
Bisma terus menatap Sania yang duduk bersama Clara dan juga yang lainnya di meja yang tidak jauh dari mereka. Jujur perasaannya tidak tenang melihat wanita ular itu berada di samping wanitanya itu. Walaupun dia tau jika Sania adalah gadis yang sangat cerdas, tetapi dia tetap tidak bisa percaya kepada Mala. Wanita itu sangatlah licik, bahkan dia berhasil mempermainkannya selama lima tahun ini.
"Kau percayalah! Sania pasti bisa menghadapi wanita itu. Apa kau tidak melihat jika di sampingnya ada istriku," bisik Rafi menenangkan Bisma yang sejak tadi terlihat cemas.
"Aku tau! tapi aku tidak yakin dengan wanita itu. Dia sangat licik, bahkan dia telah memainkan permainan ini selama lima tahun," ucap Bisma membuang napasnya kasar.
"Selama lima tahun ini aku akui dia menang dalam permainan yang telah dia ciptakan. Tapi apa kau lupa, jika dalam sebuah permainan level awal itu adalah level yang termudah. Sehingga pemainnya bisa menang dengan mudah. Tapi jika level permainannya sudah semakin tinggi, maka tantangan demi tantangan akan bermunculan satu persatu. Sehingga membuat pemainnya akan semakin sulit untuk memenangkannya," ucap Rafi tersenyum kecil.
"Dan sekarang dia berada di level akhir. Dimana di level ini adalah penentuan dia menang atau kalah dalam permainan yang dia ciptakan sendiri. Tapi asal kau tau, kini kau tidak sendiri lagi. Ada kami yang akan membantumu," ucap Rafi memukul pundak sahabatnya itu pelan.
"Kau benar! maaf karena aku telah menyembunyikan masalah sebesar. Aku merasa tidak enak kepadamu, karena kau sudah banyak membantuku," ucap Bisma menatap bos sekaligus sahabatnya itu dengan tatapan penuh kekaguman.
Setelah kedua orang tuanya meninggal, Bisma tidak memiliki siapapun lagi di sampingnya. Alangkah beruntungnya dia bisa di pertemukan dengan Rafi. Bahkan pria itu juga membawanya kedalam tengah-tengah persahabatan mereka yang sangat erat. Rafi dan para sahabatnya juga telah memberikan kasih sayangnya kepada Bisma, sehingga pria itu tidak pernah merasa sendiri lagi.
"Jangan pernah merasa tidak enak denganku. Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Ingat kita bukan hanya sahabat ataupun atasan dan juga bawahan. Tapi kita semua adalah saudara," ucap Rafi tersenyum.
Mendengar ucapan sahabatnya itu, Bisma hanya tersenyum kecil. Dia menatap ke arah Sania yang sedang menyuapi Rizki dengan penuh kelembutan. Melihat itu, hati Bisma menjadi sedikit lega. Setidaknya putra dan juga wanitanya itu bisa saling menyayangi satu sama lain.
"Sania! kau adalah gadis yang sangat baik. Aku sangat beruntung karena bisa menempati tempat yang berharga di hatimu," batin Bisma menatap gadis itu dengan tatapan penuh keteduhan.
Sadar Bisma terus menatapnya, Sania langsung mengacungkan jempolnya sebagai tanda jika semua akan baik-baik saja. Dia pasti bisa menghadapi wanita ular itu dengan mudah. Dengan ataupun tanpa bantuan orang lain.
"Kau sangat pintar, Sayang. Makanmu sangat banyak," ucap Sania melihat isi piring Rizki yang telah kosong.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Kak! makanannya sangat enak," ucap Rizki sambil menguyah makanan yang ada di mulutnya.
"Sama-sama, Sayang. Kakak merasa senang melihatmu makan dengan lahap seperti ini. Bukan seperti wanita yang membiarkanmu sendiri di depan toko, sedangkan dia malah enak-enakan makan di cafe dengan seorang pria," ucap Sania sambil melirik Mala yang sejak tadi hanya diam menatapnya.
Deg. ...
Jantung Mala langsung berdetak tidak karuan mendengar sindiran Sania. Dia menatap gadis itu dengan penuh kebingungan. Sepertinya gadis itu tau banyak tentang kehidupannya, termasuk perlakuannya terhadap Rizki.
"Apakah boleh aku bicara denganmu?" tanya Rania membuka suara.
Jujur sejak tadi dia sudah sangat geram melihat wajah wanita ular itu. Namun, dia berusaha menahan emosinya, karena dia sadar ini adalah tempat umum. Apalagi dia melihat beberapa rekan kerja Rafi yang berada di cafe itu. Sehingga membuatnya menahan rasa kekesalannya.
"Maaf! aku ada urusan. Ki! ayo kita pulang," ucap Mala bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Rizki dengan kasar.
"Dia adalah putraku! jadi aku berhak melakukan apapun kepadanya,"
"Dia memang putramu. Tapi dia juga putra dari calon suamiku. Jadi aku juga ibunya," ucap Sania menarik Rizki ke belakangnya.
"Ayo ikut denganku!" ucap Rania menarik tangan Mala.
"Aku tidak meminta pendapatmu. Ikut aku atau aku akan menghabisimu saat ini juga,"ucap Rania kembali sambil mengeluarkan tatapan iblisnya.
" Sial! Kenapa aku bisa berurusan dengan mereka sekarang," batin Mala melihat rencananya yang gagal total karena kehadiran Clara dan Rania.
__ADS_1
"Aku akan ikut denganmu! tapi lepaskan dulu tanganku," ucap Mala sedikit meringis karena gengaman Rania yang cukup kuat.
"Ups! maaf," ucap Rania sadar jika kelakuannya itu telah menyakiti Mala.
"Sayang! kau sama Kak Sania sebentar ya. Tante dan Mama ada urusan sebentar," ucap Rania mengusap lembut rambut lebat Rizki.
Rizki hanya mengangguk kecil sambil terus memeluk Sania. Karena perhatian dan kelembutan gadis itu, Rizki langsung merasa nyaman saat berada di dekatnya. Bahkan saat berada di dekat Sania, dia merasakan kasih sayang yang selama ini tidak dia dapatkan.
Rania langsung melangkahkan kakinya menuju taman yang ada di belakang cafe itu. Tidak ada pilihan, Mala hanya diam dan mengikutinya dari belakang. Dia terus menatap punggung wanita itu sambil mengepalkan tangannya geram. Dia tau persis jika penyebab utama kematian kakaknya adalah Rania. Namun, dia lebih membenci Bisma dan para sahabatnya, termasuk para mantan bocil itu. Karena merekalah yang menyebabkan kakaknya sampai terkena gangguan jiwa dan akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Sesampainya di taman, Rania langsung duduk di kursi. Tanpa banyak bicara, dia mengambil sebuah amplop yang ada di dalam tasnya lalu memberikannya kepada Mala.
"Kau lihatlah isi amplop itu," ucap Rania tersenyum kecil.
Tanpa banyak berpikir, Mala langsung membuka amplop itu. Dia membulatkan matanya terkejut ketika melihat beberapa foto dirinya dan juga Bisma lima tahun lalu. Namun, yang lebih membuatnya terkejut, adalah fotonya yang sedang meletakkan sesuatu ke minuman Bisma.
"Aku punya bukti yang lebih akurat dari foto itu. Jadi aku harap kau tau apa yang harus kau lakukan setelah ini," ucap Rania menatap tajam Mala.
"Dan kau harus ingat satu hal! kami tidak akan mengusik kehidupan seseorang jika dia yang memulainya. Jika kau merasa kami jahat, maka yang lebih jahat itu adalah sepupumu. Dia telah tega menghabisi nyawa sahabat kami, Tika. Bahkan dia tidak perduli dengan keadaannya yang saat itu sedang hamil besar. Aku rasa kau punya otak untuk berpikir, jadi pikirkanlah siapa yang lebih kejam di sini," ucap Rania mengepalkan tangannya geram mengingat kejadian dua belas tahun lalu. Dimana dia harus kehilangan sahabatnya untuk selamanya.
"Jika kau ingin nasibmu sama seperti kakak sepupumu itu. Maka lanjutkan lah permainanmu ini. Tapi jangan salahkan kami, jika kami melakukan sesuatu kepadamu. Karena kami tidak akan pernah diam ketika seseorang menganggu ketenangan kami. Apalagi para putri kami,"
Bersambung......
__ADS_1