
"Kamu ingin kembali ke rumah sakit atau pulang?" tanya Evan yang tetap setia menemani Nia.
"Aku ingin pulang saja," jawab Nia.
"Baiklah kalau begitu aku antar kamu pulang. Tapi lihatlah kondisimu, wajahmu sangat pucat."
"Aku tidak papa, aku kan baik-baik saja setelah istirahat di rumah. Tolong antarkan aku pulang sekarang Van."
Evan pun mengantarkan Nia kembali ke apartemen, sepanjang perjalanan Nia tak banyak bicara, ia hanya menyandarkan kepalanya di kaca pintu mobil.
'Apa lagi yang harus aku lakukan untuk membujuk Nia, Aku ingin Nia menjauhi Regal tidak semata-mata karena aku cemburu tapi ini kan juga buat kebaikan dia, Selama Nia masih berada di dekat Regal, aku yakin Maya tidak akan tinggal diam.' Gumam Evan.
"Nia Kamu baik-baik saja kan? Maaf atas ucapan ku jadi, aku sama sekali tidak ada maksud apa-apa, aku hanya kuatir saja denganmu."
"Sudahlah lupakan saja, aku hanya minta tolong jangan ikut campur urusanku lagi."
"Baiklah jika itu mau mu, aku kan selalu ada di belakangmu, jika kamu butuh bantuan atau butuh tempat sandaran, jangan sungkan untuk datang padaku. Aku kan setia menunggumu sampai kamu mau membuka hati untukku." ucap Evan sebelum ia membelokkan mobilnya semakin di depan gedung apartemen Nia.
Evan segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Nia.
"Terimakasih Van," ucap Nia. Namun saat berdiri kepala dia tiba-tiba terasa pusing hingga posisi berdirinya goyah.
"Kamu tidak papa Nia? Evan segera menangkap tubuh Nia yang hampir tumbang.
"Aku gak papa."
Tanpa permisi, Evan pun langsung membopong tubuh nia, tak ada penolakan dari Nia karena dirinya memang tidak memiliki tenaga lagi.
Nia mengalungkan tangannya dileher Evan dan menyandarkan kepalanya di dada Evan, membiarkan Evan membawanya sampai ke apartemen miliknya.
__ADS_1
Setelah masuk dalam apartemen, Evan segera meletakkan tubuh Nia di atas kasur dengan pelan, dan langsung menyatakan bantal agar Nia bisa istirahat dengan nyaman.
"Kamu istirahat saja, akan aku buatkan susu hangat buatmu." Ucap Evan, namun saat hendak melangkahkan kaki, Nia menahan tangan Evan.
"Jangan pergi!" ucap Nia. Evan pun mengurungkan niatnya dan memilih duduk di sisi Nia.
"Ada apa lagi Nia?"
Tanpa bicara Nia pun memeluk tubuh Evan, laki-laki yang selalu ada buatnya, walaupun ia selalu menolaknya. Evan pun membalas pelukan dari gadis yang ia cintai.
Setelah cukup lama memeluk, Nia pun melepas pelukannya lalu menatap wajah tampan Evan yang tampan dan tatapan matanya yang selalu meneduhkan jiwa.
Evan perlahan mulai mendekati wajah Nia, hingga keduanya begitu dekat. Evan mendekati bibir Nia yang pucat dan menyatukannya. Tanpa di sadari Nia pun membalas perlakuan Evan hingga keduanya beradu dan saling melu*mat dengan hangat.
Drrrttt....
Ponsel yang berdering di saku Evan, menghentikan semua aktivitas. Nia pun akhirnya sadar dengan apa yang barusan ia lakukan, Nia segera memalingkan wajahnya menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Setelah selesai berbincang di telepon, Evan pun kembali menghampiri Nia yang masih tak bergerak dari ranjang.
"A-aku harus pergi dulu. Kamu gak papa kan aku tinggal." pamit Evan.
"A-aku gak papa kok, kalau mau pergi-pergi saja. Aku juga mau istirahat." Jawab Nia. Sebelum pergi, Evan pun. sekali lagi mencium bibir Nia singkat namun dengan sensasi yang berbeda.
Setelah Evan pergi, Nia pun memukuli kepalanya sendiri menyesal dengan apa yang ia lakukan tadi, 'Apa yang sudah kamu lakukan Nia, caramu sudah menunjukkan padanya kalau kamu memberikan kesempatan.' Nia pun menyalahkan dirinya sendiri tidak bisa mengontrol situasi.
Sepanjang hari Nia menghabiskan waktu untuk istirahat agar bisa segera pulih, karena ia harus kambali bekerja untuk membayar biaya perawatan kakaknya juga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sejak kehilangan orang tuanya, Nia dan Alisa di hadapan untuk bisa hidup mandiri dan bekerja keras agar bisa bertahan hidup. Mereka tidak bisa mengandalkan harta orang tuanya terus menerus karena pada akhirnya akan habis juga.
__ADS_1
Dulu Alisa sebagai kakak berjuang membiayai Nia untuk melanjutkan pendidikan dan sekarang giliran Nia yang harus membiayai pengobatan kakaknya agar segera sembuh.
Bel apartemen berbunyi, Nia segera membukanya karena mengira jika itu pengantar makanan yang Nia pesan.
"Kenapa lama se-" Nia menghentikan ucapannya saat melihat orang yang ada di depan pintu bukanlah pengantar makanan melainkan seorang wanita yang Nia kenal.
"Nyonya Sera..." Ucap Nia sambil memperhatikan sekitar, " Darimana nyonya tau saya di sini?" tanya Nia. Tanpa jawaban Sera pun menyelonong masuk tanpa permisi. Nia tak bisa melarang dan membiarkannya masuk.
Sera duduk di sofa yang ada dan Nia menyusul lalu duduk berhadapan.
"Nia, apa kamu masih berhubungan dengan Regal?"Tanya Sera membuat Nia terkejut.
"Aku bisa membantumu mendapatkannya, tapi dengan satu syarat yang harus kamu penuhi, apa kamu akan sanggup?" imbuh Sera, namun Nia masih tak paham dengan maksud Sera. Nia tau jika ibunya Regal ini tidak menyukai dirinya karena statusnya yang rendah.
"Apa maksud nyonya? Saya yakin ada sesuatu di balik ini semuanya. " jawab Nia.
"Kamu memang pintar Nia. Ya benar. Aku ingin Regal segera memiliki keturunan, dan Sampai sekarang Maya tidak bisa memberikannya. Aku ingin menyewa rahimmu untuk melahirkan anak keturunan Regal, dan selama kamu mau aku akan menjamin kamu bisa selalu dekat dengannya, tapi tidak dalam pernikahan. Setelah bayi itu lahir kau harus serahkan padaku." Jelas Sera.
"Tidak Nyonya, aku tidak bisa melakukan itu, aku mencintai Mas Regal dan aku juga menginginkan keturunan darinya, tapi tidak untuk permainan. Jika nyonya ini aku melahirkan keturunan dari keluarga Nyonya, kenapa Nyonya tidak meminta mas Regal menceraikan Maya dan menikahi Aku."
"Regal tidak akan pernah bercerai dengan Maya." jawab Sera singkat membuat Nia terdiam. Perkataan itu seperti pisau yang menyayat.
"Kalau begitu saya juga tidak tidak bisa menyewakan rahim saya, sekarang lebih baik Nyonya keluar dari sini." Usir Nia.
"Jika kamu tidak mau, maka aku akan membuat kakakmu yang gila itu tidak akan bisa sembuh selamanya, bagaimana?" Gertak Sera sambil menyeringai.
"Apa yang ingin Nyonya lakukan, jangan pernah menyentuh kakak saya!" Nia tak percaya jika Sera juga mengetahui kondisi kakaknya itu.
"Kalau begitu setujui, dan aku akan membiayai pengobatan kakakmu sampai kamu melahirkan anak. Bahkan aku juga akan menjamin kehidupanmu salama kehamilan. Tapi tidak untuk menikah dengan Regal. Pikirkan tawaranku itu, aku tunggu besok di restoran X jam tujuh malam." ucap Sera lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Tubuh Nia langsung lemas dan terduduk di lantai, matanya terus menatap pintu yang tertutup itu. Ia tak menyangka akan terjebak dalam permainan sendiri. Yang awalnya ingin menghancurkan, justru dia sendiri yang akan hancur.
To be continued ☺️☺️☺️☺️