
Tok tok tok.
Pengawal mengetuk pintu "Tuan ada seseorang yang sudah membuat janji temu dengan anda" ucap pengawal.
Louis menjawabnya dari dalam ruangan, "Suruh dia masuk"
Anak itu pun segera masuk dengan diikuti oleh Natasha dari belakang. Ternyata Louis sedang bekerja dengan tumpukan kertas di atas meja nya.
Louis menatap anaknya yang sedari tadi berdiri di belakang anak laki-laki itu.
"Ada apa Natasha" tanya Louis dengan wajah heran.
"Tidak apa-apa ayah, aku hanya ingin mencari angin segar di kamar ayah!" ucapnya sambil berjalan ke arah jendela dan membukanya.
Melihat kelakuan putrinya itu Louis hanya menggelengkan kepalanya. Tanpa mencurigai apapun Louis tidak mengkhawatirkan soal Natasha.
Yang sebenarnya ia ingin menguping pembicaraan mereka.
"Mendapatkan surat itu dari mu, kau mengajukan diri untuk menjadi pelatih pedang Natasha?" tanya Louis sambil mengernyit kan matanya tanda tidak percaya.
Natasha yang sedang melihat keluar jendela memutarkan badan nya dengan cepat.
"Hehh? A-apaa? pelatih pedang?" Tanya Natasha dengan wajah tidak percaya.
"Benar, saya mengajukan diri agar dapat melatih Putri anda. Yakni keturunan keluarga Duke Katelyn yang terhormat. Saya tau anda bisa mengajarkannya sendiri karena anda adalah seorang ksatria. Tetapi menurut saya, anda sebaiknya fokus mengurus wilayah perbatasan" Jawab Caesar menjelaskan.
"Dan saya memiliki informasi soal Viscount Baul Chester yang selama ini anda cari"
Mata Louis melebar saat mendengar ucapan anak itu. Lalu Louis berpikir sejenak.
"Aku akan bertanya pada Natasha, Bagaimana dengan pendapat mu nak?" tanya Louis memastikan.
"Aku.."
Natasha berpikir sejenak.
Baiklah Natasha ini giliran mu memberikan keputusan,pikirkan. Ini demi kebaikan mu!
Anak itu ada benarnya, aku harus mempelajari seni berpedang, karena pada dasarnya aku akan melanjutkan pekerjaan ayah. Dan dia juga mempunyai informasi tentang orang yang ayah cari selama ini.
Tetapi apakah dia dapat di percaya?
"Baiklah ini semua demi kebaikan kita masing-masing. Ayah apakah anak ini bisa tinggal di rumah kita?" tanya Natasha kepada ayahnya.
"Kenapa?"
Kini Louis memutarkan kursi yang ia duduki dan menghadap putrinya.
Karena aku ingin menyelidiki anak itu.
__ADS_1
"Karena aku ingin berteman dengan nya dan agar dia mudah mengajari ku cara berpedang kapan saja" Jawab Natasha dengan percaya diri.
Louis berpikir sejenak dengan menyandarkan kepalanya di bahu kursi lalu menatap kembali ke arah anak laki-laki itu.
"Baiklah" jawab nya simple.
Anak laki-laki itu tersenyum ramah dan memberikan hormat kepada Louis sebagai tanda terima kasih.
"Baiklah saya akan mengajarkan anak anda mulai besok, bagaimana?" tanya anak itu.
"Sore hari. Kau bisa mengajarkannya di saat sore hari. Karena pada pagi hari Natasha akan mengikuti pembelajaran" Jawab Louis
"Baiklah kalau begitu saya pamit" ucapnya lalu keluar dari ruang Louis.
"Hey... tunggulah di luar" Ucap Natasha dan di balas anggukan oleh anak itu.
"Ayah apakah anak itu akan tinggal dirumah kita hari ini?" tanya Natasha memastikan kepada ayahnya.
Louis mengangguk "Ayah serahkan semuanya padamu"
Natasha yang mengerti maksud ayahnya pun segera berterima kasih pada ayah.
"Terima kasih ayah" ucap Natasha lalu mencium pipi ayahnya.
Natasha pun keluar dengan tergesa-gesa dari ruangan. Untung saja Anak laki-laki itu masih menunggunya di luar sana.
"Ada apa?" tanya anak laki-laki itu.
"Maksud mu apa melamar menjadi pelatih pedang ku?" tanya Natasha dengan nada kesal.
"Itu memang rencana ku sejak awal" jawab nya dengan santai.
"Lalu syarat itu?" tanya Natasha lagi.
"Kau tidak perlu khawatir dengan syarat itu, sekarang sudah terjadi. Aku menjadi pelatih mu sekaligus penjaga mu. Dan aku bisa tinggal disini berkat mu." Jawab anak itu tersenyum lalu menepuk rambut Natasha perlahan.
"Sekarang ayo tunjukkan kamar ku~" ucap anak itu sambil berjalan.
"Heiii aku belum selesai berbicara!! tunggu!!"
Sesampainya dikamar, Anak laki-laki itu melihat kamar nya dengan seksama lalu duduk di tempat tidurnya dan menatap Natasha kembali.
"Nama mu Natasha?" tanya anak itu memastikan sambil melihat barang-barang yang ada di kamar itu.
"Ya, lalu nama mu Caesar? seperti nama penyihir di zaman dulu" ucap Natasha bersedekap dada lalu menyandarkan diri pada tembok.
"Hemm kau benar, jadi kau tau tentang penyihir zaman dahulu?" tanya nya lagi.
"Ya sedikit, aku baru mempelajari nya di buku"
__ADS_1
Caesar tertawa pelan "Baiklah-baiklah, kemampuan mu memang lagi di asah sekarang. Jadi, banyak- banyak lah beristirahat. Sampai bertemu besok" ucap Caesar lalu mendorong Natasha keluar kamarnya.
"Dan satu lagi, jangan lupa antar makanan ku ke kamar ya"
Brakk
Caesar menutup pintu kamarnya.
"HEYY MAKAN MALAM NANTI KAU HARUS MENGAMBILNYA SENDIRI! JANGAN MANJA MINTA DI ANTARKAN KE KAMAR MU! DENGAR YAA AKU TIDAK AKAN MENGANTARKAN KE KAMAR MU, MENGERTI!!" teriak Natasha dengan nada kesal.
Natasha pergi dari tempat itu dengan langkah cepat karena kesal dan kembali ke kamarnya.
Dasar dia pikir dia siapa
Sedangkan Caesar ia tertawa pelan di balik pintu kamarnya setelah mendengar teriakan Natasha tadi.
"Mari kita lihat kemampuannya besok"
Makan malam pun tiba, Natasha makan sendirian di atas meja itu. Ayahnya sedang bekerja di dalam kamarnya dan tidak ingin di ganggu.
Saat makan, Natasha terus menerus mendengus. Dia tidak habis pikir dengan kejadian hari ini, di satu sisi ada anak laki-laki yang membuat nya sangat kesal dan rasanya Natasha ingin memukul wajah Caesar yang menyebalkan itu.
Dan disisi lain ayahnya tidak bersama nya saat makan malam. Malam ini adalah malam terburuk baginya.
Tanpa Natasha sadari, dari tadi Elly dan Avilyn memperhatikan Natasha sedang makan dengan garpu yang di tusuk-tusukan pada daging sekuat tenaga.
"N-nona, nona kenapa?" tanya Elly menelan ludah nya karena takut.
Natasha baru tersadar dengan lamunan nya,
"E-ehh apa?" tanya Natasha dengan wajah kebingungan.
"Nona sedari tadi terus menerus menusukkan daging itu dengan garpu sekuat tenaga, ada apa nona? nona membuat saya takut" jawab Avilyn.
Natasha kembali melihat daging yang ia tusuk itu, "aku hanya kesal saja. Malam ini aku makan sendirian di atas meja."
Elly dan Avilyn saling tatap-tatapan. Mengerti dengan perasaan Nona nya, Elly langsung kembali ke dapur untuk mengambil sesuatu.
"Kan ada saya dan Elly yang menemani nona makan disini" Ucap Avilyn lalu mengelus rambut Natasha dengan lembut.
"Hemm kau benar Avilyn" ucap Natasha lalu tersenyum kembali.
"Nahh nona, saya dan Avilyn tadi membuat kue coklat kesukaan nona sebagai menu penutup malam ini! Agar nona tidak bersedih dan terus tersenyum setelah memakan kue buatan kami" ucap Elly lalu meletakkan kue itu di atas meja makan.
Natasha tersenyum bahagia lalu memakan kue itu. Tersisa empat potongan, Natasha berencana untuk memberikan dua potongan kepada ayahnya dan dua potongan lagi kepada Caesar.
Entah kenapa Natasha terpikir soal Caesar yang belum makan saat itu, padahal bisa saja dia tidak peduli dengan laki-laki itu.
Aku ingin berbicara padanya malam ini, makanya aku membawakan dua potong kue untuknya. Jika tidak, aku juga tidak ingin memberikan jatah kue ku untuknya!
__ADS_1
Natasha pun mengantarkan kue itu.