Menikah Dengan Penjahat

Menikah Dengan Penjahat
Bab 42 Persaingan


__ADS_3

Saat ini Ren na melihat ayah Alex, melihatnya dapat dipastikan bahwa Alex mungkin sangat mirip dengan ibunya. Ayah Alex tampan, tetapi tidak setampan Alex. Saat menjaga kakek, Ren na jarang bertemu keluarga Anderson dan pada saat pesta juga hanya bisa melihat dari jauh.


“Baiklah … aku pergi dulu, kamu sebaiknya menjalankan apa yang aku perintahkan,” ucap Nyonya Anderson.


“Baik nyonya,” Jawab Ren na.


Nyonya Anderson pergi bersama ayah Alex suaminya. “Apa yang kamu perintahkan?” tanya Ayah Alex penasaran.


“Tidak ada … hanya masalah wanita,” ucap Nyonya Anderson sambil tersenyum.


Ayah Alex tidak terlalu memikirkan ini dan percaya dengan istrinya, Ane. Dia sangat mencintai ibu tiri ini karena Ane adalah cinta pertamanya yanng tidak pernah tergantikan.


Ane melihat Ayah Alex dengan senyuman lembut, dia sangat senang bisa bersatu dengan cinta pertamanya. Dulu mereka tidak bisa bersatu karena perbedaan status. Sekarang mereka sudah bertahun-tahun menikah tetapi kakek tidak pernah merestui hubungannya bahkan dia hanya menganggap Reza cucunya sendiri sebagai orang asing.


Saat dia masih seorang gadis, dia membuka restoran kecil membantu orang tuanya. disana dia bertemu dengan ayah Alex, saat itu ayah Alex masih sangat muda dan sedang mengalami stress dalam pekerjaannya jadi dia datang kerestoran kecil untuk mabuk menghilangkan rasa khawatirnya.


Ane yang melihat bahwa pria itu sangat mabuk menegurnya untuk berhenti minum. Pria itu melihat keatas menatap wanita yang menegurnya. Saat dia melihat wajah wanita itu Ayah Alex merasakan jantungnya berdebar, Ane yang juga melihat wajah pria itu dengan jelas merasakan hal yang sama. Dari sana ayah Alex sering datang ke restoran kecil tersebut dan mereka menjadi dekat.


Setelah beberapa bulan berkenalan dan berhubungan, ayah Alex membawa Ane kerumah untuk mengenalkannya kepada Kakek, tanpa diduga kakek sangat menolak hubungan mereka. Setelah kejadian tersebut Ane dan ayah Alex tidak lagi bertemu satu sama lain hingga perjodohan ayah Alex dan ibu Alex dilangsungkan.


Mengingat masa lalu membuat Ane merasa masam dan sedih. Sekarang walaupun kakek masih tidak menyukainya dia tidak terlalu memikirkannya dan akan membuat pria tua itu lenyap.


Disisi lain Alex bekerja lembur hingga tengah malam. Melihat kearah jendela menatap langit malam, Alex mencubit diantara kedua alisnya. Memikirkan mengapa idenya bisa sama persis dengan perusahaan tersebut.


“Albert,” Panggil Alex.


“Ya tuan ada apa?” tanya Albert.


“Cari info tentang perusahaan baru ini dan cari tahu siapa bosnya,” ucap Alex serius.


“Baik tuan," jawab Albert dan dengan cepat pergi dari ruangan Alex.


“Drrt … Drrrtt … “ terdengar suara hendphone bergetar. Alex melirik nama yang menelponnya dan menjawab panggilan tersebut.


“Rena … ” jawab Alex, seketika suara dan raut wajahnya menjadi lembut.


“Apa kamu menginap dikantor? Bagaimana keadaanmu? Apa kamu makan teratur?”


Alex mendengar suara kekhawatiran Rena dan senyum kecil muncul diwajahnya.


“Tidak apa-apa … hanya ada sedikit masalah, tapi kamu jangan khawatir,” jawab Alex.


“Bagaimana aku tidak khawatir!” teriak Rena dengan suara cemas.


“Kamu tau perusahaan penting tetapi tubuhmu juga penting kamu harus ingat itu Alex,” ucap Rena.

__ADS_1


“Emm … baiklah,” jawab Alex dengan lembut.


“Hah … lihat sekarang sudah larut kamu harus istirahat,” ucap Rena sambil menghela nafas.


“Eem … kamu juga,” jawab Alex.


Panggilan berakhir dan Alex bersandar di kursinya dengan relax memejamkan mata. Saat Albert masuk keruangan, dia melihat Alex tidur dikursinya. Memikirkan Alex sedikit istirahat, Albert kembali menutup pintu dan membiarkan Alex beristirahat.


Keesokan paginya di rumah Anderson. Reza bangun dan melihat istrinya Rani berada disebelahnya. Reza mencium pipi Rani dengan senyuman.


“Heeem … “ keluh Rani.


“Sudah bangun?” tanya Reza dengan senyuman.


Rani melihat Reza dalam mood yang sangat baik pagi ini dan penasaran apakah ada kabar baik tentang perusahaannya?


“Ada apa? Sepertinya kamu dalam mood yang baik?” tanya Rani sambil memeluk Reza.


“Eeem … aku akan memberitahumu nanti,” jawab Reza sambil mencium kening Rani.


Reza dan Rani kembali berpelukan menaljutkan tidur mereka.


Disisi lain Rena bangun pagi, melihat sekeliling kamar dan menyadari Alex belum pulang. Rena berdiri dan mencuci wajahnya lalu pergi kebawah untuk sarapan.


Dimeja makan sarapan telah dihidangkan. Rena melihat jam dan mulai memakan sarapannya. Rena berbipikir untuk mengantar makanan Alex tetapi Rena takut mengganggu disela-sela kesibukannya.


Di perusahaan Anderson Alex telah mennganti pakaian dan sedikit memakan sarapan untuk menambah energinya.


“Apa kamu telah mulai mencari informasi tentang perusahaan tersebut?” tanya Alex kepada Albert.


“Sudah tuan … beri waktu beberapa hari lagi untuk kelengkapan informasi,” jawab Albert.


“Baiklah,” ucap Alex.


“Ayo kita mulai pertemuan kita.”


Alex dan Albert memasuki ruang rapat dan melihat banyak karyawan berdiskusi. Saat semua karyawan melihat Alex, semuanya diam.


“Baiklah aku telah memberi kalian waktu jadi mari sekarang kita dengar ide kalian satu persatu,” ucap Alex serius.


Alex mendengar ide mereka satu persatu dan mereka semua menarik tetapi tidak ada yang membuat Alex sangat tertarik hingga ingin memakai ide tersebut. Alex menghela nafas dan melihat dokumen yang ada ditangannya.


“Apa hanya ini ide-ide yang kalian punya?” tanya Alex.


Alex menatap ketua team dan bertanya “apa kamu memiliki karyawan lain yang mempunyai ide lebih menarik?”

__ADS_1


“Ide kalian semua sangat bagus tetapi menurutku ini kurang untuk mejadi senjata kita melawan perusahaan lain,” ucap Alex.


Alex melirik karyawan yang ada didepannya, semua dari mereka tidak ada yang berani menatap Alex. Tetapi Ada seorang lelaki yang melihatnya dengan mata meyakinkan.


“Kamu,” panggil Alex.


Sontak semua karyawan melihat pandangan Alex pada karyawan itu. “Aku belum mendengar idemu … mengapa kamu tidak maju?” tanya Alex.


“Ah … Boss dia hanya karyawan-“


“Apa aku bertanya padamu?” potong Alex.


Ketua Team kaget dan segera diam.


“Kamu silahkan maju,” perintah Alex.


Karyawan tersebut ragu sebentar dan kemudian maju dengan gugup. Alex mengingat karyawan ini, dulu pada saat perekrutan melihat pemuda ini dan tertarik dengannya pada saat sesi wawancara. Pemuda ini memiliki ide yang cukup menarik sehingga Alex memasukkannya ke team ini dan setelah itu Alex jarang melihat pemuda ini karena dia tidak terlalu mencolok diantara karyawan lain.


Memakai kemeja kotak-kotak dan kacamata membuat karyawan ini seperti pria culun. Tetapi jika dilihat dengan seksama kalian bisa melihat tatapan semangat di bawah kacamatanya.


“Siapa namamu?” tanya Alex.


Karyawan tersebut memandang Alex dengan penuh semangat. “Namaku Liam Lee,” Jawab Liam dengan tegas. Selama ini Liam selalu diremehkan oleh karyawan lain karena penampilannya dan juga karena ide-idenya yang dianggap tidak masuk akal.


“Baiklah aku ingin mendengar idemu,” ucap Alex.


Liam Lee dengan serius mengeluarkan idenya yang telah dia curahkan kedalam bentuk gambar dan mulai menampilkannya melalui infocus. Liam Lee menjelaskan idenya dengan penuh semangat dan sangat percaya diri.


Alex melihat karakter yang digambar Liam Lee dan jalan cerita yang dibuat oleh Liam Lee, menurut Alex itu semua sangat langka dan menarik. Alex terus mendengarkan penjelasan Liam Lee dengan serius, sedangkan karyawan lain masih tercengang. Mereka tahu ide Liam Lee tetapi mereka tida tau akan menjadi sangat menakjubkan seperti ini.


Sampai dipenjelasan terakhir Liam Lee akhirnya menyelesaikan presentasinya. “Ini semua adalah ide yang saya buat dan saya rasa ide ini dapat menarik banyak peminat,” ucap Liam Lee dengan percaya diri.


Beberapa detik semua terdiam seperti melihat sesuatu yang menakjubkan dan setelah itu mereka semua mulai bertepuk tangan. Melihat reaksi semua orang Liam Lee merasa biasa saja tetapi saat dia melihat Alex bertepuk tangan hingga berdiri dari kursinya membuat dia merasa sangat bangga karena dia telah mengagumi Alex dari dulu hingga sekarang.


“Ini sangat menakjubkan, meskipun ada beberapa hal yang menurutku harus diperbaiki lagi tetapi tidak masalah … kita bisa membicarakannya bersama nanti,” ucap Alex sambil memegang pundak Liam dengan ekspresi kagum.


“Terimakasih banyak atas idemu … mari kita bekerjasama mulai sekarang,” ucap Alex.


“Baik pak,” teriak Liam Lee dengan senyuman yang sangat lebar.


Alex kembali kekantor dengan bahan ide dari Liam Lee, Alex terus mempelajarinya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan solusi dengan cepat berkat Liam Lee.


beberapa jam Alex mempelajari dan menyempurnakan ide Liam Lee hingga larut malam. Pada saat ini Alex berdiri dan tersenyum bahagia karena telah menemukan solusinya. Alex sangat bersemangat untuk mendiskusikannya dengan karyawan lain serta Liam Lee sendiri.


“Hahahaha … Lihat saja ini akan menjadi terobosan terbaru dalam industri ini,” ucap Alex dengan bahagia.

__ADS_1


Akhir dari Bab 42


__ADS_2