
Alex dan Rena telah tiba dirumah dan mereka berdua berbaring bersama melihat hasil foto.
“Ini sangat bagus.”
“Aku akan mengirimkan semua foto padamu,” ucap Rena semangat.
“Ayo jadikan walpaper Hp kita,” lanjut Rena.
“Baiklah,” jawab Alex sambil memilih foto.
“Hehe … bagus sekali,” ucap Rena dengan senyum kecil.
“Ini hasil foto dari photobox kita taruh didompet masing-masing.”
“Aku akan memberikanmu ini agar kamu selalu ingat padaku,” ucap Rena memberi foto pada saat Rena mencium Alex.
Alex melihat foto tersebut dan tersenyum sangat lembut.
“Besok aku akan mengikuti audisi … apa menurutmu aku bisa lolos?” tanya Rena tidak percaya diri.
“Tentu saja … kamu sudah bekerja keras,” jawab Alex.
“Tapi semua orang juga bekerja keras,” ucap Rena mengerutkan bibir.
“Apa perlu bantuanku?” tanya Alex.
“Tidak! Jangan,” teriak Rena.
“Aku ingin berhasil dengan usahaku sendiri.”
“dan jangan sampa orang tahu kalau kita suami istri,” lanjut Rena.
Alex mengerutkan kening “Kenapa?”
“Em … saat audisi saja … setelahnya biarkan rekan yang lain tahu,” ucap Rena.
Alex menghela nafas. “Baiklah,” jawab Alex sambil mencium kening Rena.
“Sekarang tidurlah,” lanjut Alex.
“Tapi masih jam 9 malam,” ucap Rena sedih.
“Besok kamu harus menghadiri audisi … tidurlah,” ucap Alex sambil menyelimuti Rena.
Rena Akhirnya pun tidur dengan sedih.
Keesokan paginya.
“Aleeexx … “ teriak Rena.
“Ada apa?” teriak Alex.
“Kenapa kamu tidak membangunkanku?” tanya Rena.
“Aku sudah membangunkanmu … tetapi kamu masih tidak mau bangun,” jawab Alex.
“Gawat aku terlambat,” ucap Rena buru-buru.
“Tenanglah,” ucap Alex.
“Bagaimana bisa tenang? Sekarang sudah jam 9 pagi … huhuhu,” jawab Rena.
Alex melihat jam didinding dan jam yang ada ditangannya.
“Em … Rena,” panggil Alex.
“Bisakah kamu tidak menggangguku dulu?” tanya Rena sambil mencari pakaiannya.
“Tapi itu-“
“Sial … dimana bajuku yang bermotif?” ucap Rena kesal.
“Rena … “ panggil Alex lagi.
“Apa?!” teriak Rena.
“Sekarang masih jam 7 pagi … jam yang didinding aku rasa baterainya habis,” jawab Alex.
Rena melihat jam didinding dan melihat jam yang ada di Hpnya. Setelah tahu kalau jam itu rusak Rena terdiam.
“Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi?” tanya Rena kepada Alex.
“Aku sudah berusaha untuk memberitahumu,” jawab Alex.
“Hah … sudahlah … aku kira aku terlambat,” ucap Rena berbaring di kasur.
“Apa kamu tidak pergi ke kantor?” tanya Rena.
__ADS_1
“Aku akan mngantarmu ke lokasi dulu,” jawab Alex.
“Benarkah? Kalau begitu aku akan bersiap-siap dulu.” Rena berdiri dan mulai bersiap-siap.
Alex diam melihat Rena dan tersenyum. Alex mengambil foto yang diambil kemarin dan meletakkannya di dompetnya.
Dimeja makan Alex da Rena sarapan sambil berbicara dan tertawa bersama. Melihat ini Ronald yang ada dibelakang mereka merasa bahwa rumah menjadi sangat damai.
“Ayo kita berangkat Alex,” ajak Rena.
Alex berdiri dan berjalan bersama Rena menuju mobil. Mobil yang dipakai adalah mobil biasa agar tidak terlalu mencolok.
Ronald mengantar tuannya sampai kedepan pintu dan membukkuk kepada Rena dan Alex.
“Ronald … lihat saja aku akan menjadi artis terkenal dan akan memberi tanda tanganku padamu,” teriak Rena di jendela dan memberikan jempol kepada ronald dengan percaya diri.
“Haha … iya nyonya,” jawab Ronald tidak percaya dengan tawa canggung.
“Hei kamu tidak percaya padaku?” teriak Rena kesal.
“Rena tutup jendelanya kita akan berangkat,” ucap Alex.
Mobilpun melaju sebelum Rena selesai bicara.
“Lihat saja nanti Ronald,” teriak Rena.
Ronald hanya melambaikan tangan dengan senyum diwajahnya.
Sesampainya di lokasi.
“Terimakasih Alex.” Sebelum Rena keluar dari mobil, Rena mencium Alex.
“Em … kamu pasti bisa,” jawab Alex dengan senyum tipis dimatanya.
Rena keluar dari mobil dan pergi mencari Andrew.
“Rena … sebelah sini,“ teriak Andrew.
Rena berjalan menuju Andrew dan mereka berdua berjalan menuju lokasi audisi. Rena duduk dan melihat sekeliling banyak sekali yang mengikuti audisi.
“B-bagaimana ini … banyak sekali yang mengikuti,” jawab gadis disebelah Rena.
Rena melihat kesamping dan melihat gadis itu gemetar.
“Hei … tenanglah,” ucap Rena.
“Waaah … kakak sangat cantik sekali,” ucap gadis itu terpesona.
“A-apa kamu akan mengambil pemeran utama wanita?” tanya gadis itu.
“Tidak,” jawab Rena tenang.
“Kakak terlihat tenang sekali,” ucap gadis itu.
“Yah … karena tidak ada gunanya untuk gugup … jika kamu gugup kamu hanya akan mengacaukan segalanya,” jawab Rena sambil membaca dialog.
“Wajar saja kalau kita mengalami hal itu tetapi kita harus melawannya dan berjalan dengan percaya diri,” lanjut Rena.
Rena melihat gadis itu dan memegang bahu gadis itu. “Yang perlu kamu lakukan agar tenang adalah menari nafas dalam-dalam dan membuangnya melalui mulut.”
Gadis itu mengikuti Rena. “Baiklah … selanjutnya percayakan semuanya pada dirimu sendiri,” ucap Rena kembali membaca dialog.
Gadis itu melihat Rena dengan sangat kagum.
“Kakak … kamu sangat keren,” ucap gadis itu.
“Perkenalkan … namaku adalah Vita,” ucap gadis itu.
“Namaku adalah Rena,” jawab Rena sambil menjabat tangan Vita.
“Nama yang sangat bagus … kalau begitu kita sekarang adlah teman,” ucap Vita.
“Ha? Bagaim-“
“Ini aku memberikan permen ini padamu,” ucap Vita sambil memberikan permen.
Rena melihat permen yang ada di tangannya dan menghela nafas. “Hah … baiklah” ucap Rena tersenyum tidak berdaya.
Vita tersenyum sangat bahagia dan menghapal dialog lagi.
“Vita Green,” teriak seorang panitia.
Vita berdiri dan melihat ke arah Rena dengan cemas.
“Kamu pasti bisa,” ucap Rena sambil mengangkat tangannya.
Vita memasuki ruang audisi dan menarik nafas dalam-dalam. Setelah beberapa menit Vita keluar dari ruang audisi dengan penuh senyum.
__ADS_1
“Kakak … aku tidak tahu akan lolos atau tidak … tetapi aku sudah melakukan yang terbaik,” ucap Vita dengan semangat.
“Baguslah kalau begitu,” jawab Rena tersenyum.
“Kakak juga pasti bisa,” ucap Vita.
“Yah … terimakasih,” jawab Rena.
“Kakak ayo kita saling memberi nomor kontak kita.” Vita mengeluarkan Hpnya siap untuk bertukar kontak.
Rena memberi kontaknya dan mereka akhirnya berpamitan.
“Rena Martinez,” panggil seorang panitia.
Rena berdiri dan menarik nafas dalam-dalam.
Saat Rena memasuki audisi beberapa juri dan produser sangat terpesona.
“Perkenalkan … namaku Rena Martinez.”
“Aku disini ingin mengikuti audisi sebagai pemeran antagonis,” ucap Rena dengan sopan.
Semua yang berada diruangan kaget.
“Apa kamu tidak menginginkan pemeran utama wanita?” tanya produser.
“Mengapa kamu menginginkan peran Antagonis?” tanya Sutradara dengan serius.
Rena melirik sutradara. “Karena aku telah membaca novelnya dan lebih tertarik dengan pemeran antagonis daripada pemeran utama wanita yang tiba-tiba saja datang dikehidupan mereka,” jawab Rena dengan tegas.
“Hm … baiklah.”
“Sekarang mulailah,” ucap Sutrada.
Ruanganpun menjadi gelap dan hanya menyisakan cahaya pada Rena. Properti hanya menggunakan infocus sebagai latar tempat.
Rena melihat ke depan dengan tersenyum lembut.
“Tuan apa kamu sudah kembali,” ucap Rena dengan senyum bahagia.
Saat melihat seseorang keluar dari kegelapan senyum Rena tiba-tiba menjadi kaku.
“S-siapa?” tanya Rena dengan mata kaget.
Rena melirik seseorang dengan bingung dan merasakan adanya ancaman.
“Penyelamatmu?” tanya Rena dengan terkejut.
Rena melihat ke orang itu lagi. “Baiklah … aku akan merawatnya,” jawabnya dengan menundukkan kepala.
Scene berubah menjadi taman.
Rena berjalan ditaman dengan para pelayan ketika Rena hendak melangkah lagi, Rena melihat suami dan wanita itu berjalan berdua sambil berbicara dan tertawa bersama. Ini pertama kalinya Rena melihat suaminya tertawa begitu bahagia. Saat Rena ingin menghampirinya Rena melihat wanita itu mencium pipi suaminya.
Rena menundukkan kepalanya melihat adegan ini dan mengepalkan tangannya dengan erat. “Ayo kita kembali,” ucap Rena.
Scene berubah menjadi disebuah ruangan. Rena mengetahui tidak tahu pasti disini adegan apa. Rena hanya mencoba mengingat adegan yang ada di novel.
Plakk
Suara tamparan sangat keras terdengar.
“Beraninya kamu mendekati suamiku?” tanya Rena dengan dingin.
“Maaf?”
“Jika kamu masih melakukan hal itu maka kamu akan mendapatkan perlakuan lebih buruk dari ini,” ucap Rena dengan wajah yang mengerikan dan meremehkan.
“Cut,” ucap Sutradara.
“Bagus sekali … kamu cepat tanggap dan cepat berpikir,” ucap Sutradara dnegan bangga.
“Terimakasih,” jawab Rena dengan senyuman.
“Baiklah … tunggu kabar baik selanjutnya,” ucap Sutradara.
Rena membumgkukkan badan dan pamit pergi.
“Huff … aku sangat gugup,” ucap Rena sambil memegang dadanya.
“Baguslah berjalan dengan lancar,” lanjut Rena dengan senyum bahagia.
Saat Rena akan pergi ada suara sangat berisik dari luar. Rena melihatnya dan ternyata adalah wanita itu.
“Fany … “ bisik Rena.
Akhir dari Bab 27
__ADS_1