Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 87


__ADS_3

Air mata terus saja mengalir di wajah Wildan dan juga para sahabatnya. Mereka menatap Yuki yang masih terbaring di atas bangsal dengan kedua kata di perban. Aldan duduk di samping bangsal sambil terus mengengam tangan istrinya itu. Dia menatap sang istri dengan tatapan penuh kesedihan. Dia terus mengumpat menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi wanitanya itu.


"Kak! kakak yang sabar ya. Aku yakin, Yuki pasti bisa melewati semua ini," ucap Sania mengusap punggung Aldan.


"Ini semua karena aku. Jika aku tidak membiarkannya menyebrang sendiri, ini tidak akan terjadi. Ini semua salahku, Sa! aku pria yang tidak berguna," ucap Aldan menangis frustasi.


"Berhenti menyalahkan dirimu, Nak. Ini semua adalah takdir yang telah di tetapkan Allah. Kita tidak bisa menghindari takdir itu," ucap Sinta memeluk menantunya itu.


"Apa yang harus aku katakan ketika Yuki sadar nanti, Ma? pasti perasaannya sangat hancur," tanya Aldan menatap lekat mama mertuanya itu.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Kita semua ada di sini. Kita akan mendukung Yuki bersama-sama. Ingat, Nak. Kau tidak sendiri. Ada kami di sini," ucap Zhia dan Rissa memeluk Aldan bergantian.


"Apa kalian sudah mengetahui penyebab kecelakaan itu?" tanya Wildan menatap Bisma dan Rayyan telah selesai meneriksa lokasi kecelakaan itu.


"Lebih baik kita bicarakan masalah ini di luar. Biarkan Yuki istirahat tenang," ucap Clara melihat ruangan itu yang telah di penuhi oleh mereka.


"Biar aku dan Aulya yang menjaga Yuki. Kakak ikutlah," ucap Sania menatap Aldan.


Aldan hanya mengangguk kecil lalu bangkit dari duduknya. Tidak lupa, dia meninggalkan jejak kasih sayangnya di kening istrinya itu. Melihat semua orang telah keluar, Sania dan Aulya menatap sahabat mereka itu dengan penuh kesedihan.


"Kak! kenapa ini semua terjadi kepada Kak Yuki? padahal dia adalah wanita yang sangat baik, tapi kenapa cobaannya begitu berat?" tanya Aulya menitikkan air matanya.


Dia tidak membayangkan bagaimana reaksi Yuki saat mengetahui keadaannya saat ini. Sudah pasti dia akan terluka, apalagi dia baru saja menikah dengan Aldan. Gadis itu pasti merasa jika dia hanya akan merepotkan suaminya saja.


"Allah tidak akan memberikan cobaan tanpa alasan. Di balik kejadian ini, pasti akan ada hikmahnya. Yakinlah, jika Yuki bisa menghadapi semua ini. Karena dia adalah wanita yang kuat, wanita pilihan Allah," ucap Sania tersenyum.

__ADS_1


Walaupun dia juga sebenarnya hatinya juga hancur melihat keadaan sahabatnya itu. Akan tetapi dia harus kuat, dia tidak bisa ikut lemah. Dia harus menyemangati seluruh keluarganya agar tidak terpuruk akan keadaan Yuki saat ini.


...----------------...


Seseorang suster mencoba memeriksa keadaan Rizki. Bocah itu tidak ada bosan-bosannya memejamkan matanya. Dia terus tertidur dengan lelapnya. Namun, saat memeriksa selang infusnya, tiba-tiba suster itu melihat tangan Rizki yang bergerak. Melihat itu, dia langsung berlari keluar untuk memanggil Dokter.


Kebetulan Gibran tidak jauh dari sana, sehingga dia langsung memanggil Sania dan juga Bisma. Mereka bertiga dengan tergesa-gesa berlari ke ICU. Mereka menatap Rizki yang sedang di periksa oleh dokter dari balik kaca dinding ruangan Rizki.


"Sayang! bangunlah. Mama menunggumu. Mama merindukanmu," ucap Sania dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar ucapan Sania, Bisma hanya tersenyum sambil memeluk gadis itu. Dia juga berdoa agar putranya itu bisa cepat sadar dan bisa berkumpul dengannya. Dia berjanji akan menebus semua kesalahannya yang telah menelantarkan putranya itu.


"Bangunlah, Sayang! papa merindukanmu. Cepatlah sadar, agar kau bisa merasakan kasih sayang yang selama ini tidak kau rasakan. Papa janji, papa akan memberikan seluruh kasih sayang papa kepadamu. Papa dan Mama Sania akan memberikan indahnya sebuah keluarga kepadamu," batin Bisma menatap lekat putranya itu.


"Semoga Rizki bisa cepat sadar ya kak," ucap Gibran mengusap punggung Bisma.


"Maaf! apa di sini ada yang namanya Sania? Rizki sejak tadi mengingau memanggil nama Kak Sania," ucap seorang suster menghampiri mereka.


"Saya, Sus! saya Sania," ucap Sania penuh semangat.


"Kalau begitu ikut saya," ucap suster itu membawa Sania ke ruang ganti.


Setelah menganti pakaiannya dengan pakaian steril, Sania langsung menemui Rizki. Dia duduk di samping bocah itu sambil mengengam tangannya dengan erat. Dia dapat merasakan jika Rizki membalas gengaman tangannya. Melihat itu, Sania langsung tersenyum lalu membelai lembut puncak kepala bocah itu.


"Sayang! kakak ada di sini. Kamu jangan takut lagi ya. Mulai sekarang kakak akan selalu bersamamu. Kita akan tinggal bersama, kakak, kamu dan juga papa. Kita akan menjadi sebuah keluarga. Kamu tidak akan merasakan takut lagi, karena kakak akan selalu melindungimu. Tapi kamu bangun ya.Lihatlah semua orang sedang menunggumu sadar, termasuk papa," ucap Sania membelai lembut wajah Rizki.

__ADS_1


"Mama! mama," ucap Rizki mengingau sambil mencengkram kuat tangan Sania.


"Mama!" ucap Sania gugup sambil menatap ke arah dokter.


Dengan cepat dokter memeriksa keadaan Rizki. Namun, tiba-tiba mereka melihat jika mata bocah itu terbuka secara perlahan. Tentu saja semuanya langsung tersenyum penuh kebahagiaan.


"Hallo! kamu sudah bangun? lihat, kakakmu ada di sampingmu," ucap dokter itu tersenyum sambil menunjuk ke arah Sania.


Melihat Rizki telah sadar, air mata Sania langsung mengalir dengan derasnya. Tidak lupa dia mengucapkan syukur sambil mencium punggung tangan bocah itu. Bisma dan Gibran yang melihat itu juga ikut menitikkan air matanya. Keduanya saling berpelukan sambil terus mengucapkan syukur di dalam hatinya.


"Kamu sudah sadar, Sayang. Kakak sangat menghawatirkanmu," ucap Sania tersenyum.


"Mama mana? mama sedang sakit. Rizki mau bertemu dengan mama. Tolong antarkan Rizki ketemu mama," ucap Rizki menatap Sania penuh permohonan.


"Mama!" ucap Sania bingung harus berkata apa, bagaimana mungkin dia mengatakan jika mamanya sama sekali tidak memperdulikan bocah itu. Dia juga tidak tau Mala di mana, karena semenjak Rizki masuk rumah sakit wanita itu sama sekali tidak pernah mengunjunginya.


"Tunggu! kakak hubungi Paman Rifki dulu ya," ucap Sania bangkit dari duduknya.


"Nona! kami akan memindahkannya ke ruang rawat. Lebih baik anda tunggu di luar saja," ucap Dokter itu karena melihat keadaan Rizki sudah stabil.


"Tidak! Rizki mau bertemu mama," ucap Rizki terus bersikeras ingin bertemu mamanya.


Melihat Rizki yang terus ingin menemui mamanya, Sania langsung menghubungi Rifki. Suatu kebetulan, ternyata Mala juga sedang dirawat di rumah sakit itu karena kecelakaan itu. Mendengar itu, Sania dan Bisma membawa Rizki menuju ruang rawat Mala. Bisma dengan penuh kasih sayang mendorong kursi roda Rizki di ikuti dengan Sania yang berjalan di sampingnya.


"Rizki, Sayang! kamu sudah sadar?" tanya Rifki langsung menyambut kedatangan Rizki.

__ADS_1


"Paman! aku mau bertemu mama," ucap Rizki melihat wanita yang sedang duduk di atas bangsalnya. Wanita itu terlihat frustasi, dan juga penampilannya yang berantakan. Namun, bukan itu yang menjadi perhatian mereka saat ini. Akan tetapi kedua kaki wanita itu yang di balut oleh perban.


Bersambung.....


__ADS_2