
Lampu di ruang oprasi sudah di nyalahkan, bertanda jika oprasi perpindahan kornea mata untuk Yuki akan segera di lakukan. Para sahabat berserta seluruh keluarga dengan setia menunggu di ruang tunggu. Mereka semua berdoa untuk kelancaran oprasi Yuki. Terlihat Aldan sedang duduk di kursi tunggu seorang diri sambil terus meremas tangannya. Rasa khawatir akan keadaan sang istri terus menghantui pikirannya. Hanya satu permintaannya saat ini, yaitu memohon kepada sang Pencipta untuk kelancaran oprasi istrinya.
"Ya Allah! jika dulu aku banyak meminta kepadamu, maka hari ini aku hanya meminta satu permintaan kepadamu. Aku mohon, lancarkanlah oprasi istriku, ya Allah," batin Aldan sambil menatap langit-langit ruangan itu.
Melihat sang menantu yang sedang menyendiri, Wildan mencoba untuk mendekatinya. Dia duduk di samping menantunya itu lalu memukul pundaknya dengan pelan. Sadar dengan kedatangan sang papa mertua, Aldan hanya bisa diam sambil menatap pria itu. Walaupun dia hanya diam, tetapi Wildan bisa melihat kekhawatiran yang terpancar di mata menantunya itu.
"Kita sama-sama berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar. Mudah-mudahan putriku diberikan kesempatan untuk melihat wajah putranya," ucap Wildan tersenyum kecil.
"Aamiin!" ucap Aldan langsung mengaminkan ucapan mertuanya itu.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya seorang dokter keluar dari ruang oprasi. Dengan cepat mereka semua mengerumuni dokter itu lalu menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.
"Bagaimana keadaan menantuku, Dok? dia baik-baik saja 'kan?" tanya Wijaya menatap lekat dokter itu.
"Alhamdulillah! oprasinya berjalan dengan lancar. Nyonya muda sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap. Untuk membuka perbannya mungkin di butuhkan waktu sampai satu minggu kedepan. Kita berdoa saja agar semuanya berjalan dengan lancar," ucap Dokter itu tersenyum.
"Baik, Dok!" ucap semuanya serentak sambil tersenyum bahagia.
Setelah oprasi istrinya selesai, Aldan langsung pergi menghampiri Randy. Jujur dia masih penasaran siapa sebenarnya orang yang telah mendonorkan matanya untuk Yuki.
"Paman!" teriak Aldan ketika melihat Randy yang baru keluar dari ruang persalinan.
__ADS_1
"Aldan! bagaimana oprasinya? apa berjalan lancar?" tanya Randy yang belum sempat melihat keadaan Yuki.
"Alhamdulillah, Paman. Oprasinya telah selesai dan berjalan dengan lancar. Kata dokter mungkin satu minggu lagi baru bisa membuka perbannya."
"Alhamdulillah! kalau begitu sedang apa kamu di sini? ayo kita ke ruangannya. Paman juga ingin meneriksa keadaannya."
"Tunggu, Paman!" ucap Aldan menghentikan langkah Randy.
"Ada apa?" tanya Randy binggung.
"Aku ingin bertahan, siapa orang yang telah mendonorkan matanya untuk Yuki? Aldan ingin mengucapkan terima kasih kepadanya. Tolong pertemukan Aldan dengannya paman, Aldan yakin pasti dia masih berada di rumah sakit ini," ucap Aldan dengan penuh permohonan.
"Jika kamu ingin menemuinya. Baiklah, paman akan mempertemukanmu dengannya," ucap Randy tersenyum.
Sedangkan di ruangan Yuki, semua orang telah berkumpul untuk melihat keadaan Yuki. Walaupun belum bisa di pastikan bagaimana keadaan mata Yuki saat ini, tetapi mereka tetap bersyukur karena Allah telah mengirimkan orang baik hati yang dengan ikhlas mendonorkan matanya untuk Yuki.
"Sayang! ayo makan. Kamu harus banyak makan makanan yang bergizi. Selain baik untuk perkembangan matamu, juga baik untuk air asimu," ucap Bu Wijaya menyuapi sup untuk Yuki.
"Apakah setelah ini Yuki bisa melihat, Ma?" tanya Yuki sambil menerima setiap suapan yang di berikan mama mertuanya itu.
"Kita berdoa saja, Sayang. Semoga semuanya berjalan dengan baik," ucap Shinta mengusap lembut rambut panjang putrinya itu.
__ADS_1
"Bagaimanapun hasilnya nanti, kita tidak boleh mengeluh. Kita harus tetap bersyukur karena telah di berikan kesempatan untuk mendapatkan pendonor mata untukmu. Ingat, Sayang. Bagaimanapun keadaanmu, kami semua akan selalu ada di sampingmu," ucap Wildan mengenggam tangan putrinya itu dengan erat.
"Papamu benar, Sayang. Kamu tidak perlu takut, apapun yang terjadi kami akan selalu berada di sampingmu. Kami akan membantumu untuk merawat Arya," ucap Zhia tersenyum.
"Terima kasih ya, Tante. Yuki sangat beruntung karena memiliki keluarga beserta sahabat yang sangat menyayangi Yuki. Tapi dimana Sania? Yuki tidak mendengar suaranya dari semalam," ucap Yuki mulai mengingat sahabatnya itu.
Padahal baru semalam sore Sania berangkat untuk melakukan bulan madu. Namun, sekarang Yuki sudah sangat merindukan sosok sahabatnya itu. Selain tumbuh besar bersama, tetapi mereka juga selalu memberikan support satu sama lain. Jadi tidak heran jika di waktu seperti ini Yuki langsung merindukan sosok sahabatnya itu.
"Kamu tidak perlu memikirkan mereka, Ki. Mereka sedang berusaha menanam kecebong Bisma agar bisa menuju tempatnya," ucap Kinan terkekeh kecil.
"Kecebong? memangnya Kak Bisma punya kecebong? padahal semalam saat Chelsea mengantar mereka Chelsea tidak melihat Kak Bisma membawa kecebong," ucap Chelsea dengan polosnya.
"Kak Kinan!" ucap Rania menatap kesal Kinan yang telah merusak otak polos putrinya.
"He... he... maaf, Ra! terlalu terbawa suasana, sehingga ingat masa muda dulu," ucap Kinan cengengesan tanpa dosa.
"Fiona tau! pasti Kak Sania dan Kak Bisma sedang berduaan di dalam kamar. Sedang uhu... uhu...," ucap Fiona ngerocos tanpa tau tempat sambil membuat gerakan dengan menyatukan kedua tangannya seperti orang yang sedang berciuman..
"Fiona!" ucap semuanya serentak.
"Apa! apa Fiona salah bicara?"
__ADS_1
Bersambung.....