
Setelah selesai bekerja, Nia pun segera bersiap untuk pulang.
"Nia, aku antarkan pulang ya."" ucap Regal yang mencekal lengan Nia saat hendak menuju pintu lift.
"Gak usah mas, aku bisa pulang sendiri." Jawab Nia, sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Regal.
Saat pintu lift terbuka Nia segera masuk ke dalam lift, Regal pun mengikutinya dan masuk berdua dalam lift.
" Jangan pernah berusaha menghindar dariku, sayang. Sudah ku katakan berulang kali, kamu adalah milikku, jadi percuma saja kamu menghindar dariku." Regal mendorong tubuh Nia ke dinding lift, ia mendekatkan wajahnya hingga begitu dekat dan segera mendaratkan ciuman di bibir Nia, Namun Nia segera mendorong tubuh Regal menjauh darinya.
"Mas, ini masih di kantor, Aku juga sudah mengatakan berulang kali, jangan melakukannya lagi di kantor."
"Tapi-" Belum sempat melanjutkan ucapannya, ponsel Regal berdering.
📱
"Ya Ma, ada apa?"
"..."
"Baiklah Ma, aku akan segera pulang." jawab Regal, sebelum panggilan telepon dari mamanya di tutup.
Nia menaikkan alisnya sebelah dan melipat kedua tangannya di dada.
"Bagaimana, jadi mengantarkan aku pulang?" ledek Nia sambil tersenyum. Regal menggeleng kecewa.
"Mama memintaku datang menemuinya, Maaf sayang, aku harus pergi duluan. Tapi lain kali, jangan pernah menolak tawaranku paham." Regal mengecup kening Nia sebelum pergi saat lift terbuka.
Regal pun bergegas pergi, meninggalkan Nia yang berjalan di belakangnya.
Nia pun menunggu taksi yang di pesannya sebelumnya, dan ia menunggu di halaman kantor, seorang diri.
****
__ADS_1
Tanpa sengaja Alisa menjatuhkan gelas yang di pegangnya, lalu ia berteriak memanggil nama Nia.
"Nia... Nia... kamu dimana?" teriak Alisa, lalu ia berlari mencari-cari keberadaan Nia. Entah kenapa tak seperti biasanya Alisa terus memanggil nama adiknya terus menerus. Bahkan setiap di tegur perawat Alisa akan marah dan terus mencari Nia dengan berteriak-teriak.
"Nia... Kamu dimana? Nia..." ucapan terakhir Alisa, sebelum obat penenang bereaksi. Dokter yang bekerja di rumah sakit jiwa itu terpaksa menyuntikkan obat penenang pada Alisa, karena Alisa tak berhenti berteriak.
"Kenapa dia tiba-tiba mengamuk sus?" tanya Rehan, psikiater yang bekerja di rumah sakit jiwa, dan merupakan kakak kandung Evan.
"Tidak tau pak, seharian ini dia memanggil nama saudaranya. Mungkin karena belum di jenguk, makanya dia rindu." jawab suster yang merawat Alisa.
"Baiklah, saya akan mencoba menghubungi saudaranya agar bisa menjenguknya." Saut Rehan dan meninggalkan Alisa yang sudah terlelap dalam tidur.
******
"Loh pak, ini bukan jalan menuju apartemen saya." Ucap Nia yang saat menyadari jika taksi yang membawa Nia, melewati jalan yang berbeda arah.
"Berhenti pak, Turunkan saya di sini!" perintah Nia. Supir itu tidak menjawab malah semakin laju mengendarainya.
Nia berusaha mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, ia pun segera menghubungi Evan, hanya itu nomor yang Nia dapatkan. Saat Nia berusaha menghubungi seseorang. Tiba-tiba taksi itu mendadak berhenti membuat Nia terbentur ke depan dan ponsel di tangannya terpental.
"Siapa kalian? lepaskan aku, biarkan aku keluar." Nia meronta, namun salah satu pria yang ada di sisi kanan Nia, menodongkan pisau di leher Nia.
"Diam dan jangan memberontak. Atau pisau ini akan menyayat lehermu." ancamannya.
Mendapatkan ancaman, Nia tak berani berkutik. Ia hanya bisa menelan ludahnya sendiri, menahan ketakutan.
Taksi itu segera melaju menuju kesebuah rumah kosong yang jauh dari pemukiman. Disana sudah ada dua mobil yang sudah menunggunya.
Nia yang sudah di buat pingsan pun, di bawa masuk dan di ikat tubuh di sebuah tiang yang ada di tengah ruangan kosong itu.
Plakkk...
Tamparan itu menyadarkan Nia dari pingsannya. Perlahan ia membuka matanya dengan pandangan yang kabur. Beberapa kali ia mengedipkan matanya agar bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang ada di depannya.
__ADS_1
"Maya." Ucap Nia dalam keterkejutannya di tambah mengetahui dirinya yang tengah terikat.
"Lepasin aku Maya, kenapa kamu membawaku kemari. Cepat lepasin." teriak Nia dan berusaha membuka ikatan yang sia-sia.
Plakkkk...
Tamparan itu sekali lagi mendarat di pipi Nia. Maya mencengkeram dagu Nia dangan kuat, " Sudah aku katakan padamu, jangan pernah dekati mas Regal, tapi sepertinya kamu tidak menurut. Aku akan memberikan pelajaran berharga buat pelakor seperti kamu, kamu akan merasakan hal yang sama seperti yang di alami kakakmu." ancam Maya.
"Kamu memang benar-benar wanita gila, Tidak punya hati, kau sudah menusuk kakakku dari belakang bahkan kamu menyiksanya, mengadu domba dan lebih parahnya kamu mengambil mas Regal dari kakakku. Dan sekarang aku akan melakukan hal yang sama padamu, membuatmu di telantarkan mas Regal. Ha...Ha..." Ancam balik Nia dan menertawakannya.
"Wanita kurang ajar, berani sekali kamu mengancam ku." Maya meninju perut Nia sekuat tenaga, membuat Nia berteriak kesakitan.
"Kalian sudah tau kan apa yang harus di lakukan, beri pelajaran pada pelakor ini, biar dia tau rasa, karena sudah berani mengusik rumah tanggaku." perintah Maya, lalu Maya pergi membiarkan Nia di kerumunan lima pria bertubuh kekar.
"Apa yang mau kalian lakukan, lepaskan aku." teriak Nia ketakutan, ia merasa para pria itu ingin melakukan sesuatu padanya.
Para pria itu terkekeh dengan teriakan Nia yang ketakutan. Salah satu pria itu mendekati Nia, dan mengendus aroma tubuh Nia yang masih wangi.
"A-apa yang mau kalian lakukan? to-tolong lepaskan aku." ucap Nia mengiba.
Satu pria lain mendekati dan berusaha melepas kancing kemeja putih yang dikenakannya, Namun Karena terhalang lilitan ikatan di tubuh Nia, Pria itu pun merobek kemeja Nia dengan paksa. Membuat Nia histeris namun mereka tertawa puas.
Hiks...hiks...
Hanya tangisan yang bisa Nia lakukan, ia tak berdaya tak memiliki harapan untuk mendapatkan pertolongan.
"Mau kita apain dulu mangsa kita?" ucap salah satu dari mereka sambil terkekeh, saat melihat tubuh bagian atas Nia yang sudah terbuka, akibat kemeja yang di kenakan nya robek tak beraturan.
"Bagaimana kalau kita sikat langsung, bos kan sudah mengizinkan kita buat menikmatinya." saut yang lain, yang sudah tidak sabar ingin segera menyentuh tubuh mulus Nia yang tak berdaya.
"Tolong, jangan per*sa saya. Saya mohon. Hiks .. Hiks..." iba Nia tak bertenaga dan sudah tidak memiliki harapan lagi.
Braakkk....
__ADS_1
Suara pintu yang di terjang hingga tumbang, membuat mereka yang ada di dalam terkejut. Nia pun ikut terkejut, menatap seseorang yang ada di ambang pintu, dan dia datang membawa harapan, agar bisa selamat.
To be continued ☺️☺️☺️☺️