
Setelah hari itu, Clara terus-terusan mengirimkan surat pada ku. Mungkin sudah sekitar empat sampai lima kali Clara mengirim surat. Dia sangat rajin menulis ya.
"Nona, ada surat dari kediaman Marquees Herlens" ucap penjaga mengetuk pintu.
"Sebentar aku akan keluar"
Aku mengambil kertas itu lalu kembali duduk di Meja ku. Sambil menggoyangkan kaki ku, aku memulai membaca semua curhatan yang di tulis oleh Clara.
Clara Alexandria
...Natasha maaf mengganggu waktumu lagi. Apa kau Minggu ini luang? Apakah aku boleh bermain kesana?...
Aku berpikir sejenak, sejauh ini aku tidak ada kerjaan sih, baiklah aku akan memperbolehkan nya bermain kesini. Tapi ayah? apakah dia memperbolehkan?
Karena takut salah mengambil langkah, aku pun memutuskan untuk bertanya pada ayah langsung.
"Temanmu ingin datang?" Tanya ayah sambil berpikir. "Boleh saja. Tapi ayah merencanakan bahwa Minggu ini kau akan mengikuti pembelajaran, bagaimana?"
Ucapan ayah membuat ku terkejut dan sontak histeris.
Apaaa!!! aku akan mengikuti pembelajaran?tidakkk.
Aku mendekati meja kerja ayah, lalu secepatnya memegang tangan ayah, "Ayah apakah aku harus mengikuti pembelajaran itu?"
Ayah heran dengan pertanyaan yang aku lontarkan, "tentu saja harus, kau akan menjadi penerus ayah dalam melakukan tugas jika ayah tiada nanti"
"Apa yang ayah katakan! ayah akan hidup sangat lama!"
Rasanya wajahku mengkerut mendengar ini semua.
Apakah aku bisa belajar? sedangkan di dunia saja aku sama sekali tidak pernah belajar.
"Baiklah aku akan ikut belajar" ucapku dengan tegas.
"Ya itu bagus" Jawab ayah sambil mengangguk setuju.
Aku sudah membalas surat dari Clara, dan kami sudah berencana akan bermain di akhir pekan!
Keesokan paginya, aku dibangunkan oleh Elly untuk bersiap-siap.
"Hemm Elly...kita akan kemana?" tanya ku yang masih setengah sadar.
"Kemana?Nona akan mengikuti pembelajaran hari ini" jawab Elly sambil mengarahkan ku yang sedang setengah sadar ke kamar mandi.
"A-apa?hari ini? secepat itu?" tanya ku yang baru terhubung ke dunia.
__ADS_1
"Tuan sudah lama merencanakannya yaitu sebulan yang lalu. Orang yang akan mengajari nona adalah seorang gadis bangsawan yang bernama Karina Grace"
"Dia sudah sangat telaten dalam mengajar. Maka dari itu, Tuan memintanya sebagai guru belajar nona"
"A-ap..ak-"
Aku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Sekarang aku sudah di dalam ruangan yang ayah khususkan untuk ku belajar. Sambil menunggu guru belajar itu datang, aku meminum secangkir teh hangat agar membuatku sedikit tenang.
"Halo nona, maaf saya sedikit terlambat" Ucap wanita itu sembari merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan.
Aku berdiri dan memberikan salam padanya.
"Halo nama saya Natasha, mohon bantuan anda selama mengajari saya"
Mata wanita itu membulat yang menandakan tersirat nya kebahagiaan " Baiklah saya akan mengajari anda nona"
Aku membantahnya "Jasa ibu guru sangat besar dan ibu guru jauh lebih tua dari saya. Jangan memanggilku nona Bu, panggil saja Natasha. Saya sedikit tidak enak dengan panggilan Nona."
"Baiklah n-nak Natasha" ucap ibu itu gugup.
Tanpa disadari ada seseorang yang sedang mengintip di sebalik pintu.
"Aku tau dari tadi ayah sedang mengintip di sebalik pintu itu, ya kan ayah?"
"Ya aku disini" Jawab ayah lalu memunculkan diri dari balik pintu.
"Jadi...hari ini adalah hari pertama kau belajar, jadi bersemangat lah, setidaknya untuk ayah mu ini" ucap ayah sembari berjalan mengarah ke meja belajar.
"Baiklah, aku akan bersemangat untuk ayah" jawab ku lalu fokus kembali untuk belajar.
Pelajaran pun di mulai, "pertama nak Natasha, di baca dulu buku yang berjudul Sejarah peperangan berserta Taktik nya nanti jika nak Natasha tidak paham, bisa bertanya pada ibu"
Aku sedikit heran lalu bertanya "mengapa harus belajar sejarah peperangan dan taktiknya? apa akan ada peperangan lagi" tanya ku polos.
"Kita tidak akan tau nak Natasha, jadi ini memang di pelajari oleh kalangan manapun. Hanya untuk berjaga-jaga apabila terjadi peperangan kembali" ucap ibu guru menjelaskan
"Oh baiklah Bu"
Aku mempelajarinya, entah mengapa aku bisa memahami isi buku ini. Apa karena tubuh Natasha?
"Sudah selesai membacanya? jadi apa yang Nak Natasha tau sekarang?" tanya ibu guru menguji.
"Emmm aku cukup kaget membaca kenyataan bahwa sebagian besar dari negeri kita ada yang memiliki garis keturunan campuran dari negeri-negeri yang mempunyai sihir, jadi apakah ayah juga mempunyai sihir?" tanya ku penasaran.
__ADS_1
Ayah yang dari tadi menemaniku belajar pun menjawab dengan tenang "Tidak, karena kakek dan nenek mu dari garis keturunan biasa dan kau juga harus tau. Ayah menikahi ibu mu yang seorang garis keturunan penyihir musim dingin dan lahirlah kau, kemungkinan besar kau mempunyai garis keturunan dari ibu mu" ucap Louis menjelaskan.
Dan kenyataan ini membuat ku tercengang "Berarti aku mempunyai kekuatan seperti ibu?"
"Ya itu kemungkinan besar, tidak salah jika mencobanya nanti" jelas ayah.
Lalu disambung oleh ibu guru "Jika nak Natasha mempunyai kekuatan seperti nyonya Christia maka, nak Natasha harus mempelajari kekuatan itu, Tuan Duke juga berpengalaman dalam hal ini. Ibu juga akan mengajarimu mempelajari kekuatan itu.
Ayah mengangguk "ayah akan mengajarimu"
"Walaupun ayah tidak memiliki garis keturunan campuran, ayah sedikit bisa menggunakan sihir melalui batu musim dingin milik ibu mu"
"Wah benarkah? aku ingin melihatnya!!" Ucap ku yang penasaran.
"Nanti akan ayah tunjukkan"
"Baiklah" ucap ku bersemangat.
Pelajaran selesai, Ibu Guru pun pamit.
"Saya pulang dulu tuan, Nak Natasha" ucap ibu Karina pamit.
"Terima kasih atas pelajaran nya hari ini Bu Guru, saya akan menunggu pelajaran selanjutnya" ucap ku tersenyum ramah.
"Baiklah kalau begitu saya permisi" Bu guru pun keluar dari ruangan.
"Ayah...aku masih penasaran dengan kekuatan ini, bagaiman cara mengaktifkan nya?" tanyaku penasaran.
"Secepatnya akan ayah ajarkan, sekarang kita akan melihat batu musim dingin dulu" ucap ayah lalu berjalan keluar ruangan.
"Baiklah" ucap ku lalu mengikuti langkah ayah.
Sesampainya di ruang kerja Ayah. Ayah membuka sebuah laci meja dan mengeluarkan sebuah batu yang indah dan berkilau. Aku tertegun melihat kecantikan batu itu.
"Ayah, apa itu batu musim dingin!?" tanya ku penasaran lagi.
"Iya, ini batu pemberian ibu mu dan ini akan di berikan pada mu" ucap ayah sambil menyerahkan batu itu pada ku.
"A-ayah apa tidak apa-apa batu ini aku pegang?"
"Tidak apa-apa, jika kau sudah mempelajari nya kau pasti bisa melindungi diri sendiri dengan tangan mu" ucap ayah lalu mengusap rambut ku dengan lembut.
"Ayah aku ingin bertanya lagi, Jadi pada zaman dahulu tidak hanya ksatria pedang yang turun di Medan perang? penyihir juga?"
"Iya kau benar, sangat benar. Itu lah fungsi keberagaman, namun keberagaman itu dapat merusak kesatuan di dalam nya contoh nya manusia seperti Viscount itu"
__ADS_1
"Aku mengerti"