
Rena yang melihat namanya sangat terkejut dan memikirkan hal yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. saat Rena hendak melihat lebih dekat, Rena terbangun dari tidurnya.
Rena membuka matanya dan duduk di kasurnya sambil memegang kepalanya. “Apa itu tadi?”
Rena melihat jam dan sudah waktunya untuk bersiap-siap pergi kerumah keluarga Martinez. Rena memilih baju yang sederhana namun tidak menghilangkan kecantikannya dan keanggunannya. Semua barang Rena bermerek walaupun itu terlihat sederhana.
Rena melihat kaca dan memakai sedikit make up di wajahnya. “Hmm … ini terlihat sangat baik,” ucap Rena bangga.
“Ah iya … aku lupa memberitahu Alex.” Rena mengambil handphonenya dan memanggil Alex.
“Halo Alex …” panggil Rena.
“Alex?” Rena melihat layar handphonenya.
“Ah … ternyata belum di angkat … aku kira sudah,” ucap Rena malu sendiri.
Di kantor Alex yang baru saja dari kamar mandi melihat panggilan telpon dan segera mengangkatnya.
“Halo Rena …” ucap Alex.
“Alex … kamu sedang apa?” tanya Rena.
“Aku tadi dari kamar mandi,” jawab Alex acuh tak acuh.
“Ah … apa itu panggilan alam? Apa besar?” tanya Rena main-main.
“A-apa? Aku hanya mencuci tangan,” jawab Alex tergesa-gesa.
“Hahahaha … aku bercanda,” tawa Rena.
Alex menghela nafas dan bertanya, “Ada apa menelpon?”
“Aku hari ini makan malam dirumah keluargaku,” ucap Rena.
“Baiklah aku akan segera pulang,” jawab Alex sambil mengambil jasnya.
“Tidak!” teriak Rena.
“Kenapa?” tanya Alex bingung.
“Hah … kamu tahu ayah pasti akan menargetkanmu,” jawab Rena menghela nafas.
Alex tertawa kecil. “Apa menurutmu aku lemah?” tanya Alex.
“Tentu saja tidak,” jawab Rena.
“Hanya saja itu merepotkan,” lanjut Rena.
Alex diam sesaat. “Baiklah … kamu harus hati-hati … jangan berkendara sendiri dan segera kabari aku kalau sudah sampai,” perintah Alex.
“Hei … aku tahu itu,” Rena menjawab dengan sedikit marah yang manja dan melihat jam sudah waktunya untuk pergi.
“Alex aku harus pergi sekarang … kamu jangan memaksakan tubuhmu … aku tutup dulu, aku mencintaimu suamiku.” Rena menutup telpon dan segera pergi.
Alex yang berada di sebrang telpon hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil. “Setidaknya biarkan aku membalas perkataanmu … aku mencitaimu juga istriku,” ucap Alex.
Rena turun kebawah dan memanggil Ronald dengan semangat. “Ronald …” teriak Rena sambil menuruni tangga.
__ADS_1
Ronald yang dipanggil segera muncul. “Apakah mobil sudah siap?” tanya Rena.
“Susah nyonya … anda tinggal menaikinya,” jawab Ronald.
“Baiklah terimakasih.” Rena segera pergi memasuki mobil.
Saat Rena berada diperjalanan, Rena masih memikirkan mimpinya. Apakah itu benar? Apakah nama dikalung itu adalah namanya sendiri? Rena masih memikirkan kalung indah yang dibuat oleh ayah Albert, itu sangat indah.
Beberapa saat Rena termenung, handphone Rena berdering. “Halo?”
“Rena apa kamu sudah dijalan?” tanya seorang wanita di sebrang telpon.
“Iya aku sedang dalam perjalanan,” jawab Rena.
“Ah … ibu minta maaf, bisakah nanti kamu menunggu?” tanya nyonya Martinez.
“Ternyata Rani ada undangan penting, ibu dan ayah serta kakakmu harus mengikuti Rani karena satu keluarga harus hadir,” lanjutnnya.
Rena terdiam sesaat. “Kita tetap makan dirumah … kamu tunggu saja,” ucapnya lagi.
Rena membuka mulutnya dan berbicara, “Apa aku bukan keluarga?” tanya Rena tanpa sadar.
Sang ibu kaget dengan ucapan Rena yang tiba-tiba. “Apa?” tanyanya.
“Apa yang kamu bicarakan Rena? Tentu saja kita keluarga,” jawab Ibu Rena dengan tergesa-gesa.
“Tidak … lupakan yang aku katakan tadi.” Rena menutup telpon dan menundukkan kepalanya. Bohong jika dia tidak menginginkan sebuah keluarga, meskipun Rena tahu bahwa keluarganya tidak tulus dengannya ntah kenapa Rena masih berharap kasih sayang orang tua.
Rena menghela nafas dan kembali melihat luar jendela.
Disisi lain ibu Rena yang merasa bersalah di panggil oleh suaminya. “Apa yang kamu lakukan … semua sudah menunggu,” panggil tuan martinez.
“Apa? Apa kamu mau anak itu membuat masalah?” jawab tuan Martinez tidak percaya.
“Tapi-“
“Sudahlah … kita nanti akan makan bersama, ayo kita masuk.”
“Baiklah … “ ucap Ibu Rena dengan sedikit rasa bersalah.
Saat ibu dan ayah martinez masuk kedalam ruangan, Rani berlari dan menggandeng tangan ibunya.
“Ibu kita akan makan malam di restoran,” sambil menunjuk kearah orang yang ada di dalam ruangan Rani membawa ibunya.
“Ini tuan Venzo … dia akan mentraktir kita direstorannnya sebagai tanda terimakasih,” ucap Rani dengan bangga.
Nyonya Martinez tersenyum dan menyapa tuan Venzo. Melihat keluarga besar mereka telah duduk, Nyonya Martinez juga ikut duduk dan berbicara dengan keluarga tuan Venzo. Awalnya Rani dan Reza hanya menawarkan bantuan kepada keluarga Venzo yang sedang berada diambang kebangkrutan, tetapi tidak disangka bahwa itu sangat membantu keluarga Venzo hingga sangat sukses.
Rani melihat keluarga Venzo dengan senyuman. Awalnya Rani melupakan hal ini tetapi saat dia melihat nama keluarga ini dalam sebuah proposal untuk meminta investor, Rani ingat bahwa keluarga ini akan menjadi sangat sukses kedepannya dan menjadi salah satu tiran di negara ini. Untung saja dia masih mengingat beberapa nama keluarga yang ada didalam novel yang dia baca.
Pada saat semua orang larut dalam pikirannya masing-masing pelayan yang mengantar makanan datang dan menaruh semua hidangan yang dibawa keatas meja makan.
“Ini adalah hidangan terbaik yang ada direstoran kami … aku harap hidangan ini cocok dengan keluarga anda,” ucap Tuan Venzo sambil tersenyum dengan bangga.
“Hidangan ini pasti sangat cocok dengan lidah kami, karena restoran Tuan Venzo sudah sangat dikenal masyarakat kalangan atas dan itu pasti sudah terjamin rasanya,” jawab Reza dengan senyuman sopan.
“Hahahaha … anak muda ini sangat sopan sekali … bagaimanapun perusahaan kami sangat berterimakasih kepadamu.”
__ADS_1
Tuan Venzo menundukkan kepalanya dengan senyuman pahit. “Jika bukan karena Tuan Reza, aku tidak tahu akan bagaimana nasib usahaku.”
“Tidak … ini semua karena ide cemerlang Tuan Venzo sendiri,” ucap Reza tulus.
Memikirkan ide yang dibuat Tuan Venzo, dia awalnya meragukannya dan kemudian Rani memaksanya untuk berinvestasi untuk keluarga ini. Sedikit enggan tetapi dia mencoba untuk menuruti istrinya, tidak disangka ini benar-benar berhasil.
Reza menyesap minumannya dan melihat Rani dengan tatapan kasih sayang. Dia sangat berterimakasih kepada Rani karena berkat dukungannya selama ini dia bisa sampai ketahap ini.
Nyonya Martinez sangat bahagia melihat anak dan menantunya tersenyum bahagia. Namun, saat dia akan mengambil minuman, Nyonya Martinez mengingat Rena. Berencana untuk pergi dan menelpon Rena.
“Mau kemana?” tanya Tuan Martinez sambil memegang tangan Nyonya Martinez.
“Ini … aku ingin mengabari Rena,” jawab Nyonya Martinez dengan enggan.
“Sudahlah … Rena juga nanti akan mengerti dengan situasi saat ini … dia bukan anak kecil lagi,” ucap Tuan Martinez.
Nyonya Martinez tidak bisa membantah dan duduk kembali dengan enggan, mencoba untuk menenangkan diri dari rasa bersalah terhadap Rena.
Rani melihat ekspresi ibunya dan mulai mengalihkan perhatian ibunya dengan bertingkah imut dan manja agar ibunya tidak memikirkan Rena lagi. siapa dia? Hanya seorang penjahat yang tidak penting didalam buku, lebih baik mengabaikannya saja dan biarkan dia sendirian.
Di sisi lain, Kediaman keluarga Martinez.
Rena duduk diatas meja dengan berbagai macam makanan yang ada didepannya. Melihat jam yang ada didinding Rena terus menunggu keluarga martinez. Beberapa jam telah berlalalu saat Rena menunggu.
“Siaaal … “
“Kemana perginya mereka? Bukankah sudah berjanji untuk makan malam bersama?”
“Apa mereka makan diluar?” teriak Rena kesal.
Rena telah menghubungi emua keluarga Martinez tetapi tidak ada satupun dari mereka yang mengangat telpon.
“Sial benar-benar menyebalkan,” umpat Rena.
Akhirnya Rena mulai memakan hidangan ini sendiri dan memakan hampir setengah hidangan yang ada diatas meja.
“Hah … aku sangat lapar karena emosi.”
Melihat piring yang kosong dimeja makan, Rena memanggil pelayan dan menyuruh mereka untuk membersihkannya.
Rena naik keatas hendak pergi kekamarnya. Sebelum sampai kepintu kamar, Rena melihat kamar kedua orang tuanya. Penasaran akhirnya Rena berjalan menuju kamar orang tuanya.
Memegang gagang pintu kamar orang tuanya dan mencoba membuka pintu. Ternyata pintu itu tidak dikunci, Rena menahan nafas dan memasuki kamar tersebut.
Kamar yang dimasuki sangat persis dengan mimpi yang pernah dia lihat sebelumnya. disisi kamar dekat jendela juga terdapat foto sebuah keluarga dan anak kecil yang sangat mirip dengan Rani tertawa riang. Rena masih penasaran bagaimana bisa ini terjadi? Semua ini tidak tertulis didalam novel.
Mengambil foto tersebut dan menatapnya dengan tatapan kosong. Setelah beberapa saat Rena menaruh kembali bingkai foto tersebut seperti semula. Namun saat Rena hendak menegakkan sandaran foto tersebut, tiba-tiba bagian belakang foto terlepas dan sebuah benda keluar.
Rena terkejut dan mengambil benda tersebut. Saat melihatnya Rena sangat tidak menyangka dan melihat benda itu dengan seksama.
“Ini-“
“Bukankan ini kalung itu?!” ucap Rena melihat kalung itu dengan tidak percaya.
Rena membongkar bingkai foto tersebut dan terdapat sebuah foto dibelakangnya. Seorang anak bayi dirumah sakit dan seorang wanita yang menggendong bayi, disebelahnya ada seorang wanita berdiri sambil memegang bahu wanita yang menggendong bayi tersebut.
Rena menatap foto itu dengan tatapan tidak percaya dan nafasnya tertahan sementara.
__ADS_1
Akhir dari Bab 46