
Rena telah tiba dirumah dan berada dikamarnya. Rena berbaring sambil memikirkan semua kemungkinan yang telah dia pikirkan sepanjang jalan dan Rena mengangkat kalung yang bertuliskan namanya sambil mengerutkan kening.
“Bagaimana sikap Rani yang asli didalam novel?” gumam Rena sambil menggenggam kalung.
“Tetapi didalam novel hanya memperlihatkan sisi baik protagonis,” lanjutnya.
“Hah … ini sulit sekali.” Rena menghela nafas dan memejamkan matanya dengan frustasi.
Beberapa menit kemudian Rena tertidur dan tenggelam didalam mimpinya.
Wuuuush, suara angin berhembus kencang mengibarkan rambut dan rok Rena.
“Hah … dimana ini?” ucap Rena kebingungan.
Rena melihat sekeliling dan menemukan sesuatu.
“Bukankah ini perusahaan dulu dimana aku bekerja?” teriak Rena takjub.
“Apa aku kembali?” lanjut Rena.
Tepat saat Rena mengatakan itu seseorang melewati tubuh Rena.
Melihat tubuhnya yang transparan Rena menghela nafas berat. “Hah tentu saja tidak mungkin,” ucap Rena memegang letak jantungnya karena kaget.
“Tapi kenapa aku berada disini?” tanya Rena bingung.
Rena mulai memasuki gedung dan mulai mengelilingi perusahaan. Rena merasakan sebuah nostalgia dan merindukan tempat ini, meskipun bossnya sangat tidak berguna tetapi dia dengan sepenuh hati mengerjakan pekerjaannya kecuali pekerjaan yang seharusnya dikerjaan oleh bos.
Mengingat bossnya yang tidak tahu malu, Rena tiba-tiba merasa kesal.
“Bagaimana sekarang kabar boss itu tanpa diriku? Hahahha aku kasihan pada orang menggantikanku,” ucap Rena sambil melihat sekeliling.
Saat ini ada seorang wanita cantik yang melewati tubuh Rena. “Woooah itu aku,” ucap Rena kagum.
“Seperti biasa aku sangat keren.”
“Asisten Rena sangat cantik.”
“Bagaimanapun aku melihatnya dia benar-benar cantik.”
“Walaupun tanpa senyuman, itu hanya bisa membuatnya lebih seperti mawar yang tidak bisa disentuh”
Rena yan mendengar semua pujian ini tersenyum bangga dan merasakan ilusi hidungnya memanjang.
“Hah apa bagusnya dia?!”
Seorang wanita dengan tampilan elegan muncul dan menyilangkan lengannya dibawah dada.
“Hah? Siapa wanita ini dari difisi mana dia?” ucap Rena kesal.
“Hahaha Rani kamu terdengar seperti sedang iri.”
“Rani?” Rena bergerak maju kedepan dihadapan wanita itu.
“Yah kalau tidak ada asisten Rena, aku rasa Rani akan menjadi wanita tercantik di perusahaan ini.”
“Apa kamu membandingkan aku dengan wanita itu,” ucap Rani menatap tajam keteman perempuannya.
“Haha … ayo kita semua kembali ke tempat kita.”
Rani yang melihat semua orang menghindarinya merasa kesal dan mulai pergi duduk di mejanya.
Rena yang telah melihat semua adegan mulai mengikuti Rani dan melihat-lihat.
“Hmm … sepertinya aku pernah melihat wajah ini.” Rena berusaha mengingat tetapi tidak bisa mengingat apapun tentang wanita bernama Rani ini.
__ADS_1
“Jika memang benar dia telah bertranmigrasi mengapa wajahny benar-benar beda?”
“Apa karena wajah ini seperti antagonis? Hmmm?” Rena terus berpikir, tiba-tiba terdengan suara handphone berdering.
“Halo?” ucap Rani.
“Ha? kamu ingin membuat novel menggunakan namaku?” teriak Rani kaget.
“Karena namaku cantik?” ucap Rani.
“Hahaha baiklah … tetapi jangan gunakan wajahku untuk mendeskripsikan pemeran utama wanita,” ucap Rani.
“Saran nama untuk penjahat?”
“Hmmm biar kupirkan.” Rani tiba-tiba mengingat Rena.
“Bagaimana jika Rena?” ucap Rani dengan senyum jahatnya.
“Yah … dia adalah asisten yang jahat,” ucap Rani.
“Kamu ingin mencari tahu tentang Rena? Wajahnya?” Rani mengerutkan kening.
“Tidak usah … cukup dengan imajinasimu saja,” ucap Rani menarik pelan rambutnya.
Setelah beberapa saat percakapan, Rani menutup panggilan dan kembali bekerja. Rena yang mendengar semua percakapan, membuka mulutnya dengan tidak percaya.
“Jadi kamu adalah temannya author kesukaanku?” ucap Rena kaget.
“Aku kira hanya kebetulan saja ternyata kamu benar-benar menargetkanku Rani bahkan didunia ini,” ucap Rena kesal.
Rena mengingat semuanya saat dia meminta tanda tangan kepada author dan bercerita tentang asisten temannya yang kejam. Setelah mengingat ini Rena hanya bisa menangis dalam diam. Sial sekali … huhuhuhu.
Saat Rena sedang meratapi kejadian dimasalalu Rena tidak sengaja melihat berkas dimeja Rania.
“Ini?!”
Rena mengingatnya! Itu adalah berkas Rani yang telah Rani buat. Saat itu Rena menyuruh masing-masing divisi untuk menyalurkan ide-idenya dan memberikannya kepada Rena. Semua orang mengira Rena yang menilai itu, tetapi yang menilai pekerjaan mereka semua adalah boss.
Rena tahu bossnya menyukai uang dan pasti tidak jujur, oleh karena itu Rena melepas tangan dan tidak ingin ikut campur semua masalah ini.
Saat itu Rani mengajukan idenya dan Rena merasa ini ide yang sangat bagus. Tetapi memikirkan pilihan boss Rena hanya bisa mengerutkan kening dan menghela nafas menyesal.
“Idemu sangat bagus,” ucap Rena.
Mendengar perkataannya Rani sangat bahagia dan merasa bahwa dia akan menang. Dia telah merendahkan diri untuk menemui Rena dan itu tidak sia-sia.
“Tetapi bukan kamu orangnya,” ucap Rena dengan wajah menyesal.
“Apa?” ucap Rani tidak percaya.
“Hah … kamu tahu uang adalah segalanya dan bos menyukai uang,” lanjut Rena tak berdaya.
“Tapi kamu adalah asistennya … seharusnya kamu bisa menegur bos!” teriak Rani.
“Jika kamu mau aku akan memasukkan idemu dalam perencanaan project selanjutnya-“
“Tidaak!” teriak Rani dengan wajah marah.
Rena terkejut mendengar teriakannya.
Rani keluar dari ruangan Rena dan pergi langsung kekantor atasan.
Adegan berubah seketika.
“Jika kamu ingin idemu menang maka kamu harus membayarku,” ucap boss.
__ADS_1
“Apa?” tanya Rani bingung.
Boss mendekati Rani dan mulai menyentuh bagian belakang tubuhnya. Rani terkejut dan mundur selangkah.
“Apa kamu tidak mau? Maka keluarlah,” ucap Boss melambaikan tangannya dan kembali duduk.
“Kamu tahu jika kamu menang maka kamu akan menjadi pegawai tetap,” lanjutnya.
Rani menggigit bibirnya dan mulai berjalan mendekati boss, membuka kancing bajunya perlahan. Melihat gerakan Rani bos tersenyum senang dan mulai memeluk Rani. Mereka mulai melakukan adegan itu.
Adegan berubah lagi.
Rena yang ingin menyerahkan dokumen ke kantor boss melihat Rani keluar dari ruangan boss dengan rambut sedikit tidak tertata. Namun Rena tidak banyak berpikir dan terus berjalan.
Pada saat pengumuman hari kemenangan, Rena tidak menyangka bahwa Rani yang menang dan menatap Rani dengan mata terbelalak. Rani yang merasakan tatapan Rena tidak berani menatap.
Setelah perayaan, Rena menghampiri Rani. “Apa kamu melakukan itu dengan boss?” tanya Rena.
Rani hanya diam dan terus berjalan, tetapi Rena menghalangi Rani. “Bisakah kamu pergi?” tanya Rani dingin.
“Jawab pertanyaanku?” ucap Rena.
“Jika aku melakukannya kenapa? Itu bukan urusanmu,” jawab Rani.
“Aku berencana merekomendasikanmu menjadi kepala di divisimu tetapi kamu telah mengambil langkah duluan,” ucap Rena.
“Terus apa? Itu tidak menjaminku menjadi pegawai tetap!” teriak Rani.
“Dengar … aku membencimu.” Rani menatap Rena dengan wajah penuh kebencian.
“Kamu sangat munafik … aku tahu kamu pasti juga melakukan hal yang sama denganku!” teriak Rani.
“Apa?” teriak Rena
“Katakan sekali lagi!” Rena kesal dan mulai mengepalkan tangannya.
“Kamu wanita Ja****!” ledek Rani dengan senyuman jijik menatap Rena.
“Kamu-“
“Hei apa yang kalian lakukan? Rani ayo temani aku minum.” Sebelum Rena menyelesaikan perkataannya, boss tiba-tiba memanggil Rani.
Pada saat itu hubungan Rena dan Rani menjadi sangat dingin meskipun hanya sebatas pekerjaan. Rena tidak tahu kalau dari awal Rani sudah membenci Rena tanpa sebab.
Tok … tok …
Suara ketukan pintu terdengar dan Rena terbangun dari tidurnya.
“Jadi benar dugaanku,” ucap Rena duduk di tempat tidur.
Memikirkan kemampuan yang dia dapat, Rena mengira bahwa kemampuannya hanya bisa dibuka saat dia penasaran akan sesuatu. Saat kemampuannya dibuka maka kebenaran akan terungkap, tetapi tidak semuanya contohnya seperti mengapa Rani dibesarkan diluar dan mengapa keluarga Martinez mengambil Rena?
Rena menggelengkan kepalanya. “Nyonya? Apakah anda sudah bangun?” tanya Ronald.
“Sudah … aku akan segera turun,” jawab Rena.
“Baiklah Nyonya,” ucap Ronald.
“Hah … kepalaku sakit sekali memimpikan itu.” Rena pergi kekamar mandi mencuci muka dan melihat wajahnya di cermin.
“Kenapa wajahku sangat mirip?” Rena memikirkan author favoritnya dan tersenyum.
“Sudah kuduga pasti author mencari tahu tentang aku,” ucap Rena bangga. Meskipun author adalah teman Rani, bukan berarti dia juga membenci author. Rena menghargai karya-karyanya.
Rena mengelap wajahnya dengan handuk dan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
“Baiklah bagaimana kita akan membereskan masalah Rani ini? Aku rasa dia awalnya pasti terkejut melihat wajahku yang sangat mirip ini,” ucap Rena sambil tersenyum jahat.
Akhir dari Bab 50