
LN Entertaiment.
Pegawai di LN Entertaiment dikagetkan oleh kedatangan boss mereka yang tiba-tiba. Mereka sibuk membereskan ruangan mereka dan menyembunyikan apa yang harus disembunyikan.
“Ada apa? Kenapa boss datang tiba-tiba?” ucap salah satu karyawan bernama Herna.
“Aku tidak tahu … tetapi aku bersyukur karena boss kita tampan hehe,” jawab karyawan lain bernama Lia.
“Apa sih,” ucap Herna melirik Lia dengan tatapan aneh.
“Ayo kita pergi keruangan kita,” lanjut Herna.
Disisi lain dibelakang pintu darurat ada seorang pria yang sedang menelpon. Pria itu dengan cemas menunggu pihak lain mengangkat telepon dan berjalan bolak-balik di sekitar pintu.
“Cepat-cepat di angkat … “ ucapnya panik.
Disisi lain telepon diretur Dian sedang melakukan spa di sebuah salon. Mendengar telepon berdering Dian hanya mengabaikannya dan terus menikmati spa. Namun, telepon terus berdering mengganggunya. Dian mulai kesal dan melihat siapa yang menelepon.
“Ada apa?” teriak Dian kesal.
“Aku sudah mengatakan jangan ganggu aku kalau aku lagi bersantai,” ucap Dian marah.
“N-nyonya i-ini gawat,” ucap pria itu panik.
Dian mengerutkan kening. “Ian ceritakan ada apa?” tanya Dian.
Ian adalah seorang asisten yang selalu menemani Dian dan dia sama arogannya seperti Dian. Bisa dikatakan mereka memiliki sifat dan ambisi yang sama. Ian juga merupakan teman tidurnya Dian di saat suami Dian pergi keluar negeri.
“B-boss … boss datang ke perusahaan,” teriak Ian.
“Apa?” Dian berdiri dari tempat tidur setelah mendengar perkataan Ian.
“kenapa?” tanya Dian.
“aku tidak tahu … tetapi dia datang bersama Andrew,” ucap Ian.
“Andrew?” Dian mengerutkan kening.
“Baiklah … aku akan segera kesana,” lanjut Dian.
“Baik kalau begitu,” jawab Ian.
Dian diam menggenggam kuat handphonenya dan langsung bersiap menuju perusahaan.
“sial Andrew brengsek bajingan.”
“Ini pasti semua ulahnya,” ucap Dian kesal.
Setelah memakai baju Dian memasuki mobil pribadinya dan mengendarai dengan cepat.
“Sial sial sial … Andrew sialan.” Dian terus mengumpat disepanjang perjalanan.
Leon di Perusahaan LN Enteraiment memeriksa semua berkas yang ada.
“Keluarkan semua laporan pengeluaran dan pemasukan tahun ini dan tahun sebelumnya,” ucap Leon.
“K-kita tidak memegang semua data itu pak,” jawab seorang karyawan gemetar.
Leon melirik karyawan tersebut. “Siapa namamu?” tanya Leon dingin.
“A-andre pak,” jawa karyawan tersebut menundukkan kepalanya.
“Pada bagian apa kamu bekerja?” tanya Leon sambil berdiri dari kursinya.
“Keuangan pak,” jawab karyawan tersebut mengecilkan suaranya.
PRAAAAK
Suara keras terdengar diruangan yang hening. Semua orang yang ada disana kaget. Leon meninju meja dengan kuat.
Leon menatap karyawan tersebut dan mendekat.
“Staff keuangan … tetapi tidak memiliki laporan keuangan?” tanya Leon melototi karyawan tersebut.
“I-itu semua di urus oleh asisten direktur pak,” jawab karyawan tersebut.
__ADS_1
“K-kami tidak diizinkan untuk ikut campur dalam hal keuangan,” ucapnya lagi.
Leon menarik rambutnya dan menarik nafas.
“Panggil asisten itu kemari,” ucap Leon menaruh tangan dipinggangnya.
Semua orang diam tidak bergerak.
Melihat ini Leon berteriak lagi. “Apa kalian tidak mendengar apa yang aku katakan?”
“Panggil asisten itu kemari,” teriak Leon marah.
“B-baik pak,” ucap Andre.
Leonpun akhirnya duduk dan mencoba menenangkan diri.
“Pak … silahkan minum dulu,” ucap Andrew memberikan minuman kepada Leon.
Leon mengambil minuman tersebut dan menyesapnya.
Melihat Leon sudah sedikit tenang Andrew merasa lega, karena dia juga benar-benar takut.
Sangat mengerikan, Meskipun bukan aku yang dimarahi tetapi aku merasakan atmosfirnya.
Setelah beberapa saat Andre membawa asisten tersebut.
Leon diam menatap asisten itu dengan dingin.
“Kamu tahu kenapa kamu dipanggil kesini?” tanya Leon sambil memainkan gelas.
Ian hanya diam gemetar dan mengekuarkan keringat dingin.
Leon tidak sabar dan membanting gelas.
Semua orang diruangan sangat kaget dan ada beberapa yang terkena serpihan gelas.
“Apa kamu tidak bisa berbicara? Atau kamu tuli?” tanya Leon.
Dengan cepat Ian belutut didepan Leon.
“M-maafkan saya pak … saya hanya mengikuti perintah,” teriak Ian panik.
“Cepat serahkan semua laporan keuangan kepadaku,” teriak Leon.
“B-baik pak.” Ian berdiri dan berlari mengambil laporan tersebut.
Beberapa menit kemudian Ian membawa banyak berkas. Leon mengambil berkas tersebut dan membacanya.
Saat membaca Leon mulai mengerutkan kening dan menggenggam erat berkas tersebut. Saat Leon hendak berbicara, tiba-tiba pintu terbuka.
Dian baru saja tiba dan berlari kelantai atas. Saat membuka pintu dia melihat Leon memegang sebuah berkas. Dian tahu itu berkas apa, dian melihat kearah Ian yang berlutut. Kemudian dia menggertakkan gigi dan hendak berlari tetapi kepalanya dilempar menggunakan pot bunga hias hingga tak sadarkan diri.
Beberapa orang yang melihat ini hanya bisa terdiam dan kaget dengan adegan yang tiba-tiba ini. Mereka melihat Leon lagi dengan tidak percaya.
“Bereskan mereka berdua … aku akan memprosesnya dengan hukum,” ucap Leon.
“Siapapun yang terlibat akan kena akibatnya,” lanjut Leon dengan nada dingin.
Mendengar ini, Ian sangat panik dan menarik kaki Leon.
“Pak pak … maaf aku dipaksa melakukan ini,” teriak Ian sambil menangis.
Leon menatapnya dengan jiji dan menendang tangan Ian.
“Bawa dia keluar,” perintah Leon.
Setelah keributan tadi akhirnya ruanganpun hening hanya menyisakan Leon dan Andrew.
“Terimakasih telah memberitahuku kebenaran ini,” ucap Leon tersenyum tulus.
“T-tidak pak … ini seharusnya aku lakukan dari dulu,” ucap Andrew menyalahkan dirinya.
“Ini semua bukan salahmu,” jawab Leon.
“Mungkin aku akan sibuk dalam beberapa bulan ini.”
__ADS_1
“Kamu … bawalah istri Alex keliling perusahaan besok,” ucap Leon.
“Baik pak,” jawab Andrew tersenyum bahagia.
Keesokan harinya semua yang ikut terlibat di dalam kasus LN Entertaiment di pecat dan beberapa ada yang masuk perjara seperti Dinda dan Ian.
“Wah … ternyata perusahaan ini besar juga ya,” ucap Rena melihat sekeliling.
“Tentu saja,” jawab Andrew bangga.
“dimana Leon?” tanya Rena.
“Ah … boss sedang sibuk mengurus semua yang berantakan,” jawab Andrew.
“Hmmm … begitu.”
“Salah dia sendiri mengapa tidak mengurus perusahaan in dari awal,” lanjut Rena sambil berjalan.
Rena tahu untuk apa Leon membuat perusahaan ini. Dia membuatnya karena orang yang dia cintai ingin memasuki dunia Entertaiment.
“Hmm … aku jadi penasaran, gadis seperti apa yang diperebutkan oleh Leon dan Alex?” bisi Rena.
“Apa?” tanya Andrew.
“Tidak ada … aku hanya berbicara sendiri,” jawab Rena.
Saat Rena berjalan dengan Andrew, Rena berpapasan dengan seseorang.
“Rena?”
Rena menyapa sebentar. “halo.” Lalu Rena berjalan pergi.
“Saudari tunggu … “ teriak Rani.
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Rani.
Rena berbalik badan dan melihat kearah Rani. “Bukan urusanmu,” jawab Rena acuh tak acuh.
Rena lupa kalau Rani juga memasuki LN Entertaiment dan akan menjadi sahabat dari wanita yang disukai Leon serta Alex.
“Apa kamu juga akan menjadi aktris?” tanya Rani.
“Sudah kubilang bukan urusanmu,” jawab Rena dingin.
“Hei … kamu tidak sopan sekali,” ucap seorang wanita.
“Meskipun kalian hanya beda beberapa hari … tetapi Rani adalah seniormu,” lanjutnya.
“Aku tahu siapa yang pantas dihormati dan siapa yang tidak,” jawab Rena menyeringai kearah Rani.
Rani menundukkan kepalanya menggertakkan gigi.
“Apa kamu bilang-“
“Sudah hentikan Nata,” ucap Andrew.
“Kamu … “ Nata melirik Andrew lalu melihat Rena lagi.
“Sudahlah Rani ayo kita pergi,” ucap Nata kesal.
“Baiklah,” jawab Rani sedih.
Nata adalah seorang manager sama seperti Andrew. Nata, orang yang sangat ambisius. Dia juga memiliki perasaan terhadap Andrew karena menurutnya Andrew adalah orang yang berprinsip dan bertanggung jawab. Suatu hari Nata memberanikan diri mengungkapkan perasaannya kepada Andrew. Tetapi Andrew menolak perasaan Nata, dia bilang dia tidak menyuakainya. Pada saat itulah Nata berusaha menjadi lebih baik dibandingkan dengan Andrew dan membenci Andrew karena menolaknya.
“Sial Andrew berani sekali dia mengehentikanku,” ucap Nata kesal.
Rani hanya diam berjalan kedepan sambil memikirkan sesuatu.
Mengapa Rena disini? Apa dia mengikutiku?
Rani menggenggam erat tangannya.
“Yah … antagonis akan tetap menjadi antagonis,” bisik Rani tersenyum.
“ha?” tanya Nata.
__ADS_1
“Tidak ada,” jawab Rani.
Akhir dari Bab 23