
Elly menggendong Natasha dan mereka pun turun ke bawah untuk makan. Sesampainya di meja makan hanya keheningan yang ada di situ, Louis tidak membuka pembicaraan sama sekali dan hanya memandangi makanannya.
Aduh ini kenapa? Pikir Natasha gelisah, Natasha memikirkan apa yang ingin ayahnya katakan nanti.
"Natasha" suara itu terdengar pelan, Louis memanggil nama Natasha, ia pun reflek menatap ayahnya. "Ayo makan, kenapa kau termenung?" Mata sang ayah bergerak dari menatap Natasha lalu menatap makanan yang ada di depan Natasha.
Ughhh i-iya aku makan ...kupikir ayah ingin membicarakan sesuatu yang penting! Karena jarang sekali kita makan bersama apa lagi di ruang makan. Natasha mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Apa kamu mengenal orang di sebelahku?" Tanya sang ayah sambil menunjuk ke arah seseorang yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
Vallen yang melihat Louis menunjuk padanya pun terkejut.
"Allen?" ucap Natasha yang sudah tahu. Terlihat wajah sang ayah sedikit terkejut dan seakan bertanya-tanya 'kapan Natasha tau tentang Vallen?'
Andai Louis tau, Elly dan Avilyn sering membicarakan soal Vallen di kamar Natasha, saat itu Natasha hanya baru mengenali namanya tidak dengan rupanya. Ia hanya mendengar bahwa Vallen itu sangat tampan, sesuai yang Ia lihat tadi, Vallen memang cukup tampan.
"Dia Vallen, dia berada di sini karena ayah menugaskannya sebagai pengawal mu" Louis melanjutkan ucapannya.
Bagai disambar petir, gledek serta badai. Satu ruangan terdiam karena ucapan Louis. Elly dan Avilyn terkejut-saling bertatapan satu sama lain karena mereka senang bisa bekerja dan bisa terus melihat Vallen saat mengawal dan menjaga Natasha.
Keheningan itu lalu di potong oleh Vallen, "Tuan...saya tadi sudah memperkenalkan diri pada nona, jadi nona sudah tau pastinya tentang saya" ucap Vallen menjelaskan.
Louis yang merasa di dahului pun berucap kesal, "Kapan? kapan kau bertemu Putri ku"
Vallen yang gugup pun mulai menjawab pelan, "A-a.. tadi tuan, sewaktu tuan mengusir saya, saya berinisiatif bertemu nona untuk memperkenalkan diri" ucap Vallen gugup berusaha menjelaskan.
Seperempat jalan muncul di kening Louis, Ia berusaha tenang dan tersenyum kesal, "Tanpa izin ku kau memasuki kamar putriku?" ucapnya sambil bersedekap dada.
Natasha hanya terdiam melihat pertengkaran para sobat itu. Tidak ada yang mau melerai dan menenangkan Louis yang kesal pada Vallen. Perkelahian ini di ibarat kan perkelahian antara Harimau putih dan serigala.
"Maaf tuan...saya sud..."
"...Vallen...sepuluh langkah menjauh dari ku" ucap Louis memotong ucapan Vallen dengan kesal.
"T-tapi tuan.." belum selesai dengan bicaranya, Vallen melihat aura kemarahan dan tatapan Louis yang memberi isyarat 'Menjauh sekarang' sontak merinding dan secepat mungkin melangkah menjauh sesuai perintah.
Amarah Louis mereda dan Vallen masih sedih karena habis di marahi.
__ADS_1
Tuan semenjak nona lahir semakin agresif saja. Vallen menggelengkan kepalanya dan membuang jauh-jauh pikiran nya itu.
"Ada satu hal penting lagi" Ucap Louis dengan wajah serius. Natasha menerka-nerka hal penting apa yang ingin ayahnya katakan.
Louis memegang tangannya seakan gugup. Lalu menatap Natasha dan berbicara dengan mantap.
"Natasha, ayah ingin tidur bersamamu"
Seakan tidak percaya dengan hal yang ayahnya katakan, Itu yang ayah maksud penting? tangan Natasha lemas-sontak menjatuhkan sendok dari tangannya, ia berpikir bahwa sia-sia mencemaskan apa yang ingin ayahnya katakan.
Klutuk
"Astaga nona!!" ucap Elly memungut sendok Natasha lalu menggantikannya dengan yang baru, sedangkan Avilyn mengelap lantai yang terkena tumpahan makanan.
Natasha yang masih shock pun tidak sama sekali mengedipkan matanya. Sedangkan di dalam ruangan ini, orang-orang terkejut dan gemas karena sikap tuannya.
Tuan ternyata bisa seimut itu? Pikir mereka.
"Anu tuan... mungkin saja nona tidak mau tidur bersama tuan?" Vallen mengatakan begitu karena melihat wajah Natasha yang sangat shock.
Mendengar ucapan Vallen Louis pun tersenyum kesal padanya, "Apa putriku berkata seperti itu?" ucap ayah bertanya baik-baik ke Vallen.
Louis pun memastikan ucapan Vallen dengan melihat wajah purinya yang sedari tadi ternyata ia tidak berkedip sama sekali.
Apa aku mengajaknya di waktu yang tidak tepat? Pikir Louis.
Tetapi Louis masih kesal dengan ucapan Vallen tadi.
Louis kembali melihat wajah vallen dengan wajah kesalnya, "Vallen... mundur 10 langkah lagi " Tanpa ba-bi-bu Vallen langsung mundur secepatnya.
Wajah Louis tertunduk sebentar, mencerna kenapa putrinya terlihat shock seperti itu.
Natasha menyadari terlalu lama ia terkejut, lalu pelan-pelan mengambil keputusan yang menyangkut senang dan sedih ayahnya.
Aku terkejut karena berpikir seberapa pentingnya yang ayah ingin ucapkan tadi, ternyata hanya ingin tidur bersama ku? hahaha Natasha gemas dengan ucapan ayahnya, sambil menggigit jari serta berpikir dan sesekali melihat ayahnya yang menunggu keputusannya.
"Jadi kau tidak ingin tidur dengan ayah mu?" tanya Louis memastikan sekali lagi.
__ADS_1
Dengan cepat Natasha menjawab "Mau!"
Mendengar keputusan Natasha, Louis pun tersenyum lega. Lalu melihat ke Vallen, wajahnya seakan berkata 'haha siapa bilang putriku tidak mau tidur bersamaku'
Setelah selesai makan dengan tenang serta sedikit keributan, Natasha di gendong ayahnya menuju kamarnya.
Ia bingung kenapa harus di bawa ke kamarnya. Ia pikir mereka bakalan tidur di kamar sang ayah, Padahal ia masih penasaran sama Isi kamar sang ayah.
Disepanjang perjalanan, hanya ada keheningan. Hanya terdengar suara derap kaki ayahnya sepanjang perjalanan.
Sesampainya di kamar, sang ayah meletakkannya di tempat tidur lalu sang ayah ingin melangkah keluar dari kamar. Gerakan kaki ayahnya terhenti dan membalikkan badannya menghadap Natasha, "Natasha, ayah mau mengambil pekerjaan ayah sebentar, ayah akan segera kembali" ucapnya.
Natasha hanya termenung, Kenapa aku berpikir begini? apa salahnya ayah ingin tidur dengan ku, toh aku sudah pernah tidur dengan ayah. Pikirnya.
Tidak lama kemudian ayahnya kembali dengan membawa banyak tumpukan kertas. Natasha membulatkan matanya.
"Maaf Natasha, ayah ingin mengerjakan pekerjaan ayah sambil menemanimu tidur...tapi kita tetap akan tidur bersama" ucap ayahnya menjelaskan dan meletakkan tumpukan itu di tempat tidurnya.
Lalu Louis duduk di sebelah Natasha dan mengerjakan pekerjaan nya sedangkan, Natasha melihat ayahnya menandatangani semua tumpukan kertas sambil membaca isinya.
Mata ayahnya terlihat lelah dan mengantuk namun ia paksakan untuk membaca isi kertas-kertas itu.
Dasar orang ini, jangan memaksakan diri dong jika mengantuk, lalu Natasha memegang tangan ayahnya.
"Ayah lelah?" Ucap Natasha dengan kata yang sedikit tidak jelas.
Louis melihat Natasha yang bertanya pun tersenyum, "Tidak lelah...ayah harus menyelesaikannya biar bisa terus main bersamamu " ucap ayah memberitahu.
"Kalau ayah membiarkan ini semua dan nanti akan bertumpuk, kapan ayah bisa main sama kamu?" ucap ayahnya.
Lalu Natasha mencoba menjawab ucapan ayahnya, "Asha antu?" ucapnya dengan bersemangat.
Melihat Natasha yang percaya diri ingin membantu, ayahnya pun tertawa, "Hahaha...ayah sangat berterima kasih kamu mau membantu ayah, tapi kamu harus tidur ini sudah larut malam" ucap ayahnya sambil mengusap rambut Natasha dan mencubit gemas pipi putrinya.
"Asha antu " ucapnya sekali lagi dengan nada memaksa.
"Tidak usah sayang, besok kita akan pergi ke suatu tempat " ucap ayah sembari menangkup pipi sang putri.
__ADS_1
Mendengar ucapan ayahnya, Natasha jadi penasaran, "Mana??" ucapnya.
Ayahnya hanya membaringkan tubuh putrinya lalu menyelimuti tubuh mungil Natasha, "Rahasia, besok kamu akan tahu sendiri" ucap sang ayah sambil tertawa. Louis melanjutkan pekerjaan nya sedangkan Natasha sibuk memikirkan perkataan ayahnya yang tadi, lalu tidak sadar Ia pun tertidur.