
Caesar mengajarkan teknik berpedang kepada Natasha dengan sungguh-sungguh, Ya dengan sungguh-sungguh hingga Natasha tak dibiarkan istirahat bahkan melepaskan pedang dari tangannya.
"Angkat sedikit pedang mu, apa tangan mu akan patah jika mengangkat pedang itu sedikit lebih tinggi?" Caesar terus mengomentari cara berpedangnya Natasha.
"Apa salah ku, aku baru pertama kali belajar begini! Kenapa kau terus-terusan memarahi ku huweeeee..." rengek Natasha.
"Aku ingin beristirahat sejenak...tangan ku juga sudah mati rasa, aku sudah tidak kuat lagiii."
Caesar sama sekali tidak peduli dengan rengekan Natasha dan terus menyuruh Natasha untuk menggerakkan pedangnya.
Sambil memperbaiki sikap kaki dan tangan Natasha saat berpedang, Natasha sesekali membuat wajah memohon kepada Caesar.
"Kau ini...bukan kah aku sudah memberimu waktu istirahat selama beberapa hari saat kau sakit?"
"Itu benar, tapi bukan kah kau kejam sekali pada ku? lihat, tangan ku sampai bergetar karena terus-terusan memegang pedang yang berat ini" Ucap Natasha sambil menunjukkan tangannya yang bergetar.
"Bukan kah itu bagus? jika kau memegang pedang dengan sangat lama, pedang itu akan semakin ringan karena kau terbiasa" Ucap Caesar membantah perkataan Natasha.
"Ta-tapi.." Natasha membuat wajah memohon sekali lagi.
"Hahh baiklah, kau boleh istirahat" Tersirat wajah bahagia di wajah Natasha.
"...Tapi jangan lupa dengan gerakan yang kau pelajari tadi. Jika kau salah besok, aku akan meminta mu mengulang terus menerus gerakan itu hingga kau paham." Sambung Caesar yang membuat Natasha terpelongo dengan ucapannya.
"Kau sangat kejam!" ucap Natasha.
"Terserah" balas Caesar.
Natasha kembali ke kamarnya untuk merebahkan tubuh yang sudah lelah selama berjam-jam memegang pedang itu, sesekali ia mengusap lengannya yang pegal.
"Dasar orang gilaaa, tidak ada belas kasihan sama perempuan!"
Natasha menutup matanya sebentar karena kelelahan, lalu ia membuka kembali matanya.
"Benar...kenapa kau lemah sekali Catherine, ini salah mu...segitu saja kau sudah mengeluh" Natasha menampar kedua pipinya dengan kesal hingga kedua pipinya memerah.
"Kau tidak boleh begini! Kau harus kuat, kau sekarang tengah mengemban takdir baru, kau harus berubah demi takdir!" ucapnya kepada diri sendiri.
__ADS_1
Natasha bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju dapur, ada sesuatu hal penting yang ingin ia tanyakan kepada Elly dan Avilyn.
Terlihat Elly yang sedang mengemas peralatan dapur, dan Avilyn yang sedang mencuci piring.
Dari kejauhan Natasha melihat mereka yang sedang sibuk bekerja. Natasha memutuskan untuk tidak mengganggu mereka.
"Apa aku tanya ayah saja" Natasha berbalik badan lalu menuju kamar ayahnya.
Tok tok tok
"Ayah? apa ayah sibuk?" Natasha berdiri di depan pintu sambil menunggu jawaban dari ayahnya.
Hingga suara yang ia tunggu-tunggu pun menjawab "Masuklah".
Natasha pun masuk kedalam kamar ayahnya, ternyata Louis sedang sibuk dengan kertas yang menumpuk di meja kerjanya.
"Ada apa Natasha?" tanya nya sambil menandatangani satu persatu kertas di depannya.
"Oh ayah sedang sibuk? M-maaf aku mengganggu pekerjaan ayah"
"Aku ingin bertanya soal batu musim dingin, apa ayah tau dari mana asal usulnya?"
Louis meninggalkan pekerjaannya dan menyuruh Natasha untuk duduk di kursi depannya.
"Tentu saja ayah tau" Louis mulai bercerita tentang batu musim dingin itu.
...****************...
"HEII kau, teruskan menggali! HEII disana jangan berhenti! jika berhenti, kalian tidak akan mendapatkan makanan satu pun hingga besok pagi" pengawal terus memerintah para pekerja untuk segera menggali.
Para pekerja segera melaksanakan perintah pengawal dengan rasa lapar yang tak tertahankan lagi. Sudah tiga hari mereka belum diberikan makan oleh pengawal, dan terus-terusan di perintah untuk menggali tanpa henti.
"Kenapa nasibku begini" ucap salah satu pekerja sambil menggali tanah.
"Jika aku kaya dan berilmu, aku pasti tidak masuk dalam pengasingan ini. Kapan aku bisa keluar dari neraka ini" pekerja itu mengeluh dengan nada pelan sambil mengangkat cangkul dan terus menggali.
"Plank"
__ADS_1
Sebuah batu tersangkut pada alat penggali salah satu pekerja. Batu itu sangat berkilau mengeluarkan cahaya. Pekerja itu segera menutup kembali batu itu dengan tanah agar tidak di ketahui oleh pengawal, dan ia berniat mengambil batu itu pada malam hari nanti.
Malam hari tiba, pekerja itu mengendap-endap agar hentakan kaki nya tidak terdengar oleh salah satu pengawal yang sedang tertidur di depan gerbang.
Perlahan ia menggali, batu itu tidak terlalu dalam ia menanamnya, bahkan ia menggali dengan tangan tanpa alat apa pun.
ketika batu itu ia dapatkan, pekerja itu segera pergi dari tempat penggalian lalu bertemu dengan salah satu penjual di luar gerbang.
Penjual itu sudah menunggu dengan tergesa-gesa di depan gerbang itu.
"Ini batu yang aku bicarakan padamu, apa ini mahal jika di jual? lihatlah batu ini sangat berkilau! ini pasti mahal!" ucap pekerja sambil menunjukkan batu yang ia bawa.
Pekerja itu sudah berniat ingin menjualnya kepada salah satu penjual di luar kawasan pengasingan. Dengan nada pelan, mereka saling berbicara dan membuat kesepakatan.
"Batu ini...batu yang di cari-cari oleh raja! Aku akan membelinya" ucap penjual sambil mengeluarkan uang dari saku nya.
"Ini... aku membayarnya dengan mahal, apa itu cukup?" tanya penjual sambil melihat sekitar dengan rasa cemas.
"Lebih dari cukup! ini batunya. Sekarang batu itu sudah menjadi milikmu, aku akan menggunakan uang ini agar bisa keluar dari sini"
Pekerja itu tersenyum sumringah karena penderitaannya akan berakhir. Penjual itu segera pergi, batu itu ia akan menjualnya lagi dengan harga yang lebih mahal.
"Aku akan menjualnya dengan harga tinggi, siapa cepat dia yang dapat, tidak perduli bahwa batu inilah yang di cari oleh raja. Sudah pasti ini sangat berharga! Si bodoh itu, mau saja menerima uang yang sedikit" penjual itu tertawa dengan keras.
Pekerja lupa bahwa ia bukan orang yang berilmu, dia dibutakan oleh uang yang banyak namun jika di jumlahkan, uang itu hanya bisa membeli sebuah roti.
Kesenangan penjual hanya sesaat, ternyata rencana pekerja gagal. Raja telah mengetahui bahwa batu itu telah di temukan dan Raja sedang mencari dengan menggali informasi dari sang pekerja. Perintah dari Raja sudah di putuskan, dua puluh pengawal di utuskan untuk menggeledah satu persatu rumah yang berada dekat di pengasingan.
Mendengar berita itu, sang penjual berusaha lari dan menyembunyikan batu itu dalam keranjang jualannya.
"Aku tidak ingin di tangkap, bagaimana ini?" penjual itu kebingungan dan kebetulan ia melihat sebuah sungai.
"Aku buang saja..." namun ia dilema dengan keputusannya itu.
"Tapi ini sangat berharga, akan sangat mahal jika di jual"
Disisi lain, ia juga memikirkan kehidupannya jika tertangkap oleh orang-orang itu. Penjual pun memutuskan untuk menghayutkan batu itu bersama keranjang nya.
__ADS_1