
Rena dan Alex sudah selesai makan. Melihat keadaan Alex baik-baik saja Rena merasa sedikit lega dan perlahan mendekati Alex.
“Hei Alex … maukah kamu cerita apa yang terjadi beberapa minggu ini?” tanya Rena hati-hati.
Alex terdiam sesaat dan menjawab “Ada masalah dengan ide yang akan kami publikasikan … itu sangat membuatku sedikit panik dan marah awalnya … namun sekarang sudah baik-baik saja” jawab Alex dengan tenang.
Rena berpikir sejenak, “Apa masalahnya? Apa karyamu dicuri?” tanya Rena.
“Tidak itu tidak mungkin terjadi … project ini benar-benar rahasia dan karyawan yang menangani ini semua terpercaya aku dapat menjamin itu,” ucap Alex dengan yakin.
Rena terdiam sejenak dan memikirkan isi novel aslinya. Memang benar semua karyawan yang menangani project ini terpercaya semua. Lalu siapa yang mencurinya? Reza? Itu tidak mungkin, Reza tidak mungkin bertindak sendiri.
Melihat Rena terdiam Alex menatapnya dengan senyum lembut dan mengusap rambut Rena. “Jangan khawatir ini semua sudah bisa ditangani dengan ide yang lebih menakjubkan lagi,” ucap Alex.
Rena tersadarkan kembali dan menatap Alex, “Yah itu bagus … tapi aku harap kamu bisa menjaga kesehatanmu dengan baik,” ucap Rena sambil membelai wajah Alex.
“dan juga … kamu harus berhati-hati … perhatikan seluruh karyawan tidak hanya yang terlibat dalam project tetapi juga yang tidak terlibat … seperti orang yang bebas masuk saat sedang rapat,” lanjut Rena.
Alex memegang tangan Rena dan mulai berpikir perkataan Rena. “Baiklah aku akan coba perhatikan,” jawab Alex serius.
“Aku harap kamu selidiki semua ini karena aku yakin ini pasti ada yang bermain denganmu dibelakang,” ucap Rena dengan tatapan serius.
“Baiklah,” ucap Alex.
Setelah beberapa saat Rena akhirnya pergi dan Alex mulai bekerja. Saat tengah bekerja Alex mulai memikirkan ucapan Rena.
“Albert … tolong keruangan saya sekarang,” panggil Alex melalui telpon kantor.
Albert memasuki ruangan Alex dan melihat Alex memikirkan sesuatu dengan serius. “Ada apa tuan?” tanya Albert.
“Kamu selidiki semua karyawan yang memiliki kebebasan masuk saat kita sedang diskusi,” perintah Alex.
Albert kaget dan mulai bertanya, “Apa anda mencurigai adanya kebocoran dalam project sebelumnya?” tanya Albert.
“Em … awalnya aku tidak terlalu memikirkannya … tapi aku ingin mengetahui kebenarannya,” ucap Alex serius.
“Tidak ada yang boleh mengetahui penyelidikan ini,” lanjut Alex.
“Baik tuan,” jawab Albert.
1 jam sebelumnya saat keluarga Golden keluar dari kantor Alex.
“Eliz … sebentar,” panggil Tuan Golden.
Eliz masih berjalan kedepan tanpa melihat kebelakang. Tuan Golden tetap mengejar Eliz hingga masuk ke mobil. Eliz tetap diam tidak bicara, tuan Golden melihat Eliz dan menarik nafas. Mobil terus melaju menuju ke villa keluarga Golden.
“Dengar Eliz ayah minta maaf karena tidak memberitahumu sebelumnya,” ucap Tuan Golden dengan rasa bersalah.
“Ayah mengira kalau pernikahan mereka tidak bahagia dan Alex adalah lelaki yang baik … jadi ayah-“
“Ingin aku menikahinya?” tanya Eliz memotong perkataan Tuan Golden.
Tuan Golden bergidik dan tidak bisa berkata apa-apa. Memang benar kalau dia ingin menikahi anaknya dengan lelaki terbaik sehingga dia tidak perlu khawatir lagi dengan kehidupan anaknya.
“Ayah dengar … apa ayah melihat pernikahan mereka? Ayah tahu darimana kalau pernikahan mereka tidak bahagia?” tanya Eliz sedikit kesal.
“Meskipun pernikahan mereka tidak bahagia itu bukan urusan keluarga kita … aku tidak tertarik dengan pria yang sudah menikah,” ucap Eliz menghadap keluar jendela.
Tuan Golden diam dan semakin merasa bersalah. “Maaf … ayah seharusnya mendiskusikannya denganmu sebelum bertindak,” ucap Tuan Golden dengan wajah sedih.
Eliz diam tidak berbicara. “Ayah waktu itu hanya tergoda saat Reza mengatakan bahwa Alex tidak bahagia dalam pernikahan dan perusahaannya sedang tidak bagus… jadi ayah pikir dia akan tertarik dengan tawaran ayah … ternyata setelah melihatnya sendiri Alex dan istrinya baik-baik saja,” lanjut Tuan Golden.
__ADS_1
“Reza?” tanya Rena bingung.
“Yah … itu adiknya Reza,” ucap Tuan Golden.
Eliz diam memikirkan penampilan Alex dan istrinya di kantor. Sangat disayangkan Alex sudah menikah, cinta pertamanya sudah berakhir bahkan sebelum dimulai. Eliz bersandar dikursi dan memejamkan mata.
1 jam berlalu dan mobil berhenti didepan villa Golden. Eliz keluar dari mobil tanpa menunggu ayahnya.
“Eliz … kamu sudah pulang!” ucap seorang wanita paruh baya menghampiri Eliz.
Eliz berhenti dan melihat ibunya yang datang menghampirinya. “Ibu ... “ Eliz memeluk ibunya dan membenamkan wajahnya dipelukan ibu.
“Ada apa? Apa sangat melelahkan?” tanya nyonya Golden.
Saat Eliz hendak menjawab pertanyaan ibunya, suara pintu terdengar dan Tuan Golden memasuki villa.
“Sayang … kamu pulang bersama Eliz?” tanya Nyonya Golden kepada suaminya.
“Ibu aku naik keatas dulu … aku lelah.” Eliz berlari keatas tanpa melihat wajah ayahnya.
“Eliz?” panggil Nyonya Golden.
Nyonya Golden melihat kearah Eliz pergi dan melihat wajah sedih suaminya. “Thomas … ada apa?” tanya Nyonya Golden dengan serius.
Tuan Golden melihat istrinya dengan tatapan sedih. “Sarah …”
Tuan Golden menceritakan semua kejadiannya hari ini dan menceritakan semua yang dia rencanakan untuk Eliz. Mendengar cerita suaminya, nyonya Golden tidak bisa memikirkan apa yang ada di otak suaminya.
“Kamu pantas mendapatkannya … ada apa dengan pikiranmu?” ucap nyonya golden dengan dingin. Nyonya Golden benar-benar tidak menyangka suaminya akan melakukan hal ini.
Memegang kedua alisnya nyonya Golden menarik nafas dalam-dalam. “Mengapa kamu menuruti apa yang dikatakan Reza?” tanya Nyonya Golden.
“Aku akan mencoba meminta maaf dengan Eliz lagi,” lanjut Tuan Golden.
“Jangan melakukan sesuatu tanpa persetujuan anakmu lagi … aku harap kamu dapat mendiskusikannya sebelum bertindak,” ucap Nyonya Golden.
“Baiklah,” ucap Tuan Golden.
“Ayah apa kamu sudah pulang?!” teriak seorang remaja laki-laki.
“Ayah lihat ini … ini adalah game baru yang akan dirilis aku ingin berinvestasi dengan game ini … bagaimana menurutmu?” tanya remaja itu.
“Robin kita bicarakan itu nanti ya … ayah sangat lelah.” Tuan Golden berjalan menuju kamarnya.
“Ibu ada apa dengan ayah?” tanya Robin bingung.
“Apa yang kamu bicarakan tadi? Apa kamu sudah mengerjakan pekerjaan rumahmu?” jawab nyonya Golden dengan serius.
“Ah … hahaha … aku lupa hari ini ada janji dengan temanku.” Robin berlari menghindari ibunya.
“Ibu nanti aku akan mengerjakan pekerjaan rumahku jangan khawatir,” lanjutnya.
“Robiiin!!” teriak Nyonya Golden.
Nyonya Golden menarik nafas dan menggelengkan kepalanya. “Bagaimana aku harus mendidik anak satu ini?”
Sementara itu di villa keluarga besar Anderson. Rani dan Reza baru selesai makan siang dan berbicara ringan dimeja makan.
“Sayang … apa kamu tidak pergi kekantor?” tanya Rani.
“Aku sedang mengambil cuti,” jawab Reza.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Rani.
“Ada sesuatu yang sedang aku urus … nanti akan aku beritahu setelah berhasil,” ucap Reza dengan senyum cerah.
Rani tidak menjawab dan hanya tersenyum kepada Reza. Rani tahu mungkin Reza sedang mengembangkan perusahaannya.
Pada saat dikamar Reza mengambil telpon dan menelpon seseorang.
“Halo bos … “ ucap seorang wanita ditelpon.
“Bagaimana? Apakah Tuan Golden datang menemui Alex?” tanya Reza serius.
“Iya tuan … hanya saja ….” Wanita itu diam sebentar ragu untuk menjawab.
Reza mengerutkan kening. “Ada apa?”
“Hanya saja putri tuan Golden keluar dengan wajah sedih dan tuan Golden berlari mengejar putrinya.”
Reza sudah menduga kalau ini tidak akan berhasil. “Lalu apa yang Alex rencanakan sekarang?” tanya Reza.
“Mereka sedang membuat game baru dan aku dengar itu lebih besar dari ide sebelumnya,” jawab wanita itu.
“Seperti yang aku perintahkan curi semua ide yang Alex buat,” ucap Reza.
“T-tapi aku sudah memberikannya untukmu boss … apa masih harus mencuri lagi,” wanita disebrang telpon mengecilkan suaranya dengan takut.
“Apa kamu tidak menghawatirkan ibumu dirumah sakit?” tanya Reza.
Wanita disebrang telpon terdiam dan perlahan menjawab “Baiklah,” ucapnya dengan suara lemah.
Reza menutup telpon dan menatap keluar melalui jendela kamar.
“Lati!” teriak seorang pria.
Wanita yang dipanggil terkejut dan langsung memasukkan handphone kesaku bajunya. “I-iya anda memanggil saya asisten Albert?” tanyanya dengan gagap.
“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Albert.
“T-tidak … hanya menelpon saja,” jawab Lati mengalihkan pandangannya.
Lati melihat berkas yang dibawa Albert. “Berkas ini-“
“Ah ini berkas yang dikumpulkan dari ide-ide yang telah ditata,” ucap Albert.
Lati terkejut mendengarnya dan terus menatap Berkas itu. “Apakah anda ingin saya membantu membawanya?” tanya Lati.
Albert melihat Lati dan melihat berkas ditangannya. Tiba-tiba suara telpon berdering.
“Tuan Abert kamu dimana?”
“Ada apa Liam?” tanya Albert.
“Aku butuh bantuanmu,” ucap Liam Lee.
Mendengar keluhan Liam Lee, Albert berpikir ini sangat penting. “Baiklah aku akan kesana,” jawab Albert.
Albert kembali melihat Lati dan memberikan berkasnya. “Kamu bawa ini keruangan Tuan Alex … aku sedang ada urusan.” Setelah memberikan berkas Albert dengan cepat pergi menuju Liam Lee.
Lati yang diberikan berkas terdiam melihat kearah Albert pergi. Melihat berkas ditangannya Lati menelan Ludah dengan gugup dan berjalan pergi membawa berkas.
Akhir dari Bab 44
__ADS_1