkan saja masalah ini kepada kami. Kami akan menyelidikinya,"


"Baik, Pa! selamat malam,"


Ardiyan hanya tersenyum kecil lalu mematikan lampu kamar Erlan. Dia keluar dari kamar putranya itu sambil menatap punggung putra semata wayangnya itu. Dia berharap agar putra dan juga para anak-anak dari sahabatnya bisa bahagia dan mendapatkan cinta sejati mereka masing-masing.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2