
"Lepaskan dia." Ucapnya dengan suara mengelegar, seperti singa yang meraung.
Mereka berlima, hanya saling menoleh, lalu terkekeh, meremehkan pria yang ada di depannya seorang diri, berani menantang mereka.
"Ck, Hai anak muda, jangan ikut campur, cepat pergi atau kamu mau cari mati dengan datang kesini, ha..ha..." ucap salah seorang dari mereka lalu tertawa.
"Cepat lepaskan Nia, atau kalian akan menyesal." Saut Evan, sambil mengepalkan kedua tangannya dan bersiap untuk mengajar mereka.
Mereka kembali saling berlirik, "Kita beri pelajaran dulu pria ini sebelum kita bersenang-senang." ucap salah Seorang, dan segera maju untuk menghajar Evan, dan yang lainnya pun ikut menyerang.
Namun di luar dugaan mereka, tiba-tiba beberapa orang keluar dari balik dinding luar dan langsung menghajar mereka berlima hingga babak belur.
Evan menghampiri Nia yang sudah tak berdaya.
"Evan, " ucap Nia lirih dan Evan hanya mengangguk dan tangannya dengan cekatan melepaskan ikatan yang melilit tubuh Nia.
Saat ikatan lepas, Tubuh Nia langsung roboh dalam pelukan Evan.
"Nia bertahanlah, aku akan segera membawamu ke rumah sakit." Evan segera membopong tubuh Nia meninggalkan rumah kosong yang hampir saja menjadi saksi pelecehan terhadap Nia.
*****
Setelah semuanya aman dan Nia sudah mendapatkan perawatan. Evan nampak lega, ia merasa senang menjadi orang yang pertama di carinya saat ia dalam kesulitan.
Evan menatap wajah Nia yang terlalap dalam tidur, menatap wajah yang sudah beberapa kali mengalami lebam, namun dimata Evan Nia tetap cantik walau tanpa make up yang memoles wajahnya. Sejak pertemuannya yang tak sengaja itu, hati Evan selalu bergetar setiap berada di dekatnya. Sudah berulang kali Evan menepis perasaannya, namun sangat sulit. Dan kini ia hanya bisa menyimpan rasa cemburu saat wanita yang di cintainya bermesraan dengan pria lain.
"Kamu memang keras kepala Nia, sekeras apapun aku membujuk, kamu tiap tidak mau meninggalkan Regal, apa sebenarnya alasanmu Sampai kamu begitu kekeh untuk mendapatkan hatinya, padahal di sini ada hati yang menunggu dirimu." ucap Evan dalam hati sambil mengusap pucuk rambut Nia.
Setelah terjaga beberapa saat, Evan pun baru ingat tentang ponsel Nia yang ia temukan dalam taksi yang berada tak jauh dari lokasi tempat Nia di sekap.
Saat memandangi ponsel Nia yang ada foto pemiliknya, tiba-tiba pesan singkat masuk dan dari nomor tak di kenal, namun Evan mengenali nomor tersebut.
"Rehan, Kenapa dia kirim pesan ke nomor Nia, apa Rehan mengenal Nia?" gumam Evan.
__ADS_1
Karena rasa penasaran, Evan pun menghubungi kakaknya itu menggunakan ponsel miliknya sendiri, untuk bertanya langsung pada kakaknya mengenai hubungannya dengan Nia.
📱
"Ada apa Van?" tanya Rehan di seberang telepon.
"Rehan barusan kamu kirim pesan pada siapa? apa hubungannya dengan mu?" tanya Evan langsung.
"Apa maksudmu? aku tidak mengirimkan pesan pada siapapun. Oya aku baru ingat, aku baru saya mengirim pesan, ke nomor saudara pasienku untuk menjenguknya esok. Tunggu dulu darimana kamu tau aku buru kirim pesan? apa kamu menyadap posel ku? Brengsek kamu Van, berani sekali diam-diam menyadap ponselku, informasi apa yang kamu cari dariku?" tuduh Rehan seketika.
'Apa? Nia punya saudara yang ada di rumah sakit jiwa? kenapa dia gak pernah cerita denganku. Berarti saat aku bertemu dengannya waktu itu, dia baru saja menjenguk saudaranya. Aku jadi penasaran, siapa dia dan kenapa dia merahasiakannya?' gumam Evan
"Tunggu dulu, jangan asal menuduh. Aku gak pernah pegang ponselmu dan aku juga gak tertarik buat mengetahui apapun tentangmu." sanggah Evan.
"Lalu darimana kamu tau kalau aku buru saja mengirim pesan singkat pada seseorang?" tanya Rehan tak yakin dengan ucapan adiknya itu.
"Ya karena, yang kamu kirimi pesan singkat, ponselnya ada di tanganku, makanya aku tau." jelas Evan dan segera menutup panggilannya setelah mendapatkan penjelasan dari kakaknya.
***
Regal berjalan menyusuri koridor dan mencari ruangan tempat Nia di rawat dengan perasaan kuatir.
Ceklek...
Suara pintu terbuka dari luar, menyadarkan Evan dari tatapannya yang tak lepas menatap Nia.
"Nia..." seru Regal dan segera menghampiri Nia yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
"Apa yang terjadi Nia, kenapa kamu bisa terluka seperti ini?" bisik Regal dengan kecemasannya.
"Nia hampir saja di per*sa oleh para bajingan, tapi untung saja aku datang tepat waktu, sebelum terjadi sesuatu pada Nia," jelas Evan walaupun raut wajahnya kesal saat melihat kedatangan Regal.
"Kenapa kamu tidak memberitahu? apa kamu sengaja?" tuduh Regal, lalu mencengkeram kerah kaos Evan.
__ADS_1
Dengan mudah Evan melepas tangan Regal dari bajunya.
"Nia tidak ingin kamu tau, jadi untuk apa aku memberitahumu, toh dia juga bukan istrimu." jawab Evan yang selalu membaut Regal geram.
Di kantor mereka akan bersikap layaknya bos dengan asisten, namun di luar jam kerja mereka adalah sepupu yang tak pernah akur.
"Sekarang aku sudah ada di sini, lebih baik kamu pulang, biar aku saja yang menjaganya," usir Regal, membuat Evan melotot tak percaya, jika dirinya di usir.
"Apa aku tidak salah dengar? kau mengusirku. Maaf di kantor kamu bisa memerintah ku sesuka hatimu, tapi sekarang bukan jam kerja, jadi aku tidak akan keluar dari sini." jawab Evan tegas.
"Kau, memang sepupu menyebalkan. Terserah kalau kamu tidak mau menuruti perintahku, Biar aku panggilkan scurity untuk menarik mu paksa." jawab Regal sambil menyeringai, menunjukkan jika dirinya adalah bosnya.
"Oke baiklah aku akan pergi, tapi aku pinta, tolong jaga Nia, jangan sampai kamu melakukan sesuatu padanya." Dengan terpaksa Evan pun berjalan keluar meninggalkan Nia bersama Saingannya itu.
Setelah Evan keluar, ia menuju Ke kantin rumah sakit untuk membeli minuman kaleng, setelah itu ia kembali menemui Regal.
"Kenapa kamu kembali?" tanya Regal kesal.
"Aku cuma mau memberikan ini saja, siapa tau kamu haus. " jawab Evan basa-basi dan memberikan minuman tersebut yang sudah di isi obat tidur oleh Evan.
"Terimakasih..." ucap Regal seraya mengambil minuman tersebut dari tangan Evan.
'Mampus kau, bentar lagi kamu akan tidur dengan pulas sampai besok.he...he... jangan salahkan aku mengerjai mu, kau yang buat masalah duluan.' gumam Evan sambil senyum -senyum sendiri.
Regal segera meneguk minuman tersebut dengan buru-buru, sebab ia memang kehausan.
"Bagaimana minumannya enak kan?" tanya Evan basa-basi.
"Enak, tapi rasanya ada yang beda." jawab Regal lalu kepalanya mulai sedikit pusing dan matanya mulai berat untuk terbuka.
"Kenapa aku sangat mengantuk sekali." ucap Regal sambil beberapa kali menguap.
To be continued ☺️☺️☺️☺️
__ADS_1