Menikah Dengan Penjahat

Menikah Dengan Penjahat
Bab 39 Kecantikan


__ADS_3

Rena dan Andrew menuju lokasi pemotretan tepat waktu.


“Ayo kita masuk,” ucap Andrew bersemangat.


“Tunggu,” tahan Rena.


“Ada apa?” tanya Andrew bingung.


Rena merapikan pakaiannya dan melihat cermin. “Apakah penampilanku sudah bagus?” tanya Rena.


“Sudah,” ucap Andrew.


“Baiklah ayo masuk.” Andrew mendorong pintu dan melihat banyak orang telah bersiap-siap untuk pemotretan.


“Hei … hei … apa yang kalian lakukan? Jangan taruh lampu itu disana, taruh di sini.” Sutradara sibuk mempersiapkan semua perlengkapan untuk pemotretan.


Melihat semua telah siap, sutradara merasa aman dan bersemangat untuk memulai pemotretan. Tetapi dia baru ingat bahwa satu orang akan datang terlambat. Merasa sangat bersalah sutradara menghela nafas.


“Waaaah … Fany lebih terlihat cantik sekali ketika dilihat dari dekat.” Sutradara mendengar teriakan itu dan melihat Fany dengan tatapan tidak senang.


“Hei kalian! Mulailah bekerja,” teriak sutradara.


“B-baik.”


“Sutradara aku apakah semua sudah siap? Bagaimana dengan pakaianku? Apakah cocok?” tanya Fany dengan senyum indah.


“Ya … selesaikan makeupmu agar kita semua segera memulai pemotretan,” ucap sutradara sambil memegang alisnya.


“Baiklah,” ucap Fany.


“Tetapi aku tidak melihat Rena … bukankah dia datang kemari?” tanya Fany dengan wajah polos.


Sutradara menatap Fany dengan tajam. “Oh iya aku belum melihatnya,” ucap pegawai wanita.


“Ini pekerjaan pertamanya … bagaimana mungkin dia bisa terlambat.”


“Benar sekali ini menghambat pekerjaan kita semua.”


“Lebih baik kita mulai saja tinggalkan saja dia.”


Fany tersenyum mendengar semua perkataan orang-orang. “Tetapi jika seperti ini maka dia akan susah berada di industri hiburan … lebih baik kita menunggunya saja,” ucap Fany dengan nada khawatir.


“Fany memang terlalu baik … kamu harus lebih tegas lagi,” ucap seorang pegawai wanita.


“Tidak aku hany-“ sebelum Fany selesai berbicara, Rena berteriak menghampiri mereka semua.


“Maaf semua apakah kalian sudah mulai pemotretan?” tanya Rena.


“Oh sepertinya belum,” ucap Rena sambil tersenyum.


“Kenapa kalian diam saja?” tanya Rena.


“Hei Rena … kenapa kamu baru datang sekarang? Dari tadi semua orang telah selesai mencocokkan baju,” ucap salah seorang pegawai.


“Oh maaf … aku baru tahu kalau lokasi pemotretan telah berubah,” ucap Rena.


“Hari ini aku baru diberutahu,” ucap Rena sambil menatap sutradara.


“Benarkah? Tetapi kita semua telah diberitahu lewat grup,” ucap seorang pegawai lagi.


“Grup? Aku tidak tahu itu,” ucap Andrew.


“Oh benar dia belum memasuki grup,” teriak seseorang.

__ADS_1


“Maaf Rena aku lupa memasuki anda,” ucap asisten sutradara berkeringat dingin.


Asisten sutradara ingat waktu itu dia ingin memasuki manager Rena kedalam grup tetapi dihentikan oleh seseorang tidak tahu siapa itu dan dia diancam.


“Sudah … mari kita bersiap-siap jika ingin cepat selesai,” teriak sutradara.


“Rena maaf sebelumnya atas kelalaian asistenku,” ucap sutradara.


Rena hanya tersenyum dan berjalan mendekati sutradara. “Aku tahu itu kamu bekerja sama dengannya,” bisik Rena dambil berjalan menuju ruang ganti.


Sutradara terkejut dan menatap Rena dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan Fany yang melihat adegan ini dari tadi merasa sangat kesal. Mengapa Rena berada disini tepat waktu, dia berharap Rena terlambat bahkan tidak bisa pergi kesini karena masalah. Ini pasti karena bantuan dari Alex.


“Tunggu saja,” bisik Fany sambil mengepalkan tangannya dan pergi.


Rena berada diruang ganti dan telah mengganti pakaiannya. “Hah … aku lelah sekali pergi terburu-buru,” keluh Rena.


“Tetapi untung saja kita datang tepat waktu,” ucap Andrew.


“Sudahlah setidaknya kita tidak menyebabkan kesalahan di hari pertama,” ucap Rena.


Disisi lain diruang ganti Fany. Melirik handphonenya disana ada foto Alex yang menjadi wallpaper, sambil melirik Fany menggenggam erat handphonenya dengan wajah kesal.


“Fany aku akan mendandanimu dengan sangat cantik … aku tidak percaya ini aku akhirnya memiliki kesempatan ini.” Seorang penata rias aktris masuk dengan semangat.


“Oh iya … aku telah membayangkan beberapa style yang cocok untukmu dan juga-“


“Bisakah kamu diam,” teriak Fany.


Penata rias tersebut terkejut dan diam setelah mendengar teriakan Fany. Saat suasana hening Fany mulai sadar kembali dan melihat oeata rias yang menatapnya dengan takut.


“Ah … maafkan aku … aku hanya terganggu dengan beritaku akhir-akhir ini,” ucap Fany sambil berdiri dengan sdeih dan meegang bahu penata rias tersebut.


Penata rias melihat ekspresi Fany yang menyedihkan dan mengingat berita tentang kencannya dengan Alex. “Oh tidak apa-apa … menurutku kalian sangat cocok,” ucap penata rias menenangkan.


“Baiklah mari kita mulai,” ucap manager Fany.


“Oh iya aku lupa … Fany aku akan membuatmu menjadi wanita tercantik di dunia ini,” ucap penata rias dengan semangat.


“Em … terimakasih,” ucap Fany sambil tersenyum.


Saat ini semua telah siap pemain juga begitu. Bagian pertama pemotretan adalah pemeran utama yang diperankan oleh Robert.


“Waaaah … Robert sangat tampan sekali.”


“Lihat badannya yang sempurna … aku ingin memegangnya sekali.”


“Sangat beruntung sekali yang menjadi pemeran utama wanitanya.”


“Hei … Robert juga sangat beruntung telah menjadi pemeran utama pria.”


“Waaaah … lihat Fany sangat menawan … sangat cantik.”


Saat ini pemotretan pemeran utama wanita yang diperankan oleh Fany dengan memakai gaun merah muda membuat kesan pemeran utama wanita menjadi lembut dan makeupnya yang lembut tidak terlalu tebal menamhbakn kesan kecantikannya yang seperti cinta pertama.


“Dia sangat bermartabar … aku sangat iri dengan visualnya.”


“Sangat cocok menjadi pemeran utama wanita.”


Semua orang sangat mengagumi pemeran utama pria dan pemeran utama wanita. Mereka berdua sangat cocok menjadi pasangan. Setelah pemotretan pemeran utama pria dan wanita, tibalah saatnya Rena mulai pemotretan.


Rena telah selesai berdandan, memakai gaun merah dan putih yang elegan membuatnya terkesan seperti wanita arogan dan juga dengan make up yang tegas membuat Rena seperti pemeran antagonis cantik yang tidak bisa diganggu. Saat semua orang melihat Rena, mereka terkejut dan terpesona disaat bersamaan. Rena yang memakai gaun merah dan putih serta makeupnya sangat cocok dengannya.


Rena memasuki ruangan dengan anggun dan diam tanpa banyak bicara. Membuat orang merasa bahwa dialah nyonya besar sesungguhnya dan tatapannya yang tanpa ekspresi namu terdapat kesedihan didalamnya.

__ADS_1


“Waaah … aku tidak menyangka Rena sangat cocok dengan gaun ini.”


“Dia sangat cantik.”


“Aku rasa aku jatuh cinta padanya.”


“Peran ini aku rasa akan menjadi sangat menarik dan juga pasti akan menjadi pusat perhatian.”


Para staff wanita dan pria mulai membucaraka Rena dan melupakan pemeran Fany yang mereka puji tadi. Rena yang mendengar semua pujian merasa sangat bangga dan sangat puas dengan hasilnya.


Sedangkan Fany yang melihat dan mendnegar semuanya merasa sangat terganggu karena banyak yang memuji kecantikan Rena.


“Apakah dia pendatang baru?” tanya Robert.


Fany tersadarkan kembali dan melihat Robert yang memperhatikan Rena. “Ah iya … ini adalah peran pertamanya,” jawab Fany.


“Benarkah? Dia sangat cantik … dengan wajahnya aku rasa sudah cukup untuk memasuki duni hiburan ini,” lanjut Robert.


“Ah iya aku rasa begitu … haha,” jawab Fany dengan canggung.


Fany melihat Rena dengan tatapan kesal. Cantik? Hah, itu pasti hanya karena makeup dan pakaiannya. Tidak akan kubiarkan Rena merebut semua perhatian.


Saat pemotretan tiba-tiba ada seorang tamu datang kelokasi. Sutradara kaget dan langsung menghampiri tamu tersebut.


“Tuan Alex apa yang anda lakukan disini?” tanya sitradara.


Mendengar nama ini Rena terkejut dan melihat ke arah pintu masuk.


“Alex? Sedang apa dia disini?” teriak Rena.


“Apa kamu kenal dengan tuan Alex?” tanya penata rias yang sedangkan merapikan rambut Rena.


“Ah … tidak … aku hanya melihatnya di TV,” Rena sangat canggung dan melirik Alex.


Alex melihat Rena dan tersenyum padanya. Rena mengalihkan pandangannya dan bersembunyi agar orang tidak tahu identitas aslinya.


“Hei … lihat … aku rasa Alex datang untuk melihat Fany.”


“Waaah … sangat romantis.”


“Aku juga ingin memiliki pria seperti itu.”


“Hahahah itu hanya mimpi.”


Mendengar celotehan staff membuat Fany merasa kesal karena dia tahu kalau yang ingin ditemui Alex bukanlah dirinya melaikan Rena.


“Ada apa denganmu?” tanya Robert.


“Ah tidak ada … aku rasa aku harus pergi dulu.” Fany pergi meninggalkan lokasi.


Robert melihat Fany pergi dengan kesal, lalu melihat Alex yang selalu mencuri-curi pandang melirik Rena, juga Rena yang sangat gugup menghindari tatapan Alex.


“Hmmm … sepertinya ini sangat menarik … hahahahahha,” tawa Robert.


“Ada apa? Apa otakmu sudah mulai parah?” tanya manager dengan ekspresi ledekan.


“Tidal ada mari kita melihat drama ini sampai selesai.” Robert berjalan meninggalkan lokasi.


“Hei mau kemana? Ini belum selesai,” teriak Manager.


“Ke toilet.” Robert melambaikan tangannya dan pergi keluar.


Akhir dari Bab 39

__ADS_1


__ADS_2