
Setelah dua hari tak sadarkan diri, berlahan Nia membuka matanya dan mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Nia mengedarkan pandangannya namun tak melihat siapa-siapa.
Nia pun pada akhirnya menitikkan air mata, saat kembali mengingat apa yang hampir menimpanya. Jika saja Evan tidak datang tepat waktu mungkin malam itu akan menjadi malam paling buruk dalam hidupnya.
Mungkin kata terimakasih tak akan cukup untuk membalas semua kebaikan Evan padanya. Nia hanya berharap suatu hari bisa membalas semua kebaikannya entah bagaimana nanti.
Nia pun kembali ingat dengan Maya, wanita yang sudah menghancurkan hidup kakaknya dan kini hampir menghancurkan hidupnya juga.
"Kamu benar-benar jahat Maya, aku akan membalas semua perbuatan mu, aku akan menghancurkan rumah tanggamu agar kamu tau siapa wanita yang kamu lawan, aku tidaklah sama dengan kakakku," ucap Nia seorang diri dalam kemarahan, setiap mengingat wajah Maya yang sangat di bencinya.
Tak lama suster datang untuk memeriksa keadaan Nia.
"Selamat pagi Nona, akhirnya Nona sudah sadar." sapa suster sambil memeriksa Nia.
"Pagi sus. Sus saya disini sudah berapa hari? dan ini hari apa ya sus?" tanya Nia.
"Nona tidak sadarkan diri dua hari dan hari ini adalah hari Senin." jelas suster.
"Apa sus, hari ini hari Senin?" tanya Nia terkejut.
"Ia, memangnya kenapa Nona? anda terlihat sangat terkejut."
"Tidak papa."
'Kenapa ini bisa terjadi, Kakak pasti menungguku kemarin, kakak pasti sedih sekali melihat aku tidak datang.' gumam Nia panik.
Setelah suster pergi, Nia segera melepas infus yang baru saja di ganti dengan paksa, Ia ingin segera pergi menemui kakaknya, Nia tidak ingin kakaknya terlalu lama menunggu.
'Aku harus pergi dari sini.' Nia segera turun dari ranjang dan mengendap-endap untuk bisa keluar dari rumah sakit. Tak perduli ia masih mengenakan baju Pasien, yang ada dalam pikirannya hanya kakaknya yang sedang menunggu dirinya.
__ADS_1
Namun saat hendak keluar rumah sakit, Regal menemukannya, "Mau kemana Nia?" tanya Regal sambil mencekal lengan Nia dari belakang.
"Lepaskan aku, aku harus pergi dari sini." Nia meronta tapi Regal makin mempererat cengkraman nya dan langsung menariknya dan membawanya dalam pelukan.
"Lepaskan aku Aku mau pergi dari sini." Nia terus meronta tapi Regal juga dengan kuat menahan Nia.
"Kamu tidak boleh meninggalkan rumah sakit ini sampai kamu benar-benar pulih, ayo kembali ke kamar." Ajak Regal namun Nia terus menolak dan masih saja ingin lari.
Regal yang kewalahan pun terpaksa memanggil beberapa perawat untuk membantunya membawa Nia kembali.
"Kenapa kamu tidak bisa membiarkan aku pergi, kamu tidak punya hak untuk melarang ku." Bentak Nia yang kesal sekaligus marah.
"Aku berhak!" jawab Regal.
"Apa hak mu?! aku ini hanyalah kekasihmu bukan istrimu. Jika kamu ingin memiliki hak atas diriku kenapa kamu tidak menikahi aku secepatnya. Apa kamu hanya ingin menjadikan aku tempat pelampiasan atau menunggu mati karena perbuatan istrimu yang jahat itu. hiks...hiks... ." Teriak Nia. Regal tak dapat menjawab ia hanya bisa menenangkan Nia dengan pelukan.
"Aku capek mas, terus diteror istrimu, dia hampir saja membunuhku, dia terus mengancam ku, aku takut mas takut jika dia mencelakai ku.
" Kamu tenang saja Nia, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu, aku janji." jawab Regal sambil menangkup wajah Nia.
"Jika kamu memang masih cinta padaku, kapan mas mau menikahi aku? aku gak mau di gantung seperti ini mas, aku ingin memiliki status atau biarkan aku pergi menjauh darimu lagi dan tidak akan pernah kembali lagi." Ancam Nia serius. Nia tau jika Regal masih cinta mati dengannya, dia hanya harus memberi percikan api pada keluarganya agar segera hancur.
"Nia dengarkan. Aku sangat ingin menikahi mu, tapi ada suatu alasan yang tidak bisa aku jelaskan padamu yang membuat aku belum bisa menikahi mu." Regal pun menenangkan Nia.
"Apa nunggu aku mati di tangan istrimu itu dulu, baru kamu menyesal tidak menikahi ku."
"Huusssttt, jangan bicara begitu. Baiklah jika itu mau mu dan aku tidak ingin kehilangan kamu lagi, aku kan berusaha secepatnya menceraikan Maya, atau bagaimana kalau kita menikah secara siri dulu?"
"Tidak aku tidak mau. Aku tidak mau menikah siri, itu sama saja aku tetap jadi simpanan. Aku cuma mau kamu jadi milikku."
__ADS_1
Setelah percakapan cukup panjang dan beberapa kali perdebatan, Regal pun kembali meninggalkan Nia dan meminta Nia untuk tidak mengulangi tindakannya untuk kabur.
"Aku harus kembali ke kantor. Kamu istirahat di sini, besok aku akan mengurus kepulangan mu. Jangan coba kabur lagi, paham." pamit Regal lalu mencium keningnya sebelum pergi.
Namun Nia tetaplah Nia yang masih keras kepala dan akan melakukan segala sesuatu sesuai keinginannya, termasuk kabur.
Setelah berusaha lagi, Nia pun berhasil kabur dan segera menuju ke RSJ mengunjungi kakaknya yang mungkin saat ini sedang menunggu, Nia tak perduli jika dirinya saat ini masih terluka, bagi Nia kakaknya yang paling penting saat ini.
Sesampainya di RSJ. Nia segera menuju bangsal tempat di mana Alisa di rawat. Nia menghentikan langkahnya dan berhenti tepat di depan kakaknya yang tengah tertidur.
Nia berusaha menahan air matanya, dan mengusap pucuk rambut kakaknya. "Maafkan aku kak, tidak menepati janjiku. Aku harap kakak mau memaafkan aku," ucap Nia.
Kedatangan Nia ternyata di ketahui Rehan, dan melihat penampilan Nia yang masih mengenakan pakaian pasien membuat Rehan curiga jika Nia kabur. Karena tidak ingin ikut campur Rehan pun menghubungi Evan untuk menjemputnya.
Tak lama, Evan pun datang kerena merasa kuatir dengan keadaan Nia. Ia pun segera menuju kamar Alisa. Dan benar saja apa yang di katakan Rehan benar. Nia masih mengenakan baju pasien dalam kondisi yang masih lemah dan pucat.
"Nia..." Panggil Evan dan menghentikan tangis Nia. Nia menoleh ke arah pria yang memanggil namanya dan betapa terkejutnya Nia mendapati Evan mengetahui keberadaannya dan juga kakaknya.
"Evan, kamu..."
"Iya aku sudah tau semuanya. Tidak perlu di sembunyikan lagi dariku." ucap Evan mendekati.
"Aku tau dari kakakku, dia dokter yang merawat pasien gangguan jiwa di tempat ini. Nia kenapa kamu menyembunyikan semua ini. Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang kakakmu ini padaku, setidaknya agar aku tau sebuah alasan yang membuatmu mendekati Regal." ucap Evan.
Nia menatap Evan, namun tatapan itu tatapan tidak suka karena Evan ikut campur urusan pribadinya.
"Alasan apa maksudmu, apa kamu tau alaskan aku mendekati Mas Regal? Van aku tau kamu sangat baik dan peduli padaku, tapi tidak sepantasnya kamu ikut campur urusanku. Kamu tidak berhak menyelidiki kehidupan ku paham." Tegur Nia yang tak terima.
To be continued ☺️☺️☺️☺️
__ADS_1