Mengejar Cinta Kakak Tampan

Mengejar Cinta Kakak Tampan
Part 31


__ADS_3

Sania duduk bersandar sambil memutar-mutar pulpennya. Moodnya hari ini sangat hancur, bahkan dia tidak tau harus melakukan apa. Pekerjaannya sudah selesai dan jam juga telah menunjuk ke jam istirahat, tetapi dia malas untuk bergosip dengan mahasiswi magang lainnya. Dia mencoba mencari Erlan di balik para pegawai yang sibuk mondar-mandir di depannya. Namun, sudah sedari dia memperhatikan, tetapi dia tidak melihat barang hidung Erlan yang muncul di depannya.


"Ish! itu anak di mana, Sih? giliran gak dibutuhin aja, selalu nonggol," gumam Sania kesal.


"Kau sedang mencari siapa?" tanya Rifki duduk di menatap ke arah tatapan Sania.


"Kau ngangetin saja," ucap Sania mengelus dadanya pelan sambil menatap kesal Rifki yang tidak sengaja mengejutkannya.


"Hehe... maaf! habisnya perhatianmu ntah kemana saja," ucap Rifki nyengir tanpa dosa.


"Memangnya kau mencari siapa?" tanya Rifki kembali.


"Kau melihat Erlan? aku sejak tadi mencarinya, tapi anak itu tidak muncul-muncul," ucap Sania.


"Erlan! Aku tadi melihatnya pergi. Tapi aku tidak tau kemana," ucap Rifki.


"Pergi? sama siapa?" tanya Sania menatap Rifki dengan tatapan penuh selidik.


Mendengar Erlan pergi, berbagai pertanyaan langsung meluncur di pikiran Sania. Karena tidak biasanya Erlan pergi tanpa memberitahunya.


"Tidak tau! tapi yang pasti cewek," ucap Rifki.


"Cewek! sejak kapan Erlan punya teman cewek?" gumam Sania bertanya pada dirinya sendiri.


Sania langsung berpikir siapa wanita yang pergi bersama Erlan. Karena sejak kecil Sania tidak pernah tau jika Erlan dekat dengan wanita, apalagi dengan cara Erlan yang pergi tanpa berpamitan dengannya. Berbagai pikiran langsung mengelilingi otak Sania.


"Apa?" tanya Rifki tidak mengerti dengan gumaman Sania


"Tidak ada! aku laper, kita cari makan yuk," ucap Sania merangkul tangan Rifki lalu melangkahkan kakinya keluar dari kantor.


Saat sedang berjalan melewati koridor kantor, Sania tidak sengaja melewati Bisma yang sedang berbincang dengan beberapa kliennya. Bisa yang melihat Sania berjalan sambil merangkul tangan Rifki langsung membukatkan matanya terkejut. Dia mantap kepergian Sania dan Rifki dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.


Ingin sekali dia mengejar mereka dan melepaskan tangan Sania yang melingkar di lengan Rifki. Namun, sangat di sayangkan, dia tidak bisa meningalkan para kliennya begitu saja. Bisma hanya bisa menatap kepergian Sania san Rifki dengan tatapan penuh api cemburu. Bahkan karena cemburunya, Bisma sambil tidak sengaja mematahkan pulpen yang ada di tangannya.


Para klien yang melihat reaksi Bisma, hanya bisa saling lempar tatapan. Mereka menatap wajah Bisma yang memerah dengan tatapan penuh kebingungan. Apalagi melihat pulpen yang ada di tangan Bisma yang kini sudah terbelah dua.

__ADS_1


"Maaf! apa Tuan baik-baik saja?" tanya salah satu klien membranikan diri.


"Maaf! saya tidak apa-apa. Mari masuk, lebih baik kita bicara di ruangan saya saja," ucap Bisma mencoba mengatur emosinya.


"Baiklah! ayo," ucap para klien itu melangkahkan kakinya menuju ruangan Bisma.


Melihat para kliennya telah berjalan terlebih dulu, Bisma langsung menatap ke arah luar. Dia brusaha mencari keberadaan Sania dan Rifki, tetapi sayangnya dia sudah kehilangan jejak. Dia hanya bisa membuang napasku kesal lalu berjalan mengejar para kliennya. Selama di perjalan Bisma terus mengomel kesal dalam hatinya.


Walaupun para kliennya terus mengajaknya untu bicara, tetapi Biska hanya mengangguk-nganguk saja. Dia berusaha terlihat ramah dan juga sopan kepada kliennya itu, walaupun sebenarnya pikirannya sedang melayang entah kemana saja. Namun, Bisma berusaha menyesuaikan dirinya, karena dia harus profesional. Dia tidak boleh mengecewakan Rafi hanya karena cemburunya kepada Sania yang berlebihan


...----------------...


Yuki dengan teliti memeriksa tumpukan dokument yang ada di depannya sambil melirik ke pintu ruangan Aldan. Sudah satu jam berlalu, tetapi dia belum melihat Bu Wijaya keluar dari ruangan itu. Belahan rasa kepo langsung menghampiri pikiran Yuki, dia penasaran apa yang sedang di bicarakan Bu Wijaya dengan Aldan di dalam sana.


"Kenapa dia lama sekali? memangnya mereka sedang membicarakan apaan sih?" gumam Yuki bertanya pada dirinya sendiri.


"Ki! kau sedang sibuk?" tanya Aldan tiba-tiba muncul di belakang Yuki.


"Sibuk! sibuk! eh, sibuk!" ucap Yuki terkejut.


"Eh, Kakak!" ucap Yuki sambil memukuk pelan lengan Aldan.


"Maaf! karena kakak kau tadi terkejut. Tapi cantiknya tidak ikut melompat 'kan?" tanya Aldan tersenyum kecil.


"Kalau itu tentu tidak," ucap Yuki tersenyum sambil merapikan poninya.


"Kau ini ada-ada saja," ucap Aldan tersenyum kecil sambil menoel hidung mancung Yuki


"Kau tidak sibuk 'kan?" tanya Aldan menatap Yuki.


"Tidak! tinggal memetiksa dokumen ini lagi. Tapi bisa nanti kok. Memangnya kenapa?" tanya Yuki.


"Kalau begitu ayo ke ruanganku sebentar. Mama mau bicara denganmu," ucap Aldan.


"Apa!" tanya Yuki membulatkan matanya terkejut.

__ADS_1


Yuki mencoba berpikir kenapa Bu Wijaya ingin berbicara dengannya. Bahkan dia menyuruh Aldan untuk memanggilnya secara langsung. Yuki kembali memikirkan ucapannya saat berbicara dengan Bu Wijaya tadi. Dia mencoba berpikir apakan ada ucapannya yang salah sehingga menyinggung Bu Wijaya.


"Apa aku melakukan kesalahan? jika ia, aku minta maaf! aku tidak sengaja kak," ucap Yuki merasa tidak enak.


"Tidak! mama hanya ingin bicara denganmu. Katanya ada pekerjaan penting untukmu," ucap Aldan menjelaskan.


"Pekerjaan?" tanya Yuki binggung.


"Ia! kau datang ya. Aku tunggu di dalam," ucap Aldan tersenyum.


"Kau tenang saja, mama orangnya baik. Jadi kau tidak perlu takut seperti itu. Cepatlah, karena mama tidak suka menunggu," ucap Aldan tersenyum sambil mengacak-acak rambut Yuki.


Secara diam-diam ternyata Bu Wijaya memperhatikan mereka secara diam-diam. Dia menatap kedekatan Yuki dengan Aldan dengan tatapan yang tidak menentu. Ketika melihat Aldan sudah selesai berbicara dengan Yuki, dia langsung bergerak dengan cepat. Dia kembali duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Aldan yang melihat mamanya itu sedang duduk santai di sofa sambil bermain ponsel, Aldan langsung tersenyum lalu duduk di sampingnya. Dia tau jika mamanya itu sudah bosan menunggunya, sehingga dia langsung menghibur mamanya itu agar moodnya tidak berubah saat bertemu dengan Yuki nantinya.


"Mama bosan ya. Maaf, tadi Yuki masih ada pekerjaan sedikit," ucap Aldan tersenyum.


"Pekerjaan?" tanya Bu Wijaya mengerutkan keningnya binggung.


"Ia! sebentar lagi dia akan datang. Mama tenang saja," ucap Aldan tersenyum.


"Permisi, Tuan," ucap Yuki mengetuk pintu.


"Masuklah!" ucap Aldan tersenyum sambil menatap lekat Yuki.


Melihat tatapan Aldan kepada Yuki, Bu Wijaya langsung menatap putranya itu dengan Yuki secara bergantian. Berlahan dia menarik napasnya pelan lalu melayangkan senyumanya kepada Yuki. Ntah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Namun, yang pasti hal itu membuat perasaan Yuki menjadi gusar. Bahkan Yuki terlihat sangat gugup sehingga dia terus menunduk tidak berani menatap calon mertua impiannya itu.


"Ayo duduklah!" ucap Bu Wijaya tersenyum sambil terus menatap Yuki.


"Terima kasih, Nyonya," ucap Yuki terus menunduk lalu duduk di sofa yanga ada di dekat Bu Wijaya.


Bu Wijaya terus menatap Yuki, sehingga membuat gadis imut itu menjadi semakin gugup. Dia dapat melihat kegugupan Yuki dengan sangat jelas, saat melihat tangan Yuki yang terus menerus memainkan jari-jemarinya. Bukan hanya Yuki, Aldan juga merasa sangat gugup, apalagi mengingat jika mamanya itu tau jika sewaktu kecil Yuki sangat tergila-gila kepadanya. Dia takut jika mamanya itu malah berniat untuk menjauhkan dirinya dari Yuki.


Bersambungan.......

__ADS_1


__ADS_2