
Pagi itu Nia bersiap untuk kembali bekerja. Jika tidak ia tidak akan mendapatkan pemasukan lagi untuk biaya perawatan kakaknya.
'Aku harus siap menghadapinya.' gumam Nia di depan cermin sambil menyisir rambutnya.
Ia pun mengawali dengan menarik nafas dalam-dalam sebelum memutuskan untuk melangkahkan kakinya kembali bekerja.
Dengan mengunakan taksi langganannya, Nia pun segera di antar menuju kantor tempat dia bekerja.
"Semangat ya mbak Nia, hadapi hari dengan tersenyum. " Ucap sopir taksi yang sudah akrab dengan Nia.
"Terimakasih semangatnya hari ini." jawab Nia sebelum keluar dari dalam taksi.
Nia menatap kembali bangunan bertingkat yang sudah hampir dua pekan ia tinggalkan.
"Nia..." Sapa Ayu yang baru sampai kantor.
"Ayu..."
"Aku kira kamu berhenti bekerja Nia. Bagaimana keadaanmu selama dua pekan ini Nia?" tanya Ayu sambil memeluk Nia.
"Aku terpaksa kembali bekerja, Pak Regal memaksaku untuk kembali bekerja, kerena banyak pekerjaan yang aku biarkan terbengkalai." Jelas Nia.
"Nia, maafkan aku yang gak bisa membelamu. Kamu tau kan bagaimana kalau Bu Maya marah, inilah yang aku takutkan Nia. Lalu bagaimana hubunganmu dengan pak Regal, kalian sudah gak pacaran kan?".
"Menurutmu?!"
"Astaga Nia, kamu gak kapok dengan kejadian itu? Kamu memang pengen cari mati." Jawab Ayu asal.
Mereka pun segera masuk ke kantor, namun setiap langkah Nia terselip rasa malu yang masih sulit di hilangkan, ibarat menyelam di dalam lumpur, sudah tau perbuatannya itu salah tapi tetap saja di jalani.
Namun saat Nia masuk, semua nampak biasa, seperti tak ada yang pernah terjadi bahkan silih berganti menyapa dirinya.
"Kenapa mereka nampak biasa saja? aku pikir mereka akan menjauhiku dan mencela ku, tapi nyatanya mereka tidak melakukan itu. apa aku saja yang ketakutan." gumam Nia sambil berjalan menuju lift untuk naik ke lantai atas.
__ADS_1
Setelah sampai dan lift terbuka, ia pun di sambut langsung oleh Regal yang sudah menunggunya.
"Selamat datang sayang, selamat kembali bekerja. " Ucap Regal dan memberikan buket bunga untuk Nia.
"Mas jangan berlebihan, ini kantor bukan di apartemen. Aku ingin bekerja secara profesional mas."
"Baiklah kalau itu yang kamu mau, kita akan bekerja secara profesional antara bos dan sekertaris, kalau begitu silahkan dan nikmati pekerjaan yang sudah menumpuk di meja kerjamu." Regal pun mengikuti kemauan Nia.
Nia pun menghempaskan pantatnya di atas kursi kerja yang sudah beberapa waktu ia tinggalkan, Nia pun menghela nafas saat dihadapkan dengan pekerjaan yang sudah menunggunya.
'Hah... akhirnya aku bisa kembali duduk di kursi panas ini. Nia kamu harus semangat, abaikan dulu masalahmu selesaikan dulu pekerjaanmu.' Gumam Nia memberi semangat pada dirinya sendiri, Ia pun segera memulai pekerjaannya.
Di sisi lain, Regal hanya memperhatikan wajah Nia yang terlihat dari ruang kerjanya. ' Kenapa kamu selalu membuatku candu Nia, nggak salah aku menempatkan dirimu dalam hatiku. Andai kamu tahu betapa tersiksanya aku dengan pernikahan ini, kamu mungkin akan merasa kasihan padaku.' gumam Regal sambil mengirim spam chat pada Nia.
Berulang kali spam chat penyemangat masuk di ponsel Nia yang sangat menggangu padahal Nia sedang sibuk.
"Dasar pria ini sama sekali tidak berubah, sudah aku katakan untuk bekerja secara profesional, kenapa masih menggangguku." Gerutu Nia, ia pun segera bangkit dan mengetuk pintu ruang atasannya.
"Masuk..." perintah Regal sambil senyum-senyum sendiri, mengetahui Nia yang akan masuk.
Nia segera menghampiri Regal dan mengambil ponsel Regal dari tangannya. Ia pun segera mematikannya dan kembali memberikannya kepada bosnya itu.
"Pak, saya sedang bekerja, tolong jangan spam chat yang membuat saya tidak bisa konsentrasi. Tolong jika bapak ingin ngobrol tunggu jam kerja selesai." tegur Nia yang kesal.
"Kenapa kamu melarang ku, disini siapa bosnya aku atau kamu?" Saut Regal sambil mengaktifkan kembali ponselnya.
"Tapi pak!"
"Jangan salah kan aku, karena kamu sudah melarang ku untuk dekat-dekat denganmu. Aku akan berhenti menggangu mu dengan syarat kamu pindah ke meja kerja itu, biar aku bisa melihatmu setiap saat, kalau tidak aku akan meneror mu terus." Ucap Regal dengan entengnya, memaksa dengan cara yang halus.
"Tidak pak, saya tidak mau." tolak Nia.
"Baiklah kalau kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa lagi. Tapi jangan salahkan aku jika terus meneror mu." Regal pun tersenyum sambil Menggoda, namun Nia tidak goyah dengan perkataannya, yang akan profesional dalam bekerja.
__ADS_1
Nia pun kembali ke meja kerjanya dan lagi-lagi ia menghela nafas, menghadapi sikap bos sekaligus Kekasihnya itu.
Saat sedang sibuk, Nia kembali di kejutkan namun kali ini bukan Regal melainkan Evan yang baru saja datang ke kantor.
"Nia, kamu kembali bekerja lagi." ucap Evan senang.
"Evan. Iya aku harus bekerja, jika tidak darimana aku akan mendapatkan penghasilan. Awalnya aku sangat takut, tapi ternyata ketakutan ku tidak terbukti, mereka semua tidak menghakimiku." Jelas Nia yang terlihat senang.
"Baguslah kalau begitu, selamat kembali bekerja Nia, pulang kerja nanti kamu harus mentraktirku makan. Kalau begitu aku mau menemui bos dulu, kita lanjutkan ngobrolnya nanti." ucap Evan dan Nia pun mengangguk dan kembali fokus bekerja.
Sebelum masuk ke ruangan Regal, Evan melirik Nia lagi, 'Kalau kamu tau Nia, sebenarnya pak Regal yang membungkam mulut mereka dengan ancaman, agar kamu bisa tetap bertahan.'
Evan pun segera masuk menemui Regal.
"Kau kalah Evan, gaji mu akan di potong sepuluh persen." Ucap Regal tanpa basa basi.
"Ya silahkan, bapak potong." jawab Evan pasrah.
Regal pun terkekeh mendengar jawaban Evan yang tampak pasrah dengan kekalahannya.
"Tidak-tidak, Aku tidak akan memotong gaji mu, aku hanya bercanda. Tapi aku puas, bisa mengalahkan kamu, dan akan aku pastikan kamu tidak akan bisa mendapatkan dia."
"Kita lihat nanti saja pak, jangan berbangga dulu, sebelum janur kuning melengkung saya masih punya kesempatan." Saut Evan dan menyeringai, seolah dia belum merasa kalah.
Raut Wajah Regal langsung berubah, mendapatkan jawaban yang di luar dugaan.
"Letakkan dokumen itu dan segera keluar dari sini, aku tidak mau melihat wajahmu sekarang.Cepat pergi!" titah Regal yang kesal.
"Baik pak, ini berkas yang anda minta." Evan meletakkan berkas tersebut di atas meja dan segera keluar dari ruang Regal.
"Kalau kamu bukan sepupuku, sudah aku hajar kamu Evan. Kamu selalu mengusik kesenanganku Evan, ada saatnya nanti kamu benar-benar aku hajar dan gak perduli kalau kamu itu masih keluarga," Ucap Regal dengan geram dan hanya bisa mengepal tangannya sendiri. Ia marah dengan Evan namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, Karena Evan sepupunya.
To be continued ☺️☺️☺️
__ADS_1