Menikah Dengan Penjahat

Menikah Dengan Penjahat
Bab 38 Dillon


__ADS_3

Rena dan Andrew telah menaiki jet pribadi.


“Waaah … ini pertama kalinya aku menaiki jet pribadi,” ucap Andrew dengan mata berbinar.


“Lihat ini semuanya sangat bagus … waaah in juga terlihat bagus” Andrew mengelilingi dan melihat segala sisi ruangan itu.


“Baiklah … bisakah kamu duduk dengan tenang,” ucap Rena.


“Haha … maafkan aku, aku sedikit bersemangat.” Andrew menggaruk kepalanya tersenyum canggung didepan Rena.


“Tidak apa-apa … aku juga sangat bersemangat … apa reaksi mereka jika aku datang tepat waktu,” ucap Rena tersenyum dingin.


“Hahaha … aku juga sangat penasaran dengan itu,” tawa Andrew.


Setibanya dikota A, Rena dan Andrew menaiki mobil yang telah disiapkan oleh Alex.


“Menjadi orang kaya segalanya terasa mudah,” ucap Andrew tercengang dengan mobil yang dia naiki.


“Hahaha tentu saja … banyak orang mengatakan bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang … tetapi tetap saja mereka membutuhkan uang … jika tidak ada uang siapa yang akan bahagia?” ucap Rena.


“Mereka berbicara seperti itu untuk menenangkan diri mereka sendiri,” lanjut Rena sambil melihat keluar jendela.


“Ya ya kamu benar sekali … jika memiliki uang aku akan sangat bahagia sekali dan juga aku bisa membantu orang lain dengan uangku yang banyak ini,” ucap Andrew bersemangat.


“Tenang saja … denganku kamu akan hidup tentram,” ucap Rena dengan percaya diri menatap Andrew.


“Rena .…” Andrew sangat terharu dengan ucapan Rena.


Saat Rena dan Andrew sedang asik membicarakan uang, tidak terasa bahwa mereka telah tiba dilokasi.


“Nyonya kita telah tiba dilokasi,” ucap sopir.


“Baik … terimakasih, ayo turunkan barang-barangku.” Rena turun dari mobil dan mengambil barang yang bisa dia bawa.


Setelah barang diturunan sopir akan segera pergi. “Nyonya saya akan menjemput anda nanti … jadi tolong hubungi saya melalui nomor ini.” Sopir memberi kartu tanda pengenalnya kepada Rena.


“Waaah … kamu memiliki tanda pengenal?” tanya Andrew.


Sopir mengabaikan Andrew dan menunggu Rena mengambil kartu tanda pengenalnya.


“Hei apa kamu mengabaikanku?” teriak Andrew kesal.


Rena sedang mengambil sesuatu dari tasnya dan setelah mendapatkannya Rena memberikan kepada sopir. “Kerja bagus hari ini … ini tips untukmu,” ucap Rena sambil tersenyum.


“Tapi …,” ucap sopir itu ragu-ragu.


Rena mengmbil tanda pengenalnya. “Tidak masalah … silahkan ambil saja ini karena kamu telah beerja keras,” ucap Rena dengan tulus.


“Baik terimakasih nyonya,” jawab sang sopir membungkuk kepada Rena dengan rasa terimakasih.


“Sudahlah … ayo aku akan segera masuk.” Rena berbalik badan dan pergi memasuki hotel.


“Apa kamu lihat dia mengabaikanku?” tanya Andrew kepada Rena dengan kesal.


“Hentikan Andrew biarkan saja … mungi baginya kamu menyebalkan,” ucap Rena dengan nada bercanda.


“Apa?!” Andrew terus berbicara di sepanjang perjalanan sehingga membuat Rena kewalahan.


Sang pengemudi melihat Rena dan merasa nostalgia. Dulu dia juga memiliki nyonya dan tuan yang sangat baik, serta tuan muda yang menganggapnya sebagai teman. Nyoya memiliki wajah yang sangat cantik dan sangat baik terhadap semua orang, sama seperti wanita tadi.


Saat sang sopir memikirkan masa lalu. Tiba-tiba handphonenya berdering.


“Halo tuan Dillon.”

__ADS_1


“Ini dari rumah sakit … sudah saatnya anda membayar tagihan rumah sakit adik anda.”


Dillon adalah nama sang sopir tadi. Dia masih sangat muda dan berbakat. Saat ini dia hanya memiliki seorang adik yang sedang dirawat dirumah sakit, namanya adalah della. Dillon sangat menyayangi adiknya dan merasa tertekan saat mengetahui bahwa adiknya harus dioperasi. Tetapi untung saja operasi berjalan dengan lancar sehingga Dillon bisa sedikit tenang.


“Baiklah aku akan segera kesana.” Dillon melihat uang yang dia dapat dan menggenggam erat uang itu lalu pergi dari hotel.


Rumah sakit tidak jauh dari hotel sehingga Dillon tiba disana dengan cepat. Setibanya dirumah sakit Dillon menyelesaikan semua pembayaran operasi adiknya dengan uang yang dia dapat menjadi sopir.


Dillon memasuki ruangan adiknya dan melihat adiknya sedang membaca buku.


Della mendengar suara pintu terbuka dan melihat bahwa itu adalah Dillon. “Kakak,” panggil Dita dengan senyum cerah.


Dillon melihat senyum Dita dan merasa sangat lega. “Kenapa tidak tidur?” tanya Dillon.


“Aku bosan tidur terus,” ucap Dita dengan wajah sedih.


Dillon mengambil bukunya dan menarik selimut. “Ayo saatnya tidur,” ucap Dillon.


“Hah … baiklah,” Della menuruti perkataan Dillon dan tidur dalam beberapa menit.


Dillon melihat tidur dengan pulas. “Drrt … Drrrt …” handphone Dillon bergetar.


Dillon sengaja membuat notifikasi handphonenya dalam mode getaran karena dia tidak ingin mengganggu della.


Dillon keluar dari kamar dan mengangkat telpon. “Halo,” ucap Dillon.


“Halo … apa kamu sudah menyelesaikan pembayarannya?” tanya pria pria di sebrang panggilan.


“Em … terimakasih tuan muda atas bantuannya,” ucap Dillon sopan.


“Sudah aku katakan … aku bukan lagi tuanmu … panggil saja aku Albert,” jawabnya.


“Tetapi bagiku kamu masih tuanku,” ucap Dillon.


“Tuan …” panggil Dillon.


“Ada apa?” tanya Albert.


“…..”


“Apa menurutmu nyonya Rena mirip dengan ibu anda?” tanya Dillon sedikit ragu.


“….”


“Dengar … adikku sudah lama tiada … jangan dibahas lagi, aku akan menutup telponnya.” Panggilan terputus, Dillon melihat handphonenya dan menghela nafas.


Albert yang berada dikantor sedang mengurus berkas menggantikan Alex. Mengingat perkataan Dillon, Albert tidak bisa berkonsentrasi dan melempar kertas tersebut lalu bersandar dikursi melihat langit-langit.


“Hah … Rena Martinez.” Albert memejamkan mata dan mulai bermimpi tentang masa kecilnya.


“Oeee … Oeee …” terdengar tangisan bayi.


“Ayah bayinya sudah keluar,” teriak Albert kecil dengan gembira.


“Tuan selamat ibu dan bayi selamat … anda boleh masuk kedalam,” ucap perawat.


“Sayang apa kamu baik-baik saja?” tanya sang ayah dengan cemas.


“Em … hanya sedikit lelah,” jawab ibu.


“Lihat anak kita … bukankah dia sangat cantik?” tanya ibu dengan senyuman lembut.


“Adikku sangat cantik seperti ibu,” ucap Albert kecil dengan mata berbinar.

__ADS_1


“Lihatlah dia sangat kecil … apakah tulangnya akan patah jika aku sentuh?” tanya Albert sedikit cemas.


“Tidak jika kamu memegangnya dengan lembut,” ucap sang ibu sambil mencubit hidung Albert.


Albert dengan mata berbinar memandang adiknya lalu memegang tangan kecilnya. “Waw … hahahaha sangat lembut dan membuatku geli,” tawa Albert.


Saat itu ruangan penuh tawa dan tangis bayi, sangat harmonis dan damai. Pada malam hari sang ayah ada keperluan mendadak dan harus pergi.


“Sayang aku harus pergi … besok aku akan kembali pagi-pagi sekali,” ucap sang ayah sambil mencium kening isrinya dan putrinya.


“Bailah hati-hati dijalan,” jawab ibu.


Ayah berjalan menuju Albert dan berjongkok didepan Albert. “Jaga ibu dan adikmu selagi ayah tidak ada disini,” ucap sang ayah.


“Tenang saja ayah serahkan padaku.” Albert mengepalkan tangannya dan menaruhnya didada dengan percaya diri.


“Hahahaha … anakku memang pemberani.” Sang ayah menggosok kepala Alert dengan semangat.


“Besok kita akan memberi nama adik bersama-sama,” lanjut sang ayah.


“Baiklah,” jawab Albert semangat.


Ayah akhirnya pergi meninggalkan ibu dan anak. Alber kecil berjalan melihat adiknya yang trtidur pulas.


“Ibu menurutmu nama apa yang cocok untuk adikku?” tanya Albert


“Ibu ingin menamainya Bella agar dia tumbuh menjadi wanita cantik yang bahagia dan menyenangkan,” ucap sang ibu sambil tersenyum melihat putrinya yang tertidur pulas.


“Waw nama yang bagus,” ucap Albert.


“Aku ingin menamainya Rena,” lanjut Albert.


“Itu juga nama yang bagus,” ucap sang ibu tersenyum.


“Em … karena aku ingin adikku tumbuh dengan penuh cinta,” ucap Albert dengan mata berbinar.


“Benarkah? Kalau begitu kita namakan saja Rena,” jawab sang ibu melihat anak perempuannya.


“Eh? Tapi kita harus menunggu ayah,” ucap Albert kecil.


“Sssst … tidak apa-apa … kali ini ita tinggalkan ayah … hahahha,” jawab sang ibu.


Albert kecil melihat ibunya tertawa dan mulai ikut tertawa bersama ibunya. “Hahahaha … baiklah … sekarang namamu adalah Rena,” ucap Albert sambil melihat adiknya yang tertidur pulas.


“Baiklah ibu akan menyuruh ayah membuatkan kalung untuknya.” Sang ibu mengambil telpon dan segera menelpon suaminya.


“Hihi … bagus sekali,” ucap Albert bahagia.


“Tok … Tok … Tok ….” Albert terbangun dari tidurnya.


“Ah … hanya mimpi,” ucap Albert dengan senyum sedih.


“Silahkan masuk,” ucap Albert. Albert melanjutkan pekerjaannya agar bisa melupakan hal-hal dimasa lalu.


Disisi lain di kota A. Rena telah mengambil kamar dan menunggu waktu untuk pergi kelokasi pemotretan.


“Rena … ayo sudah waktunya untuk pemotretan,” teriak Andrew mengetuk pintu dan bel hotel.


Rena membuka pintu dengan kesal. “Bisakah kamu santai sedikit?” tanya Rena menyilangkan tangannya.


“Hehe … maaf aku terlalu bersemangat,” jawab Andrew menggaruk kepalanya.


“Baiklah ayo kita pergi.” Rena menutup pintu kamar dan pergi bersama Andrew.

__ADS_1


Akhir dari Bab 38


__ADS_2