Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 62


__ADS_3

Selama di lapangan, Sania nampak murung. Bahkan dia terus diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Melihat sikap sahabatnya itu, Erlan hanya bisa memperhatikan sambil berpikir apa yang sedang di pikirkan oleh gadis itu.


"Sudah selesai? ayo kita ke kantor," ucap Erlan membuka suara.


"Em!" dehem Sania mengangguk patuh lalu masuk kedalam mobil.


Erlan hanya diam lalu duduk di kursi pengemudi. Sebelum menjalankan mobilnya, dia menatap sahabatnya itu terlebih dulu. Tidak mau membuat mood gadis itu semakin hancur, Erlan memilih untuk diam dan mengemudikan mobilnya. Selama di perjalanan, Sania terus menatap makanan yang dia beli untuk bocah tadi. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya karena tidak sempat memberikan makanan itu.


"Dia pasti sedang menahan lapar saat ini. Kenapa aku bisa terlambat sih?" gumam Sania kesal karena dia terlalu lama membeli makanan itu tadi.


"Kau masih memikirkan bocah laki-laki itu?" tanya Erlan menatap gadis itu.


"Apa kau tau, dia pasti sedang kelaparan saat ini. Tadi aku bertanya apa dia belum makan, lalu dia bilang belum. Coba kau bayangkan, bocah sekecil itu harus menahan lapar. Sedangkan wanita itu enak-enakan makan dengan pacarnya." oceh Sania geram.


Mendengar ucapan Sania, Erlan nampak berpikir sejenak. Dia merasa heran kenapa gadis itu bisa sangat menyukai anak kecil itu. Padahal dia baru sekali melihatnya. Bahkan begitu banyak anak-anak yang jadi gelandang dan kelaparan di luar sana. Namun, kenapa bocah itu terlihat begitu sepesial di mata Sania.


"Kenapa kau sangat perhatian kepada bocah itu? Bukankah kau baru mengenalnya?" tanya Erlan menatap sahabatnya itu binggung.


"Aku juga tidak tau," ucap Sania nampak berpikir.


"Tapi yang pasti ketika melihatnya aku merasa ada getaran yang berbeda. Apalagi melihat tatapan dan juga senyumannya. Aku seperti sangat mengenali tatapan dan juga senyuman itu. Bahkan ada saat berada di dekatnya, aku merasa sangat nyaman," ucap Sania.


Ssttt...


Bughhh...


"Aw! kau gila ya," pekik Sania memengang keningnya yang terbentur karena Erlan yang mengerem secara mendadak.


"Tidak! maafkan aku," ucap Erlan terlihat gugup lalu kembali melajukan mobilnya.


Melihat kelakuan Erlan, Sania hanya menatap kesal sahabatnya itu. Tidak ada angin tidak ada hujan, sahabatnya itu sudah membuatnya jengkel dalam sekejab.


...----------------...


Yuki di temani oleh Sinta dan Zhia untuk memilih gaun penganti. Gadis itu terlihat sangat bahagia melihat gaun pengantin yang begitu indah terpajang di depan matanya. Dia tidak menyangka akhirnya, apa yang dia impikan selama ini terwujud juga. Menikah dengan Aldan adalah impian gadis itu sejak kecil. Walaupun dia harus melewati lika-liku kehidupan untuk mendapatkan kebahagiaannya. Namun, dia tetap bersyukur karena akhirnya impian yang dia bayangkan selam ini akhirnya terwujud juga.

__ADS_1


"Gaunnya sangat bagus. Aku sampai binggung harus memilih yang mana," ucap Yuki menatap gaun itu satu persatu.


"Bukan kamu yang binggung, Sayang," bisik Aldan tepat di telinga Yuki.


"Jadi?"


"Yang ada gaunnya yang binggung. Karena takut keindahannya dikalahkan oleh kecantianmu," ucap Aldan, sehingga membuat calon istrinya itu langsung tersipu malu.


"Kakak!" ucap Yuki mencubit perut Aldan.


"Aw! sakit, Sayang. Kamu jangan menggodaku, pernikahan kita masih lama. Nanti juniorku bangun siapa yang harus bertanggung jawab," ucap Aldan menaik turunkan alisnya.


"Kakak mesum!" ucap Yuki mencubit lengan Aldan.


"Kamu juga mau 'kan?" tanya Aldan terus mengoda calon istrinya itu.


"Ehem!" dehem Bu Wijaya menghentikan kelakuan mesum putranya itu.


"Mama!" ucap Aldan terkekeh kecil.


"Aku tidak menakut-nakutinya, Ma. Aku hanya ingin dia mengatur tenaganya saja. Bukankah mama ingin segera memiliki cucu," ucap Aldan tersenyum kecil sambil memperhatikan setiap inci tubuh Yuki.


"Dasar bocah mesum. Mama memang ingin memiliki cucu, tapi mama tidak mau membuat calon mantu mama jadi takut seperti itu. Lagi pula pernikahan kalian masih lama, jadi kau jangan macam-macam," ucap Bu Wijaya menunjuk putranya itu.


"He.. he... ia! Tapi malam pertama nanti lembur sampai pagi tidak apa-apa 'kan?" tanya Aldan sambil melirik Yuki.


Sontak Yuki membulatkan matanya terkejut mendengar ucapan calon suaminya itu. Jangankan melakukannya sampai pagi, membayangkannya saja Yuki sudah merinding.


"Otakmu itu memang perlu di cuci," ucap Bu Wijaya geram sambil menjitak kecil kepala putranya itu.


"Kalian membicarakan apa, Sih? seru amat," ucap Wildan dan Wijaya mendengar perdebatan mama dan putranya itu.


"Tidak ada, Pa! Aldan hanya bertanya kepada mama. Papa mengunakan metode apa? sehingga menciptakan putra yang sangat tampan dan pintar ini. Mana tau aku juga bisa menciptakan cucu yang imut dan bijak untuk kalian nantinya," ucap Aldan dengan songongnya.


"Kakak!" ucap Yuki menginjak kaki Aldan.

__ADS_1


Kelakuan calon suaminya itu memang tidak tau malu. Dia saja yang mendengarnya sudah besar kepala. Namun, pria itu malah terlihat biasa saja.


"Tidak apa-apa. Kami juga pernah muda. Jadi kau tidak perlu malu seperti itu," ucap Wildan malah ikut-ikutan mengoda putrinya itu.


"Mama! papa mesum," teriak Yuki mengadu kepada sang mama.


"Sayang! kau tidak boleh seperti itu," ucap Sinta menggeleng kecil melihat tingkah suaminya itu.


"Ups! maaf, Sayang. Nanti kalau di kamar boleh?" tanya Wildan tersenyum kecil.


"Stop! Yuki mau pilih gaun saja. Bicara sama kalian bikin kepala Yuki pusing," ucap Yuki kesal melihat kelakuan mesum para pria itu.


Dia langsung memilih gaun untuk acara resepsi dan mencoba mengenakannya. Melihat kekesalan putrinya itu, Wildan hanya terdiam sambil terus terkekeh kecil. Sedangkan Sinta dan Zhia hanya bisa menggeleng kecil melihat kelakuan Wildan.


Sambil menunggu Yuki mencoba gaunnya, Sinta dan Zhia memilih untuk mencari pakaian seragam untuk mereka kenalan di acara resepsi pernikahan Yuki dan Aldan nantinya. Tentu saja Sinta ingin memperlihatkan kekompakan mereka di depan para tamu nantinya. Walaupun semua orang telah mengetahui bagaimana keeratan persahabatan mereka.


Sedangkan Aldan mencoba stelan jas yang akan dia gunakan di acara resepsi nantinya. Dia memilih jas yang senanda dengan gaun yang sedang Yuki coba.


"Bagaimana, Ma? apakah putramu ini semakin tampan? walaupun sebenarnya tampan sejak lahir sih," ucap Aldan dengan kepedean setinggi lagit.


Setelah pertunangannya dengan Gresia di batalkan, Aldan memang nampak jauh lebih ceria. Apalagi setelah lamarannya di terima Yuki, membuat tingkat kenarsisan pemuda itu semakin meningkat 180°C.


"Ingat! ketampananmu itu dari bibit unggul papa. Jadi kau tidak perlu narsis seperti itu," ucap Wijaya dengan penuh kebangaan.


"Kak! bagaimana?" tanya Yuki keluar dari ruang ganti.


"Astaghfirullah! kenapa ada bidadari yang menyasar kemari," ucap Aldan menatap Yuki dengan penuh kekaguman.


"Ma! bisakah waktu pernikahannya di percepatan? anakmu sudah sesak napas," ucap Aldan kembali.


"Kau sesak napas? Sini biar papa bantu," ucap Wijaya mencoba memeluk putranya itu.


"Papa! kau mengotori otak putramu yang polos ini,"


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2