
Rena melihat Fany yang dihampiri banyak orang.
“Apa Fany mengikuti audisi ini?” tanya seorang wanita.
“Aku rasa kita tidak memilki harapan untuk pemeran utama wanita,” jawab wanita yang lain.
“Hah … pemeran utama telah ditentukan.”
“Apa sebaiknya aku pulang saja?” tanya seorang wanita dengan sedih.
“Jangan! Setidaknya kita juga mencoba … dari pada tidak sama sekali,” sahut wanita lain.
Rena mendengar pembicaraan mereka dan tersenyum kecil. Yaah … setidaknya mereka telah berusaha.
“Rena … maaf aku baru datang, bagaimana audisinya?” tanya Andrew sambil membawakan minuman untuk Rena.
“Aku rasa kita akan mendapatkan kabar baik,” ucap Rena dengan bangga.
“Benarkah? Kalau begitu kita harus merayakannya,” ucap Andrew dengan sangat bersemangat.
“Tidak … kita akan meryakannya setelah pengumuman resmi,” jawab Rena.
“Baiklah,” ucap Andrew mengikuti Ren dibelakang.
Saat Rena telah pergi ada seseorang yang memperhatikannya jauh dibelakang, menatapnya dengan mata tajam.
“Wanita itu ada disini?” bisik Fany.
“Ha? Siapa?” tanya sang manager.
“Dia mengambil peran apa?” tanya Fany.
Sang manager melihat ke arah Fany melihat.
“siapa? Aku tidak melihat siapa-siapa,” ucap sang manager.
“Hah … sudahlah,” jawab Fany menghela nafas.
Kalau dia kesini untuk pemeran utama wanita sudah pasti dia tidak akan bisa.
Fany tersenyum memikirkan bagaimana reaksi wanita itu nanti.
Siapa namanya? Aku melupakannya.
Didalam mobil Rena kembali membaca novel dan memakan eskrim yang dibelikan Andrew.
“Rena … sekarang kita mau kemana?” tanya Andrew.
Rena berpikir sejenak. “Sebentar,” Rena mengambil Hpnya dan menelpon seseorang.
“Halo … Rena!”
“Halo Karin … apa kamu sibuk?” tanya Rena.
Karin berhenti sejenak dan melihat tumpukan kertas.
“Tentu saja tidak,” jawab Karin tanpa rasa bersalah.
“Nonaaaa,” teriak sang asisten disebelah karin dengan bisikan.
“oke … aku akan kesana,” jawab Karin pergi mencari mantel dan pergi.
“Nonnaaaa … “ tangis sang asisten.
Rena telah tiba di toko kue bersama Andrew.
Andrew masih sangat terpesona mengetahui fakta bahwa dia memasuki toko kue mewah ini.
“Rena … “ teriak Karin.
“Karin … “ teriak Rena sambil berdiri memeluk Karin.
__ADS_1
“Sudah lama sekali kita tidak bertemu,” ucap Karin sedih.
“Ayo Karin kamu mau pesan apa?” tanya Rena.
“Oh iya perkenalkan ini managerku Andrew,” ucap Rena.
“H-halo … “ jawab Andrew.
“Hai …aku Karin.” Mereka berdua saling berjabat tangan.
“Jadi bagaimana dengan audisimu hari ini?” tanya Karin bersemangat.
“Aku rasa berjalan dengan lancar,” jawab Rena tersenyum.
“Baguslah … “ jawab Karin.
“Lalu bagaimana dengan wanita itu?” tanya Karin penasaran.
“Yah … aku melihatnya tadi,” jawab Rena dengan santai.
Tiba-tiba suara pintu terdengar. Seorang pria memasuki toko kue. Rena hanya melirinya dengan santai dan diam mengabaikan pria tersebut. Pria itu juga melihat Rena dan mengerutkan kening karena rasa bersalah.
Andrew yang melihat ini semua menjadi bingung. Bukankah seharusnya mereka akan sangat berisik jika bertemu? Apa aku yang salah.
“Waw … siapa pria itu?” tanya Karin.
“Sangat tampan … tetapi tetap saja Albert yang paling tampan … hehe,” ucap Karin.
Rena hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Karin.
“Sepertinya aku pernah melihatnya,” ucap Karin.
“Sudahlah ayo kita makan,” ucap Rena mengalihkan perhatian Karin.
“Baiklah,” ucap Karin tersenyum.
Setelah memakan kue bersama Karin dan Andrew. Rena mengajak mereka untuk bermain sebentar di pusat perbelanjaan.
“Fany … “
“Kamu masih di lokasi syuting?” tanya Leon sambil melihat kue yang telah dia pesan.
“Iya aku masih berada disini … sebentar lagi akan pergi, ada apa?” tanya Fany.
“Tidak ada … aku hanya berpikir apa kamu mau antarkan kue?” tanya Leon.
“Kue? Ah tidak … aku sedang diet untuk syuting kali ini,” jawab Fany.
“Ah baiklah,” ucap Leon kecewa.
Terdengar suara orang memanggil Fany dari sebrang sana.
“Leon aku tutup dulu ya telponnya,” jawab Fany.
“Em ….” Telponpun terputus.
Leon melihat kue yang ada dibawanya dan melihat tempat sampah yang ada disebrang.
“Ah … apakah kue tart cerynya telah habis?” jawab seorang gadis kecewa.
Leon melihat gadis itu dan melihat kue nya lagi lalu menghela nafas dan berjalan menuju gadis itu.
“Ini ambillah,” ucap Leon.
Gadis itu bingung dengan ikap Leon dan melihat kue yang dibawanya.
“Kue tart cery,” teriak gadis itu.
“Kenapa kamu memberikannya padaku?” tanya gadis itu.
“Kalau tidak mau akan aku buang.” Leon berjalan kembali ke tempat sampah.
__ADS_1
“Tunggu,” teriak gadis itu menarik lengan Leon.
“Aku akan membelinya,” ucap gadis itu bersemangat.
“Tidak usah,” jawab Leon.
“Baiklah aku tidak akan menolak.” Gadis itu mengambil kotak kue dengan sangat bahagia.
“Siapa namamu? Namaku Vita,” ucap gadis itu.
“Leon,” jawab Leon.
“Waw … namamu seperti nama bosku … hahaha kebetulan sekali,” tawa gadis itu.
Leon melihat senyum cerah gadis itu dan mengingat Fany.
“Hei … bagaimana kalau kita makan bersama kue ini?” tanya Vita.
“Tidak perlu,” jawab Leon ingin segera pergi.
Vita menahan tangan Leon. “Aku lihat kamu sedang bersedih … cara terbaik untuk menghilangkan kesedihan adalah dengan memakan yang manis-manis,” ucap Vita.
Leon memang sedang sedih sekarang. Leon berpikir dan menyutujuinya.
“Baiklah,” jawab Leon.
“Bagus sekali,” ucap Vita.
Saat Leon berbicara dengan Vita, dia merasakan kesedihannya telah hilang dan kue yang dia makan terasa lebih enak.
“Hei … kamu lebih tampan ketika tersenyum,” ucap Vita.
Leon hanya menundukkan kepalanya dan terus memakan kue.
“Bagaimana kalau kita slaing bertukar nomor kontak? Jika kamu sedang sedih kamu bisa menemuiku,” ucap Vita.
Leon ragu-ragu sejenak dan memberi kontaknya kepada Vita. Setelah memakan semua kue, Leon berpamitan dengan Vita. Saat Leon keluar dari toko kue dia masih tidak percaya mengapa dia memberi kontaknya kepada wanita asing itu.
Didalam toko kue.
“Haha … Leon masih sama saja saat ketika dia masih kecil,” ucap Vita.
Vita meliat nomor tersebut dan tersenyum lembut. Apakah dia telah melupakanku? Yah … saat dia melakukan operasi aku telah pindah keluar negri tanpa pamitan dan juga dia masih sangat kecil. Sebenarnya aku jauh lebih muda dari Leon tetapi sikap Leon lebih kekanakan hahahha.
Vita berjalan pergi keluar toko kue dan melihat langit. Hari ini aku telah menemukan orang yang menarik setelah kepulanganku, pertama Rena dan yang kedua Leon. Ini akan sangat menarik. Tetapi kenapa aku jarang melihat Leon diperusahaan? Padahal aku ingin melihatnya dan juga wanita yang disukai Leon.
Setelah hari mulai gelap Rena akhirnya tiba dirumah.
“Hah … hari ini sangat menyenangkan,” ucap Rena berbaring di sofa.
“Dimana Alex? Aku ingin menceritakan semuanya kepada Alex,” ucap Rena bersemangat.
Rena mencoba menelpon Alex. Tetapi Alex menutup telponnya, Rena bingung tidak biasanya Alex seperti ini. Lalu Rena mencoba menelpon lagi.
“Nomor yang anda tuju berada diluar jangkauan.”
“Ha?” teriak Rena bingung.
Beberapa saat kemudian Karin menelpon Rena.
“Rena apa kamu melihat berita di medsos?” tanya Karin dengan panik.
“Ada apa?” tanya Rena.
“Lihat sekarang juga.” Karin menutup telpon.
Rena melihat berita terkini dan kaget dengan berita yang ada. “Alex dari perusahaan Anderson datang untuk menyemangati Fany mengikuti audisi … Alex dan Fany sedang berkencan? … Pasangan dari surga muncul ke publik.”
Rena melihat ini semua dengan tidak percaya dan menggenggam hpnya dengan erat.
“Alex … “ teriak Rena dengan wajah suram.
__ADS_1
Akhir dari Bab 28