
Setelah mendapatkan informasi, Regal segera menuju ke rumah sakit dan menuju bangsal yang sudah di beritahu sebelumnya agar Regal bisa langsung ke tujuan.
Regal berdiri di depan pintu sambil menarik nafas dalam-dalam, berharap apa yang dikatakan informan itu benar, dan ia bisa bertemu kembali dengan Nia.
Perlahan Regal membuka pintu dan segera segera melihat penghuni kamar itu yang terkesiap melihat kedatangannya.
"Nia, Evan." Ucap Regal.
"Regal. bagaimana kamu bisa ada di sini?" Tanya Evan yang masih tak menyangka jika Regal bisa menemukan dirinya.
"Diam, Aku butuh penjelasan mu setelah ini." saut Regal sambil menunjuk Evan penuh arti, lalu ia menghampiri Nia yang masih mematung tak percaya jika pelariannya telah terhenti saat ini juga.
"Mas Regal." ucap Nia. Regal menghampiri bayi dalam box tersebut lalu membawanya dalam dekapan.
"Apa dia anakku?" Tanya Regal. Nia pun hanya bisa mengangguk pelan. Regal pun langsung menciumnya berkali-kali mengungkapkan kebahagiaannya atas kelahiran anaknya.
__ADS_1
Nia tak bisa berkata apa-apa, semua perasaannya bercampur aduk, yang bisa ia lakukan hanya menatap Regal yang tengah menggendong bayinya.
"Kamu beri nama siapa bayi kita?" tanya Regal sambil menatap Nia.
"Be- belum aku beri nama. A-aku belum punya nama yang cocok untuknya." Jawab Nia bergetar. Ada sedikit rasa bersalah pada ayah dari bayinya kerena sudah menjauhkannya.
Regal mengusap pucuk rambut Nia, "Aku tau kamu masih mencintaiku kan, Bahkan untuk memberi namanya saja kamu masih menungguku. Kalau begitu biar aku yang memberi dia nama. KENDRA GLENN AXELO. Nama dari keluargaku akan tersemat dalam namanya kerena dia adalah keturunan keluarga Axelo, Apa kamu menyukai nama itu? Kita akan panggil dia Ken."
"Ken," ucap Nia.
"Iya, itu panggilan yang cocok." Saut Evan. Evan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kesenangannya pun hilang seketika, saat Regal tiba-tiba muncul. Dalam benak e
Evan bertanya-tanya darimana Regal bisa menemukan dirinya. padahal Evan sudah berusaha menutupi semuanya agar Regal tidak mengetahuinya, tapi yang ada dia tetap tau.
Regal pun mengembalikan Ken ke dalam box. Dan membawa Nia agar kembali duduk di brankar. "Apa kamu menderita selama beberapa bulan terakhir ini? kenapa kamu pergi Nia, kenapa kamu meninggalkan aku. Aku sudah berjanji untuk menjaga dan melindungi kamu. Tapi kamu malah pergi begitu saja tanpa pamit. Apa kamu tau apa yang aku rasakan setelah kamu pergi? Aku tersiksa Nia, siang malam aku memikirkan kamu. Bahkan pekerjaanku menjadi berantakan karena terus memikirkan kamu. Nia sayang, aku mohon setelah ini jangan pergi tinggalkan aku lagi. Kita besarkan Ken sama-sama dan aku akan menikahi kamu setelah kamu pulih, ya. Mau kan." Bujuk Regal, membuat hati Nia goyah. Ia pun menarik ke arah Evan yang memilih untuk diam memalingkan wajahnya agar tidak melihat adegan yang membuat hatinya panas.
__ADS_1
Nia pun mengangguk untuk memberikan jawabannya. Sejujurnya, perasaannya pada cinta pertamanya sangat sulit di buang, walaupun berlari kali Regal menyakiti hatinya, namun hati Nia masih selalu memaafkannya.
"Terimakasih sayang. Oya kapan di izinkan dokter boleh pulang?"
"Nanti sore mas, Aku sudah boleh pulang. Sekarang masih menunggu pemeriksaan terakhir untuk memastikan kalau aku sudah membaik." Jelas Nia.
"Baiklah, biar nanti aku tanyakan lagi. Sekarang istirahatlah. Aku ingin bicara dengan Evan di luar sebentar."
Saat Regal hendak melangkah pergi, Nia menahan tangan Regal.
"Jangan salahkan dia. Dia tidak salah aku yang bersalah." ucap Nia dan Regal hanya mengukir senyum sambil mengusap punggung tangan Nia sebelum melepaskannya.
Regal pun segera mengajak Evan keluar untuk menyelesaikan masalah antara keduanya.
"Ikut aku keluar Van, aku ingin bicara empat mata denganmu dan aku butuh penjelasan yang tepat atas perbuatan mu itu." Ajak Regal dengan dingin. Seolah akan ada perang antara Keduanya.
__ADS_1
To Be Continued ☺️☺️☺️