
Dikantor Anderson, Alex dan Albert sibuk mendiskusikan rencana mereka bersama Liam Lee. Mereka sangat ingin menyempurnakan rencana mereka sebelum game ini diluncurkan. Mulai dari karakter, cerita dan grafik game. Mereka ingin yang terbaik.
“Aku rasa ini sudah cukup untuk hari ini.”
“Kita akan lanjutkan besok,” ucap Alex.
“Baiklah boss aku rasa ini sudah 98% dan sebentar lagi akan mencapai 100%,” jawab Liam dengan semangat.
“Aku harap tidak akan terjadi masalah lagi seperti sebelumnya,” ucap Alex.
“Liam Lee kamu boleh pergi duluan. ada yang ingin aku bicarakan dengan Albert,” ucap Alex kepada Liam Lee.
Liam Lee tidak bertanya dan segera keluar dari ruangan. “Kalau begitu permisi boss,” ucap Liam Lee.
Alex pindah dari meja diskusi menuju mejanya sendiri dan Albert membereskan berkas-berkas rapat yang telah didiskusikan. Setelah selesai membereskannya, Alex memanggil Albert.
“Albert,” panggil Alex.
Albert berjalan menuju Alex dan berdiri didepannya dengan diam. “Apa kamu sudah menemukan bukti?” tanya Alex serius.
“Yah … aku sudah memancingnya agar dia memperlihatkan dirinya yang sebenarnya tanpa kita paksa.”
“Aku rasa dia telah masuk perangkap kita,” jawab Albert tenang.
“Siapa? Apa dugaanmu sebelumnya benar?” tanya Alex lagi.
“Ya … setelah melakukan penyelidikan aku sangat yakin kalau dia pelakunya,” jawab Albert.
“Berani sekali tikus masuk kedalam wilayahku,” ucap Alex dingin.
Albert bergidik merasakan aura mengerikan Alex, sudah lama setelah dia merasakan aura ini. Sebelumnya karena sikap Rena telah berubah aura mengerikan sedikit mereda, namun akhir-akhir ini sering sekali keluar semenjak rencana awal tidak berhasil.
“Selesaikan semuanya … aku tidak mau tikus itu terus berkeliaran dikantorku,” lanjut Alex.
“Baik Tuan …. Akan segera aku selesaikan,” jawab Albert.
Setelah membicarakan ini dengan Alex, Albert keluar dari ruangan dan segera pergi untuk menyelesaikan tugasnya.
Alex yang tinggal diruangan melihat keluar jendela dan melihat jam ditangannya. Dia rasa sudah waktunya untuk pulang. Memikirkan Rena yang tidak ada dirumah, Alex merasa sedikit kesepian.
Rena yang berada dirumah keluarga Martinez masih tidak percaya dengan kalung yang ada di depannya. “Rena!?” sambil membaca tulisan itu kembali, dengan cepat Rena membereskan bingkai foto tersebut dan mengambil kalung serta foto yang ada dibalik bingkai foto.
Kembali kekamarnya Rena memegang erat kalung dan foto itu. Membawa kalung dan foto keatas kasur dan duduk dengan tatapan kosong.
“Apa yang terjadi?” Rena masih memproses pikirannya dan mencocokkan semuanya yang ada didalam mimpinya.
__ADS_1
“Apa Rena sebenarnya adalah keluarga Albert?”
“Adiknya?”
“Dalam novel tidak pernah diceritakan tentang keluarga kandung pemilik asli,” ucap Rena masih tidak menyangka.
Saat Rena tenggelam dalam pikirannya terdengar suara mobil berhenti didepan rumah. Rena sadar kembali dan dengan cepat menyemmbunyikan kalung dan foto itu.
Rena melihat keluarga jendela, keluarga yang terdiri dari 5 orang keluar dari mobil dan bebicara sangat bahagia. “Apa yang mereka lakukan diluar? Sepertinya sangat membuat mereka senang,” ucap Rena mengintip dari jendela.
Saat Rena memperhatikan keluarga dari 5 orang, Rani tiba-tiba melihat keatas arah jendela kamarnya. Sontak Rena sembunyi dengan tergesa-gesa. “Tunggu! Kenapa aku bersembunyi? Apa yang aku takutkan?” Rena kembali melihat arah bawah dan Rani masih melihat jendelanya. Melihat Rani tersenyum dengan ledekan, Rena dengan tegas mengarahkan jari tengahnya kepada Rani yang melihatnya lalu menutup jendela.
“Ap- hah … berani sekali dia,” ucap Rani sambil melihat jendela Rena dengan kesal.
“Rani?” teriak Nyonya Martinez.
“Ah … Haha aku rasa nyamuk baru saja menggigitku,” ucap Rani tergesa-gesa.
“Benarkah? Kalau begitu ayo cepat masuk kedalam,” ucap Nyonya Martinez.
“Iya ibu,” ucap Rani dengan senyuman ceria kepada ibunya.
Semua keluarga memasuki rumah dengan tawa diwajah mereka.
Rena yang berada dikamar merasa sedikit puas dengan wajah terkejut Rani. “Hahahah … sial wajahnya jelek sekali,” ucap Rena sambil membayangkan wajah Rani.
“Apa dia adalah ibu Rena?”
“Sangat mirip dan juga dipenuhi kelembutan dari senyumannya,” gumam Rena.
Saat Rena memikirkan ibunya, terdengar suara ketukan pintu diluar. “Rena … apa kamu sudah tidur?”
Itu adalah suara Nyonya Martinez. Rena hanya diam tidak menjawab panggilan Nyonya Martinez. Setelah beberapa saat terdengar suara langkah kaki pergi meninggalkan kamarnya.
“Huff … untung saja aku mengunci pintu kamar,” ucap Rena dengan lega.
Rena berbaring dan mengangkat kalung dan foto kelangit-langit, menatapnya dan memeluknya. Rena memejamkan mata dan memikirkan jika Rena tidak diculik dan keluarganya masih bersamanya, aku rasa pemilik asli akan menjadi anak yang paling bahagia didunia.
Keesokan pagi Rena bangun pagi dan bersiap untuk sarapan setelah itu Rena akan segera pergi kembali kerumahnya dan Alex.
Rena turun kebawah dengan gaun yag anggun dan tanpa makeup, sangaat natural seperti peri musim semi yang sangat menenangkan membuat orang-orang disekitarnya terpesona.
Melihat reaksi orang-orang, Rena tidak terkejut lagi karena pemilik asli memang sangat cantik pada awalnya dan juga wajah ini tidak jauh beda dari wajahku di kehidupan yang dulu hanya berbeda warna kulit dan kelembutan pada tubuh. Memikirkannya Rena sangat bangga dengan penampilannya didunia ini.
Rani yang melihat Rena turun dengan cantik membuatnya snagat kesal. Rani menggenggam erat bajunya dan melihat kearah Reza, meskipun hanya sekilas Rani bisa melihat bahwa Reza terpesona dengan Rena saat dia turun. Ini sangat menyebalkan.
__ADS_1
“Kakak … kamu sangat rapi sekali pagi ini … apa kamu akan pergi kesuatu tempat?” tanya Rani dengan senyuman ramah palsu.
Rena sangat malas menanggapi pertanyaan Rani, tetapi dia harus menjawab. “Aku akan pulang kerumahku tentu saja,” ucap Rena dengan acuh tak acuh sambil memakan sarapan yang ada didepannya.
“Ah! Begitu cepat?” ucap Rani sambil memegang mulutnya dengan ekspresi kaget.
Tanpa melihat wajahnya Rena tahu ekspresi apa yang dibuat Rani dengan wajahnya yang penuh topeng.
“Kakak … apakah kamu marah pada kami karena tidak makan bersamamu?” tanya Rani dengan sedih.
Rena berhenti sejenak dan menatap Rani tanpa ekspresi apapun. “Mengapa kamu menganggap aku marah?” tanya Rena.
“Ah itu karena-“ Rani tergagap karena reaksi Rena. Kenapa dia tidak marah? Atau membuat masalah di meja makan.
“Rena jangan marah … tadi malam memang tidak direncanakan karena keluarga Venzo menawarkan diri untuk makan bersama,” ucap Nyonya Martinez membela Rani.
Saat mendengar nama keluarga Venzo, Rena sangat terkejut. “ Keluarga Venzo?” ucap Rena.
“Ah iya … Reza dan Rani menyelamatkan keluarga mereka lalu yah mereka berterimakasih dan menawarkan kerjasama yang sangat menguntungkan,” ucap Nyonya Martinez dengan bangga.
Rena menatap Rani dengan mata yang tajam, Rani yang melihat tatapannya sangat terkejut dan tanpa sadar mengalihkan pandangannya. Apa? Kenapa Rena menatapku seperti itu? Seperti tahu apa yang aku lakukan. Kembali melihat wajah Rena dan melihatnya makan seperti biasa tanpa merubah ekspresinya. Hah? Apa hanya perasaanku saja?
“Begitu … ini sangat menguntungkan keluarga,” ucap Rena sambil mengusap mulutnya denan tissu.
“Aku sudah selesai makan, aku akan pulang sekarang,” ucap Rena sambil membawa tas yang sudah dibawanya turun.
“Sepertinya kamu tidak berubah sedikitpun Rena … aku bahkan belum beranjak dari meja dan kamu sudah mau pergi?” teriak Tuan Martinez.
Rena yang mendengarkan kemarahan Tuan Martinez berhenti sebentar. “Walaupun aku berubah ayah tidak akan bisa melihatnya dan tetap menganggapku sebagai anak yang tidak bisa diatur,” ucap Rena tanpa melihat kebelakang dan terusa berjalan keluar.
“Ap- apa?! Hei apa yang kamu katakan … kembali kesini Renaaa!!” teriak Tuan Martinez.
Rena yang sudah berada diluar rumah langsung memasuki mobil keluarga Anderson dan menghela nafas. “Huuf … sangat melelahkan, Tuan Martinez masih energgik seperti biasanya,” ucap Rena sambil bersandar dikursi dalam mobil.
“Nyonya apa kita langsung pulang?” tanya sopir.
“Iya pulang saja … aku sangat lelah,” ucap Rena.
“Baiklah.” Mobil berjalan dengan lancar dijalan.
Rena melihat keluar jendela dan memikirkan keluarga Venzo. Tiran masa depan setelah keluarga Anderson. Kenapa? Kenapa berbeda dengan cerita aslinya? Apa karena aku mengubah alur cerita? Tetepi aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga mereka. Rena memikirkannya dan mengerutkan kening, memikirkan Rani yang ada dimeja makan tadi. Sepertinya Rena sedikit menyadari perubahannya dari Rani yang ada diingatannya.
Sambil memegang dagunya dan menatap keluar Rena memikirkan segala kemungkinan semua ini. “Rani … apakah dia?!” semakin Rena memikirkannya semakin masuk akal.
“Mungkinkah dia sama sepertiku?” gumam Rena dengan mata tidak percaya.
__ADS_1
Akhir dari Bab 47