Mengubah Takdir Sebuah Komik Kerajaan

Mengubah Takdir Sebuah Komik Kerajaan
Chapter 20: Teman Baru Natasha


__ADS_3

Di dalam kereta, Ayah terus-menerus memandangiku, aku melihat apakah ada yang salah dengan pakaianku. Ku tatap balik wajah ayah.


"Ayah, apa ada masalah dengan pakaian ku?"


"Tentu tidak sayang. Ayah dari tadi sedang berpikir, ternyata kau sudah besar ya. Dan semakin mirip dengan ibu mu"


"Emm aku tau aku mirip ibu" Jawab ku sembari melihat-lihat kearah luar jendela kereta kuda.


"Dan sifat keras kepala ibumu menurun padamu" ucap ayah sambil membuka lembaran koran untuk di baca.


"Aku tidak keras kepala! Humm!" tegas ku dengan menggembungkan pipiku dan melipat kedua tangan ku di dada.


"Emm benarkah?" ucap ayah menggodaku di balik koran.


"Ya!" jawabku.


Rumah Marquees terletak di pinggiran kota.


Kata ayah dulu di pinggiran kota inilah terjadi konflik dan berakibat peperangan.


Aku melihat sebuah bangunan besar berwarna putih serta sebuah patung yang sedang memegang sebilah pedang.


"Ayah, itu bangunan apa?" tanya ku penasaran.


Ayah melihat bangunan itu lalu berkata "Itu bangunan tempat para ksatria dilatih pada zaman dulunya. Sekarang telah menjadi tempat ibadah"


"Lalu ksatria berlatih dimana?" tanyaku penasaran lagi.


"Di istana" Jawab ayah simple.


Aku mengangguk mengerti "Kapan-kapan aku mau kesana" ucapku memberitahu pada ayah.


Ayah menjawab dengan mengangguk.


Tibalah kami di rumah Marquees.


Di sana ramai anak-anak seusiaku dan usia keatas. Saat aku dan ayah turun dari kereta kuda, aku menjadi pusat sorotan para tamu undangan.


Kami di sambut dengan ramah oleh Marquees dan anaknya yang sedang berulang tahun. Ternyata anaknya seorang perempuan cantik berambut kuning kecoklatan dengan bola mata hijau terang.


Aku sedikit membungkukkan badan sebagai tanda hormat. Kata ayah setinggi apapun derajat atau kedudukan kita, tetaplah harus rendah hati.


Ayah berinteraksi kepada anak perempuan itu.


"Wah...kau yang berulang tahun?selamat ya! ulang tahun ke berapa?" tanya ayah sambil berjongkok di sebelahku dan menghadap anak perempuan itu.


"7 tahun" ucap anak itu sembari mengeluarkan jari yang berjumlah tujuh.

__ADS_1


"Kau seumuran dengan anak ku" ucap ayah lalu mengusap rambut ku. Anak itu melihatku dan tersenyum.


Setelah itu Marquees mengajak para tamu undangan untuk masuk ke rumahnya. Didalam sana sudah di siapkan berbagai macam makanan dan ada sebuah kue ulang tahun yang lumayan besar.


Aku berdiri di sebelah ayah "ayah apa aku boleh memakan kue itu?" ucapku sambil menunjuk kue.


Marquees mendengar ucapanku "Tentu saja! Nanti kami akan membagikan kue itu kepada para tamu undangan" ucap Marquees.


Mata ku berbinar-binar, aku tidak sabar saat kue itu di bagikan nanti, ayah hanya tersenyum melihat tingkah ku lalu mencubit pipi ku pelan.


"Kau sangat menyukai yang manis-manis sejak kecil, bisa-bisa gigi mu ompong" ucap ayah sambil tertawa pelan.


"Tidak apa-apa! yang penting aku bisa makan-makanan yang enak" ucapku tersenyum lebar.


Acara pun di mulai dengan menyanyikan lagu ulang tahun, lalu meniup lilin, dan saatnya berbagi kue! Yeyy.


Aku sudah membawa hadiah untuk anak itu, kalian tau aku membawa apa?


Coklat dan kertas ucapan! Aku meminta Elly dan Avilyn membuat coklat untuknya, aku ingin memberitahu bahwa coklat yang dibuat oleh mereka itu sangat enak!


Setelah memakan kue, aku melihat anak itu sedang duduk sendirian.


Tidak elok bagi seorang yang sedang berulang tahun duduk sendirian dan kelihatan bersedih! karena itu aku memutuskan untuk menghampirinya. Ini hari bahagianya, dia harus terlihat senang!


"Halo" sapa ku sedikit membungkukkan badan.


Ia melihatku dengan sedikit terkejut.


"Te-terima kasih" ucapnya lalu tersenyum.


"Nahh begini kek senyum"


"Kau tau? orang yang sedang berulang tahun harusnya bahagia?" tanyaku lalu duduk di sampingnya.


"Ya aku tau"


"Lalu kenapa kau terlihat tidak bahagia?" tanyaku sekali lagi.


Anak itu memalingkan wajahnya dariku.


"Aku...merindukan ibuku" ucapnya.


Aku tertegun mendengar ucapan anak itu, ya aku tau rasanya kehilangan seorang ibu! Aku bahkan sudah merasakannya dua kali!


"Kau merindukan ibumu?" aku berpikir sejenak.


"Kalau begitu ayo keluar, akan ku tunjukkan sesuatu"

__ADS_1


Kami pun keluar dari ruangan dan menuju taman yang ada di depan rumah. Aku menyuruhnya menatap langit dan duduk di ayunan taman itu.


"Jika kau merindukan ibumu, lihat saja di langit. Ibumu pasti ada di antara bintang-bintang yang bercahaya itu, termasuk ibuku" ucapku lalu tersenyum kepadanya.


Mata anak itu membulat sempurna dan kembali tersenyum lebar.


"Terima kasih"


Aku hanya mengangguk lalu bertanya, "apa ada yang membuatmu bersedih lagi?"


"Emmm jika ibu berada di antara bintang-bintang yang bercahaya itu, apa ibu bisa melihat ku? apakah waktu siang juga begitu?" tanya anak itu penasaran.


"Ya tentu saja, ibu mu selalu berada disisi mu. Tepat nya disini...hati" ucap ku sambil menunjuk ke dada.


"Jika di siang hari anggap lah ibu mu sebuah matahari yang menyinari dengan hangat, dan jika di sore hari anggaplah ibu mu sebuah sunset yang indah"


"Emm aku mengerti" ucap anak itu sambil menggenggam erat kedua tangan nya. "aku harap ibu selalu di sisiku dan di sisi ayah" ucapnya berdoa.


Acara selesai, kami sedang menuju ke kereta kuda dengan di antar oleh Marquees dan anak perempuan nya.


"Kami pulang ya! Terima kasih atas jamuan makanan yang enak" ucapku sembari sedikit membungkuk.


Marquees tersenyum kecil " Terima kasih juga sudah datang di acara kecil-kecilan kami ya nona"


Lalu di sambung oleh anaknya " Terima kasih atas hadiah nya" ucap anak itu sembari menunjukkan hadiah yang ku beri.


Aku dan ayah hanya tersenyum "Kalau begitu kami pamit" ucap ayah kepada Marquees.


kami pun menaiki kereta, namun anak itu ingin mengatakan sesuatu.


"Hey nama ku Clara Alexandria, siapa nama mu? tanya nya padaku.


Aku membulatkan mataku lalu tersenyum


"Nama ku Natasha Katelyn"


"Senang berteman dengan mu Natasha" ucapnya sambil membalas senyuman ku.


Lalu Clara melambaikan tangan ke arahku dan aku membalas lambaian nya menandakan kami pergi.


"Kau senang mempunyai teman?" tanya ayahku heran melihatku terus tersenyum.


"Ya tentu saja aku sangat senang" jawabku.


"Syukurlah, ayah ikut bahagia" Ucap ayah lalu menanyakan sesuatu kepadaku.


"Oh iya, tadi ayah melihatmu keluar bersama Clara. Kalian kemana?"

__ADS_1


"Emm, bisa di bilang sedang menunjukkan ibunya di antara bintang-bintang yang ada di langit seperti yang ayah bilang padaku tentang ibu"


Ayah tertegun mendengarnya, "Kau benar-benar sudah besar ya" ucap ayah lalu memeluk ku tiba-tiba.


__ADS_2