Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 51


__ADS_3

Setelah mengetahui semua rencana papa Gresia, Wijaya langsung membatalkan pertunangan Gresia dengan Aldan. Bukan hanya itu, Wijaya juga mencobloskan papa Gresia ke penjara atas tuduhan penggelapan dana. Sehingga membuat keluarga Gresia menjadi hancur saat itu juga. Tentu saja hal itu membuat Gresia semakin membenci Sania dan Yuki. Dia tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia di atas penderitaannya.


"Ma! kita harus membalas perbuatan mereka. Kita tidak bisa diam saja. Mereka telah menghancurkan hidup kita, Ma!" ucap Gresia tidak terima.


"Tapi kita tidak mungkin bisa mengalahkan mereka begitu saja. Mereka itu keluarga yang sangat kuat, kita tidak akan bisa mendekati mereka dengan mudah," ucap mama Gresia menatap putrinya itu.


"Sekuat-kuatnya manusia, pasti mereka mempunyai titik kelemahan juga. Mama tenang saja, aku akan menyelesaikan semuanya caraku sendiri," ucap Gresia tersenyum sinis.


Ntah apa yang ada di dalam pikiran gadis itu. Namun yang pasti, itu tidak akan baik. Terutama untuk Sania dan Yuki. Karena baginya Yuki dan Sanialah yang telah menghancurkan semua rencana mereka yang telah mereka susun selama ini.


"Baiklah! mama serahkan semua kepadamu. Tapi ingat, kau tidak boleh bertindak gegabah. Cukup sekali kita terperangkap dalam jebakan kita sendiri. Kau harus belajar dari kesalahanmu," ucap mama Gresia menatap putrinya itu.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan! jadi mama tenang saja," ucap Gresia tersenyum.


...----------------...


Sania menatap dokumen yang ada di tangannya dengan sangat teliti. Setelah kepergian Bisma, dia hanya menghabiskan waktunya di kantor dan juga di club malam. Dia hanya pulang ke rumah hanya untuk beristirahat, lalu pergi lagi. Bahkan dia tidak pernah bertemu lagi dengan Kinan sang papa. Walaupun Kinan terus berusaha untuk menemuinya, tetapi dia terus menghindar. Seakan dia tidak mau melihat wajah papanya itu lagi.


"Hai, Sa! apa pekerjaanmu sudah selesai? Kita makan siang bareng yuk," ucap Rifki menghampiri Sania.


"Maaf, Ki! Aku lagi sibuk. Kau makan siang dengan yang lain saja," ucap Sania datar tanpa menatap ke arah Rifki.


Melihat perubahan sikap Sania, Rifki hanya mengerutkan keningnya binggung. Dia merasa heran atas perubahan sikap teman wanitanya itu. Karena Sania yang dia kenal bukan seperti Sania yang ada di depannya saat ini.


"Kau ada masalah?" tanya Rifki menatap Sania dengan tatapan penuh pertanyaan.


Mendengar pertanyaan Rifki, Sania hanya membuang napasnya kasar. Dia menatap pria itu sambil tersenyum kecil.


"Tidak! Aku tidak punya masalah apapun. Aku hanya ingin menyendiri saja. Jadi aku mohon kau mengertilah," ucap Sania lalu kembali fokus dengan dokumennya.

__ADS_1


"Sa! apa kita bisa bicara sebentar?" ucap Gabriel menatap tajam Sania.


Jujur Gibran merasa jika kelakuan Sania sudah kelewatan. Sebagai anak anak tertua dari seluruh sahabatnya itu, Gibran merasa pantas untuk menegur Sania. Dia tidak akan membiarkan Sania jatuh kedalam dunia gelap lebih dalam lagi.


"Maaf, Kak! Sania ingin sendiri," ucap Sania menunduk tidak berani menatap Gibran.


"Ikut kakak sekarang, atau kau tidak akan bisa lagi berbicara dengan kakak sampai kapanpun," ucap Gibran tegas sambil menatap datar Sania.


"Kak!" ucap Sania menatap Gibran dengan mata berkaca-kaca.


Sania tau apa yang ingin di bicarakan Gibran. Dari semua sahabatnya, memang Gibran yang paling tegas. Bahkan tidak satupun dari mereka yang berani membantah ucapan Gibran, kecuali Aulya.


"Pilihan ada di tanganmu. Kakak tidak akan bertanya untuk yang kedua kalinya," ucap Gibran lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Sania.


"Ia! Sania akan ikut kakak," ucap Sania membuang napasnya kasar lalu merapikan mejanya.


"Nasib-nasib! setelah saingan yang satu pergi, muncul lagi saingan yang lebih menyeramkan," batin Rifki membuang napasnya memelas.


"Maaf, Ki! aku harus bicara dengan Kak Gibran," ucap Sania berpamitan kepada Rifki lalu melangkahkan kakinya meningalkan Rifki.


"Baiklah! silahkan," ucap Rifki tersenyum sambil menatap punggung Sania.


"Mengejarmu, sama saja dengan mengejar Ratu Elizabeth. Hanya bisa mengagumimu, tapi sulit untuk di gapai," ucap Rifki mengusap wajahnya kasar.


"Memangnya kau ingin mengejar Ratu Elizabeth? dia 'kan sudah meninggal. Kau mau menyusulnya ya? jangan! apa kau tidak sayang dengan masa mudamu ini. Lagi pula bunuh diri itu dosa besar, nanti rohmu tidak di terima bumi," ucap Erlan menatap Rifki dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.


"Memang aku mau mati! mati agar tidak melihatmu lagi. Menyebalkan," ucap Rifki kesal lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Aldan.


"Memangnya aku semenyebalkan itu ya? perasaan tidak! aku tampan, ia. Aku memang tampan," oceh Aldan penuh percaya diri.

__ADS_1


...----------------...


Aldan duduk bersandar di kursi kuasanya sambil menatap langit-langit ruangannya. Setelah pembatalan pertunangannya dengan Gresia, pemuda itu selalu tersenyum bahagia seperti orang yang sedang kasmaran. Bahkan Bu Wijaya saja sampai kebingungan melihat tingkah putranya itu. Namun, sebagai wanita yang pernah muda dan merasakan jatuh cinta, tentu saja Bu Wijaya sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran putranya itu.


Tok... tok....


Suara ketukan pintu langsung menyadarkan lamunan pemuda itu. Dia kembali menatap dokumen yang ada di depannya lalu kembali menunjukkan gaya coolnya.


"Masuk!" ucap Aldan tanpa menoleh ke arah pintu.


Mendengar persetujuan Aldan, seorang gadis cantik langsung masuk ke ruangan itu. Dia menatao Aldan dengan perasaan gugup. Dia membuang napasnya kasar, sambil berusaha mengontrol dirinya.


"Maaf, Kak! ini ada beberapa dokumen yang harus kakak tanda tangani," ucap Yuki meletakkan dokumen yang ada di tangannya kehadapan Aldan.


"Yang mana? tolong tunjukkan," ucap Aldan pura-pura sibuk.


"Yang ini, Kak!" ucap Yuki menunjukkan di mana yang harus Aldan tanda tangani.


"Kenapa kau menjauh seperti itu? tolong tunjukkan dari dekat. Kakak tidak bisa melihatnya,"


Mendengar ucapa Aldan, Yuki hanya bisa membuang napasnya kasar. Semenjak pembatalan pertunangan Aldan, ntah mengapa Yuki merasa sangat gugup saat berdekatan dengan pria itu. Bahkan dia selalu menghindari pemuda itu tanpa alasan. Tidak mau membuat Aldan kesal, Yuki akhirnya mencoba untuk memberanikan dirinya. Dia mendekatkan tubuhnya ke Aldan dan menunjukkan dokumen itu lebih dekat lagi.


Bukannya langsung menandatanganinya, Aldan malah menatap gadis itu sambil tersenyum. Melihat wajah gadis di sampingnya yang malu-malu kucing, tiba-tiba otak jahil Aldan langsung meronta-ronta. Dia pura-pura tidak melihat yang di tunjukkan Yuki, sehingga gadis itu harus terus merapatkan tubuhnya dengan Aldan.


"Kakak! jika kakak tidak melihatnya bagaimana kakak tau mana yang Yuki tunjukkan," ucap Yuki kesal ketika sadar jika sejak tadi Aldan terus menatap wajahnya, bukan menatap dokumen yang dia tunjukkan.


"Maaf! habisnya kecantikanmu lebih mengoda dari semua kekayaanku," ucap Aldan tersenyum sambil memainkan matanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2