Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 104


__ADS_3

"Argh! kenapa tiba-tiba perutku terasa sakit ya," gumam Yuki tiba-tiba merasakan sakit pada perutnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Aldan panik ketika mendengar suara rintihan istrinya.


"Perutku sakit sekali, Kak!" ucap Yuki sambil memegangi perutnya.


Melihat istrinya yang terus kesakitan, Aldan langsung bangkit dari tidurnya.


Dia membuka selimut Yuki dan melihat ************ Yuki yang sudah basah menandakan jika ketubannya sudah pecah.


"Sayang! kamu mau melahirkan," ucap Aldan langsung membawa wanita itu ke dalam gendongannya.


"Siapkan mobil!" perintah Aldan kepada pelayan yang dia temui.


Mendengar suara Aldan, Wijaya dan juga istrinya yang sedang sarapan bersama langsung berlari ke arah sumber suara itu.


"Ada apa ini?" tanya Bu Wijaya yang melihat Yuki terus meringis kesakitan di dalam gendongan putranya.


"Yuki mau melahirkan, Ma!" ucap Aldan dengan panik.


"Apa! cepat siapkan mobil," perintah BU Wijaya berlari mendorong tubuh suaminya itu keluar.


"Mana kuci mobilnya?" tanya Bu Wijaya merampas kunci mobil yang ada di tangan suaminya lalu duduk di kursi kemudi.

__ADS_1


"Kenapa mama yang membawa mobilnya?" tanya Wijaya binggung.


"Oh! salah. Ayo cepat masuk," ucap Bu Wijaya pindah ke kursi yang ada di samping pengemudi.


Dengan cepat Wijaya langsung masuk dan menghidupkan mobilnya. Sangking paniknya, kedua orang tua itu sampai lupa dengan menantu mereka sendiri. Mereka melajukan mobilnya tanpa membukakan pintu untuk Aldan dan Yuki, sehingga wanita yang seharusnya di bawa ke rumah sakit itu tertinggal.


"Mama! papa!" teriak Aldan geram dengan kelakuan kedua orang tuanya itu.


"Eh! Yuki mana?" tanya Bu Wijaya sadar jika ternyata mereka melupakan menantu mereka sendiri.


"Mama, Sih!" ucap Wijaya geram sambil memundurkan mobilnya.


"Kenapa mama yang salah?" oceh Bu Wijaya tidak terima.


 Tanpa banyak bicara Satpam yang sedang berjaga di luar langsung membukakan pintu untuk Aldan. Aldan langsung meletakkan tubuh istrinya itu di bangku belakang lalu duduk di sampingnya.


"Maaf! papa terlalu panik," ucap Wijaya terkekeh kecil lalu kembali melajukan mobilnya.


Selama di perjalanan, Aldan terus mengenggam tangan istrinya itu. Dia juga mencoba mengelus perut Yuki dengan harapan sakit yang dirasakan istrinya itu bisa berkurang. Tanpa dia sadari, dia meneteskan air matanya ketika melihat istrinya terus meringis kesakitan. Sungguh besar perjuang seorang ibu untuk melahirkan buah hatinya, tidak henti-hentinya Aldan berdoa agar persalinan istrinya itu bisa berjalan lancar.


"Kak! sakit," ucap Yuki mengenggam tangan Aldan dengan kuat.


"Sabar ya, Sayang! sebentar lagi kita sampai. Kamu yang kuat ya, demi buah hati kita," ucap Aldan mengelus perut istrinya itu.

__ADS_1


"Pa! lebih cepat lagi," ucap Aldan menatap papanya itu.


"Ia! papa sudah berusaha. Tapi jalanannya cukup padat," ucap Wijaya terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dia terus membunyikan klaksonnya dengan harapan para pengendara lain mau memberikan jalan untuknya. Bu Wijaya juga terus berteriak seperti orang gila ketia ada pengendara lain yang menghalangi jalan mereka. Dia tidak perduli dengan tanggapan orang lain, yang dia perdulikan hanyalah cara agar mereka bisa sampai ke rumah sakit secepatnya.


"Ma! mama tidak usah berteriak seperti itu. Telinga papa mau pecah karena suara mama," ucap Wijaya ketus mendengar teriakan istrinya itu yang sangat keras.


"Mama berteriak agar mereka minggir, Pa! lihat menantu kita kesakitan, mama tidak tega melihatnya," ucap Bu Wijaya tidak perduli lalu kembali mengeluarkan kepalanya dari jendela untuk menyuruh para pengendara lain untuk minggir.


Hingga akhirnya mereka sampai ke rumah sakit, Wijaya dan istrinya langsung berlari memasuki rumah sakit itu untuk memanggil dokter. Mendengar teriakan mereka, para suster yang berjaga langsung berlarian keluar sambil membawa brankar dorong untuk Yuki. Aldan meletakkan tubuh istrinya itu ke atas brankar itu lalu mendorongnya ke ruang persalinan.


"Maaf! kalian tunggu di luar," ucap suster menghentikan langkah Wijaya dan juga istrinya saat memasuki ruang persalinan. Sedangkan Aldan dengan setia menemani istrinya itu untuk melahirkan buah hati mereka.


Mendengar kabar Yuki yang ingin melahirkan, Wildan beserta para sahabatnya langsung bergegas ke rumah sakit. Begitu juga dengan Sania, dia ingin memebetikan semangat untuk sahabatnya itu. Dia dan juga Bisma langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Yuki.


"Tante! bagaimana keadaan Yuki?" tanya Sania menghampiri Bu Wijaya yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Dia masih di dalam! doakan saja agar persalinannya berjalan lancar ya," ucap Bu Wijaya.


"Tentu saja, Tante! Sania yakin Yuki pasti bisa," ucap Sania memeluk Bu Wijaya.


"Putriku! di mana putriku?" teriak Wildan berlari mendekati besannya itu.

__ADS_1


Sebagai seorang papa, tentu saja dia tidak bisa melihat putrinya kesakitan sedikit saja. Dia terlihat begitu cemas, mengkhawatirkan keadaan putrinya itu. Bayangan saat Shinta melahirkan kembali terbayang di dalam ingatannya, sehingga dia langsung bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan putrinya saat ini.


Bersambung.......


__ADS_2