
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Kini waktunya pembukaan perban Yuki, untuk memastikan apakah wanita itu akan bisa melihat, atau tetap tidak bisa melihat sama sekali. Semua keluarga dan para sahabat dengan senantiasa berkumpul untuk melihat moment yang paling berharga itu.
Namun, sudah satu jam mereka menunggu, tetapi dokter tidak kunjung membuka perban Yuki. Sehingga mereka semua menjadi kebingungan sambil terus lempar tatapan satu sama lain. Mereka memeriksa siapa saja yang sudah ada di sana, dan semuanya telah berkumpul.
"Apakah masih ada yang belum datang?" bisik Rayyan kepada Wildan yang duduk di sampingnya.
"Tidak! aku sudah menghitungnya, semua sudah pas. Tapi coba aku hitung lagi," ucap Wildan kembali menghitung para sahabat dan juga keponakannya.
"Sudah lengkap! semuanya sudah berkumpul. Randy juga sudah ada. Jadi siapa lagi?" tanya Wildan malah kembali bertanya.
"Mana aku tau! cucu kita juga sudah mulai rewel. Coba kau tanyakan kepada dokter beruntung itu," ucap Rayyan menyebut Randy. Para Opah somplak memang menjuluki jika Randy adalah dokter beruntung, karena telah mendapat Tika dan juga Rania menjadi istrinya. Sedangkan istri mereka tetap itu-itu saja
"Ran! kenapa perbannya belum juga di buka?" tanya Wildan dengan ketusnya.
"Ehem! tolong sopan sedikit. Ingat di sini saya adalah dokter," ucap Randy dengan sombongnya.
"Yaelah! ok," Wildan menarik napasnya pelan lalu tersenyum secara terpaksa "Dokter Randy yang terhormat. Kenapa perban putriku belum di buka juga? lihatlah cucuku yang mungil ini, dia sudah mulai rewel," ucap Wildan berusaha menahan kekesalannya. Sedangkan Randy hanya bisa menahan tawanya melihat ekspresi wajah Wildan.
"Kita masih menunggu seseorang," ucap Randy kembali ke gaya coolnya.
"Seseorang! siapa?" gumam Wildan kembali memperhatikan semua orang yang ada di sana.
"Kami sudah datang!" ucap seorang wanita dengan penuh kegembiraan memasuki ruangan itu di ikuti seorang pria di belakangnya sambil menyeret dua buah koper.
__ADS_1
"Sania!" ucap semuanya terkejut melihat kedatangan Sania dan juga Bisma.
Tentu saja mereka terkejut, karena baru satu minggu Sania dan Bisma pergi bulan madu. Namun, tiba-tiba mereka muncul di hadapan mereka semua, padahal Rayyan sudah menyiapkan persiapan bulan madu untuk keduanya selama sebulan.
"Eh! ngapain kalian pulang? cepat balik lagi," ucap Rayyan mendorong pasangan suami istri itu keluar dari ruangan.
"Bibi! lihat suamimu ini. Dia mengusir keponakanmy yang cantik ini," ucap Sania merengek kepada Zhia.
"Sayang! kamu tidak boleh seperti itu. Keponakannya pulang bukannya di sambut malah di usir," ucap Zhia langsung menyambut Sania dengan pelukan hangatnya. Melihat pembelaan dari sang bibi, Sania menjulurkan lidahnya untuk meledek sang paman.
"Maaf, Zhi! kali ini aku setuju dengan adik iparku ini. Bisma, bawa kembali Sania pergi. Ingat! kalian tidak boleh pulang sebelum membawa kabar baik," ucap Kinan bangkit dari duduknya.
"Bibi!" rengek Sania meminta pertolongan dari sang bibi.
"Tunggu! tidak ada alasan untuk kami pergi dari sini. Jadi kami akan tetap di sini," ucap Bisma tersenyum penuh kemenangan.
"Ini!" ucap Bisma memberikan sebuah amplop kepada Rayyan.
Dengan cepat Rayyan mengambil amplop itu dan membaca isinya. Dengan seketika sebuah senyuman yang indah melingkar di wajah tampannya. Dia menatap sang keponakan dengan mata berbinar lalu memeluknya dengan penuh kehangatan.
"Selamat, Sayang. Sebentar lagi keponakan kesayangan paman akan menjadi ibu," ucap Rayyan, sehingga membuat semua orang tersenyum bahagia. Dengan seketika ruangan itu di penuhi dengan ucapan syukur, mereka semua langsung memberikan selamat untuk pasangan itu.
"Jadi Rizki akan punya adik?" tanya Rizki dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Ia, Sayang! sebentar lagi kamu akan punya adik. Kamu mau 'kan menjaganya?" tanya Sania membawa Rizki kedalam pelukannya.
"Tentu saja! Rizki akan menjaga adik Rizki dengan baik," ucap Rizki tersenyum.
"Sekarang semuanya sudah berkumpul. Sekarang kita akan menantikan kebahagiaan yang berikutnya," ucap Randy menghentikan kehebohan para sahabat dan juga keponakannya itu.
"Yuki! kamu sudah siap?" tanya Randy melihat Yuki yang sejak tadi hanya tersenyum mendengarkan percakapan para keluarganya tentang kehamilan Sania.
"Sudah, Paman!" ucap Yuki meremas tangannya. Melihat kegugupan sang istri, Aldan langsung mendekat dan mengenggam tangan mungil itu.
"Semua akan baik-baik saja. Percayalah!" bisik Aldan memberikan semangat kepada Yuki.
Melihat Yuki yang sudah siap, Dokter mencoba untuk membuka perban itu secara perlahan. Setelah itu, Yuki mengikuti aba-aba dokter untuk membuka matanya secara pelan. Sungguh sebuah keajaiban, setelah sekian lama tidak bisa melihat wajah para keluarga dan sahabatnya, kini dia bisa melihat wajah itu kembali. Air matanya langsung berlinang ketika melihat bayi mungil yang sangat tampan berada di dalam gendongan Sinta, sang mama. Melihat wajah bayi itu, dia langsung bisa menebak jika bayi itu adalah Arya putra yang beberapa hari lalu dia lahirkan.
"Arya! putraku," ucap Yuki menatap bayi itu, sehingga membuat semua orang langsung tersenyum penuh kebahagiaan.
"Ia, Sayang! ini Arya, putramu," ucap Sinta menitikkan air matanya lalu memberikan Arya kedalam gendongan Yuki.
"Sayang!" ucap Aldan langsung memeluk Yuki sambil menitikkan air matanya. Dia menciumi seluruh wajah sang istri sambil mengucap syukur kepada Allah.
Akhirnya, kebahagiaan yang berlimpah kembali menghampiri para keluarga itu. Mulai dari kelahiran Arya kecil, penglihatan Yuki yang telah kembali, dan sekarang berita kehamilan Sania. Membuat kebahagiaan mereka seakan tidak ada habisnya. Walaupun untuk mendapatkan kebahagiaan itu mereka harus menghadapi berbagai macam rintangan, tetapi dengan pernuh kesabaran dan juga perjuangan mereka akhirnya bisa melewati semua rintangan itu dengan mudah.
Setelah mendapat kabar jika Yuki telah bisa melihat kembali, mama Gresia langsung menghembuskan napas terakhirnya. Dia pergi dengan keadaan tenang, karena semua kesalahannya telah di maafkan oleh Yuki dan juga keluarganya. Setelah kematian sang mama, Gresia akhirnya menjalani hukumnya. Dia harus mendapatkan hukuman atas kesalahan yang telah dia perbuat.
__ADS_1
Setiap perbuatan pasti ada balasannya, jika kita berbuat baik, maka kebahagiaan dan juga ketentraman adalah jaminannya. Sedang jika kita berbuat jahat, maka bersiaplah untuk mendapatkan balasan atas semua kejahatan yang kita perbuat. Mungkin tidak seperti memakan cabai, di situ kita makan di situ kita akan merasakan pedasnya. Namun, yang pasti, kita akan mendapatkan hukuman itu dalam waktu yang tidak bisa di tentukan. Jika kita selamat di dunia, maka jangan harap kita bisa selamat di akhirat kelak.
Tamat.....