Mengubah Takdir Sebuah Komik Kerajaan

Mengubah Takdir Sebuah Komik Kerajaan
Chapter 17: POV Christia Amber


__ADS_3

POV CHRISTIA AMBER


Aku tidak percaya bisa menikahi pria sebaik Louis, aku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari hidupnya.


Di Negeri Musim Dingin ini terdapat kehangatan yang di bawa oleh Louis.


Jujur saja Louis adalah seorang pria yang sikapnya dingin, tidak peduli, tetapi ia memiliki rasa kasih sayang yang sangat besar terhadap anak kecil.


Seperti pada saat aku mengajari anak-anak sekolah, terlihat senyum kehangatan yang muncul di wajah louis, dan anak-anak juga sangat menyukainya.


"Pak gulu ini bagaimana cara nya" ucap salah satu anak bertanya.


Louis mendatangi tempat duduk anak itu sambil tersenyum "bagian mana yang tidak kau pahami?" tanya Louis lalu mengajari anak itu hingga paham.


Setelah anak itu paham Louis mengusap rambut anak itu.


"Terima kasih pak gulu" ucap anak itu sambil tersenyum.


"Anak-anak jika kalian tidak mengerti, kalian bisa bertanya kepada guru.Jangan takut untuk bertanya! jika takut kalian akan tersesat di jalan" ucap Louis.


"Maksudnya Bila kita tidak berani bertanya maka kita tidak akan mendapat informasi terkait suatu hal yang jadi rasa penasaran kita." lanjut ku menjelaskan secara detail apa yang di maksud Louis.


"Hem ayo kita belajar sambil bermain" sambung nya.


Anak-anak pun berteriak senang, dan terlihat juga senyum tipis di wajah louis.


Tanpa ku sadari juga, aku memberikannya perhatian lebih dari sekedar teman biasa.


Aku ingin melihat senyum nya lagi dan lagi.


Dan lagi aku mempunyai suatu rahasia yang sangat-sangat tidak ingin ku beritahu pada nya.


Aku pernah di lamar oleh Viscount Baul Chester. Waktu itu aku sudah sangat dekat dengan Louis. Pada saat usiaku 19 tahun dan Viscount yang berumur sangat jauh lebih tua dari ku.


Ia juga sudah mempunyai seorang putra yang berusia 3 tahun. Tentu saja aku menolak lamarannya karena aku belum siap menikah dan aku juga tidak mencintainya.


Aku menginginkan pernikahan yang terjadi karena terjalinnya hubungan asmara dan cinta antara seorang kekasih, aku tidak mau di jodohkan selagi aku mampu mencari kekasih yang baik untukku.


Orang tua ku juga setuju jika aku menolaknya, dan jika aku memang tidak ingin.Aku berhak untuk menolak.Tetapi wajah Viscount Baul Chester terlihat sangat marah karena aku menolak lamaran nya pada saat itu.

__ADS_1


"Christia...apa alasan mu menolak lamaran ku? apa kau mencintai pria lain?" ucap nya sambil tertunduk kesal.


"Alasan ku karena aku tidak mencintaimu, dan juga aku sudah mempunyai pria yang ku cintai" ucap ku simple.


Lalu ia menyerang dengan memegang bahu ku hingga menggoyang-goyangkan nya dengan kasar.


"KAU HARUS MENIKAH DENGAN KU, AKU MENCINTAI MU SEJAK LAMA, AKU TIDAK BISA DIAM SAJA SAAT KAU BERDEKATAN DENGAN PRIA LAIN" ucap nya sambil berteriak di hadapan ku.


"Siapa pria itu? apa kesatria itu yang kau cintai?" ucap nya dengan senyuman mengancam.


Aku cukup terkejut atas perbuatan nya itu, orang tua ku menyeret nya keluar dari rumah.


"Berani sekali kau begitu kasar kepada anak ku" ucap ayah Christia lalu menampar Viscount.


Viscount memegang pipinya yang di tampar lalu berteriak " KAU AKAN MENYESAL TELAH MENAMPARKU" ucap Viscount.


"Aku tidak akan menyesal, justru aku lega melihat sifat mu yang brengsek itu keluar karena anakku menolakmu" ucap ayah Christia.


"Jika saja putri ku menerima mu, entah bagaimana nasib putri ku dengan perilaku mu yang kasar" sambung nya.


Viscount berdecak kesal lalu pergi dari hadapan kami dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya.


"Aku bersumpah tidak akan diam saja jika ia melukaimu" ucap Ayah Christia.


Tidak lama itu Louis melamar ku dan tiba saat nya aku menikah dengan Louis. Begitu indahnya persiapan pernikahan yang di rancang oleh ku dan Louis. Aku terlihat cukup gugup dengan keramaian yang ada di acara.


Louis sesekali mencoba untuk menenangkan ku "Kau gugup?" tanya nya sambil terkekeh.


Aku menatapnya dengan kesal "a-aku tidak gugup" ucapku sambil membuang muka.


Louis menggenggam erat tangan ku dan berkata " aku disini jadi...kau tidak perlu gugup" ucap nya tersenyum kepada ku lalu kembali menatap langit luar.


Aku hanya menatapnya lalu ikut memandang langit dan berkata "iyaa" ucap ku sembari tersenyum.


Kabar bahagia datang dan ternyata aku sedang hamil, kalau di tanya aku bahagia apa tidak tentu saja aku sangat-sangat bahagia, apa lagi Louis, aku sedang membayangkan apa yang terjadi jika Louis tau aku sedang hamil.


Dan benar saja, dia nangis seperti anak kecil. Lucu sekali. Setelah melewati masa hamil selama 9 bulan. Louis juga menangis saat aku melahirkan, Louis terus menggenggam erat tangan ku sembari berdoa agar kelancaran ku pada saat proses melahirkan.


Aku melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik dan lucu. Aku dan Louis sepakat untuk menamainya dengan nama "Natasha Katelyn".

__ADS_1


Aku berdoa agar putri ku ini menjadi anak yang kuat, hebat, serta sayang terhadap orang tua nya dan orang yang ada di sekitarnya.


Hidup tak selalu indah.


Aku dan Natasha sedang menuju ke kamar, tetapi entah bagaimana Viscount masuk lalu menarik lengan ku.


Viscount datang menemui ku dengan segala ancaman dan sumpah serapah yang ia ucapkan.


Ku peluk erat Natasha di pelukanku. Pada saat itu Louis sedang tidak berada di rumah.


Viscount datang dengan banyak permintaan yang ia inginkan,batu musim dingin dan Natasha. Aku teringat dengan sekelompok pria yang datang dan juga menginginkan batu itu.


Apa jangan-jangan? ya aku hanya bisa menebak-nebak. Aku berpikir bahwa mereka memiliki hubungan tentang ini.


Aku menepis lengan nya dan berkata "Apa yang kau mau dari anak ku?" ucap ku lalu menatap tajam ke arahnya.


"Tentu saja kekuatan yang kau turun kan ke anak mu" ucap Viscount.


"K-KAUUU" Aku berteriak lalu tiba-tiba saja Viscount mengeluarkan pisau dari saku celana nya dan mengarahkan pisau itu ke Natasha.


"TIDAKKK" Aku menghalangi pisau nya dengan tangan ku, benda tajam itu melukai tangan ku begitu dalam.


Aku menahan rasa sakit itu dan segera membawa Natasha dari situasi yang berbahaya ini.


Namun pisau itu melayang dan tertancap tepat di dada ku.


"Aghhh" aku melihat darah yang mulai keluar dari dada ku, darah nya sedikit mengenai wajah Natasha yang ku gendong.


Aku memastikan bahwa ia baik-baik saja "N-nak kau harus selamat" ucap ku lalu mencoba berlari sekuat mungkin.


Darah yang bercucuran di mana-mana membuat ku kehilangan separuh penglihatan ku "Bertahanlah" ucap ku hingga sampai lah di kamar Natasha.


Aku berharap Viscount tidak menghampiri ku dan menghalangi ku untuk mengucapkan kata-kata terakhir kepada anak ku.


Aku meletakkan Natasha kedalam box bayi itu sambil memeluk erat Natasha di dalam nya.


"N-nak ibu sangat menyesal melibatkan mu dalam hal ini" ucap ku sambil terisak "Jadilah anak yang kuat, ibu akan selalu ada di samping mu bahkan di hati mu" sesak di dada ku.


"Ibu masih ingin bersama mu, ibu tidak mau meninggalkan mu, ibu mau lihat kamu dewasa, meski ibu mati...ibu akan menjaga mu dari jauh" ucap ku.

__ADS_1


Pandangan Christia kabur lalu ia terjatuh di lantai, samar-samar ia mendengar suara teriakan.


"CHRISTIAAA"


__ADS_2