
Rena tidak langsung pulang kerumah melainkan dia pergi ketoko buku dimana dia biasa membeli buku dan membaca di café langganannya.
Rena membalik lembar buku novel dan membacanya sambil memakan camilan dam menyesap minuman yang telah dia pesan. Saat dengan seriu membaca, tiba-tiba Rena mendengar suara lonceng tanda ada yang memasuki café. Rena melirik sedikit dan melihat orang yang memasuki pintu Rena sangat kaget dan bersemangat.
“Hei bocah,” teriak Rena.
Anak lekaki itu kaget dan melihat Rena dengan penyesalan. Sial kenapa ada dia? Abaikan-abaikan.
“Hei hei … apa kamu mencoba untuk mengabaikanku?” tanya Rena dengan nada main-main.
“Hmm … aku dengar kamu masih sekolah … apakah aku perlu memberitahu pihak sekolah?” ucap Rena.
“Hah … kamu bahkan tidak tahu aku sekolah dimana,” ucap anak lelaki itu dengan sombong.
“Aku bisa memanggil polisi untuk mengetahuinya,” jawab Rena sambil memiringkan kepalanya menatap anak lekaki itu.
Anak lelaki itu tersentak dan menatap Rena. “Kamu- “
“Heii … aku tahu kamu disini … aku akan katakan epada kakakku kalau kamu bolos,” teriak seorang gadis yang mirip dengan anak lelaki itu.
“Ana …” teriak Rena bersemangat.
“Kakak … “ gadis itu pergi menghampiri Rena dan duduk bersama Rena.
“Ana apa yang kamu lakukan disini?” jawab Eno anak lelaki yang dari tadi menahan emosinya.
“Aku mengikutimu,” ucap Ana sambil menjulurkan lidah.
“Hah … ayo kembali,” ucap Eno sambil menarik pelan pergelangan tangan ana.
“Heeee… kita sudah sejauh ini … kenapa harus kembali,” ucap Ana.
“Hahahaha … lihat kamu memberi contoh yang tidak baik,” ejek Rena.
Eno sangat kesal dan menarik nafas dalam-dalam. “Ayo ana,” ucap Eno tajam.
Melihat Eno yang kesal ana menundukan kepalanya dengan kecewa dan mengikuti Eno.
“Kakak cantik … sampai jumpa lagi,” ucap Ana dengan suara lemah.
Rena hanya tersenyum melihat mereka dan melambaikan tangannya.
“Hah … mereka sangat imut,” ucap Rena sambil tersenyum.
“Aku rasa mereka mirip dengan seorang.” Rena memikirkan seseorang tetapi tidak dapat mengingatnya.
“Ah … sudahlah mungkin hanya pikiranku saja,” ucap Rena kembali membaca buku.
Di kediaman rumah Rena dan Alex.
“Hei apa menurut kalian kita akhir-akhir ini benar-benar kekurangan naskah?” ucap Ronald.
“Apa maksudmu? Lebih baik kamu pergi saja jangan ganggu pekerjaan dapur,” ucap kepala koki.
“Ntah lah aku merasa kita seperti pemain sampingan,” tambah Ronald.
Tiba-tiba sampah sayuran mengenai kepala Ronald. “Hei!” teriak Ronald.
“Apa kamu pikir ini Novel? Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh dan lakukan tugasmu,” ucap kepala koki.
“Hahahaha aku rasa kepala pelayan sudah terpengaruh oleh novel-novel yang nyonya baca,” ucap Soni sambil ketawa.
“Kepala pelayan berhentilah membaca novel, dikehidupan ini kita sendirilah pemeran utama dalam kehidupan kita, jangan menganggap dirimu sebagai pemeran sampingan,” ucap Dimas menggelengkan kepala.
“Itu benar … percaya dirilah,” ucap soni sambil memegang bahu Ronald.
Ronald melihat tangan soni dengan jijik dan memukul tangannya menjauh. “Auuu …” teriak Soni.
“Sudahlah … kalian benar-benar tidak bisa di ajak berhayal.” Ronald berdiri dan pergi meninggalkan dapur.
Kepala koki serta yang lainnya melihat Ronald pergi hanya bisa menggelengkan kepala.
“Pemeran utama? Hmm … aku harus benar-benar memikirkan ini,” ucap ronald sambil memegang dagunya.
“Baiklah aku sudah memutuskan,” ucap Ronald.
__ADS_1
“Tuuuut … Tuuuuut … “ Ronald menelpon Rena.
“Halo?” jawab Rena.
“Halo nyonya …” ucap Ronald.
“Apa ada sesuatu dirumah?” tanya Rena heran.
“Tidak nyonya … saya ingin izin sampe malam ini untuk libur,” ucap Ronald dengan yakin.
“Oh … apa akhirnya kamu keluar kandang?” tanya Rena.
“Apa? Aku selama ini juga sering keluar tapi itu semua untuk pekerjaan,” ucap Ronald sedikit kesal.
“Ya … ya baiklah aku akan memberimu izin,” jawab Rena sambil Tertawa.
“Terimakasih banyak nyonya,” ucap Ronald dengan sangat gembira.
“Oh iya aku akan menstransfer uang … belilah handphone baru,” ucap Rena.
“Aku tidak ada pulsa untuk menelponmu,” lanjutnya.
Ronald tersipu mendengar perkataan Rena. “Sebenarnya dulu aku memiliki Handphone modern, hanya saja terkena air dan aku malas menggantinya,” jawab Ronald sambil menggaruk kepalanya.
“Hah … terserah beli saja yang baru,” ucap Rena dan menutup telpon.
Ronald tersenyum dan pergi kekamarnya, didalam terdapat ruangan yang cukup luas untuk ukuran seorang pelayan. Ronald telah bekerja dengan Alex sudah bertahun-tahun dan dia tidak pernah berlibur karena berpikir itu sangat tidak penting. Tetapi sekarang dia menyadari bahwa itu semua penting dan juga dia harus mencari pasangan hidupnya.
Ronald telah bersiap-siap dan melihat penampilannya dicermin dengan puas. Soni yang sedang memindahkan barang melihat Ronald keluar dari kamarnya.
“Kepala pelayan?” panggil Soni dengan mata melotot.
Ronald melihat soni dan tersenyum sombong. “Kenapa? Apa aku terlalu tampan?” ucap Ronald bangga.
“Buahahahaha … apa-apaan baju bunga-bunga itu?” ucap Soni tertawa keras.
“Apa? Ini adalah baju pemberian ayahku dia bilang ini adalah baju yang disukai wanita,” ucap Ronald.
“Hahahahah … itu di zaman dulu, zaman sekarang wanita lebih suka dengan pakaian yang tanpa motif,” ucap Soni sambil berjalan menggelengkan kepalanya.
Dengan menyesal Ronald melepas bajunya. “maafkan aku ayah.”
Setelah beberapa saat memilih baju Ronald akhirnya memilih baju yang biasa saja dan pergi ke tempat yang ingin dia datangi.
“Aku harus membeli handphone baru,” ucap Ronald.
Setelah membeli handphone, Ronald pergi ke taman bermain. Melihat banyak sekali orang Ronald menjadi bingung mau bermain apa terlebih dahulu.
“Lebih baik aku bermain itu dulu.” Ronald berjalan dan mengantri untuk menaiki roller coaster.
“Sepertinya banyak yang menyukai wahana ini,” ucap Ronald sambil melirik antrian yang panjang.
Setelah beberapa saat antri akhirnya tiba waktunya Ronald menaiki roller coaster, Ronald sangat bersemangat pada awalnya hingga wahana tersebut berjalan.
“Huuuuuuaaaaa ….. huhuhuhuu hentikan hentikan!!” teriak Ronald.
“Aaaaaaaaaaaaaaa.”
Setelah beberapa saat Ronald akhirnya turun dan memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya.
“Huf huf … ini sepertiya sarapanku tadi pagi,” ucap Ronald dengan lemah sambil melihat dengan jijik muntahan itu.
“Tidak bisa … ini harus di blacklist … masukkan ke dalam daftar wahana yang tidak akan aku naiki lagi,” ucap Ronald sambil mencatatnya dibuku catatan kecil.
Ronald akhirnya pergi dari sana dan membeli minum serta makanan yang banyak dibeli oleh pasangan.
“Apa enaknya ini? Banyak sekali pasangan mengantri,” ucap Ronald dengan heran.
Saat Ronald ingin mencicipinya, Ronald mendengar suara seorang wanita menangis dan mencari sumber suara tersebut.
“Hei apa kamu tidak apa-apa?” tanya Ronald.
Wanita itu melihat Ronald dan menangis lebih keras. “ Huaaa … huhuhuh.”
“Ap- kenapa? Ada apa?” tanya Ronald dengan panik.
__ADS_1
“Ini ambil untukmu makanlah.” Ronald memberikan makanannya kepada wanita itu.
Wanita itu melihat Ronald dan melihat makanan itu, lalu dengan ragu mengambilnya. Perlahan wanita itu berhenti menangis dan melahap semua makanannya dengan satu suapan besar.
Ronald yang melihat wanita itu dengan lahap menghabiskan makanannya merasakan perasaan yang aneh. Tunggu apa ini? Jantungku berdebar. Ronald memegang dadanya dan melihat wanita itu dengan kekaguman. Apakah ini saatnya jalan cintaku dimulai?
“Ehm … kenapa kamu menangis?” tanya Ronald dengan gugup.
“Pa- Temanku meninggalkanku,” jawabnya dengan wajah kesal.
Waaahhh! Wajah kesalnya sangat imut.
“Apa kamu ingin bermain denganku?” tanya Ronald dengan senang hati.
Wanita itu ragu pada awalnya dan menganggukan kepalanya. Ronald sangat senang dan berjalan dengan wanita itu ke wahana yang dia inginkan.
Banyak sekali wahana yang mereka naiki, mereka bersenang-senang dan tertawa bersama hingga akhirnya matahari hampir tenggelam.
Ronald berjalan bersebelahan dengan wanita itu dan melihat wajahnya yang disinari dengan matahari senja membuat jantung Ronald berdebar.
“Em … itu …” ucap Ronald ragu-ragu.
“Iya?” tanya gadis itu.
“Grace!” panggil seorang pria.
Ronald dan gadis itu berbalik ke sumber suara.
“Grace maafkan aku … bisakah kamu memaafkan aku?”
“Aku mencarimu kemana-mana,” jawab pria itu dengan wajah sedih.
Grace mengalihkan pandangannya. Ronald yang merasakan kegelisahan Grace langsung maju kedepan Grace untuk melindunginya.
“Siapa kamu?” tanya Pria itu mengerutkan kening.
“Grace?” panggil pria itu.
“Ini lelaki random yang aku ambil,” ucap Grace tidak mau menatap mata pria itu.
Ronald yang mendengar ucapannya tiba-tiba membeku sesaat. Pria random?
“Grace bukankah kamu menginginkan boneka ini?”
“Aku telah mencobanya hingga matahari hampir tenggelam dan akhirnya aku mendapatkannya,” ucap pria itu.
Grace yang awalnya tidak menatap pria itu akhirnya menatapnya dengan tatapan haru.
“Pon~” panggil Grace dengan senyum bahagia.
“Grace~”
“Pon~”
“Grace~”
“Po-“
“Oke bisakah kalian hentikan ini sangat menggelikan,” ucap Ronald menutup mulut mereka beruda dengan tangannya.
“Grace maukah kamu menerima boneka ini,” ucap Pon.
Grace menganggukan kepalanya sambil mengambil boneka itu dan mereka saling berpelukan dibawah sinar matahari yang akan tenggelam, itu adalah pemandangan sangat indah dengan siluet pasangan berpelukan dan tidak lupa ada Ronald dibelakang mereka.
“Bukankah ini keterlaluan?” ucap Ronald.
Pasangan itu berjalan saling tatap dan bergandengan tangan mengabaikan Ronald.
Ronald yang melihat pasangan itu pergi merasa seperti ada yang membebaninya. “Heiii bukankah kalian harus membayarku?!” teriak Ronald.
“Hah sial sekali, aku rasa jantungku berdebar pada awalnya bukan karena cinta tetapi karena aku kaget ada wanita yang makan dengan sangat berantakan,” ucap Ronald, jiwa kepala pelayannya mulai terlihat.
Ronald berjalan di bawah sinar senja dan memasukkan tangannya kedalam saku.
“Sepertinya peran utama masih jauh untukku,” ucap Ronald sambil menyisir rambutnya dengan jari.
__ADS_1
Akhir dari Bab 48