Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 23


__ADS_3

Yuki masih betah bergulung di bawah selimutnya. Tubuhnya yang terasa sangat lelah membuatnya ingin terus berasa di bawah selimut sambil memeluk bantal gulingnya. Menghabiskan waktu seharian untuk bekerja di kantor Aldan membuat tubunnya seperti ingin remuk. Bahkan dia juga tidak bisa lagi bercanda gurau dengan Sania, sehingga membuatnya menjadi semakin jenuh.


"Yuki! ayo bangun sayang. Apa kau tidak bekerja hari ini," oceh Shinta mencoba membangunkan putrinya yang masih betah berasa di bawah selimutnya.


Shinta membuka tirai kamar Yuki sehingga cahaya matahari berhasil masuk dan menyinari kulit putih Yuki. Shinta mencoba menarik selimut Yuki sehingga matahari langsung menyinari wajah cantik Yuki.


"Mama! aku masih mengantuk. Tunggu lima menit lagi ya," gumam Yuki sambil menarik selimutnya kembali.


"Sayang! kau tidak boleh seperti itu. Lihat sekarang sudah pukul tujuh pagi," oceh Shinta sambil menarik kembali selimut Yuki.


"Jam tujuh! kenapa mama tidak bilang dari tadi?" tanya Yuki langsung melompat dari tempat tidurnya lalu berlari menuju kamar mandi.


"Sudah mama tebak, kau pasti menyalahkan mama. Padahal kau yang sejak tadi tidak mau bangun," omel Shinta sambil merapikan tempat tidur putrinya itu yang seperti kapan pecah.


"Kau cepatlah turun. Mama tunggu kau di ruang makan," ucap Shinta lalu keluar dari kamar Yuki.


"Siap, Ma!" ucap Yuki sambil mengguyur tubuhnya mengunakan air dingin.


Setelah selesai, Sania langsung keluar dan mengenakan pakaian terbaiknya. Dia berdandan secantik mungkin agar Aldan bisa terpesona dengan kecantikannya. Namun, saat sedang merias wajahnya, dia melihat fotonya dengan Sania yang terpajang di meja rias nya.

__ADS_1


Dia menatap foto itu dengan tatapan penuh kerinduan. Satu hari tidak bertemu dengan Sania membuat hidupnya terasa hampa. Bahkan baru semalam dia tidak bertemu dengan Sania, akan tetapi dia sudah sangat merindukan sahabatnya itu.


"Ternyata berpisah dengan Sania sama saja seperti berpisah dengan ponsel kesayanganku," gumam Yuki membuang napasnya kesal karena sudah sangat merindukan sahabatnya itu.


Tidak mau membuat kedua orang tuanya lama menunggu, Yuki memilih untuk turun secepatnya. Mungkin dia akan mungunakan hari liburnya nanti, untuk bermain dengan Sania dan melepaskan semua kerinduannya. Sesampainya di ruang makan dia sudah melihat kedua orang tuanya sedang sarapan bersama.


"Mama! papa! kalian melupakanku," ucap Yuki memanyunkan bibirnya kesal melihat Shinta dan Wildan sudah sarapan terlebih dulu.


"Sudahlah! cepat kau habiskan sarapanmu. Kau tidak boleh membuat nama baik papa hancur karena sudah datang terlambat. Padahal kau baru dia hari bekerja di perusahaan Wijaya," ucap Wildan menasehati putrinya itu.


"Ia, Pa! aku tidak mungkin membuat nama papa buruk di mata calon besan papa sendiri," ucap Yuki dengan penuh percaya diri.


Melihat kelakuan putrinya itu, Wildan hanya bisa mengeleng kan kepalanya pelan. Tidak mau terlambat masuk kantor, Yuki memilih untuk melahap makananya dengan begitu layapnya dan menghabiskannya tanpa sisa. Setelah selesai sarapan, Yuki langsung berpamitan keoada kedua orang tuanya dan pergi ke kantor mengunakan mobil kesayangannya.


"Hai! kau baru datang juga?" tanya Yuki menatap Delia yang berdiri di depannya.


"Tidak! aku sudah datang sejak tadi. Kau sih datangnya terlambat. Padahal tadi ada berita heboh," ucap Delia penuh dengan semangat.


"Berita heboh apa?" tanya Yuki mengerutkan keningnya binggung.

__ADS_1


"Tadi tunangan Pak Aldan datang ke kantor. Dia mengumumkan jika tidak boleh satupun dari kita yang mendekati Pak Aldan. Karena Pak Aldan hanya miliki nya. Bahkan dia sekarang berada di ruangan Pak Aldan bagaikan satpam dua puluh empat jam," ucap Delia dengan mulut nyinyirnya.


"Apa! apa wanita itu sudah gila," ucap Yuki terkekeh kecil mendengar tingkah aneh Gresya.


"Aku rasa begitu. Sepertinya dia cemburu kepadamu," ucap Delia menatap Yuki.


"Ketika dia merasa takut, aku malah semakin berniat untuk mengajaknya berperang," ucap Yuki terkekeh kecil lalu kembali melangkahkan kakinya.


"Apa! kau sudah gila? wanita itu tunangan Pak Aldan," ucap Delia penuh rasa tidak percaya lalu berlari kecil untuk mengejar Yuki.


"Aku tidak peduli. Selagi Kak Aldan belum tanda tangan di buku nikah, aku rasa masih ada kesempatan untukku. Lagi pula setelah bekerja di sini aku semakin tertarik kepada Bos tampan kita itu," ucap Yuki penuh semangat.


Mendengar ucapan Yuki, Delia hanya bisa mengelengkan kepalanya pelan. Memang dia tidak tau jika Yuki sudah menyukai Aldan sejak kecil. Namun, melihat dari cara bicara Yuki dia bisa menebak jika Yuki sangat mencintai Aldan. Apalagi mendengat jika Yuki ingin merebut Aldan dari tunangannya.


"Kau memang gila," ucap Delia menatap Yuki tidak percaya.


"Aku memang gila! gila karena ketampanan Tuan Aldan," ucap Yuki terkekeh kecil lalu berjalan memasuki kantor Aldan bersama Delia.


Ntah mengapa ketika melihat usaha Gresya yang ingin menjauhkannya dari Aldan, membuat Yuki semakin merasa tertantang. Dia malah semakin ingin bermain-main dengan Gresya dan menunjukkan jika hanya dia yang pantas berada di samping Aldan.

__ADS_1


"Pertempuran akan semakin memanas. Rasanya aku akan semakin betah bekerja di sini," gumam Yuki tersenyum sinis sambil berjalan menuju ruangan Aldan.


Bersambung.....


__ADS_2