
Banyak orang yang melihat reaksi Fany di Club. Fany menatap Alex dengan kaget dan tidak percaya.
“A-alex … apa kamu benar-benar sudah menikah?” tanya Fany.
Leon yang berada dibelakang Fany menggelengkan kepala kepada Alex agar tidak memberitahu Fany yang sebenarnya. Alex hanya diam dan menyesap air minumnya.
“Yah itu benar aku menikah dengan orang yang aku cintai,” jawab Alex.
Fany melihat Alex dengan mata terbelalak dan beberapa saat kemudian mengeluarkan air mata.
“Kenapa?” tanya Fany tidak bisa menahan tangis.
“Karena dia wanita pertama yang aku sukai,” jawab Alex.
Fany kaget mendengar ini semua dan tidak menyangka dengan jawaban Alex. Fany mengira bahwa selama ini Alex menyukai dirinya sendiri.
“Alex apa kamu marah karena aku selama ini tidak ada kabar?” tanya Fany mendekati Alex.
“Apa semua karena itu?” lanjut Fany berusaha tersenyum.
“Tidak,” jawab Alex.
“Aku selama ini tidak pernah menyukaimu … sikapku saat disekolah hanya menganggapmu sebagai adikku,” lanjut Alex.
“Alex!” Teriak Leon.
“Fany ayo kita keluar sekarang.” Leon menarik Fany.
Fany melepaskan tangan Leon dan menatap Alex dengan airmata diwajahnya.
“Apakah yang kamu katakan benar?” tanya Fany.
“Iya … kamu selama ini salah paham terhadap sikapku,” jawab Alex.
“Seharusnya aku mengatakan ini sejak lama … maafkan aku,” jawab Alex menatap Fany dengan rasa bersalah.
“PLAK,” untuk yang kedua kalinya Fany menampar Alex lagi.
Alex memegang pipinya dan melihat kearah Fany tanpa berbicara. Fany sangat sedih dan marah, sehingga Fany tidak tahan berada disana dan pergi dari ruangan itu.
“Fany tunggu,” teriak Leon.
Leon berbalik melihat Alex.” Alex kamu benar-benar,” teriak Leon kepada Alex.
“Fany tunggu,” panggil Leon sambil mengejar Fany.
Ruangan menjadi hening dan sepi.
“Ups … sepertinya aku telah membuat masalah besar,” ucap Vita menaruh kelima jarinya dibibirnya.
“Baiklah urusanku sudah selesai … aku harus pulang,” ucap Alex mengambil jaketnya dan pergi.
“Aku juga ada urusan lain … sampai jumpa semua … senang berkenalan dengan kalian,” ucap Vita buru-buru keluar dengan senyuman.
“Ini sangat menyenangkan … Viktor apa selanjutnya?” tanya Weni dengan bahagia.
“Emmm … ayo lanjutkan saja pestanya,” ucap Viktor.
Pestapun tetap berlanjut dengan meriah seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Di luar Club Leon menarik tangan Fany.
__ADS_1
“Biar aku antar,” ucap Leon.
“Lepaskan aku,” teriak Fany.
Fany terdiam sesaat dan memandang Leon dengan marah. “Kenapa kamu tidak memberitahuku?” tanya Fany.
“I-itu,” jawab Leon Ragu.
“Ini yang aku tidak suka darimu Leon,” ucap Fany.
Leon kaget dan menatap Fany. “Kamu … sering berbohong kepadaku dan selalu membuatku melihat kesalahan menjadi kebenaran,” lanjut Fany sambil menangis.
“Sekarang jangan dekati aku lagi … aku benar-benar tidak menyukaimu … jangan ganggu aku lagi,” teriak Fany.
“Dengar dari dlu aku benar-benar terganggu oleh sikapmu yang selalu menempel kepadaku … hanya karena kamu teman Alex aku bisa menahannya,” lanjut Fany emandang Leon dengan jijik.
Leon kaget mendengar apa yang dikatakan Fany. “Sekarang sudah seperti ini jangan pernah muncul dihadapanku lagi,” ucap Fany menatap Leon dan pergi begitu saja meninggalkan Leon.
“Fany,” panggil Leon dengan suara lemah dan sedih.
Saat ini Vita telah keluar dan melihat Leon berdiri sendirian. Vita mencari sesuatu disakunya dan menghampiri Leon.
Leon melihat tangan yang terulur didepannya dengan sapu tangan dan melihat Vita berdiri didepannya. “Aku tidak membutuhkannya,” ucap Leon mengusap airmatanya dengan bajunya.
“Ayolah ambil saja,” ucap Vita.
Leon menatap Vita, lalu menatap saputangan dan mengambilnya. Leon menghapus airmatanya.
“Apakah sudah berakhir?” tanya Vita.
“Apa?” tanya Leon.
“Cintamu,” jawab Vita.
“Hahaha … kamu masih sangat imut saat menangis,” tawa Vita sambil mengusap kepala Leon.
Leon memukul pelan tangan Vita. “ Aku tidak menangis,” jawab Leon.
“Ya ya … kamu tidak menangis,” jawab Vita sambil tersenyum.
Leon bingung dengan dirinya, mengapa dihadapan gadis ini dia ingin menangis dan mengungkapkan perasaannya. Leon terus menatap Vita dengan heran.
“Apa aku cantik?” tanya Vita dengan senyuman diwajahnya.
“T-tidak … kamu sangat jelek,” jawab Leon spontan.
“Hahaha … lihat telingamu memerah,” tawa Vita.
“T-tidak … kamu salah lihat,” jawab Leon pergi meninggalkan Vita.
Vita berlari mengikuti Leon dan menertawakan Leon. Leon terus menundukkan kepalanya, entah kenapa dia merasa malu. Vita melihat Leon yang tidak menangis lagi merasa lega. Vita teringat masa lalu dimana Leon selalu menangis karena Vita selalu menjahilinya dan Leon selalu mengadu kepadanya jika dia sedih atau diganggu.
“Vita … huhuhuu,” ucap Leon
Saat itu Leon dan Vita masih sangat kecil berusia 5 dan 4 tahun.
“Kenapa?” tanya Vita bingung.
“Belalang yang aku pelihara mati,” tangis Leon.
Vita yang melihat ini hanya bisa menggelengkan kepala. “Sudah jangan menangis … ayo kita kubur belalang ini agar dia bisa bereingkarnasi,” ucap Vita.
__ADS_1
“Apa belalang bisa bereingkarnasi menjadi temanku di kehidupan selanjutnya?” tanya Leon kecil sambil menghisap ingusnya.
“Tentu saja,” ucap Vita tegas.
“Kamu tahu sebenarnya belalang memilki sembilan nyawa … ini adalah nyawanya yang kesembilan sehingga dia mati,” ucap Vita serius.
“Bukankah yang punya nyawa sembilan itu adalah kucing?” tanya Leon.
Vita terdiam. “P-pokoknya ayo kita kubur sekarang,” jawab Vita.
Leon dan Vita selesai mengubur belalang tersebut. “Baikah sekarang belalangnya sudah baik-baik saja … jangan menangis,” ucap Vita sambil tersenyum.
“Vita bisakah kamu merahasiakan ini dari Viktor dan Leon?”
“Mereka akan meledekku jika tahu aku menangis,” ucap Leon sedih.
“Tenang saja … rahasiamu aman ditanganku,” ucap Vita sambil memegang dadanya dengan yakin.
“Bagus kalau begitu … nanti setelah kita dewasa ayo kita menikah,” ajak Leon sambil tersenyum.
Vita kaget dan wajahnya memerah. “A-apa yang kamu bicarakan?” tanya Vita.
“Ibuku bilang harus mencari pasangan yang bisa saling menjaga terutama rahasia kita,” jawab Leon.
“Ehm … untuk sekarang kita masih kecil … nanti setelah dewasa kamu pasti berubah pikiran,” ucap Vita.
“Mengapa? Aku tidak akan menyukai gadis lain,” teriak Leon kesal.
Vita melihat Leon dan mengulurkan jari kelingkingnya. “Kalau begitu kamu haru janji kepadaku … kalau kamu tidak akan menyukai gadis lain ketika dewasa,” ucap Vita.
“Baiklah … aku janji,” jawab Leon yakin.
“Yah … kalaupun kamu menyukai gadis lain … aku akan membuatmu menyukaiku lagi,” ucap Vita tersenyum.
Vita mengingat sesuatu dan mengeluarkan dua buah gelang di sakunya. “Ini awalnya aku tidak tahu mau aku berikan kepada siapa … jadi sekarang aku memberikan ini kepadamu sebagai tanda ikatan kita,” ucap Vita sambil memasangkan gelang.
Leon sangat senang sekali dan menerima gelang tersebut. “Baiklah aku akan menjaga gelang ini dengan baik,” ucap Leon memegang gelang.
Mereka berdua pergi bermain bersama sambil berpegangan tangan dan tertawa bersama. Itu adalah ingatan masa kecil Vita dan Leon yang tidak pernah Vita lupakan. Vita melihat Leon yang sudah dewasa dan tersenyum melihat Leon.
“Leon kamu sekarang sangat tinggi ya … dulu kamu sangat pendek,” ledek Vita.
“Ha? Aku adalah yang tertinggi dikelasku dulu,” jawab Leon.
“Tidak … ingatanmu salah … dulu kamu sangat pendek hahahah,” ledek Vita lagi.
Leon hanya diam dengan kesal mendengar ledekan Vita. “Kenapa kamu memanggilku Leon sedangkan yang lain menggunakan kata kakak?” tanya Leon.
Vita tersenyum dan menjawab. “Karena Leon adalah Leon,” jawab Vita.
“Sudahlah,” ucap Leon kembali berjalan menuju parkiran.
Vita melihat gelang yang di kenakan Leon. “Hei … kamu masih menyimpan gelang ini?” tanya Vita senang.
Leon melihat gelang yang dia kenakan. “Gelang ini sudah lama aku pakai … entah mengapa aku merasa seperti harus terus memakai gelang ini,” jawab Leon.
“Hehe … berarti alam bawah sadarmu mengingatku,” ucap Vita.
“Apa sih yang kamu bicarakan?” tanya Leon sambil berjalan.
“Tidak ada … kamu pasti akan mengingatnya sendiri,” jawab Vita sambil berjalan disebelah Leon.
__ADS_1
Leon melihat Vita tersenyum dan mengalihkan pandangannya dengan cepat. Dengan wajah memerah dan jantung yang berdetak kencang Leon masih bingung ada apa dengan dirinya.
Akhir dari Bab 32