
Melihat kakek tidak sadarkan diri Rena langsung berteriak memanggil Alex dan menyuruh kepala pelayan untuk menelpon ambulance. Beberapa saat kemudian ambulance datang membawa kakek kerumah sakit.
Tidak disangka kakek harus masuk keruang ICU untuk di operasi. Saat di periksa dokter menemukan bahwa kakek mengalami pendarahan pada otak dan menurunnya fungsi ginjal sehingga harus di operasi. Alex dan Rena sangat kaget mendengar itu semua.
Rena menangis saat mendengar perkataan dokter. Rena mengajak Alex yang sangat terpukul untuk duduk, Melihat Alex yang sangat sedih membuat Rena semakin sedih.
“Hiks … hiks ….” Rena menangis bersandar dibahu Alex dan mereka berdua saling menguatkan diri berharap kakek baik-baik saja.
Saat Rena menangis Rena ingat bahwa ada satu orang lagi yang mengikuti mereka, yaitu Ren na. berdiri disebelah mereka berdua Ren na terlihat sangat tidak tenang dan wajahnya pucat sambil menggigit jarinya.
“Kamu-“ sebelum Rena selesai berbicara, handphone Alex berbunyi.
“Sebentar,” ucap Alex kepada Rena.
Rena membiarkan Alex pergi dan kembali melihat kearah Ren na. didalam novel dikatakan bahwa kakek diracuni dan meninggal beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit. Rena curiga bahwa ini adalah perbuatan Ren na. tapi mengapa? Bukankah kakek sangat baik kepadanya? Dan juga Alex sudah memenuhi apa yang keluarganya butuhkan.
Saat Rena sedang berpikir, Alex kembali dari luar. “Siapa yang menelpon?” tanya Rena.
“Albert … aku meminta tolong untuk mengurus pekerjaan selama aku tidak ada dikantor,” jawab Alex menundukkan kepala.
Rena memegang tangan Alex seakan memberitahu bahwa semua akan baik-baik saja. Alex melihat tangan Rena dan melihat mata Rena, lalu Alex tersenyum kecil dengan wajah sedihnya dan kembali memegang tangan Rena.
“Kalian berdua pulanglah … aku akan menjaga kakek,” ucap Ren na.
“Tidak perlu kami akan menjaga kakek disini … kamu pulanglah,” ucap Rena dingin.
Mendengar nada bicara Rena yang dingin membuat Ren na kesal. “Aku yang selalu menjaga kakek dan ak-“
“Pulang,” ucap Alex.
Ren na kaget. “Apa? Tapi aku …” ucap Ren na.
“Aku dan Rena ada disini jadi kamu tidak perlu khawatir,” ucap Alex.
“Baiklah.” Sambil menundukkan kepalanya Ren na pergi dengan sedih.
Setelah beberapa jam berlalu, operasi akhirnya selesai dengan lancar tanpa kendala. Dokter mengatakan bahwa kakek harus rutin cuci darah dan juga harus menjaga pola makan.
Dokter menjelaskan apa saja yang dilarang dan juga diperbolehkan. Rena dan Alex sangat serius mendengar penjelasan kakek dokter. Setelah beberapa menit, dokter akhirnya keluar ruangan.
“Bukankah pola makan kakek baik?” tanya Rena.
“Iya makanan sudah sesuai untuk kesehatan kakek.” Alex memandang kakek dengan tatapan khawatir.
Rena melihat kakek lagi dan memikirkan tingkah Ren na yang sangat mencurigakan. Semoga saja apa yang aku pikirkan ini tidak benar.
“Rena … pulanglah … kamu sangat lelah hari ini,” ucap Alex.
“Aku akan menemanimu,” ucap Rena.
“tapi-“
“Berdua akan lebih baik,” lanjut Rena memotong pembicaraan Alex.
Alex menghela nafas. “Baiklah … aku akan menyuruh orang untu membaw akasur untuk kita,” ucap Alex tersenyum lembut.
“Bagus kalau begitu,” jawab Rena dengan senyum lebar.
Rena memegang tangan Alex. “Kakek pasti akan segera bangun,” ucap Rena tersenyum kepada Alex.
“Em … aku harap begitu,” ucap Alex sambil menatap wajah kakek.
Keesokan harinya Rena terbangun oleh suara handphone yang berdering. Dengan kondisi setengah sadar, Rena mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelpon.
“Hmmm … halo?” ucap Rena dengan suara yang serak.
“Halo Rena … kamu dimana?” tanya lelaki di balik handphone.
“Siapa?” tanya Rena.
__ADS_1
“Ini aku Andrew … kita hari ini ada pemotretan … ingat?” ucap Andrew.
“Ha!” Rena duduk dari tempat tidur.
“Aku lupa …”
“Hari ini kakek masuk rumah sakit … jadi aku merawat kakek,” ucap Rena.
“Apa? Dimana? Aku turut sedih atas kejadian yang menimpamu.”
“Tapi maaf … bisakah kamu pergi kelokasi pemotretan?” tanya Andrew.
Saat Rena berteriak kaget Alex terbangun dan mendengar apa yang Rena bicarakan. “Pergilah,” ucap Alex.
“Kamu sudah menantikannya,” lanjutnya.
Rena melihat Alex dengan tatapan sedih. “Tapi kakek,” ucap Rena.
“Tidak apa-apa … aku ada disini,” jawab Alex sambil mengusap kepala Rena.
Rena diam sejenak. “Apa benar tidak apa-apa?” tanya Rena.
“Ya tidak apa-apa … suruh Andrew menjemputmu,” jawab Alex sambil tersenyum menenangkan Rena.
“Baiklah setelah selesai pemotretan aku akan segera kembali,” ucap Rena meyakinkan Alex.
“Yah … jangan terburu-buru,” jawab Alex.
“Terimakasih Alex,” ucap Rena mencium pipi Alex.
Alex membalas mencium pipi Rena. “Em … halo permisi … maaf aku mengganggu waktu suami istri kalian,” ucap Andrew dibalik telpon.
“Hahahah iya maaf … jemput aku di rumah sakit A,” jawab Rena.
“Baiklah aku akan segera kesana,”ucap Andrew segera menutup telpon.
Rena melihat handphonenya dan kembali berbaring dengan malas. “Ayo … kamu harus bersiap-siap,” ucap Alex.
“Kamu tahu kamu tidak bisa seperti itu … karena jika kamu tidur lagi kamu pasti susah untuk bangun,” ucap Alex.
Rena membuka matanya dan pergi kekamar mandi dengan cemberut. “Aku akan meminta kepala pelayan mengantarkan sarapan dan pakaian untuk kita,” ucap Alex.
“Baiklah … terimakasih Alex,” ucap Rena dengan malas.
Alex menggelengkan kepalanya melihat Rena dan membereskan tempat tidur.
Setengah jam kemudian kepala pelayan dari keluarga Anderson datang dan membawa pakaian serta makanan untuk Rena dan Alex. Setelah membersihkan diri, Rena dan Alex makan bersama sambil menunggu Andrew datang.
Saat menunggu Andrew handphone Rena berdering dan melihat bahwa yang menelpon adalah Andrew.
“Andrew kamu dimana?” tanya Rena mengangkat telpon.
“Aku sebentar lagi akan tiba disana … tetapi ada masalah.” Andrew berhenti di pinggir jalan untuk menelpon Rena.
“Masalah apa?” tanya Rena.
“Lokasi pemotretan di pindahkan,” ucap Andrew.
“Lalu apa masalahnya?” tanya Rena.
“Itu … di pindahkan kekota A,” ucap Andrew.
“Apa? Kenapa?” tanya Rena terkejut.
“Karena Fany yang meminta … dia sedang berada dikota A,” ucap Alex dengan suara kecil.
“Ha?” Rena tidak percaya dengan apa yang didengar.
“Semua orang telah berada disana dari kemarin,” jawab Andrew dengan suara yang semakin kecil.
__ADS_1
“Hah … hahaha,” Rena tertawa seakan tidak percaya dengan semua ini.
“Kenapa kita baru diberi tahu sekarang?” tanya Rena kesal.
“Aku juga tidak tahu … aku mengetahuinya saat aku menelpon sutradara dan sutradara mengatakan lokasi telah diubah,” jawab Andrew.
Rena menarik nafas dan menghebuskannya untuk menenangkan diri. “Baiklah … kamu datang kesini terlebih dahulu,” ucap Rena.
“Baiklah,” jawab Andrew.
Telponpun terputus dan Rena menggenggam erat handphonenya karena kesal. “Ada apa?” tanya Alex.
Rena menarik rambutnya keatas dan melihat Alex. “Lokasi telah berubah dan kita baru diberitahu hari ini,” ucap Rena.
“Kenapa?” tanya Alex.
“Mereka mengatakan bahwa Fany yang memintanya,” ucap Rena dengan senyum enggan.
“Lalu mengapa kamu baru diberitahu sekarang?” tanya Alex mengerutkan kening.
“Hah … aku tidak tahu,” ucap Rena sambil berjalan menuju sofa.
“Mungkinkah ini ada sangkut pautnya dengan Fany?” tanya Rena melihat Alex.
Alex mengerutkan kening. “Pakai saja jet pribadi kita untuk menuju kota A,” ucap Alex dengan serius.
“Kamu punya jet pribadi?” tanya Rena kaget.
“jet pribadi kita,” ucap Alex sambil tersenyum mengelus kepala Rena.
“Benarkah?” tanya Rena lagi seakan tidak percaya.
“Nanti aku akan menghubungi pilot untuk membawamu kekota A,” ucap Alex.
“Waaaah … terimakasih banyak Alex, kamu memang yang terbaik … muuaach.” Rena sangat senang mendengarnyaa dan memeluk Alex dengan sangat kuat.
Handphone Rena berdering. “Rena aku sudah didepan,” ucap Andrew.
“Baiklah aku akan segera turun,” jawab Rena dengan semangat.
“Aku akan mengantarmu keluar,” ucap Alex sambil berdiri mengikuti Rena.
“Baiklah,” jawab Rena sambil tersenyum menggandeng Alex.
Didepan rumah sakit Andrew sangat stress karena tiket pesawat sudah habis untuk menuju kekota A. “Apa naik mobil saja?” bisik Andrew panik.
“Andreew,” teriak Rena memanggil Andrew.
“Rena ... “ Andrew berlari menuju Rena.
“Tiket pswat sudah habis semua … apa kita pakai mobil saja?” tanya Andrew ragu-ragu.
“Tidak perlu … kita akan menaiki jet pribadinya Alex,” ucap Rena bangga.
“Waah … benarkah?”
“Termakasih bos,” ucap Andrew membungkuk kepada Alex.
“Hei aku bosmu,” teriak Rena.
“Hahahah ayo kita pergi,” ajak Andrew.
Disisi lain di Kota A, Fany sedang duduk bermain handphone dengan santai.
“Fany mengapa kamu menyuruhku untuk tidak memberitahu manager Rena kalau kita pindah lokasi?” tanya sutradara.
“Tidak ada hanya saja aku ingin melakukannya,” jawab Fany dengan malas.
Sutradara menghela nafas. “Ini terakhir kalinya … aku harap permasalahan pribadi kalian tidak dibawa ketempat kerja.” Sutradara pergi meninggalkan Fany sendiri.
__ADS_1
Fany masih duduk diam dan melihat Hanphonenya dengan senyum kecil meengejek.
Akhir dari Bab 37