
Albert berjalan menuju ruangan Liam Lee. Setelah menjadi salah satu orang yang penting dalam project ini, Alex memberikan Liam Lee ruangan khusus agar lebih berkonsentrasi dalam mengerjakan project.
Saat Albert memasuki ruangan, Albert melihat Liam Lee duduk dengan serius melihat kue diatas meja. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Albert.
Liam Lee terkejut dan melihat Albert dengan bahagia, “Tuan Albert akhirnya kamu datang … sekarang aku ingin meminta saran darimu,” ucap Liam bersemangat.
Albert memiliki perasaan tidak enak dan melihat kearah kue yang ada diatas meja. Liam Lee melihat pandangan Albert dan berkata, “Menurutmu istri Tuan Alex menyukai keu yang mana? Aku dengar beliau sangat menyukai kue.”
Albert berbalik badan dan ingi keluar dari ruangan sesegera mungkin. “Tunggu!” teriak Liam Lee sambil menahan pintu.
“Tuan Albert anda harus memberitahu saya dulu,” ucap Liam Lee.
“kamu hanya memanggilku karena ini?” ucap Albert sambil memegang kedua alisnya dengan jarinya.
“Kenapa kamu ingin tahu? Apa kamu ingin mengambil istri tuan?” lanjut Albert.
“Ha?! Tentu saja tidak … aku sangat mengagumi tuan Alex dan tuan Alex sangat mencintai istrinya, jadi aku harus menyenangkan istri tuan Alex juga.”
“Saat pertemuan pertama kami, aku harus membuat kesan yang bagus,” ucap Liem Lee dengan percaya diri.
Albert menghela nafas tidak berdaya. “Istri tuan menyukai semua kue asal itu enak,” ucap Albert sambil mengingat Rena yang banyak memakan kue dan sangat menyukai kue.
“Begitu …” ucap Albert dengan wajah kagum.
“Huff … sudahlah aku pergi dulu,” ucap Albert sambil melambaikan tangannya kepada Liam.
“Baik … terimakasih banyak Tuan Albert,” ucap Liam sambil membungkuk.
Albert berjalan keluar ruangan dan memikirkan dokumen yang dia serahkan kepada Lati.
Lati yang dipercayakan Albert untuk membawa dokumen penting pergi keruangan yang tidak ada orang sama sekali dan mulai mengambil foto-foto dokumen tersebut. Jumlah dokumen lumayan banyak sehingga butuh beberapa waktu untuk kembali.
Saat Lati selesai dengan tugasnya, Lati keluar dengan tergesa-gesa untuk mengembalikan dokumen. “Lati?”
“Darimana saja kamu? Aku sudah mencarimu kemana-mana,” ucap seorang gadis.
“Ah … aku baru saja dari toilet,” jawab Lati.
“Pantas saja aku tidak menemukanmu,” ucap gadis itu.
“Hmm? Dokumen apa itu?” tanya gadis itu.
“Ah ini tuan Albert menitipkannya padaku untuk dibawa keruangan boss,” jawab Lati gugup.
“Oh kalau begitu aku akan menemanimu,” ucap gadis itu.
“Baiklah …” ucap Lati dengan senyum canggung.
Saat ini di villa Rena sedang berbaring membaca novel dan memakan kue yang dibuat oleh kepala koki. Rena membaca dan akhirnya menutup novel.
“Haaah … aku sangat bosan.”
“Apa yang harus aku lakukan?”
Rena berbalik dan melihat handphone. “Karin juga sedang sibuk … sepertinya keluarga karin ingin karin mempelajari tentang perusahaan,” ucap Rena sambil melihat riwayat panggilan telpon di handphonenya.
__ADS_1
Rena meletakkan handphonenya dan berbalik melihat langit-langit kamar. “Apa yang Alex lakukan sekarang?”
Saat Rena memikirkan Alex, tiba-tiba handphone Rena berdering. Melihat nama panggilan tersebut, Rena mengerutkan kening dan malas untuk mengangkat panggilan tersebut. Namun, panggilan itu tidak pernah berhenti dan Rena terpaksa mengangkatnya.
“Apa kamu sengaja tidak mengangkat telponku?!”
Rena menjauhkan handphone dari telinganya dan menjawab dengan malas, “Ada apa menelponku?” tanya Rena.
Pria disebrang telpon menarik nafas menahan amarahnya. “Pulanglah kerumah … kita akan mengadakan makan malam keluarga,” ucap ayah Rena.
“Aku tidak bisa,” jawab Rena sambil memainkan kuku jarinya.
“Apa kamu bilang? Beraninya kamu-“
“Sayang tenanglah … Rena ayo pulang kita makan bersama … sudah lama sekali kita tidak berkumpul,” ucap ibu Rena.
Rena memikirkan mimpi yang pernah dia alami dan foto yang dia lihat dikamar orang tuanya. “Baiklah aku akan pulang,” jawab Rena.
“Bagus sekali … kamu bisa mengajak Alex untuk datang makan malam.”
“Reza juga akan datang,” jawab sang ibu dengan semangat.
“Alex sedang mengalami masalah dengan perusahaannya jadi dia tidak bisa datang,” jawab Rena.
“Apa? Ah iya baiklah kalau begitu, kapan kamu akan datang?”
“Aku tidak tahu.” Rena melihat jam. “ mungkin sore ini,” jawab Rena.
“Baiklah …”
“Mengapa ada foto Rani kecil di kamar mereka?”
“apa mereka telah melakukan sesuatu? Mengapa Rani tidak tinggal bersama mereka?”
“Hah … apa aku bisa masuk kedalam mimpi itu lagi? dan melihat kebenarannya?”
Rena berbaring kembali dan memikirkan apakah dia punya cheat? Terkadang orang yang bertransmigrasi kedalam novel memiliki cheat tersendiri jika beruntung. Rena memangkat tangannya dan memandangnya dengan seksama.
“Hahahahaa … tidak mungkin.” Renapun tertidur saat memikirkan cheat tersebut.
Saat tertidur Rena membuka matanya dan menemukan dia ada di taman dengan rumput yang luas dan bunga yang indah.
“Apa ini? Mimpi? Atau ini adalah cheat yang aku pikirkan?” Rena terkejut dan mulai melihat sekeliling.
“Hahahahaha ibu lihat aku menangkap capung.” Terdengar suara anak laki-laki yang sangat riang.
Rena berbalik dan melihat anak laki-laki dengan senyum cerah diwajahnya.
“benarkah? Apa kakak kecil kita menangkapnya?” seorang wanita dengan perut yang besar menghampiri anak laki-laki itu dengan senyum lembut diwajahnya.
Rena melihatnya dan merasa kagum. Wanita yang dia lihat sangat cantik dan juga terlihat seperti … dia? Apa ini?
“Aku ingin memperlihatkannya kepada adikku,” ucap anak laki-laki itu sambil memegang perut ibunya.
Wanita itu mengelus kepala anak laki-laki itu. “Ibu rasa kamu akan menjadi kakak laki-laki yang sangat baik kepada adiknya,” ucap wanita itu dengan lembut.
__ADS_1
“Hihi … aku akan menjadi kakak.” Anak laki-laki itu terlihat sangat menantikan kedatangan adiknya.
“Iya Albert akan menjadi kakak sebentar lagi … saat adik telah lahir ibu harap Albert bisa menjaga adiknya dengan baik,” ucap wanita itu sambil mengelus perutnya.
“Tentu saja … “ ucap anak laki-laki tersebut dengan percaya diri.
Rena yang melihat semua adegan sangat terkejut. Albert? Ha? Rena melihat anak laki-laki itu dan memang itu seperti Albert versi kecil. Adegan tiba-tiba berubah di rumah sakit, suara teriakan seroang wanita terdengar si koridor rumah sakit. Semua yang menunggu merasa cemas dan gugup.
“Ayah apa ibu dan adik akan baik-baik saja?” ucap Albert kecil dengan menahan air mata untuk keluar.
“Ibu dan adik pasti akan baik-baik saja,” ucap seorang pria dengan senyum lembut di wajahnya tetapi tidak bisa menyembunyikan rasa cemas dimatanya.
Beberapa saat telah berlalu akhirnya terdengar suara tangisan bayi. Adegan disini sangat ramai dan bahagia, semua orang senang dan tertawa bersama di sekitar bayi tersebut. Rena yang melihat adegan ini juga ikut bahagia dan terharu.
Adegan tiba-tiba berganti. “Apa? David kamu tidak bisa melakukan ini!” teriak ayah Albert dengan marah.
Rena berdiri melihat mereka bertengkar, Rena membelakangi pria yang bernama David tersebut dan berjalan kedepan untuk melihat wajahnya. Ayah?! Rena terkejut melihat ayahnya ada disini, apa yang dia lakukan?
“Hanz kamu tahu aku sangat membutuhkan ini,” ucap David dengan memohon.
“David dengar kalau kita menjalankan ini semua … kita akan memiliki banyak musuh,” ucap Hanz sambil menarik nafas menahan amarah.
“Apa kamu takut? Kamu adalah keluarga Hernandez yang perkasa,” jawab David.
“Bukan seperti itu … aku hanya ingin keluargaku hidup dengan damai,” ucap Hanz tak berdaya.
“Baiklah kalau itu yang kamu inginkan … aku rasa pertemanan kita cukup sampai disini.” David pergi keluar tanpa menunggu Hanz berbicara.
“David!” teriak Hanz.
Rena yang melihat ini semua merasa tidak percaya. Ayahnya berteman dengan keluarga Albert. Adegan tiba-tiba berganti dan memperlihatkan Adegan dimana ayah Albert pulang ke Villa mereka.
“Ayah pulang …” Teriak Hanz.
“Ayah apa kamu membawa kalungnya?” tanya Albert kecil.
“Apa itu lebih penting dari pada ayahmu?” tanya Hanz tidak berdaya melihat anaknya yang bersemangat.
“Untuk saat ini kalung lebih penting,” jawab Albert dengan serius.
“Baiklah ini dia.” Hanz mengeluarkan kalungnya dan memberikannya kepada Albert.
“Kenapa kalungnya memiliki tali yang sangat panjang dari ukuran leher adikku?” tanya Albert dengan sedikit marah yang kekanak-kanakan.
“Lihat … nanti adikmu akan tumbuh dewasa dan dia bisa memakai kalung ini … ini bisa di panjangkan juga di pendekkan,” ucap Hanz dengan bangga.
“Waaaah … ayah kamu sangat pintar,” teriak Albert kecil sambil memeluk Ayahnya.
“Tentu saja,” ucap Hanz.
Rena melihat kalung itu, waaah … ini sangat indah … siapa nama adik Albert? Rena mendekat agar bisa melihat nama dikalung tersebut dan mulai menyipitkan matanya R ... Re … na? Rena?!
Rena terkejut dan membuka matanya lebar-lebar melihat kalung itu, Namanya sama denganku?!
Akhir dari Bab 45
__ADS_1