Menikah Dengan Penjahat

Menikah Dengan Penjahat
Bab 41 Rencana


__ADS_3

Rena berbaring di kamar dan melihat langit-langit, berpikir apakah perusahaan Alex baik-baik saja? Didalam novel perusahaan Alex jatuh karena Rena di dalam novel mencuri rahasia perusahaan Alex. Itu adalah ide yang sangat penting bagi perusahaan yang akan membuat perusahaan Anderson lebih maju dan untung.


Rena memiringkan badan kesamping. “Hah … aku tidak mencuri rahasia perusahaan Alex seperti didalam novel … apa baik-baik saja?” Rena memejamkan mata tertidur.


Di perusahaan Anderson, Alex sedang sibuk melihat dokumen dan peluncuran produk perusahaan lain. Produk yang dikeluarkan adalah game yang sangat berbeda dari perusahaan lain. Game ini diprediksi tidak hanya membuat pemain bermain dengan sia-sia tetapi juga bisa sebagai investasi, karena jika berhasil maka game ini benar-benar dapat menjual barang dengan harga jutaan.


Game ini tidak di pasarkan untuk rakyat biasa tetapi pasar yang dincar adalah para pemain seperti youtuber atau atlet game online yaitu esport. Grafik dan pertarungan digame ini telah dibuat sedemikian rupa dan akan di presentasikan bulan depan.


Alex melihat iklan yang dipasang oleh perusahaan lain. Meskipun karakter game berbeda tetapi cara kerjanya sama dengan ide mereka.


Alex membanting kertas dengan kesal. “Kenapa game ini sama persis dengan ide kita?” teriak Alex.


“Apa yang kalian lakukan? Apa ada yang membocorkan nya?” teriak Alex lagi.


Semua diam menundukan kepala. Ide game ini adalah pemikiran Alex sendiri, dengan bantuan karyawan lain ide tersebut menjadi sempurna. Oleh karena itu Alex sangat bersemangat dalam projek ini.


“Sial!” Alex membanting barang yang ada di mejanya dengan sangat keras.


“Tok … tok … “ suara ketukan pintu terdengar.


“Permisi boss … ada tamu yang ingin bertemu dengan anda,” ucap karyawan tersebut.


Alex mendengarnya dan menundukkan kepala lalu menarik Rambutnya. “Hah …” Alex pergi keluar untuk melihat tamu yang datang.


Rena tertidur saat memikirkan tentang perusahaan Alex, lalu terbangun melihat jam telah menunjukkan pukul 4 sore. Rena meregangkan badannya dan melihat handphone, ada pesan dari Alex kalau dia akan lembur dan pulang terlambat.


Rena berjalan kekamar mandi mencuci muka dan turun kebawah duduk di ruang keluarga. “Aku harap tidak ada masalah besar,” ucap Rena sambil melihat taman yang berada disebelah ruang keluarga.


Mengambil handphone, Rena mencari nomor telpon kepala pelayan yang menjaga kakek. “Halo nyonya …” panggil kepala pelayan.


“Bagaimana kabar kakek?” tanya Rena.


“Tuan besar telah membaik dan juga telah sadar,” jawab kepala pelayan dengan tenang.


“Benarkah? Sekarang kakek sedang melakukan apa?” tanya Rena.


“Rena …” terdengar suara pria paruh baya.


“Kakek … bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Rena dengan nada khawatir.


“Sudah membaik … jangan khawatir,” ucap Kakek menenangkan.


Rena ragu sejenak dan mulai berbicara, “Kakek … menurutku sebaiknya kita memberitahu Alex tentang ini,” ucap Rena dengan nada rendah.


“Tidak!” teriak kakek.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Rena.


“Karena ini demi keselamatanmu … biarkan Ren na menjadi kambing hitam untukmu,” jawab kakek.


“Tapi kakek … Ren na telah membantu merawatmu selama ini.” Rena memikirkannya, meskipun Ren na tidak baik untuk sekarang tetapi dia telah merawat kakek hingga sekarang. Mungkin bisa dimaafkan jika dia pergi dengan tenang tanpa melukai kakek.


Di sebrang telpon kakek menarik nafas dan menundukkan kepala dengan tatapan sedih. “Kakek tahu … kakek seebenarnya agak keterlaluan padanya … tetapi dia tidak sepenuhnya baik.”


“Meskipun begitu kakek tetap menjaganya dan juga kakek mengetahui niat buruknya terhadap kakek,” ucap Kakek.


“Tunggu!” teriak Rena.


“Kakek tahu?”


“Apa yang kakek ketahui?” tanya Rena.


“Rena dengarkan,” ucap Kakek.


“Apa kakek tahu kalau Ren na memasukkan racun kedalam makananmu kakek?” tanya Rena dengan nada tidak percaya.


“Rena dengar-“


“Kakek!” potong Rena.


Kakek terdiam sesaat, Rena yang sangat tidak menyangka berdiri dan berjalan kekanan dan kekiri. “Hah … kakek dengar, aku tahu kakek ingin menyelamatkanku … tetapi aku tidak menyetujui cara kakek,” ucap Rena dengan nada ingin menangis.


“Bagaimana mungkin!” ucap Kakek.


“Aku harap kakek tidak melakukan hal ini lagi,” ucap Rena dengan nada memohon.


Kakek terdiam sejenak dan memikirkannya. “Baiklah,” ucap Kakek.


“Kakek kamu sudah berjanji kepadaku jadi jangan mengingkarinya,” ucap Rena bahagia.


Kakek tersenyum dan menghela nafas, “ Yah … Kakek tidak akan mengingkarinya.”


“Bagus … untuk sekarang jangan lagi makan makanan yang dibawa oleh Ren na kepadamu,” ucap Rena dengan tegas.


“Baiklah kakek akan mendengarkan cucu menantu,” ucap Kakek.


“Baiklah kakek sekarang istirahat dulu dan tolong berikan handphone kepada kepala pelayan,” ucap Rena.


“Halo nyonya muda,” ucap Kepala pelayan.


“Kamu dengar … jangan biarkan Ren na sering berkunjung dan memberi kakek makanan,” ucap Rena tegas.

__ADS_1


“Baiklah nyonya muda,” ucap kepala pelayan.


“Baik … tolong jaga kakek dengan baik.” Rena menutup telpon dan duduk di sofa dengan menghela nafas lega.


“Aku harap kakek baik-baik saja, tidak berakhir seperti yang dikatakan didalam novel,” ucap Rena dengan nada khawatir.


Disisi lain Ren na berada di sebuah restoran sedang bertemu seseorang. Melirik kanan kiri sosok yang ditunggu belum juga terlihat.


“Hah … apa dia akan datang?” ucap Ren na sambil melihat menu.


“Maaf apa kamu telah menunggu lama?” tanya seorang wanita.


“nyonya kamu datang,” ucap Ren na dengan nada hormat.


Ren na telah membuat janji dengan nyonya Anderson yaitu ibu tiri Alex. Meskipun dia tidak menyukai wanita ini , tetapi dia harus mengiutinya untuk bertahan hidup.


“Baiklah …” mereka mulai memesan makanan dan minuman.


Setelah memesan mereka mulai pembicaraan mereka. “Bagaimana keadaan kakek?” tanya nyonya Anderson.


“Kakek dalam keadaan kritis terakhir kali aku lihat,” jawab Ren na dengan rasa sedikit bersalah.


Nyonya Anderson menangkap ekspresi Ren na. “Hilangkan semua rasa bersalahmu … kamu juga harus bertahan hidup.”


“Kamu tahu tanpa kita sadari sebenarnya manusia sama saja seperti hewan … yang terkuat mengalahkan yang lemah,” ucap Nyonya Anderson sambil menyesap teh yang telah disiapkan.


“Dalam hidup ini kamu hanya memiliki dua pilihan … menjadi kuat atau lemah.”


“Jangan salahkan orang lain jika kamu lemah dan juga jangan iri dengan orang yang lebih kuat darimu, jadikan saja itu sebagai motivasi.”


“Semua adalah pilihanmu … apa kamu akan menjadi lemah seterusnya?”


“Jika kamu lemah gunakan otakmu bagaimana cara mengalahkan orang yang lebih kuat darimu,” ucap Nyonya Anderson.


“Aku tahu kamu membenci kakek dan juga Alex karena mereka telah menolakmu,” ucap Nyonya Anderson menatap Ren na.


Mendengar ini Ren na mengepalkan tangannya yang berada dibwah meja.


“Bohong kalau aku mengatakan aku masih menyukai mereka,” ucap Ren na dengan nada sedih. Tetapi dia masih mengharapkan Alex.


Nyonya Anderson tersenyum dan kembali menyesap tehnya. “Maka dari itu pilihanmu sekarang tepat … karena aku juga tidak menyukai mereka berdua,” Nyonya Anderson menggenggam erat gelas yang ada ditangannya dan menarik nafas untuk menenangkan dirinya.


“Sayang … apa kamu sudah tiba dari tadi?” terdengar suara pria memanggil Nyonya Anderson.


Nyonya Anderson melihat kebelakang dan tersenyum lembut berbeda dengan image yang dia tunjukkan tadi. “tidak aku baru saja berada disini,” ucap Nyonya Anderson.

__ADS_1


Pria yang menghampiri Nyonya Anderson adalah Tuan Anderson, Ayah Alex dan juga Reza.


Akhir dari Bab 41


__ADS_2