Menikah Dengan Penjahat

Menikah Dengan Penjahat
Bab 49 Mulainya pertempuran


__ADS_3

Di rumah keluarga Martinez, Rani duduk dimeja makan sambil menyesap teh. Memikirkan apa yang terjadi tadi malam sangat membuatnya merasa senang. Rani berpikir bahwa ini adalah keberuntungan dari pemeran utama wanita, Betapa bagusnya ini.


“Sayang aku rasa aku akan pergi sekarang, ada urusan mendadak yang harus ditangani,” ucap Reza sambil memakai setelan jasnya berjalan meuju Rani.


Rani menatap pria yang berjalan kearahnya matanya berbinar, Reza memang cocok menjadi pemeran utama pria. “Baiklah … aku akan menginap dirumah orang tuaku malam ini,” ucap Rani sambil membenarkan pakaian Reza.


“Em … satu malam saja, kamu tahu aku susah tidur kalau tidak ada kamu,” ucap Reza sambil memegang tangan Rani.


“Ehm … apa kamu akan pergi,” ucap Tuan Martinez.


Rani dan Reza yang mendengar suara ayah sontak kaget dan menjauhkan diri. “Ehm … iya ayah ada urusan mendadak di perusahaan,” ucap Reza canggung.


“Baiklah, hati-hati di jalan,” ucap Tuan Martinez.


“Baik ayah aku pergi dulu … Rani aku beranngkat,” ucap Reza melambaikan tangannya kepada Rani dan ayah mertuanya.


Di perusahaan Anderson.


“T-tuan tolong maafkan aku.” Suara rintihan seorang wanita terdengar.


“Kamu tau apa yang kamu lakukan?” tanya Alex.


“A-aku diancam dan adikku masih berada di rumah sakit,” ucap wanita itu memohon ampun.


“Ini semua adalah bukti bahwa kamu telah mencuri rahasia perusahaan.” Albert melempar dokumen bukti diatas meja dan memperlihatkannya kepada wanita tersebut.


Lati yang melihat barang bukti berupa gambar dari cctv dan perekam suara, merasa tidak percaya dan berpikir bahwa hidupnya telah berakhir.


“T-tuan tolong aku-“


“Siapa yang memnyuruhmu?” tanya Alex dingin.


“I-itu aku tidak bisa memberitahumu,” ucap Lati dengan cemas. Lati tidak bisa memberitahu karena ada ancaman, dia telah membuat janji dengan pria itu.


“Maafkan aku tuan, tapi percayalah aku benar-benar diancam!” teriak Lati menangis histeris.


Didalam ruangan hanya ada Alex dan Albert serta beberapa penjaga. Diperusahaan Anderson terdapat ruang rahasia yang hanya diketahui beberapa orang saja.


“Baiklah karena kamu tidak ingin menjawab.”


“Albert … selidiki semua tempat yang dia kunjungi dan orang yang dia temui … libatkan semua orang elit,” ucap Alex membalikkan badan dan mengambil rokok.


Asap rokok yang berhamburan diudara membuat suasana menjadi lebih sesak. “keluarkan wanita itu dari sini dan masukan dia kedalam penjara, pastikan penjara itu yang terburuk,” ucap Alex dengan kejam.


Alex dikenal sebagai orang yang tidak kenal ampun, maupun itu pria atau wanita jika mereka menganggunya atau mengganggu orang-orangnya maka Alex akan membalas lebiih kejam.


“T-tuan … tolong aku … maafkan aku j-jangan aku mohon jangan masukkan aku kedalam penjara, aku akan melakukan apapun!” teriak Lati sambil menangis memeganng kaki Alex.


“Bawa segera!” teriak Alex dingin.


Lati pun diseret oleh para penjaga dengan paksa dan kasar. Lati memikirkan penjara terburuk, dia pernah mendengarnya bahwa Tuan Alex bekerjasama dengan polisi dan membangun penjaranya sendiri untuk menghukum orang yang mencari masalah dengannya. Aku kira itu hanya mitos, tetapi aku tidak menyangka ini nyata.

__ADS_1


Setelah wanita ituuuu dibawa pergi, ruangan menjadi sepi dan hanya terdengar suara hembusan asap rokok. “Tunggu beberapa jam … pastikan wanita itu menjawab semuanya,” ucap Alex sambil menghembuskan asap rokok dengan ringan dikursinya.


“Baik tuan … aku rasa wanita itu pasti akan mengaku dalam beberapa jam … tidak ada yang tahan dengan penjara vawah tanah,” ucap Albert.


“Yah … aku harap begitu,” ucap Alex sambil menatap dokumen bukti.


Didalam penjara bawah tanah.


“Tolooong!”


“huhuhuhuhu,” Lati menangis didalam penjara yang gelap hanya mengandalkan cahaya lampu minyak.


Didalam penjara bawah tanah terdapat beberapa tikus got yang sudah lama dipelihara di penjara. Tikus-tikus itu berlarian disekitar Lati.


“Hei … hei kamu yang disana.”


“Bisakah kamu memberikan tikus itu padaku?” tanya seorang wanita disebrangnya.


Lati terkejut mendengar ada orang selain dia didalam penjara ini.


“Mengapa kamu diam saja?” wanita itu berbicara sambil menatap Lati dengan wajah kotornya dan memakan tulang yang tidak diketahui asalnya.


Lati gemetar melihat wanita itu. “Aku rasa kamu tidak menyukai tikus itu … jadi berikan saja padaku,” ucap wanita itu dengan senyum menampakkan gigi hitamnya.


“dipenjaraku juga memiliki banyak tikus pada awalnya tetapi aku melihat mereka sangat gemuk dan aku memakan mereka hingga tidak ada yang tersisa,” ucap wanita itu meludahkan tulang tikus.


“A-ap …. Hueeeeee,” Lati muntah seketika mendengar apa yang dikatakan wanita itu. Merasa mual dan tidak tahan Lati menangis lagi dan meminta untuk dikeluarkan.


“Aku sudah sangat lama berada disini … tetapi aku tidak bisa keluar karena akulah pelakunya tidak ada bos yang menyuruhku,” ucap wanita itu sambil tertawa bangga.


Lati gemetar melihat wanita itu. Lati ingin mengaku, tetapi dia tidak bisa. Apa yang harus aku lakukan? Huhuhuhu.


“Hei mengapa kamu menangis terus?” tanya wanita itu.


Lati masih larut dalam penderitaannya dan terus menangis. Bagaimana dengan adikku nanti jika aku mati? Tetapi untung saja semua biaya telah diselesaikan dan hanya menunggu adikku pulih. Aku rasa orang tuanya bisa merawat adikku. Aku tidak tahan berada disini dalam waktu lama.


Sambil memejamkan matanya Lati berteriak. “Tuan … aku akan mengaku tolong lepaskan aku!” teriak Lati.


Setelah Lati berteriak suara pintu pun terbuka dan seorang penjaga yang membawanya tadi menghampiri Lati. Melihat pintu terbuka Lati merasa sangat senang akan keluar darisini, setidaknya dia tidak akan mati di ruangan yang banyak tikus menjijikkan ini.


Lati dibawa keluar penjara dan memasuki ruangan dimana Alex berada.


“Apakah kamu sudah memiliki jawaban?” tanya Alex.


Lati mengigit bibirnya dan menundukkan kepalanya dengan putus asa. “Aku akan mengatakan siapa yang menyuruhku,” jawab Lati.


Perlahan Lati membuka mulutnya. “Orang itu adalah adikm-“


“Aaak … ekkmmm” sebelum Lati menyelesaikan jawabanya, tiba-tiba lehernya mengeluarkan darah seperti di potong dengan pisau. Darah berceceran dimana-mana.


Alex dan Albert yang melihat adegan ini terkejut dan langsung menghampiri Lati yang berusaha menghentiksn darah dari lehernya.

__ADS_1


“Cepat panggil dokter!” Teriak Alex.


Setelah beberapa menit dokter pribadi Alex datang dan menghentikan pendarahan. “Dia kehilangan banyak darah dan dalam kondisi kritis. Aku tidak tahu apakah dia akan selamat atau tidak,” ucap sang dokter.


“Periksa bagian lehernya apakah ada sesuatu yang ditaruh didalamnya,” ucap Alex mengerutkan kening.


“Tapi tuan ini sangat berbahaya,” ucap dokter dengan khawatir.


“Baiklah lakukan setelah kamu berusaha menyelamatkannya … jika dia mati periksa mayatnya dan jika hidup kamu harus tetap mermeriksanya.” Alex kembali duduk dikursinya dan mengetuk meja dengan jari telunjuknya.


“Baik tuan.” Dokter tersebut pergi membawa Lati dan segera mengobatinya.


“Hah … bagaimana menurutmu?” tanya Alxe.


“Aku rasa dia berbicara tentang adikmu,” ucap Albert sambil membenarkan kacamatanya.


“Hahaha … akhirnya dia melakukan sesuatu untuk melawanku,” ucap Alex dengan tawa kecil.


“Bodoh sekali aku tidak tahu gerakannya,” lanjut Alex.


“Periksa semua tentang Reza.”


“Baik Tuan,” jawab Albert.


“Heiiiii apa aku tidak mendapatkan bayaran?” seorang wanita masuk dengan baju compang camping dan wajah kotor.


“Ana … bisakah kamu berbicara sopan?” tegur Albert.


Ana mengabaikan kakaknya dan berjalan menuju Alex. “Aktingku baguskan? Ayo beri aku uang,” ucap Ana menunujukkan telapak tangannya didepan Alex.


“Hahaha itu semua sudah ada pada kakakmu,” ucap Alex.


Ana dijemput oleh Albert saat jam pelajaran sedang berlangsung, Albert meminta izin kepada guru dan membawa Ana untuk berakting. Setelah mendengar semuanya, Ana merasa ini dangat menarik dan mengikutinya.


Ana melihat Albert dengan cemberut dan tidak mengatakan masalah uang lagi. “Ayam ini sangat enak … dimana kakak membelinya? Aku akan memberikannya untuk Eno,” ucap Ana sambil memegang kotak ayam goreng.


“Baiklah waktumu sudah habis … ayo pulang,” Albert mendorong adiknya keluar dan membawa sisa ayam tersebut yang dijadikan sebagai tulang tikus.


“Tuan aku kembali dulu,” ucap Albert.


“Baiklah,” jawab Alex.


Di perusahaan Reza.


“Hah … apakah dia mati?” tanya Reza.


“belum diketahui tuan … tapi aku rasa dia telah mengatakan siapa yang menyuruhnya,” ucap seorang asisten.


Reza berdiri didepan jendela dan melihat keluar, Reza telah buru-buru keluar setelah mengetahui bahwa mata-matanya ketahuan. Tetapi saat melacak, lokasi tersebut tida diketahui dan semua bawahannya kehilangan arah.


Reza mengerutkan kening dan berbicara, “ Tidak apa-apa jika kakakku mengetahui siapa pelakunya … ini menjadi menarik,” ucap Reza sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


Akhir dari Bab 49


__ADS_2